Noah

Noah
Latihan dan Persiapan



Suasana hiruk-pikuk didalam kota adalah hal yang biasa. Di Sana-sini banyak kendaraan yang lalu- lalang, pedagang dimana-mana, bising aktivitas di sana-sini. Sementara seorang perempuan paruh baya berjalan mengamati tiap sudut jalan yang dia lalui. Perempuan itu berjalan pelan menuju bangunan yang cukup besar, sedikit lebih megah dibanding bangunan-bangunan yang ada disekitarnya.


"Sepertinya ini tempatnya" gumamnya dalam hati.


Ia sudah berada tepat didepan bangunan itu, matanya menatap tulisan besar didepan bangunan itu, BENTENG BESI.


"Tepat seperti yang ada di petunjuk ini" kata Tiara.


BENTENG BESI adalah sebuah Kelompok Beladiri, yang anggotanya dibekali teknik beladiri Penyaluran Energi.


Teknik ini sedikit berbeda dengan teknik Pengerasan. Jika teknik Pengerasan memanfaatkan Energi yang terkonsentrasi secara berkelanjutan dan stabil, maka teknik Penyaluran Energi hanya memanfaatkan ledakan Energi minim, yang dimana penggunaan Energinya tidak secara berkelanjutan. Hal ini mengakibatkan teknik ini mampu meminimalisir penggunaan Energi murni, walaupun daya hancurnya tidak sebesar Teknik Pengerasan.


Wanita itu menekan sebuah tombol tepat didepan gerbang bangunan itu, Bel berdering keras ketika tangan Wanita itu menyentuh tombol kecil itu.


Beberapa saat kemudian, seorang pemuda membuka gerbang besar tersebut.


"Apa sudah punya janji sebelumnya?" tanya pemuda itu.


"Eh, sebelumnya Aku minta maaf, Aku ingin bertemu ketua perguruan ini." Jawab wanita itu pelan.


"Apa sudah punya janji sebelumnya?" tanya pemuda itu lagi.


"Belum, tapi ini hal penting, mohon.."


Belum selesai wanita itu berbicara, si pemuda langsung menutup kembali gerbang itu.


"Hei nak, tolong dengarkan dulu." Wanita itu mencoba memanggil orang yang menutup gerbang .


Orang itu berlalu begitu saja, Gerbang besar tadi sudah kembali terkunci.


Wanita itu hanya terdiam, mencoba menengok ke kanan dan ke kiri, dilihatnya sebuah Cafe kecil di sudut jalan, kemudian Dia mencoba menuju ke cafe itu.


Beberapa saat kemudian,Ia tiba di sana, lalu masuk kedalam Cafe itu dan memesan segelas minuman hangat; setelahnya Ia menuju kursi kosong dan duduk di sana.


"Ini minuman anda bu.." kata pelayan Cafe, sembari menyodorkan minuman hangat.


"Hei Nak, boleh tanya sesuatu?"


"Boleh bu, silahkan" jawab pelayan Cafe dengan ramah.


"Begini, Aku ingin berjumpa dengan rekan kerja lamaku. Dia sekarang adalah anggota Benteng Besi. Apakah Kamu tahu, bagaimana bisa masuk?"


"Oh, begitu ya Bu. Jam berkunjung kedalam tempat itu hanya pada pukul 16.00 sampai 18.00." jawab pelayan Cafe itu.


"Terima kasih banyak Nak."


"Sama-sama Bu, silahkan diminum" Kata pelayan itu, lalu menjauh dari Wanita tersebut.


"Aku harus menunggu sampai sore, ini akan membosankan." kata Wanita itu dalam hati, lalu meneguk minuman hangat yang ada di mejanya.


Sementara itu, jauh didalam pegunungan Noah dan kimora sedang berlatih dengan cukup serius.


Kimora terlihat sedang merapal mantranya, disekitarnya terlihat beberapa batu dan pohon dibekukan olehnya.


Wus! sebuah pohon besar kembali dibekukan oleh Kimora.


"Hei gadis cengeng, kau begitu hebat membekukan benda yang tak bergerak. Bagaimana jika kau ku tantang membekukan ini!" seru Noah sambil melepas seekor ayam hutan yang kelihatannya cukup liar.


Tanpa menjawab, Kimora mengambil kuda-kuda merapal mantra lalu mencoba membekukan ayam liar tersebut.


Wus! Ayam itu begitu lincah dan gesit, hantaman angin dingin dari kimora malah membekukan sebagian tubuh Noah yang ada di dekatnya.


"Aku menyuruhmu membekukan Ayam! bukan kakiku!" seru Noah yang jadi korban mantra Kimora.


"Diam! jangan ganggu aku! kau tadi sekilas tampak seperti ayam!" jawab kimora yang masih tidak puas. Kimora berusaha mengejar Ayam itu, mencoba mengukur jarak tembak mantranya.


Wus! Wus! Wus!


Tiga kali berturut-turut tembakan angin dingin Kimora melesat, sayangnya tidak mengenai target yang Dia maksud.


Ayam liar itu malah terbang menuju pepohonan.


"Ayam sial! Awas kau!" teriak Kimora


Noah yang terjebak es, mencoba membebaskan diri.


"Salah aku sebenarnya apa?" kata Noah pelan dengan ekspresi yang tidak percaya akan kenyataan.


Sementara Kimora masih berusaha mengejar ayam yang mengesalkan itu. Sudah bertubi-tubi Ia melepaskan tembakan mantranya, tapi ayam itu belum bisa ditangkapnya.


"Aku tidak boleh pulang tanpa Ayam brengsek ini. bisa-bisa aku diejek Cowok sial itu" gumam Kimora pelan.


Beberapa saat kemudian, Noah yang sudah lepaskan dirinya dari Es, sedang mencari-cari kemana perginya Kimora.


"Kimora! Kimora! dimana kau?" Seru Noah


"Gadis ini, kenapa harus mengejar jauh kedalam hutan?" gumam Noah yang sudah mulai khawatir.


Didalam hutan, Terlihat Kimora yang mengendap pelan, seperti ingin mengintai sesuatu.


Disekitarnya terlihat beberapa batang kering yang membeku. baru mencoba merapal mantra, Ayam yang menjadi incarannya sudah terbang makin jauh darinya.


"Sial! Sial! Sial! mau taruh dimana mukaku jika Noah tau hal ini."


Berjam-jam berlalu, Noah keluar dari hutan, lalu menuruni bukit, mendapati goa tempat istirahat mereka, dan langsung coba mencari Kimora.


"Kimora? Kau sudah pulang?" panggil Noah


"Bukannya sejak tadi kalian berlatih?" tanya Viland.


"Em... iya benar. Dia masih di atas bukit." sahut Noah tetapi dengan wajah pucat dan takut.


"Apa maksud ekspresi itu?" tanya Viland


"Dimana putriKu?" tanya Viland tapi dengan Nada sedikit lebih tinggi.


"Dia memang di atas bukit, sedang berlatih."


"Lalu kenapa kau mencarinya kesini?" Tanya Viland kali ini Dengan wajah seram


Sementara Didalam hutan, Kimora sudah kelelahan. Ia sudah terlanjur masuk terlalu jauh kedalam hutan. Ia bahkan kehilangan jejak ayam yang Dia cari, jalannya sudah terseok-seok.


"Aku perlu istirahat sejenak." kata Kimora lalu mencoba bersandar dibawah pohon besar.


Kimora melihat daerah sekitarnya, dingin dan lembab, Ia mencoba menghangatkan tubuhnya. Dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya.


"Ini sangat memalukan. Jika Noah tahu, Aku benar-benar diejek, kenapa aku harus dikalahkan seekor ayam.." kata Kimora dengan ekspresi kesal


Setelah beberapa saat istirahat, Kimora coba bangkit dan berjalan. Tidak jauh darinya, sebuah pohon bergoyang akibat sesuatu mendarat di atas pohon tersebut.


Kimora yang penasaran mencoba mencari tau apa yang terjadi.


"Elang Hitam?" seru Kimora pelan.


Benar saja, seekor elang hitam besar hinggap di atas pohon. Elang tersebut tidak menyadari kehadiran Kimora.


"Hm.... Ayam terlalu kecil untuk mantraku. Tak ada rotan akar pun jadi, tapi hari ini jadi sebaliknya. Tak ada akar, rotan pun jadi. Tak ada ayam, elang pun jadi" gumam Kimora dalam hati.


Di Atas bukit Viland sedang mencari Kimora, menyusuri hutan disekitarnya. Dibelakangnya ada Noah yang juga mencari dengan wajah yang memar dan badan yang penuh bekas hantaman rotan, sepertinya Noah baru saja di hukum akibat kelalaiannya meninggalkan Kimora sendirian masuk hutan.


"Kimora! Dimana kau Nak?" seru Viland.


"Suara Ayah? Dia menghawatirkan Aku?" tanya Kimora dalam hati, ditangannya ada seekor Elang hitam besar sudah tidak bernyawa.


"Mengapa Ia mencari ku? apa aku ini gadis bodoh yang tidak tau jalan pulang?"


"Ayah sampai mencari ku, ini pasti ulah cowok sial itu. Dia mengira aku sebodoh dirinya."


"Setelah ini, kau yang akan ku bekukan." kata Kimora dalam hati.


Bersambung.