Noah

Noah
Ramalan Kuno



Diatas bukit yang tersembunyi didalam pegunungan, didepan mulut goa itu, banyak orang sudah berkumpul Disana.


Longa dan anggotanya, lengkap dengan seragam pembunuh hitam, masing-masing mereka memegang senjata.


Ling dan Arka terlihat disana, begitu juga Kimora dan Noah. Seorang yang sudah tua berdiri diatas batu besar memegang sebuah gulungan besar.


"Dengarkan ini! Aku membacakannya untuk semua saudara seperjuangan ku! Gulungan kuno warisan Raja Pora!


Buka telinga dan hati kalian! Camkan segala kata yang tertulis ini!


Kuasa hitam akan segera datang, Ia membusuk kan segala yang dilaluinya, membubuk kan segala yang menentangnya.


Ketika sang hitam datang, tidak akan ada satu cahaya pun mampu menembus tirai kegelapan yang dibuatnya.


Sang hitam akan mengambil semua benih yang sudah ditanamnya, benih yang menerima Dia akan diberikannya kebagian palsu, tetapi bagi yang menolaknya akan dihanguskan nya.


Tetapi jangan bersedih, sekalipun kalian dibalut keputusasaan, sekalipun kalian digilas kekelaman, cahaya tahta putih akan datang bersama bintang putih.


Percayalah! Rajawali putih akan menyongsong kemenangan!


Akan tiba waktunya manusia yang dibuang mampu memutar balikan segala yang sudah direnggut si Hitam!


Bertahanlah dalam kesusahan mu! Semua kegelapan akan berlalu seperti malam yang berakhir. Matahari akan kembali bersinar, disaat itulah sang Hitam akan dibuang dari kehidupan.


Demikianlah tulisan Raja Pora." Kata Villand dengan tegas.


"Esok akan tiba saat dimana kita akan bertarung habis-habisan demi Sang Fajar! Demi kehancuran sang Hitam! Dan kita lah Rajawali putih itu!" Seru Villand lagi.


Gemuruh sorak penuh semangat memekik di bukit itu. Semangat pasukan kecil itu seperti terbakar. Mereka mengangkat tangan mereka, bersorak demi kemenangan yang akan mereka dapatkan.


Kemudian Villand mengambil sesuatu yang sejak tadi dibungkus dan diletakan di dekatnya.


Dia membukanya secara perlahan, tampak sebuah senjata seperti tombak, gagangnya lusuh, ujungnya yang runcing seperti sedikit berkarat.


"Tombak kuno, Tombak takdir yang sakral" seru Longa yang takjub melihat benda pusaka itu.


"Tahta putih! Ijinkan Aku memakainya!" Seru Villand lantang.


Villand memegang tombak purba itu, mencoba menggunakan tombak tersebut.


Diayunkannya tombak itu, sebuah gelombang kejut keluar dari tombak purba itu menghantam gundukan batu didepannya.


Gundukan batu itu porak-poranda, dan hancur bergetar.


"Benar-benar senjata legenda." ucap Longa.


"Guru... senjata apakah itu?" tanya Alka.


"Senjata Kuno itu diwarisi turun temurun oleh Raja. Namun ketika Villand melihat ketamakan didalam kerajaan, Ia memutuskan untuk membawa pergi senjata itu." jawab Longa.


"Jadi? itu senjata curian?" tanya Noah yang mendengar penjelasan Longa.


"Bisa dibilang seperti itu." jawab Longa lagi.


"Jadi kita melawan kerajaan dengan senjata yang mereka miliki sebelumnya?" Noah menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Senjata itu memiliki pemikirannya sendiri. Dia bisa memilih sendiri tuan nya." Kata Longa menyambung penjelasannya.


"Benarkah itu Guru?" tanya Alka.


"Apa itu benar?" tanya Ling yang sejak tadi juga ada didekat Longa.


"Itu benar. Aku bahkan tidak bisa memegang gagang tongkat itu." sahut Kimora.


"Apa kau pernah mencoba menggunakannya?" sambar Noah ingin tahu.


"Ya... tetapi tanganku seperti terbakar saat menyentuh tombak itu." ucap Kimora.


"Paman Villand!! bolehkah aku mencoba menggunakan tombak itu?" teriak Ling.


Villand sedikit terkejut, namun Ia tersenyum lalu berkata "Aku tidak melarang mu! silahkan jika bisa!"


"Silahkan... tapi aku tidak menyarankan." Kata Villand kepada Ling.


Ling mengangguk kemudian mencoba memegang tombak lusuh yang sudah Villand letakan di tempat khusus untuk senjata itu.


"Argh!!!!!!!" pekik Ling ketika tangannya menyentuh gagang tombak itu.


"Apa tanganmu baik-baik saja?" tanya Villand.


"Hawa tombak ini sangat panas saat disentuh, jika terlambat melepas, tanganku bisa hangus." Ling berkata dengan gemetar seluruh tubuhnya.


"Kak Ling! apa kakak baik-baik saja?" tanya Kimora sambil mencoba memeriksa tangan Ling.


"Tak apa Kimora. aku baik-baik saja. ini benar-benar tombak yang mengerikan. tapi kenapa tanganmu baik-baik saja paman?" Ling sedikit penasaran.


"Tombak ini bisa memilih siapa tuannya. Jika kau mampu memegangnya dan menggunakannya, artinya kau memang dianggap layak oleh tombak suci ini." jelas Villand.


"Apakah paman Longa juga bisa memegang tombak itu?" tanya Noah yang masih bersama Longa.


"Aku? hahahaha aku juga sepertinya bukan orang yang layak" jawab Longa.


"Guru.. dari mana asal tombak itu?" tanya Alka.


"Tombak itu warisan sejak awal mula kerajaan Nangabaras ini. mengenai asal, ada yang mengatakan itu dari langit." jelas Longa.


"Wah.... sangat mengagumkan..." kata Alka.


"Apa kau ingin mencoba juga Alka?" tanya Noah sambil menatap Alka.


"Aku memang penasaran. jika Diijinkan, aku bisa saja menjadi lebih kuat lagi untuk mengalahkan pasukan kerajaan." jawab Alka sambil melompat ke arah Villand dan yang lain diatas batu besar itu.


"Paman Guru! aku juga ingin mencoba. semoga Langit mengizinkanku." kata Alka sambil mengatur lengan bajunya.


Kemudian mencoba memegang tombak tersebut. Belum sempat memegang tombak itu, Alka menarik kembali tangannya.


"Aku merasakan panas terpancar kuat dari tombak itu." kata Alka pelan.


"Hei? kau Noah bukan?" tanya seseorang sambil menepuk pundak Noah.


"Yup.. kau bukannya dari kelompok petarung sejati? yang sempat ingin dihajar koki Ling bukan?" Noah balas bertanya.


"Yah.. Aku Roya. ini Liber." jawab Roya sambil memperkenalkan Liber pada Noah.


"Mengapa kau tidak ingin mencoba menggunakan tombak itu?" tanya Roya.


"Oh... Hm.... aku tidak ingin merusak tanganku." jawab Noah singkat.


"Mungkin saja kau layak." sambung Roya.


"Hahaha kau berlebihan, lagipula sekalipun layak, aku ini tidak ahli menggunakan senjata." jawab Noah lagi sambil tertawa.


"Roya, apakah aku layak?" tanya Liber dengan penuh harapan.


"Hm... Auramu sangat tidak sesuai." jawab Roya lalu pergi.


"Hei... Roya... kau adalah orang yang tidak suka bergaul. mengapa kau menegur Noah? Apa kau mampu mengamati sesuatu didalam dirinya?" tanya Liber yang berjalan mengikuti Roya.


"Hanya perasaanku saja. Aku memang sanggup mengamati aura dan energi seseorang. Aura Noah cukup mirip dengan aura tombak itu." sahut Roya, kemudian duduk didekat kelompok pembunuh hitam.


"Apa artinya aura Paman Villand sama dengan aura yang dipancarkan tombak tersebut?" tanya Liber lagi.


"Tidak sama, aura Paman Villand lebih gelap. bahkan tidak bisa dibilang sama." sambung Roya.


"Lalu kenapa dia bisa menjadi tuan tongkat itu?"


"Kalau yang itu aku sama sekali tidak paham. Tombak itu hanya memilih orang-orang suci, atau mungkin aku yang salah, tetapi setahuku, Semakin identik aura seseorang dengan senjatanya, maka semakin kuat serangan yang bisa dihasilkan." ujar Roya.


Bersambung.....