
Tiga orang itu sedang duduk berbincang-bincang kecil ditengah hutan, tidak jauh dari mereka terdapat kumpulan lelaki sedang sibuk menyiapkan makan.
"Jadi, pasukan kerajaan menyerang markas besar cahaya surga? kapan hal itu terjadi?" tanya perempuan paruh baya kepada gadis kecil didepannya.
"Seminggu yang lalu" jawab gadis itu.
"Apa hanya dirimu yang selamat?" Tiara lanjut bertanya.
"Kami terpisah beberapa kelompok, beberapa diantara kami harus gugur saat terjadi pertempuran. kelompok ketua Angela berhasil membawa sebagian pasukan, sayangnya mereka tetap diburu sehingga terpaksa menuju barat." jawab gadis itu sedih.
"Tenanglah, kau sudah selamat" Aulia menyela.
"Apa prajurit kerajaan berhasil melumpuhkan Angela dan pasukannya?" Tanya Tiara lagi.
"Aku tidak yakin, tetapi bisa dipastikan ketua Angela dan pasukannya tidak pernah bisa kembali" sahut gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa yang membuat kau begitu yakin Nak?
"Aku... Aku melihat pasukan Angela begitu terdesak...., sehingga dengan sangat terpaksa masuk kedalam hutan terlarang" jawab Lely sambil terisak.
"Hutan terlarang di barat?" Tanya Tiara
Sina yang sempat mendengar percakapan mereka memisahkan diri dari kelompok yang sedang menyiapkan perbekalan, lalu menghampiri Tiara dan dua gadis didekatnya.
"Murian? maksudmu hutan Murian?" tanya Sina.
"Ia hutan Murian" jawab gadis itu dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Jangan menangis Lely, kini kau bersama kami" kata Aulia sambil merangkul gadis muda itu.
"Sekarang anggap aku adalah kakakmu" sambung Aulia lagi.
"Aku takut... pasukan kerajaan sangat kuat dan brutal. Pemimpin pasukan itu sangat tangguh." kata Lely yang mencoba mengingat kejadian tragis itu.
"Apakah orang itu sudah tua perawakannya? apakah dia memiliki mata yang berbeda warnanya?" tanya Sina mencoba mencari tau siapa pemimpin serangan itu.
"Tidak... dia belum begitu tua, Dia sangat menakutkan. Bahkan serangan panah cahaya Ketua Angela berhasil dilumpuhkan dengan mudah." cerita Lely
"Jadi orang itu bukan Onix ya.... bahkan bagi Onix, jika panah cahaya Angela menyerang dia, dia tidak punya pilihan selain menghindar." Sina memulai menerka-nerka siapa yang kira-kira lebih mengerikan dari seorang tetua Onix.
"Orang itu dipanggil jendral oleh beberapa anggotanya. Sihirnya mampu membakar markas, Api hitam itu melahap semua yang disentuhnya dengan sangat cepat." jelas Lely lagi.
"Api hitam?" tanya Tiara
"Apa kau mengenal orang itu Tiara?" tanya Sina.
"Tidak... tapi sepengetahuanku Api hitam adalah Api agung yang bisa melahap apapun yang disentuhnya menjadi tak bersisa." jawab Tiara.
"Jadi lawan yang mengerikan sudah bertambah satu orang. Jika ada beberapa orang seperti dia, perang ini menjadi tidak seimbang." potong Sina.
"Kita perlu memperingatkan Villand." sahut Tiara yang mulai khawatir.
"Bagaimana dengan Ketua Angela dan pasukannya yang masuk kedalam Murian? tanya Aulia
"Tidak ada yang selamat jika masuk kedalam hutan itu." jawab Tiara
"Kita belum mencoba, mungkin kita bisa mendapat bantuan dari kelompok yang selamat, sehingga bisa mengimbangi kekuatan kerajaan." Aulia mencoba memberi saran.
"Nak, siapapun yang masuk kedalam hutan itu akan mati, ada sebuah sumber yang mengatakan bahwa hutan itu hidup." jelas Sina
"hutan hidup?" tanya Aulia.
"Semua tumbuhan didalamnya hidup, mereka memakan makhluk hidup lain. dan daerah itu memiliki kekuatan magis yang kuat. menurut isu hutan itu bisa menyantap manusia. mereka menjerat manusia dengan dahan-dahan mereka yang hidup, ******* tulang-tulang mangsanya lalu membenamkan mereka kedalam tanah untuk diserap nutrisinya." Sina menyambung penjelasannya.
"Itu mengerikan.... Aku dan yang lain tidak ingin bunuh diri Di sana." potong Roya yang juga diam-diam ikut duduk didalam kelompok kecil yang sedang berdiskusi itu.
"Tidak ada pilihan lain selain kembali ke timur, menyusun rencana baru untuk melawan pasukan kerajaan." kata Tiara
Dengan tidak adanya bantuan dari Benteng besi dan Cahaya surga kita adalah Aliansi yang lemah." kata Sina yang langsung memberikan isyarat untuk makan dan beristirahat.
"Roya kemari, setelah beristirahat bawalah liber bersamamu" kata Sina.
"Kemana kami pergi?" tanya Roya
"Ke tempat ini" saut Tiara yang kemudian menyerahkan sebuah peta pada Roya.
"Ini adalah peta markas besar Aliansi Villand. ingat! berhati-hatilah! jangan sekali-sekali lengah." kata Sina
"Sesampainya di sana, katakan bahwa kau diutus oleh Sina dan Tiara. yang terpenting adalah peringatkan mereka bahwa dua tim aliansi Villand sudah dihancurkan." jelas Tiara.
Roya kemudian bergabung dengan kelompoknya lalu menjelaskan tugas yang harus dia jalankan bersama Liber.
"Apa kau yakin mereka tiba tepat waktu?" tanya Tiara
"Roya adalah tipe sensor, dia cocok untuk mencari jalan menuju lokasi yang ditunjukan peta. dengan kemampuannya dia dipastikan tidak mudah di intai, sebab sebelum pengintaian terjadi dia sudah dengan muda mendeteksi keberadaan pengintai.
sementara Liber adalah tipe kecepatan, dengan kecepatannya, kemungkinan mereka tiba tepat waktu akan lebih besar. ditambah Liber adalah petarung jarak dekat yang cukup handal. ini memungkinkan mereka lebih cepat memperingatkan Villand." jelas Sina.
Tiara mengangguk tanda setuju.
"Kau sangat mengenal anggotamu ya" kata Tiara
"Anggotaku memang lemah saat bertarung satu lawan satu. tetapi akan sangat mengerikan jika bertarung bersama." jawab Sina
"Mereka beruntung memiliki pemimpin sepertimu." sahut Tiara.
Sementara jauh di bagian Timur kerajaan, seorang Pemuda terlihat sudah sangat lelah berlatih dibawah terik matahari siang itu, sementara seorang yang tua itu masih terlihat bersemangat memberi latihan untuk pemuda itu.
"Bagus! lakukan sekali lagi gerakan itu" Kata Villand penuh semangat
"Kau belum puas menyiksaku pak tua?" ini ke delapan puluh satu kalinya aku melakukan gerakan yang sama ini." potong Noah dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Melatih fisik adalah hal wajib jika kau mau teknik pelepasan mu sempurna." sahut Villand.
"Tidakkah kau lihat aku sudah lelah, kulitku seperti terbakar, tulang-tulang ku seperti ingin lepas dari sendinya." jawab Noah lagi.
"Bagus kalau begitu, tandanya tubuhmu masih bernyawa." seru Villand santai.
"Dasar tua Bangka, hanya tau memerintah, jika saja kau bukan guruku sudah ku hajar" bisik Noah pelan.
"Jangan menggerutu! Aku tahu kau tidak suka." sambar Villand.
"Baguslah jika kau tahu" jawab Noah lalu berdiri santai.
"Siapa yang menyuruhmu bersantai?" tanya Villand.
"Bukannya kau tahu aku tidak suka melakukannya lagi?"
"Kau memang tidak suka, tetapi aku suka! lakukan dua puluh kali lagi!" seru Villand.
"Apa? Dua puluh? Kau sudah gila ya?
"Kalau begitu dua puluh lima!"
"Hei kenapa sekarang dua puluh lima?" teriak Noah kesal
"Tiga puluh kalau begitu! atau rotan ini menyabet punggungmu! silahkan pilih!"
Noah memasang wajah datarnya, mengambil kuda-kuda lalu melakukan gerakan yang baru saja dilakukannya tadi.
"Dasar tua Bangka" Noah berbisik dalam hati.
Bersambung....