Noah

Noah
Jati Diri



Dipuncak bukit siang itu, Kimora berdiri sendiri Disana. Dia menghirup dalam nafasnya, menahannya sebentar lalu menghembuskannya. Berulang-ulang dia m lakukan hal yang sama, kali ini dia merentangkan tangannya menikmati hembusan angin sepoi-sepoi, matanya dipejamkan, dia bergumam dalam hati "Ibu... Jika Dewa berkenan, biarkan aku membalaskan dendammu dalam pertempuran ini."


"Setelah semuanya usai, aku ingin mencintai seseorang tanpa harus memikirkan dendam yang mendalam. Aku berharap mencintai laki-laki yang benar-benar menyayangiku. Aku tidak ingin kuasa hitam menghancurkan keluarga kecilku, sama seperti Dia menghancurkan keluarga kecil kita Ibu...."


Angin kecil berhembus sejuk, meniup helai rambut panjang Kimora, membuat rambut panjang itu seperti menari kesana-kemari.


"Jika bisa... ku ingin engkau ada disini, memelukku dan memilih pemuda baik sebagai penjaga ku. Aku ingin setiap aku menutup mata, dia ada bersamaku, dan saat aku membuka mata dia selalu di sampingku" Kimora berkata dalam hati.


Angin gunung sekali lagi berhembus, menerpa segala yang ada didepannya, membawa daun-daun kecil yang berguguran , terbang menemani gadis kecil yang kesepian itu. Awan putih menari-nari diatas cakrawala biru, bias Surya yang hangat menembus setiap sudut pegunungan yang melingkupi bukit kecil itu, sinarnya menggapai setiap cela yang bisa dilaluinya.


Gadis kecil itu sedikit menundukkan kepalanya, sekalipun matanya tertutup tetapi segala rasa yang berkecamuk didalam dirinya membuat air mata mengalir dari kelopak matanya. Ia terhanyut didalam nyanyian Alam, suara burung yang berkicau membuat dia mengingat semua masa kecilnya.


Berlarian di taman bersama kedua orang tuanya, bermain di sungai yang jernih, bercanda bersama Ayah dan Ibunya.


Gadis itu sedikit terisak, tapi Ia mencoba menahan segala perasaannya itu.


Sekali lagi Kimora menarik nafasnya sedalam yang ia bisa, lalu menghembuskannya perlahan, Ia mencoba membuka kelopak matanya yang indah. Betapa terkejutnya Dia melihat seorang pemuda duduk didepannya sambil menghitung sesuatu dengan jarinya.


"Apa yang lakukan disini? Noah?" tanya Kimora dengan ekspresi terkejut.


"Menghitung berapa lama kau akan sadar dari pertapaan." jawab Noah enteng.


"Suasana hatiku tiba-tiba suram melihat kau di depanku! bisakah kau jangan menghalangi pandanganku?" Bentak Kimora.


"Hei... kau nyaris mengheningkan cipta selama setengah jam!" seru Noah


"Dan kau benar-benar menghitungnya?" Tanya Kimora dengan nada yang begitu datar.


"Tentu! Jika kau ingin lanjutkan semedi mu agar genap menjadi satu jam, aku akan dengan senang hati untuk pura-pura tidak melihatmu." sambung Noah.


"Tidak! terima kasih!" sahut Kimora lalu duduk disebuah batang pohon yang dibuat seperti sebuah bangku kecil.


"Hei Hei Hei...... Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Alka yang baru saja datang ke tempat yang sama.


"Alka bukannya kau tadi sedang berlatih?" potong Noah.


"Yap benar. sekarang aku ingin beristirahat, pemandangan dari sini lumayan memanjakan mata, jadi aku putuskan membawa Roya dan Liber bersamaku." sahut Alka.


"Hai Noah... Hai Kimora..." Sapa Liber sambil tersenyum.


"Apa kalian pacaran?" tanya Roya pada Noah dan Kimora.


"Kami? pacaran? hahahahaha.... jelasnya tidak. Aku tidak berniat menikahi gadis cengeng seperti ini" sambar Noah.


"Kau pikir aku sudi mencintai pemalas sepertimu?" Kimora menjawab tidak mau kalah.


"Dasar cengeng!"


"Pemuda malas! pergi sana!"


"Bisakah kalian diam?! Kami kesini ingin menikmati pemandangan bukan menyaksikan kerusuhan!" seru Alka yang terganggu dengan pertengkaran Noah dan Kimora.


"Aku akan memotong jatah makan malammu!" kata Kimora kepada Noah sembari pergi dari tempat itu.


"Apa? dasar gadis gila! kau mengatur jatahku seenaknya! Biarkan alam menghukum mu!" Teriak Noah tidak puas dengan Keputusan Kimora.


Setelah Kimora pergi, suasana sedikit berubah menjadi hening.


"Sudah puas teriak-teriaknya?" tanya Roya.


"Apa maksudmu? jangan mencampuri urusanku tuan tak berekspresi" sahut Noah.


"Anak remaja jaman sekarang lebih sulit ditebak. jika cinta katakan cinta. jika sayang katakan sayang. jangan sebaliknya." sambung Roya.


Noah mendekati Roya, menatapnya lama lalu bertanya "Apa maumu?"


"Bisakah kau tidak mencampuri urusanku? Pria dingin?" tanya Noah.


"Tentu. Aku tidak mencampuri urusanmu. tapi kau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki semua orang disini. itu sebabnya kini urusanmu adalah urusanku." jawab Roya santai.


"Apa itu? Apa yang kau mau dariku?" tanya Noah.


"Aku dan Liber adalah penjaga mu saat ini" kata Roya.


"Ha???? apa kau memakan jamur yang tumbuh disekitar bukit ini? Jamur itu bisa memabukkan dan membuat korbannya berhalusinasi. Persis seperti yang terjadi padamu ini'' sambar Noah sambil cekikikan.


"hahahahaha.. kau cukup humoris yah. Tapi kami serius. Tangan hitammu itu. Tangan iblis." potong Liber.


"Cukup... Kita semua tahu hal itu. bahkan paman Villand tidak memberitahumu?" tanya Alka.


"Tidak.. Dia tidak mengatakan apa2." jawab Noah yang mulai penasaran.


"Kita menunggu Ling. harusnya dia juga kesini bersama Arka." ujar Roya.


Empat pemuda itu memutuskan untuk menunggu Ling dan Arka, sembari mereka menikmati suasana sejuk ditempat itu.


"Roya kau yakin Noah adalah orangnya?" tanya Liber.


"Jika guru Sina tidak salah memberi petunjuk, maka aku pasti tidak salah." jawab Roya.


"Aku jadi penasaran, seberapa hebat kemampuan sensor mu mendeteksi energi?" tanya Liber.


"Bahkan di kelompok pasukan sejati kau tidak pernah terlihat bertarung" sambung Liber lagi.


"Yup.... kau benar... Aku tidak pernah bertarung. Deyra adalah petarung nomor satu di kelompok kita, Lalu Dirimu, dan tidak tertinggal juga Aulia. Aku termasuk didalam kelompok itu. Hanya dengan sensor ku, aku tahu siapa yang bisa Aku lawan, dan siapa yang harus kubiarkan."


"Jadi? Apa tipe sensor sepertimu mampu melihat segala sesuatu yang akan terjadi?" tanya Alka yang juga penasaran.


"Aku tidak bisa melihat masa depan, aku memprediksikannya dengan data yang aku miliki." jawab Roya.


"Aku tidak mengerti." ujar Liber.


"Sebut saja jika aku berhadapan denganmu yang memiliki kemampuan tipe kecepatan, maka aku akan memprediksi gerakkan mu, kecepatan mu, Aku sudah sering melihat teknik bertarung mu. dengan data kebiasaan bertarung mu, aku bisa memprediksi setiap gerakanmu dengan lonjakan energi yang terjadi di setiap titik tubuhmu. Lonjakan energi jauh lebih cepat dengan gerakan tubuh, itu sebabnya lonjakan energi yang terjadi sebelum kau bergerak itu adalah data penting bagiku untuk menghadapi mu."


"Huh... benar-benar sulit dimengerti..." ucap Liber.


"Aku sedikit paham. tapi itu hanya sebatas teori bagiku." sambar Alka.


"Kau ingin menyerang ku dengan pedang yang ada di pinggang kananmu." kata Roya.


Alka sedikit terkejut, bagaimana tidak, dia tadi ingin menyerang Roya untuk membuktikan perkataan Roya.


"Kau mengurungkan niatmu setelah kau ketahuan." ujar Roya lagi.


Roya duduk disebuah batang kayu yang cukup besar. mengambil pensil kecil dari tasnya, lalu menulis sesuatu.


Tiba-tiba sebuah sabetan pedang begitu kuat melesat menuju Roya, Angin tajam dari pedang itu membelah pohon dibelakang Roya.


"Kau tidak menghindar?" ucap Alka.


Roya menyimpan pensilnya, lalu memberikan selembar daun kering pada Alka.


Tulisan Roya di daun itu: Kau akan menyerang, aku membaca lonjakan energimu sejak niatmu timbul. tetapi karna ketahuan, kau menyembunyikan niatmu untuk menyerang, tetapi energi di tanganmu masih terkonsentrasi. aku memprediksi kau akan menyerang ku, tetapi karna tanpa niat membunuh kau hanya akan membidik sesuatu di dekatku.


"Luar biasa.... aku baru menyadari ada petarung dengan tipe seperti ini. Sungguh kemampuan yang unik." kata Alka yang masih cukup takjub.


Bersambung.......