Noah

Noah
Menuju Utara



Rombongan kecil berjalan menuju pegunungan dengan hutan yang cukup lebat, Pohon - pohon besar seakan menjadi dinding yang menjaga tiap langkah mereka. Kicauan burung, suara binatang liar, dan suara angin yang berhembus disela-sela daun yang cukup lebat.


Sina dan Tiara berjalan sedikit terpisah dari rombongan Pasukan Sejati


"Berapa banyak anggotamu yang menggunakan mantra Sina?" tanya Tiara


"Semua anggota ku murni bertarung menggunakan energi. tidak ada satupun yang menggunakan mantra. itu sudah menjadi aturan kelompok kami. Bukannya maupun tau hal ini?" Sina balik bertanya


"Kalian masih sangat konsisten dengan apa yang diminta Villand." sahut Tiara


"Ya begitulah, artinya disini hanya kau yang menggunakan mantra."


"Lalu? Mengapa aku merasa ada pengguna mantra lain disini selain aku?" kata Tiara pelan.


"Jangan keras-keras, Aku juga merasakannya, dia berada dibelakang kita." bisik Sina


"Apa perlu kita pastikan?" tanya Tiara


"Tidak, biarkan saja, dia hanya seorang diri, lagipula pancaran energinya sangat kecil. kemungkinan hanya seorang anak kecil." Jawab Sina pelan.


"Bagaimana jika dia mata-mata?" Tiara bertanya penuh waspada.


"Aku punya ide. jangan memasang sikap waspada. Aku akan mengurusnya." kata Sina.


"Kita beristirahat dulu disini." Kata Sina dengan suara yang cukup lantang, lalu melirik kecil ke arah Roya. Roya yang cukup paham langsung mendekati Sina.


"Beri laporan Roya" bisik Sina setelah Roya cukup dekat dengannya.


"Seorang anak remaja, dari cara dia berjalan kemungkinan seorang gadis. Energinya cukup besar, walaupun dia sedikit menekan energinya agar tidak terdeteksi. jangkauan sensor ku hanya mendeteksi satu orang yang sejak tadi menguntit kita. sekalipun begitu gadis ini tidak menunjukan Energi untuk menyerang kita" bisik Roya pelan.


"Kau tipe sensor yang luar biasa" kata Tiara memuji kemampuan milik Roya.


"Terima kasih senior Tiara" Jawab Roya


"Roya, Dia mendekati kita" kata Sina yang mulai memasang sikap siaga.


"Ketua, dia di depanku." Kata Roya dengan wajah terkejut.


"Siapa kau?" hardik Tiara yang sudah mengambil kuda-kuda.


Beberapa murid rombongan itu juga memasang ancang-ancang menyerang.


"Hai..." sapa gadis tak dikenal.


"H... hai..." Roya membalas sapaan gadis itu.


Beberapa anggota rombongan mereka cukup melongo melihat gadis muda yang tubuhnya hanya berbalut selembar kain putih nan tipis muncul didepan mereka.


"Hai Nak... Siapa kamu dan apa yang kamu lakukan disini?" tanya Tiara.


"Aku Lely" jawab si gadis pelan, tetapi memasang wajah malu.


"Letakan senjatamu terlebih dahulu." kata Sina pada gadis yang bernama Lely.


Gadis itu membuang senjatanya, lalu mengangkat kedua tangannya, tanda bahwa Ia tidak ingin melawan.


Tiara melihat senjata itu "Busur tanpa anak panah? pakaian tenun putih dari sutra. tidak salah lagi. Apa kau dari kelompok Cahaya Surga?" tanya Tiara.


"Dari mana Bibi tau?" gadis itu balik bertanya


"Pakaian dan senjata yang kau gunakan, ciri khas dari kelompok Cahaya surga." jawab Tiara.


"Hei aku pernah mendengar rumor bahwa kelompok Cahaya surga hanya beranggotakan para wanita" bisik -bisik terjadi diantara para murid Sina.


"Iya itu benar, aku juga pernah mendengar bahwa mereka tidak ramah terhadap setiap lelaki yang mereka temui." jawab salah seorang didalam kelompok murid-murid Sina.


"Aulia, apa kau membawa pakaian yang lebih layak? berikan untuk dia." Kata Sina sambil melihat ke arah Aulia.


Aulia segera mencari pakaian yang kebetulan Ia bawa untuk diberikan pada Lely.


"Ini, minumlah" Kata Roya seraya menyodorkan sebotol air minum untuk gadis yang masih berdiri beberapa meter dari mereka.


"Tahan Lely!" Kami bukan musuhmu teriak Tiara.


"Roya, mundur lah perlahan, kelompok Cahaya surga tidak biasa bersosialisasi dengan lelaki" sambung Tiara lagi


Lely masih memasang sikap menyerang, tatapannya tajam dan tak ragu.


Roya yang merasakan adanya aura membunuh yang kuat dari gadis didepannya itu, segera mengangkat tangannya, kemudian berusaha mundur perlahan.


Beberapa murid Sina mengambil senjata mereka, bersiap untuk menyerang Lely.


"Tahan, jangan ada yang menyerang gadis itu!" teriak Sina.


"Dia bukan musuh kita" sambung Sina lagi.


Melihat beberapa murid Sina yang sudah memegang senjata mereka, Lely dengan cepat mengubah target serangnya. Busurnya di arahkan kepada murid-murid Sina.


"Nak Lely, kami bukan musuhmu! jangan menembak." kata Tiara.


"Aku kenal ketua mu, Angela. kita perlu memberitahu Angela, Pasukan Kerajaan kemungkinan akan menyerang markas Cahaya surga." sambung Tiara lagi.


"Sudah terlambat, tempat kami sudah dihancurkan. Hanya Aku yang tersisa." kata Lely namun tidak menurunkan niat membunuhnya, busur panah itu masih dia arahkan ke targetnya.


"Hei kau, rambut merah" Lely mencoba berkomunikasi dengan Roya.


Roya sempat memegangi rambutnya, lalu kebingungan melihat rambut anggota rombongannya dan kemudian sadar hanya dia satu-satunya yang berambut merah disitu.


"I iya.. apakah aku yang kau maksud nona?" tanya Roya.


"Ya... kau... Kau tipe sensor yang sejak tadi mewaspadai gerakanku. Jika kau berhasil menebak kemana arah tembakanku maka aku akan menyerah." kata Lely memasang wajah serius.


Roya kebingungan, sedikit gugup, jika salah memprediksi bisa-bisa temannya mati oleh panah dengan cahaya aneh.


"K kau memang memiliki aura membunuh beberapa detik lalu, tetapi hilang setelah berbicara kepadaku. kemungkinan kau tidak menembak siapa-siapa." jawab Roya sedikit gugup.


"Maaf tebakanmu salah"


Wussh!!! Panah cahaya itu melesat begitu cepat mengarah pada seorang lelaki.


Sret! prak!


Sina menangkap panah aneh itu dengan mudah. Cahaya panah itu menghilang perlahan digenggaman Sina.


Murid-murid Sina sudah berkeringat karna gugup.


"Dia mengubah arah. Targetnya adalah guru" kata salah seorang murid Sina.


Lely membuang busurnya, mengangkat tangannya lalu berkata "Aku menyerah"


Tiara dan Aulia segera mendekati gadis itu membawakan pakaian yang layak untuknya.


"Hei kau.. siapa namamu?" tanya Lely sambil melihat ke arah Roya.


"Roya, aku Roya" jawab Roya yang masih waspada.


"Kau tipe sensor kan? Walaupun kau belum bisa melihat masa depan, tapi kau cukup jenius, memprediksi gerakanku dengan mengamati perubahan aura dan energi pada lawanmu. Aku Lely, salam kenal" kata Lely sambil tersenyum.


Roya hanya terpaku. Beberapa murid Sina mendekati Roya lalu berkata "Sepertinya gadis itu menyukaimu."


"Roya, sepertinya dia tertarik padamu" sambung yang lain.


Roya membalas senyum gadis itu lalu berjalan ke arah gurunya.


"Guru, gadis ini sepertinya cukup hebat" kata Roya


"Dia luar biasa. Tipe sensor sepertimu. Dia tau hanya Aku dan Tiara yang bisa melumpuhkan tembakan panah cahaya nya. Untuk menyerang Tiara itu tidak mungkin, jadi dia mengambil keputusan melepaskan serangannya kepadaku. Tipe sensor yang luar biasa. Kau perlu belajar kepadanya Roya" kata Sina.


"Ku pikir tipe sensor sepertiku adalah tipe paling lemah, ternyata bisa menjadi sangat mengerikan jika ditangan orang yang tepat." kata Roya dalam hati sembari tersenyum.


Bersambung......