My Snowy

My Snowy
Dansa



"Kita mau ke mana, Mas? Kenapa Mama meminta kamu untuk mengajakku berdansa?"


"Iya, tentu saja aku akan mengajak kamu ke tengah-tengah lantai dansa dan kita akan berdansa di sana"


"Dansa itu apa,Mas?" Tanya Gandasuli ke suaminya saat suaminya telah membawanya ke tengah lantai dansa.


"Seperti itu" Chanan menunjuk sepasang kekasih yang sudah memulai berdansa.


"Hah?! Mas! Aku tidak bisa berdansa. Tidak pernah ada pelajaran berdansa seperti itu di kahyangan"


"Tenanglah! Aku akan ajari kamu. Kita akan sering menghadiri acara seperti ini dan kita akan sering berdansa, jadi tidak ada salahnya kalau aku mulai mengajari kamu berdansa saat ini" Ucap Chanan sambil menggamit pinggang Gandasuli.


Di saat Gandasuli tersipu malu, Chanan menarik Gandasuli lebih dekat, hingga tubuh mereka menempel lekat, kedua lengannya lalu memeluk pinggang Gandasuli. Dia kemudian melindungi istrinya dengan aman di dalam pelukannya sembari mulai mengajari Gandasuli bergerak mengikuti alunan musik lembut yang mengiringi mereka di malam itu.


Melihat kemesraan yang diperlihatkan oleh Chanan dan melihat kebahagiaan Chanan, membuat Adam Prist semakin menggeram penuh amarah. Dia cemburu bukan hanya karena istrinya masih mencintai Chanan. Namun, dia juga cemburu dengan kebahagiaannya Chanan.


"Setelah acara ini selesai, ikuti mobil dokter ingusan itu dan giring mobilnya ke arah dermaga. Lalu, tabrak mobilnya sampai mobil itu masuk ke dalam pantai dan tinggalkan! Biar dia mati kehabisan napas di sana" Abram berbisik di telinga asisten pribadinya.


"Baik, Tuan" Sahut Asisten pribadinya Chanan.


Gandasuli bisa merasakan napas hangat suami tampannya mengenai rambut. Ia juga bisa merasakan detak jantung Chanan yang berdetak sama kencangnya seperti jantungnya. Ia juga bisa merasakan hangatnya sentuhan Chanan di punggungnya. Dia bisa merasakan semua.


Seketika indra-indra yang ada di tubuh Gandasuli terbangun dengan dahaga yang ingin secepat mungkin dipuaskan.


Di saat Gandasuli mendongak dan menatap kedua bola mata Chanan yang tampak sangat menggoda, Chanan menunduk dan berkata, "Ini namanya slow dance. Berdansa slow. Pelan bergerak dengan iringan musik selembut ini"


"Kenapa? Kenapa harus bergerak pelan?"


"Karena musiknya lembut dan agar kita bisa lebih lama memeluk kekasih kita" Sahut Chanan senyum penuh cinta dan dengan suara serak menahan gairah.


Gandasuli sontak menyusupkan wajahnya yang tersipu malu ke dada bidang suaminya dan Chanan langsung memeluk erat tubuh Gandasuli dengan senyum lebar penuh cinta.


Di saat lantai dansa mulai penuh karena banyak pasangan lain bergabung di lantai dansa, Chanan semakin protektif dan semakin melindungi Gandasuli di dalam pelukannya.


Pria tampan itu kemudian menyusupkan wajahnya di telinga Gandasuli dan berbisik di sana, " Aku harus melindungi kamu saat ini karena, kau sangat cantik memakai dress ini. Kau juga sangat pandai. Dengan cepat kau bisa berdansa dengan sangat baik. Kau luar biasa, Suli"


"Terima kasih" Gandasuli menyahut dengan suara yang mulai terdengar parau menahan gairah.


Chanan kemudian menarik wajahnya dan menatap Gandasuli, "Aku tidak memberikan pujian basa-basi saat ini. Kau tahu, kau benar-benar cantik. Banyak pasang mata pria menatap dan melirik kamu. Aku sampai kesal dan ingin menghardik semua pria yang ada di sini agar mereka tidak melirik Istriku. Karena kau bahkan lebih dari kata cantik. Aku sempurna dan kau sungguh-sungguh telah memikat aku, Sayang. Aku terhipnotis oleh pesonamu, Sayang dan aku mencintaimu. Sungguh!"


"Kau juga sempurna. Aku rasa, aku juga sangat mencintai kamu, Kak Chan" Sahut Gandasuli masih dengan suara parau menahan gairah.


"Kau tidak perlu canggung lagi di depanku. Kita saling mencintai dan kita ini pasangan Suami Istri yang sah" Chanan mencium lembut pipi kanan Gandasuli dan Gandasuli langsung menganggukkan kepalanya dengan pelan dan dengan tersipu malu.


Chanan tersenyum bahagia. Gandasuli sontak mengalihkan pandangannya karena ia merasa tidak kuat bersitatap berlama-lama dengan suami tampannya itu.


Di saat Chanan mempererat pelukannya, paha mereka berdua menjadi menyatu, perut rata mereka saling menekan, dan pinggul mereka saling menempel lekat, dada Gandasuli menabrak dada Chanan. Keduanya saling pandang dengan debaran jantung abnormal. Di saat Chanan menunduk ingin mencium bibir Gandasuli, tiba-tiba musik berhenti.


Master of Ceremony kemudian berkata, "Kita akan ganti musiknya dengan musik rancak. Tunggu sebentar, ya!"


Kesempatan itu segera dipakai oleh Chanan untuk memulai aksinya sebelum ia lupa karena terhipnotis pesona istri csntiknya. Dan memang beberapa menit yang lalu dia hampir saja melupakan rencananya.


Chanan tiba-tiba berjongkok di depan Gandasuli sambil merogoh saku kemejanya. Lalu, ia membuka kotak kecil berwarna merah darah kemudian menyodorkan kotak itu ke Gandasuli sambil bertanya, "Maukah kau memakai cincin tanda cinta kita berdua ini, Istri cantikku? Pakai cincin pernikahan kita ini di jari manis tangan kanan kamu" Chanan kemudian bersimpuh dengan satu kaki dan tersenyum manis penuh harap.


Aku dan dia dari dunia yang berbeda. Apa kami bisa hidup bersama di bumi ini? Bukankah aku harus balik ke kahyangan untuk mengurus istana bunga dan membuat perhitungan dengan ibu tiriku? Batin Gandasuli.


Ratih sontak berteriak dan bertepuk tangan, "Terima! Terima! Terima!"


Semua yang hadir mengikuti Ratih.


Gemuruh tepuk tangan dan teriakan, "Terima! Terima! Terima!" Dan wajah memelasnya Chanan yang masih bersimpuh dengan satu kaki di depannya, akhirnya meluluhkan hati Gandasuli.


Gandasuli mengambil cincin yang takkan kecil dari kotak kecil itu lalu memakainya.


Chanan memekik gembira dan langsung berkata, "Terima kasih saat Gandasuli bersedia menerima cincin yang ia berikan lalu memakainya di depan Chanan.


Bunyi gemuruh tepuk tangan langsung memenuhi aula besar sebuah hotel mewah tempat diadakannya pertemuan Akbar para CEO tingkat Internasional itu.


Gandasuli lalu berkata sambil mengangkat pelan kedua bahu Chanan, "Berdirilah, Mas"


Chanan berdiri di depan Gandasuli lalu berkata, "Tolong pasangkan cincin ini di jariku" Chanan berucap sambil membuang asal kotak kecil yang telah kosong.


Gandasuli merona malu saat ia memakainya cincin di jari manis tangan kanannya Chanan.


Chanan kemudian menundukkan wajahnya dengan pelan untuk mendaratkan ciuman di bibir Gandasuli. Pria tampan itu tersenyum saat ia melihat Gandasuli menutup mata dan Chanan segera mencium bibir istri cantiknya itu saat ia merasakan tubuh Gandasuli bergetar dan melemah di bawah pelukannya.


Ya, Tuhan! Rasanya luar biasa. Ciuman ini. Bibir Chanan. Hangat dan tega, sekaligus lembur. Bibir suami buminya itu bergerak pada bibirnya, mencicipi dan terus mencicipi dengan lembut. Dagu Chanan yang ditumbuhi janggut tipis menimbulkan sensasi yang menyenangkan pada kulit Gandasuli. Wangi parfum bercampur cologne mewah beraroma mint maskulin yang menguar samar-samar dari tubuh Chanan membuat Gandasuli seketika kehilangan kesadaran dan kendali atas dirinya.


Chanan yang semakin dililit gairah, akhirnya membopong Gandasuli dan saat ia berlari melintasi mamanya, ia berkata, "Ma, aku dan Snowy pulang dulu"


Ratih langsung tertawa bahagia dan menyahut, "Iya! Pulanglah kalian dan bikin cucu yang sangat tampan untuk Mama"


Gandasuli langsung menyembunyikan rona merah di wajahnya ke dada Chanan dan Ratih semakin menggemakan tawa bahagianya melihat kemesraan Chanan dan Snowy.


Sementara itu Arabella yang masih belum berhasil menghubungi Chanan agar pria tampan yang masih sangat ia cintai itu mewaspadai suaminya, mulai panik. Hunga pada akhirnya, wanita itu nekat muncul di pesta para CEO tingkat Internasional itu. Wanita berprofesi model itu celingukkan dan semakin panik saat ia tidak menemukan Chanan.


Abram Prist melihat Istrinya yang datang dengan mengenakan celana jins, bertopi dan berkacamata hitam.


Abram Prist langsung berlari ke pintu keluar dan langsung membopong istrinya dengan menggeram penuh amarah, "Kau memang keras kepala! aku sudah katakan jangan ke sini! Karena aku nggak ingin semua orang melihat wajah lebam kamu. Kenapa kamu nekat datang ke sini dengan baju seperti ini, hah?! Kau mau mempermalukan suami kamu?!"


Arabella terus meronta dan berteriak, "Lepaskan aku! Turunkan aku! Aku tidak ingin mempermalukan kamu. Aku........"


"Oh! Aku tahu. Kau ingin menyelamtakan kekasih gelap kamu itu, kan?"


Arabella seketika membeku di dalam dekapan suaminya.


Adam melemparkan Arabella ke jok belakang mobil mewahnya dan menggeram, "Sudah Terlambat. Sebentar lagi kau akan menerima kabar menyedihkan. Dokter muda ingusan yang tidak tahu malu telah menggoda istri orang itu, akan mati malam ini juga"


"Tidaakkkkkkk!" Arabella langsung berteriak frustasi.


"Hahahahahaha! berteiaklah! Berteiaklah sepuas kamu! Kamu tidak bisa melakukan apa-apa saat ini, hahahahahaha! Berteiaklah, Sayang!" Pekik Abram Prist dengan seringai menakutkan.


Adam kemudian masuk ke dalam mobil, mengunci pintu mobil dan berkata, "Sekarang aku akan bikin kamu berteriak puas karena aku ingin memakan kamu saat ini juga, Sayang"


Arabella kembali berteriak, "Tidaaakkkkk!!!!!"