Noah

Noah
Sebuah Perdebatan



Dua orang yang cukup berumur itu sedang berdiskusi didalam goa, sementara di luarnya ada sekumpulan pria mengenakan pakaian serba hitam dengan aksesoris khusus, simbol organisasi pembunuh hitam.


"Aku mendengar desas-desus bahwa benteng besi telah dihancurkan. semua anggota didalamnya dibantai habis" kata salah satu orang tua itu.


"Jadi rencana kita sudah ketahuan?" potong Villand.


"Dalam beberapa hari, atau paling tidak bulan ini markas terakhir kita akan ketahuan." sambung Longa lagi.


"Bagaimana dengan cahaya surga? Apakah benar-benar lenyap?" tanya Villand.


"Pasukan Cahaya Surga juga dibantai namun beberapa anggotanya berhasil melarikan diri." jawab Longa.


"Lalu bagaimana dengan kelompok itu? apa mereka berhasil selamat?" Villand kembali bertanya.


"Orang yang memimpin pasukan kerajaan sangat kuat." kata Longa sambil mencoba mengingat nama pemimpin pasukan kerajaan.


"Onix maksudmu?" sanggah Villand.


"Bukan. Dia bukan dari para tetua. Dia belum begitu berumur, tetapi memiliki hampir semua kemampuan bertarung. Mantra utamanya sangat mematikan." kata Longa.


"Mantra? pengguna mantra apa orang itu?"


"Mantra Api agung" jawab Longa.


Villand terpaku tidak sanggup berbicara. Dia menunduk salah satu tangannya memegang dahinya.


"Kenapa Villand? Apa kau tau tentang Api itu?" tanya Longa.


"Setahuku tidak ada anggota kerajaan pengguna mantra Agung. Hanya orang dari Organisasi Dunia yang mampu menggunakan mantra agung." kata Villand.


"Organisasi dunia? maksudmu kerajaan membayar orang dari Organisasi dunia untuk menghabisi kita?" Longa terlihat sedikit panik.


"Jika itu benar, Akan ada banyak kematian di bukit ini." jawab Villand pelan.


"Kita masih bisa keluar dari perbatasan, menyusun strategi baru untuk menyerang kerajaan." kata Longa.


"Tidak Longa, kita tidak bisa keluar dari sini."


"Apa maksudmu?"


"Jika melibatkan organisasi dunia, itu artinya kita sudah menjadi buronan. tidak ada kerajaan yang akan menerima kita. malah kita akan diserahkan untuk dijatuhi hukuman mati."


"Tidak mungkin. rencana sudah kita susun begitu rapih. Mengapa sampai ketahuan oleh kerajaan? bahkan kerajaan melibatkan organisasi dunia. Ini sama saja dengan bunuh diri Villand." tegas Longa.


"Kita menunggu kedatangan Tiara. setelah semua lengkap kita putuskan siapa saja yang harus bertarung disini." kata Villand.


"Maksudmu? aku tidak setuju jika semua anggotaku mati disini. Kematian kita tidak akan membuat kerajaan itu hancur. menurutku sebaiknya kita tinggalkan tempat ini sekarang juga!" kata Longa makin tegas, suaranya cukup besar sehingga beberapa orang disekitar mereka cukup panik dan mencoba mendekati dua orang tua yang sedang berdebat itu.


"Aku memintamu untuk bertarung bersamaku Longa! bukan kabur seperti pengecut!" bantah Villand yang kelihatan tidak menyukai saran Longa.


"Tidak! Kau begitu egois Villand! Aku membawa banyak nyawa tak berdosa ini untuk mati disini?" tanya Longa makin memanas.


"Jika kau tidak ingin bertarung, kau boleh pergi dari sini!" jawab Villand dengan nada yang cukup tinggi.


semua orang disitu hanya terdiam melihat kedua orang tua itu saling beradu argumen.


"Ayah jika paman ini tidak bersedia, aku bersiap mati bersama ayah!" teriak Kimora yang sejak tadi melihat kejadian di goa itu.


Longa berjalan pelan ke arah Kimora, memperhatikan mata gadis itu. Kimora memperhatikan mata paman gurunya itu dengan cukup tajam.


"Aku suka keberanianmu, jangan buang nyawamu disini. Gunakan keberanianmu disaat yang tepat. Karna hidup hanya sekali, sadar akan kekalahan sejak awal lalu pergi adalah hal yang lebih baik." Kata Longa yang masih menatap Kimora.


"Aku bukan pengecut sepertimu paman!" Sambung Kimora pelan.


"Aku harus akui, timku memang pengecut! Kami tidak ingin bertarung dengan strategi yang sudah kalah. Kami hanyalah orang-orang realistis yang menghargai nyawa anggota Tim." Jawab Longa sambil keluar dari Goa tersebut.


Sesaat semua yang ada disitu hanya terdiam membisu. Villand terlihat berpikir keras dengan tangan yang masih menempel pada dahinya, Longa diluar goa termenung melihat keatas langit yang biru disiang itu.


"Ada yang datang!" Villand berbisik dalam hati lalu melangkah keluar goa. Longa yang berada diluar juga menunjukan sikap waspada, Ia bangkit berdiri melihat kearah kaki bukit.


"Hanya dua orang bocah" kata Longa kepada Villand yang saat itu sudah ada disampingnya.


"Dari pancaran energi, mereka petarung." kata Villand.


Beberapa anggota Longa sudah bersiap dengan senjata mereka.


Langkah dua pemuda itu tidak terlihat lelah, mereka dengan sigap melompat dari batu yang satu ke batu yang lain. salah satu dari mereka memegang secarik kertas.


"Di Atas sana Arka" teriak pemuda yang memegang kertas lusuh itu.


"Hap!!!" Dua pemuda itu melompat cukup tinggi dan mendarat tepat di depan Villand dan Longa yang sejak tadi memantau mereka.


Ling dan Arka cukup terkejut melihat mereka yang sudah terkepung orang-orang didepan goa itu.


"Kami bukan musuh" kata Arka yang sudah sedikit gugup melihat pancaran energi Longa dan Villand.


"Bagaimana kami bisa tahu kalian bukan musuh" tanya Longa.


"Aku Ling, dan ini temanku Arka dari kelompok Benteng Besi. Kami bergabung kesini karna di perintahkan bibi Tiara" kata Ling yang terlihat tenang sambil memperlihatkan peta lusuh yang sejak tadi dipegangnya.


"Mereka bersama kita" kata Villand sambil menerima peta yang diberikan Tiara untuk mereka.


"Benteng Besi?" tanya Longa


"Iya, kami adalah anggota yang tersisa setelah diserang anggota kerajaan." jawab Arka.


"Dimana Rosoku?" tanya Villand.


"Guru Rosoku bersama Bibi Tiara. mereka akan kesini. Setidaknya itu yang dibicarakan Bibi Tiara sebelum kami kesini." jawab Ling.


"Jadi Rosoku selamat?" tanya Longa.


"Benar, saat ini guru kemungkinan dirawat Bibi Tiara akibat cedera yang dialaminya setelah melawan serangan pasukan kerajaan." sambung Ling lagi.


"Baguslah, kalian berdua masuklah dan beristirahatlah" jawab Villand sambil mengisyaratkan kedua pemuda itu untuk kedalam goa.


"Selalu ada cahaya disaat kegelapan datang." bisik Longa kepada Villand.


"Jadi kau masih ingin menjadi pengecut dan lari?" tanya Villand sambil tersenyum.


"Dengan adanya Rosoku, kau, Tiara dan Aku, ada kemungkinan untuk mengalahkan orang dari Organisasi dunia itu." jawab Longa.


"Dengarkan semua! persiapkan diri kalian! berlatihlah disisa waktu kita. gunakan kerjasama kalian untuk pertempuran yang sudah dekat ini!" seru Longa ditujukan kepada Anggotanya.


"Siap Guru!!!!" jawab pasukan pembunuh hitam dengan cukup lantang, sambil mengambil tempat untuk mulai berlatih.


"Siapa kalian?" tanya Kimora yang terkejut dengan kemunculan dua orang yang tidak ia kenal.


"Maaf Aku Ling dan ini Arka. kami dari kelompok Benteng Besi. kami diarahkan kesini untuk beristirahat." jawab Ling


"Aku Kimora, tempat istirahat untuk pria di sebelah, ini tempat khusus wanita" jawab Kimora.


"Noah!Noah!" teriak Kimora.


"Mengapa kau selalu mengganggu tidur siangku?" tanya Noah yang melangkah menuju Kimora dari ruang istirahatnya.


"Kau? tidur? disaat seperti ini?" tanya Kimora.


Wush!!! sebuah gumpalan es membekukan kaki Noah sebelum Noah menjawab.


"Hei gadis gila! Apa yang kau lakukan?" teriak Noah


"Itu hukuman karna kau tidur siang disaat semua sedang mempersiapkan diri untuk perang!" sahut Kimora.


"Tidur siang juga persiapan yang harus ku lakukan!" sahut Noah


"Maafkan atas yang terjadi, mari kak. biar ku tunjukkan tempat istirahat kalian." kata Kimora kepada Ling dan Arka yang cukup terkejut melihat kejadian didepan mereka.


Ling dan Arka mengikuti langkah Kimora, kemudian mereka mencoba melihat kearah Noah yang sedang susah payah melepaskan diri dari es yang membekukan sebagian kakinya.


"Apa yang kalian lihat? Apa kalian belum pernah melihat seorang pria bermain dengan Es?" Bentak Noah sambil menatap kedua orang asing itu.


Bersambung....