Noah

Noah
Latihan dan persiapan II



Suasana di bukit itu sudah sepi, bintang di atas langit begitu terang walau ditutupi sedikit awan. Sementara didalam goa Kimora menyiapkan makan malam, sup Elang kelihatan cukup nikmat di cuaca yang cukup dingin malam itu. Noah tampak sibuk merawat tubuhnya yang lebam akibat hukuman yang ia terima, sementara Villand memperhatikan putrinya yang sedang menyiapkan makan malam itu.


"kau pandai memasak seperti ibu mu, Kimora" kata Villand.


"Bisakah Ayah berhenti membicarakan ibu?" jawab Kimora ketus.


"hahaha, bahkan disaat marah pun kalian sama" jawab Villand lalu berjalan menuju keluar goa.


"Aku tidak peduli, jangan membicarakan tentang ibu sebelum dendamnya ku balas." gumam Kimora pelan.


"kau selalu sensitif jika membicarakan tentang ibumu. Apakah sedalam itu dendam mu? lalu siapa yang akan kau bunuh?" tanya Noah


"Jangan bicarakan tentang ibu. Apa kau dengar?" jawab Kimora sedikit kesal.


"Aku hanya bertanya, mungkin ibumu sedih jika kau selalu menyimpan dendam.." belum selesai berbicara sebuah Senduk melayang ke arah Noah. Wuss! dengan sigap Noah menghindar.


"Apa kau ingin menambah luka ku? Ayah dan anak tidak ada bedanya." teriak Noah, lalu beranjak keluar.


Kimora masih melanjutkan aktivitasnya, dicicipinya sup Elang lalu mengaduk sup itu.


"Hei pak tua, apa kau menangis?" tanya Noah yang berjalan menghampiri Villand di luar goa.


"Seorang Ayah tidak akan menangis karena sudah mengambil tindakan, sekalipun selalu dianggap salah." jawab Villand


"Tetapi aku pernah melihatmu menangis" saut Noah


"Hahahaha, kau memang anak yang selalu bicara apa adanya." kata Villand.


"Dengar, dengan kemampuanmu yang sekarang kita tidak akan bisa mengalahkan musuh kita disaat perang besar." sambung Villand lagi.


"Pak tua, mengapa harus ada perang besar? Apa arti semua ini?" tanya Noah


"Zaman dulu, mantra kuno adalah senjata yang sangat mematikan. seiring berjalan nya waktu, prajurit-prajurit kerajaan mulai melupakan kekuatan mantra. lalu beralih memperkuat kerajaan menggunakan senjata api, karna penggunaan dan latihannya yang terbilang mudah. sayangnya, banyak kekurangan yang dimiliki senjata api ketika berhadapan dengan musuh yang menggunakan mantra. Apalah arti sebutir peluru jika dibanding dengan mantra kebal?


Saat Sang raja sudah menyadari hal ini, ia mengerahkan pasukannya untuk mengumpulkan semua mantra yang disimpan diberbagai tempat, baik dengan paksa atau dengan sukarela." jelas Villand


"Lalu? Apakah mengumpulkan mantra membuat perang meletus? Alasan macam apa itu?" jawab Noah yang merasa aneh


"Ada sebuah mantra, yang konon katanya memberikan keabadian. Mantra itu sejak 20 tahun lalu sudah mulai dicari. tindakan mencari mantra abadi ini memaksa kerajaan lain mengecam kerajaan kita. Lalu raja muda kita mengumumkan perang terhadap kerajaan- kerajaan yang tidak sepihak." sambung Villand.


"Jadi musuh kita adalah kerajaan lain?" tanya Noah seakan sudah mengerti.


"Lebih sulit ditebak, musuh kita bukan hanya kerajaan lain, tetapi juga kerajaan kita sendiri." kata Villand


"Hah?" Noah mengerenyitkan dahi


"Setiap pengguna mantra wajib melayani kerajaan, hanya pasukan kerajaan yang boleh menggunakan mantra."


"lalu jika kita menolak menjadi pasukan kerajaan?" tanya Noah


"kau dibunuh." jawab Villand singkat.


"Ayah! Noah! makanan sudah siap!" teriak Kimora dari dalam goa


"Tugasmu adalah latihan, latihan dan latihan, jangan banyak bertanya. Ayo makan malam sudah siap." kata Villand


Noah hanya diam, lalu berjalan mengikuti langkah Villand.


"Aku hanya sopir paruh waktu kemarin, lalu sekarang si tua ini berbicara tentang kerajaan dan tentang perang, rasanya seperti di dunia yang berbeda." gumam Noah dalam hati.


Delapan jam yang lalu, pada hari yang sama, Tiara berjalan mendekati gerbang besar itu, menekan sebuah bel persis seperti yang dilakukannya pagi tadi.


Bel berbunyi keras, disusul langkah seseorang mendekati gerbang. Langkah orang itu terhenti, kemudian gerbang besar itu terbuka.


"Siapa?" tanya orang yang membuka gerbang. Ia seorang pemuda, berbadan kecil namun tubuhnya begitu padat.


"Maaf, saya belum ada janji, tetapi saya ingin bertemu ketua benteng besi." jawab wanita disebelah luar gerbang itu.


"Dari mana dan ada apa?" tanya orang itu dengan wajah yang datar.


"Saya Tiara, katakan pada ketua Benteng Besi, Villand yang mengutus saya." jawab Tiara dengan Ekspresi sedikit memohon.


Orang itu menatap Tiara, dengan wajah datarnya ia menjawab pelan "Apakah anda orang baru?"


Tiara hanya bingung terdiam, Ia tidak tau harus menjawab apa.


"Masuk dan duduklah di sebelah sana, saya akan memberitahu ketua." sambung orang itu sambil menunjuk tempat duduk yang ada di pojok dekat gerbang besar itu.


"Terima kasih" jawab Tiara.


Tiara cukup lega karna sudah di ijinkan masuk. Sementara orang itu pergi menuju ruangan yang tidak begitu jauh dari gerbang.


"Seseorang ingin bertemu ketua" kata orang tersebut kepada seorang yang lain, Orang itu masih terlihat muda, wajahnya menarik, rambutnya begitu lurus, tubuhnya tidak berbeda jauh dari temannya.


"Sudah lima tahun kita tidak kedatangan tamu. Apa kau yakin orang itu ingin bertemu ketua?" tanya pemuda tadi.


"Saya yakin senior" jawab orang yang ekspresinya selalu datar itu.


"Biar aku saja yang menemuinya" jawab pemuda tampan itu. Ia lalu berjalan menuju keluar ruangan.


Bunyi langkah kaki mendekati Tiara, Ia mengangkat dagunya, menoleh ke arah langkah itu.


" Selamat sore, mohon maaf, Bibi ini siapa dan darimana?" tanya pemuda itu.


"Saya Tiara. Saya diutus Villand untuk menemui Rosoku si singa putih ketua kelompok benteng besi." jawab Tiara sambil menunduk memberi hormat.


"Hanya orang- orang tertentu yang tau nama asli singa putih. Apa Bibi dari pasukan kerajaan?" tanya Ling, si pemuda tampan, namun kali ini ia memasang wajah curiga.


"Bukan, saya adalah orang yang juga bernasib sama seperti Rosoku. Ijinkan saya menemui Rosoku." Kata Tiara


"Jika yang bibi inginkan adalah mantra, maka ini bukan tempat yang seharusnya didatangi." jawab Ling.


"Apa maksudmu?" tanya Tiara


"Paman sudah tidak seperti yang dulu lagi, Jika ingin bertemu, saya antarkan Bibi ke kamarnya." sahut Ling lalu melangkah seakan memberi isyarat agar Tiara mengikutinya.


Tiara berjalan mengikuti Ling, Ia memperhatikan sudut demi sudut, ruang demi ruang yang Ia lewati. Tempat ini tidak seperti terakhir kali yang Ia lihat sebelum berkunjung lagi. Dari luar tempat ini cukup megah, namun didalamnya semuanya sudah lusuh, mulai dari ruangan yang tidak tertata, senjata tajam yang hanya ditempatnya dengan penuh sarang serangga, dan peralatan latihan yang tidak beraturan.


Ling membuka pintu sebuah ruangan lalu berkata "Semoga Bibi menemukan apa yang bibi inginkan"


Tiara melihat kedalam ruangan, namun dengan hati-hati.


"Apakah kau ingin menolongku? Aku adalah sang Raja! Aku miskin dan tak punya apa-apa! hahahahahahaha!" Suara seseorang dari dalam ruangan, begitu keras Ia berteriak.


"Rosoku? Si Singa putih.... Apa yang mereka perbuat terhadapmu?" Ucap Tiara pelan, nada nya sedih dan putus asa.


Bersambung.....