
Seorang pria melangkah pelan disebuah koridor panjang, Ia mengenakan jubah lengkap dengan segala atribut tentara kerajaan. Langkah Pria tersebut terhenti disebuah pintu besar, didepan pintu terdapat dua prajurit berseragam kerajaan memegangi tombak besar dan perisai kerajaan. sesaat setelah melihat kedatangan Pria itu, kedua prajurit itu membungkuk memberi hormat kemudian menyapa "Selamat datang Jendral Besar" lalu memberi jalan bagi sang jendral untuk masuk kedalam ruangan dibalik pintu itu.
Setelah pintu itu dibuka, terlihat sebuah singgasana megah tepat di depan Pria itu. Singgasana itu terbuat dari campuran emas, tembaga dan perak, dihiasi motif khas kerajaan. Di Atas singgasana duduk seorang Raja yang masih terlihat begitu muda.
Raja itu melihat Pria yang datang itu, Ia menatap pria itu seakan memberi isyarat untuk mengatakan maksud kedatangannya.
"Salam Rajaku, penguasa Nangabaras" sapa Pria itu sambil berlutut.
Raja itu hanya diam, tak berkata sesuatu apapun.
Pria itu berdiri, Seperti biasa memasang wajah acuh tak acuh nya.
"Aku menyukai sifat buruk mu itu Sira." sebuah kalimat keluar dari mulut raja.
"Ah... kupikir Raja ku ini tak bisa bicara" jawab Sira enteng.
"Jaga sikapmu!" tegur seorang Ajudan Raja.
"Biarkan dia Troy.. Dia memang seperti itu." kata raja.
"Tutup mulut busuk mu Troy... Aku kesini bukan untuk ajudan rendahan sepertimu." sahut Sira enteng.
"Sira, katakan apa mau mu?" tanya sang raja.
"Aku hanya ingin bicara empat mata denganmu." sahut Sira.
Raja itu berjalan turun dari singgasananya, memberi isyarat pada Sira untuk mengikutinya. Sira yang mengerti isyarat itu langsung mengikuti sang raja.
"Harus bicara dimana?" tanya sang raja.
"Di tempat yang tidak ada seorangpun mendengarkan kita."
"Baiklah... lewat sini..." Pinta raja.
"Eits.... mau kemana Troy?" potong Sira yang melihat ajudan raja ingin mengikuti mereka.
"Aku berkewajiban menjaga raja." jawab Troy
"Apa kau tuli? Aku mengatakan ingin berbicara empat mata, itu artinya hanya aku dan raja." sambar Sira.
Troy menatap Sira dengan tatapan tajam.
"Troy, kali ini biar aku sendiri." jawab raja pelan.
Troy kemudian membiarkan mereka pergi, wajahnya menunjukan ketidaksukaannya pada Sang Jendral Sira. Sementara Sira berlalu dari hadapan Troy namun memberi senyum sinis pada Troy.
Raja dan Sira kini sudah berada disebuah taman kecil kerajaan. taman ini biasanya digunakan raja untuk meminum teh.
"Apa yang ingin kau sampaikan?"
"Aku bosan dengan permainan bodoh ini." jawab Sira.
"Lalu?"
"Diantara mereka ada penghianat!" tegas Sira
"Dari mana kau menyimpulkannya?" tanya raja lagi.
"Pasukan cahaya surga berhasil lolos dari cengkraman ku. selama empat tahun, mereka selalu bisa menghindar dariku."
"Dan apa hubungannya dengan para tetua?" tanya raja yang belum puas dengan jawaban Sira.
"Lokasi penyergapan hanya kita dan tiga tetua yang tahu, selebihnya tidak ada yang tahu. kelompok Cahaya surga selalu bisa menghindar sebelum kami tiba di markas mereka." jelas Sira.
"Siapa yang kau curigai?" tanya raja
"Aku belum bisa menyimpulkan. tapi berhati-hatilah terhadap mereka. Rencana kerajaan hanya kita berlima yang tahu." sambung Sira.
"Jadi kau menganggap aku pembohong?"
"Tidak, kau memang benar, tapi aku tahu apa yang aku perbuat."
Sira tersenyum kecil lalu berkata "Jika kau tak mendengarkan jangan menghubungiku jika kesulitan."
"Kau mengancam kerajaan?" tanya raja
"Aku menjalankan tugasku, Nangabaras hanyalah kerajaan kecil yang terlalu ego. jangan terlalu berharap pada tiga tetua mu itu. mereka hanya bocah di hadapanku." setelah berkata demikian, Sira mengeluarkan Energinya menyelimuti daerah sekitar tempat itu, suasana disana langsung mencekam.
Sang raja sedikit sempoyongan akibat luapan energi Sira, Ia mencoba mencari pegangan karna lututnya seakan terasa keram.
Pancaran energi itu menghilang ketika Sira meninggalkan tempat itu.
"Energi macam apa itu? bahkan itu lebih mengerikan dari energi milik tetua Onix." Kata sang raja didalam hatinya.
Ia mencoba melihat keadaan disekitarnya, betapa terkejutnya Ia, ketika tumbuhan disekitar tempat itu layu dan kering.
"Aku harus berhati-hati. Sira memang bukan orang sembarangan, dia bisa saja membunuhku jika mau" sambungnya lagi.
"Yang mulia.... apa kau baik -baik saja?" Troy berlari mencoba memegang raja yang kelihatan takut saat itu.
"Apa yang mulia terluka? Apa ini perbuatan Sira? Biar ku hajar dia!" seru Troy yang mencoba lari mengejar Sira.
"Tunggu Troy!" sahut sang raja sambil menarik tangan Troy berusaha menghentikan niat Troy.
"Ada apa yang mulia? Dia seharusnya diberi pelajaran!"
"Sebelum kau mengejarnya, perhatikan daerah di sekelilingmu" kata raja.
Troy mencoba melihat apa yang ada disekitarnya, matanya terperanjat ketika tumbuhan subur ditempat itu berubah menjadi cabang-cabang kering bagai tanaman di gurun pasir.
"Apa ini? Apa yang terjadi?"
"Sira memang harus kita waspadai. Dia sedikit pamer kepadaku sebelum dia pergi. Aku rasa dia memberi kita peringatan." kata raja
"Haruskah kita meminta para tetua untuk memperingati dia?" tanya Troy.
"jangan melakukan kesalahan fatal Troy, jika ketiga tetua menghadapi orang seperti dia, hasil terbaik yang kita dapat adalah seri."
"Sekuat itukah Dia?" tanya Troy
"Sementara dia bisa kita manfaatkan, manfaatkan sebaik mungkin. Aku akan membunuhnya jika berhasil mendapat mantra keabadian." jawab raja Tora.
"Yang mulia, mari saya antarkan ke kamar untuk beristirahat." Kata Troy
"Tidak apa-apa, aku sudah merasa baikan"
Sira berjalan santai keluar istana, matanya melirik kepada seseorang yang ingin menuju istana.
"Onix... " kata Sira dalam hati.
"Apa yang dia mau?" sambungnya lagi.
Onix berhenti sesaat, kedua orang itu saling memandang.
Setelah cukup lama, Sira membuang pandangannya lalu berjalan menjauhi tempat itu, sementara Onix berkata dalam hati "Sira, aku tidak percaya kau memberiku tatapan itu."
"Aku bukan orang yang gentar dengan bocah seperti mu" sambung Onix.
Onix kemudian berjalan meninggalkan tempat itu, lalu menuju istana.
Bersambung.....