
Kenapa aku jadi kelinci lagi? Selama aku berada di kahyangan, aku tidak pernah jadi kelinci, tapi kenapa kini jadi kelinci lagi. Batin Gandasuli.
Chanan melirik kelinci putih yang duduk di jok mobil dengan tegak. Lalu, dokter bedah muda nan tampan itu berkata, "Kau akan jadi kelinci terus atau tiap jam berubah jadi manusia lagi?"
"Entahlah. Aku tidak tahu" Ucap Gandasuli.
"Kenapa kau tidak tahu?"
"Karena selama aku di kahyangan aku tidak pernah berubah jadi kelinci"
Ckiiiitttt! Chanan sontak mengerem laju mobilnya dan menoleh kaget ke Gandasuli, "Apa kau bilang? Kahyangan?"
"Iya. Aku turun dari kahyangan. Aku putri bunga di kahyangan"
"Jadi, selama ini kamu kembali ke kahyangan dan membuatku hilang ingatan?" Chanan mengerutkan keningnya di depan Gandasuli.
"Aku juga hilang ingatan selama di kahyangan. Entahlah kenapa aku tiba-tiba ingat dan jatuh ke bumi lagi tepat di dekat kamu. Mungkin karena kamu memencet liontin kalungku"
"Lalu, biasanya aku manggil kamu apa?" Tanya Chanan masih dengan kerutan di keningnya.
"Kalau di depan Mama, Mbak Dona, atau Kak Rio, kamu manggil aku Snowy. Tapi, jika kita berdua aja, kamu manggil aku Suli"
"Kenapa begitu?"
"Karena di awal perjumpaan kita, kamu tidak suka dengan namaku. Jadi, kamu daftarkan aku dengan nama Snowy. Kamu buat kartu identitasku dengan nama Snowy. Dan syukurlah alergi kamu tidak kumat lagi"
Chanan kemudian berdiam diri. Namun, Chanan terus bergumam di dalam hati, dia tahu semuanya. Berarti dia benar-benar adalah Istriku yang selama dua tahun ini ku cari seperti orang kesetanan. Suasana di dalam mobil kemudian hening hingga mereka berdua sampai di rumahnya Chanan.
Chanan menggendong kelinci putih itu masuk ke dalam rumahnya dan bertanya, "Ada baju wanita di kamarku. Apa kita tidur sekamar selama ini?"
"Iya" Kelinci putih itu manggut-manggut di depan Chanan.
Sial! Kenapa dia imut banget. Batin Chanan.
"A.....apa kita sudah melakukan i.... itu. Emm, maksudku emm, kewajiban kita sebagai suami istri di malam pertama pernikahan kita?"
"Kita sudah melakukan itu. Tapi, tidak di malam pernikahan kita"
"Kenapa begitu?"
"Panjang ceritanya"
"Apa kabar mantan pacar kamu, eh, maksudku mantan tunangan kamu yang foto model itu. Aku lupa namanya karena dia sainganku dan aku nggak mau mengingat namanya"
"Kau bahkan tahu soal itu. Aku tidak pernah bertemu dengannya sejak aku pulang dari rumah sakit"
"Ooooo. Baguslah"
"Kamu kenapa tidak berubah menjadi manusia? Kenapa sudah dua jam lewat kamu belum berubah jadi manusia? Apa memang kamu tidak bisa lagi berubah jadi manusia?"
"Entahlah"
Sial! Kalau dia tidak berubah jadi manusia lagi, bagaimana bisa aku membalaskan kekesalanku selama ini? Batin Chanan.
"Baiklah. Aku tinggalkan kamu di kamar ini. Aku akan siapkan makanan di meja makan. Aku akan mandi lalu ke rumah sakit. Ada operasi sampai jam sepuluh malam. Nggak usah nunggu aku. Aku bisa buka pintu sendiri dan kalau ada yang ngetuk pintu jangan dibukain!"
"Iya mana bisa aku buka pintu dengan tubuh sekecil ini" Sahut Gandasuli.
"Iya. Benar juga, ya. Oke. Aku akan buka pintu kamar pas aku keluar nanti agar kamu bisa bolak-balik keluar masuk kamar untuk makan atau sekadar jalan-jalan di dalam rumah"
"Terima kasih, Mas" Sahut Gandasuli.
Mendengar Gandasuli memanggilnya mas, hati Chanan berdesir hangat dan wajahnya merona merah. Chanan kemudian brbrkaik badan dengan cepat dan berlari masuk ke kamar mandi.
Saat Chanan keluar dari dalam kamar mandi, dia melihat kelinci putih telah meringkuk dan tidur pulas. Chanan berjongkok didepan ranjang dan bergumam lirih sambil mengelus pelan pucuk kepala kelinci putih itu, "Dia imut banget. Saat aku menyentuhnya seperti ini hatiku berdesir hanya dan jantungku berdentum kencang. Apa itu tandanya kalau aku mencintainya?"
Chanan kemudian berangkat ke rumah sakit dan membiarkan pintu kamar terbuka lebar
Tepat jam sebelas malam, Chanan masuk ke dalam rumah dan dikejutkan dengan pemandangan yang ia harapkan. Kelinci putih telah berubah menjadi seorang gadis dengan baju tidur berupa kaos dan celana pendek yang terbuat dari bahan katun.
Chanan melihat rumahnya sudah rapi dan bersih. Lalu, ia berjongkok di depan sofa untuk melihat gadis yang tidur di atas Sofanya.
Chanan mengusap pelan rambut indah gadis cantik di depannya sambil bergumam, "Dia cantik banget. Sama imutnya kalau ia jadi kelinci. Beruntungnya aku bisa menikah dengan gadis secantik dan seunik ini? Tapi, mau sampai kapan dia berubah-ubah bentuk kadang jadi kelinci kadang jadi manusia? Bisa repot dong kalau seperti itu terus"
Tiba-tiba Gandasuli membuka mata dan Chanan terkejut. Pria tampan itu langsung terduduk di atas lantai dan membeku di sana.
Gandasuli langsung bangun dan dia merosot turun dari atas sofa untuk duduk bersila di depan Chanan, lalu ia berkata, "Mas, aku kangen banget sama kamu" Gandasuli berucap sembari mengusap dada Chanan dengan kedua telapak tangannya.
Glek! Chanan sontak kesulitan menelan air liurnya sendiri.