Noah

Noah
Harta yang Menjadi Rebutan



Nangabara adalah sebuah Provinsi besar yang menjadi salah satu pusat komando tempur negeri besar Endenesia. Terdapat banyak satuan tempur disana, mulai dari prajurit dengan kemampuan beladiri tangan tangan kosong, prajurit magis, sampai prajurit bersenjata, ada di tempat ini.


Dipusat provinsi terdapat Komando utama yang bertugas mengatur strategi militer Provinsi ini. Sebuah gedung pencakar langit lengkap dengan fasilitas militer dibangun demi aktivitas militer satuan tempur ini.


Dalam sebuah ruangan didalam gedung, seorang pria berpakaian militer lengkap (jirah tempur, sebutan dalam cerita ini) sedang berdiri, disekelilingnya terlihat ada tiga orang yang sudah lanjut usia, kelihatannya mereka sedang membahas sesuatu diruangan itu.


"Pencarian senjata kuno ini tidak boleh berhenti disini" kata seorang tua, yang duduk dipojok, kumisnya begitu tebal dan hitam, rambutnya dicukur botak mengkilat.


"Aku dan satuan sudah mencoba semaksimal mungkin mencari senjata itu. hasilnya nihil. Atas nama satuan, Aku meminta maaf untuk kegagalan misi ini". kata pria dengan zirah tempur itu.


"kau tentu tahu sanksi jika gagal bukan?" seorang lansia yang duduk ditengah, rambutnya putih panjang, matanya seperti orang yang mengidap heterochromia, yakni perbedaan warna iris mata, merah dan hitam.


"Kesatuan sudah siap menerima sanksi, Kami siap diturunkan pangkat, menjadi Prajurit level dua." jawab pria itu tegas.


"tidak seperti itu. kita sudah susah payah mendidik prajurit level tiga, sanksi untuk kesatuanmu tidak seperti sanksi pada umumnya." jawab si heterochromia itu.


"kesatuan kalian tidak akan diturunkan level, tapi diberi misi baru." sambung seorang lansia lain, orang ini cukup kekar, rambutnya keriting dan tebal, kulitnya hitam.


"Maafkan Aku senior! seperti apa maksudnya?" Pria berzirah itu bertanya.


"Kau diberi tugas khusus, mencari tau, siapa laki-laki yang membawa pergi gulungan yang hilang. agar menjadi perhatian, gulungan itu bisa membuat kekuatan tempur kita meningkat drastis." jawab orang tua keriting.


"Ambil surat tugasmu dibagian adminitrasi, pasukanmu yang lain akan bergabung dengan pasukan lain untuk sementara waktu. Kau tidak keberatan untuk melakukan tugas ini sendiri bukan?" tanya orang tua dengan mata yang aneh itu.


"Siap pak!" jawabnya tegas. Pria dengan Zirah itu keluar ruangan.


"Kau begitu khwawatir dengan gulungan itu?" tanya lansia botak kepada si mata aneh.


"Sang pemimpin ingin menjadi abadi. Gulungan itu adalah satu-satunya mantra yang sanggup mewujudkan cita-cita aneh itu." jawab orang tua bermata aneh sambil mengelus-elus jenggot panjangnya.


"keinginan anak-anak jaman sekarang memang aneh, aku saja sudah bosan hidup, malah dia ingin hidup selamanya" kata salah satu yang keriting.


"Mengapa kau tak melibatkan anggota level tiga yang lain? Apa mereka punya tugas baru?" tanya orang yang keriting.


"Sudah pasti, mereka punya tugas yang tidak kalah penting." jawab yang bermata aneh.


"Tugas apa? kau bahkan belum diskusikan dengan kami." tanya yang berkepala licin.


"Aku rasa keputusan raja adalah mutlak. Dia menginginkan Desa watu mite, lenyap dari peradaban." jawab simata aneh singkat.


Didalam ruangan administrasi, pria dengan zirah itu sudah mengambil surat tugasnya. Dia melangkah keluar ruangan. Setelah berada di luar, zirah yang tadi dipakainya secara ajaib perlahan-lahan menghilang. Ya, ini adalah Zirah yang terbuat dari mantra, pada umumnya prajurit memiliki mantra zirah ini. Zirah ini bisa diaktifkan dengan mantra khusus, kekuatan zirah unik ini bergantung dengan seberapa kuat mantra yang dimiliki oleh sang penggunanya.


"Hm.... kemana aku harus mencari, sepanjang sungai sampai muara sungai sudah aku susur.


tidak ada tanda-tanda adanya mayat disepanjang sungai ataupun gulungan yang mungkin terbawa arus. Noah.... kau cukup beruntung, bisa selamat. Seharusnya bukan bahumu yang ku tembak malam itu, melainkan kepalamu." kata pria itu sambil mengepalkan tangannya.


Disebuah kampung yang damai, Kimora baru selesai memasak. "Bibi, aku panggilkan Ayah dulu. Ayah.... Ayah.... makanan sudah siap." kimora memanggil Ayahnya sambil menuju sebuah kamar dimana Ayahnya merawat laki-laki yang mereka temui di sungai kemarin.


"Ayah, makan siang sudah siap, ayo makan dulu, pagi tadi Ayah bahkan tidak menyentuh sarapan yang sudah Aku buat" kata kimora.


"Sarapan tadi juga aku bawakan kesini dan Ayah tidak menyetuhnya sedikitpun, kali ini kita makan diruangan makan saja, agar bisa kupastikan Ayah menghabisi makanan yang sudah susah payah ku masak."


"Kimora, ayah sedang sibuk" kata Ayahnya lagi sambil melihat-lihat beberapa kertas usang.


"Ayah, apa yang sedang ayah lihat itu?"


"Kertas-kertas ini maksudmu?"


"Iya, darimana ayah mendapatkan itu? bukannya itu mantra? tapi pola tulisannya tidak pernah aku lihat, sepertinya tulisan ini sangat kuno"


"Benar kimora, ini memang mantra. tapi Ayah bahkan tidak bisa membacanya. Ayah menemukan ini di pakaianNya, sepertinya ini milik Dia."


"Kalau begitu, sebaiknya Ayah makan dulu, lagipula mantra itu tidak bisa dibaca. sambil menunggu orang ini sadar, sebaiknya kita makan siang bersama."


"Yah.... Ayah tidak punya pilihan lain." kata Ayah Kimora sambil beranjak dari tempat duduknya, Ia meletakan beberapa carik kertas usang di atas meja, lalu berjalan mendahului kimora menuju ruangan makan.


Kimora yang masih berada diruangan itu menatap sejenak pria yang terbaring lemah itu. tubuhnya penuh balutan kain. Kimora mencoba mendekati pria itu, wajahnya coba didekatkan ke wajah pria itu. "Hei.... kapan kau akan bangun? Apa tidak bosan tidur seharian?" setelah berkata demikian kimora berjalan keluar ruangan lalu meneruskan langkahnya ke meja makan.


"Apa Dia sudah sadar?" tanya seorang wanita paruh baya.


"Belum Tiara, jarinya kadang kulihat bergerak, namun Ia masih blm bisa sadar dan membuka matanya." jawab Ayah Kimora sambil menikmati makanan yang dihidangkan.


"Mengenai gulungan kuno itu, jangan sampai orang lain tahu." sambung Pria itu


"Apa itu sejenis mantra magis yang biasa aku gunakan?" tanya kimora, tangannya sambil menuangkan air kedalam gelas.


"Tidak, ini seperti sesuatu yang lebih rumit." jawab Ayahnya.


"Berdasarkan yang Aku tahu, tulisan mantra kuno ini hanya beberapa desa yang masih punya salinannya." sambung Pria itu


"Apa itu sesuatu yang langkah? ayah?"


"Ya.... tentu saja, itu bahkan lebih berharga daripada harta karun. bisa dibilang, mantra-mantra kuno ini harganya tidak ternilai." jawab Ayah kimora sambil meneguk habis air digelasnya.


"Apakah ini artinya.... perang akan dimulai?" tanya seorang wanita yang biasa dipanggil bibi oleh kimora.


"Sepertinya begitu. Ramalan itu tidak mungkin salah. Mantra kuno. kemunculan mantra-mantra kuno akan memicu perang." jawab Ayah kimora.


Brak!! Sebuah suara yang cukup keras datang dari kamar dimana laki-laki yang mereka selamatkan dibaringkan.


"Apa itu Ayah?" kimora terkejut.


Ayah kimora langsung beranjak menuju arah datangnya suara.


Bersambung