My Snowy

My Snowy
Istriku



"Kenapa senyum kamu mengerikan kayak penari theater di kahyangan? Memangnya kau mau minta tolong apa?"


"Hehehehehe, kamu udah pakai dress yang oke. Terus rambut kamu juga oke. Kamu udah cantik alami. Sekarang bangun dan ikut aku ke depan, ke ruang tamu!"


Gandasuli buruan bangkit dan berlari kecil mendekati Chanan untuk bertanya, "Kamu baru aja bilang kalau aku cantik? Aku nggak salah dengar, kan?" Gandasuli memajukan wajahnya dengan senyum lebar dan Chanan langsung menahan kening Gandasuli dengan jari telunjuknya sambil berkata, "Kamu salah dengar. Mana ada aku bilang cantik ke cewek berpipi tembem kayak kamu, cih!"


Gandasuli merengut sambil menegakkan kembali kepalanya.


Chanan tertegun melihat wajah cemberutnya Gandasuli dan langsung membatin, sial! Kalau cemberut dia tambah imut dan menggemaskan.


Chanan langsung berdeham untuk mengusir pikiran aneh yang berkelebat di benaknya dan untuk mengusir rasa canggung yang tiba-tiba hadir tanpa permisi. Pria tampan lalu berbalik badan cepat sambil berkata, "Ayo buruan ke ruang tamu!"


Gandasuli mengekor langkahnya Chanan sambil mengacungkan tinju ke belakang kepalanya Chanan.


"Kau mengarahkan tinju ke aku, ya?" Tanya Chanan tanpa menoleh ke belakang.


Eh! Kok dia bisa tahu? Emang dia punya mata di belakang kepala, ya? Dan, bruk! Karena ingin tahu apakah Chanan punya mata di belakang kepalanya, Gandasuli menabrak punggung Chanan yang tiba-tiba mengerem langkah kakinya.


"Aduh!" Gandasuli mengusap pucuk hidungnya yang berdenyut.


Melihat Chanan mematung di depannya dan mendengar suara lembut seroang wanita, "Hai, Chan" Membuat Gandasuli keluar dari balik punggung Chanan dan langsung mengerjapkan mata saat ia bersitatap dengan wanita tinggi, ramping, dan cantik.


"Siapa kamu anak cantik? Kamu imut, kulit kamu putih banget, dan kamu cantik" Dengan senyum ramah Bella menyapa gadis cantik yang muncul dari balik punggung mantan kekasihnya.


Mendengar pujian Bella untuk Gandasuli, Chanan sontak menoleh ke samping kanannya dan seketika pria tampan itu bergumam di dalam hatinya, benar kata Bella. Snowy memang cantik banget. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Dulu bagiku Bella wanita paling cantik di dunia ini, tapi saat ini Bella tampak biasa saja jika dibandingkan dengan Snowy.


Gandasuli tersenyum ramah dan setelah menganggukkan kepala, gadis cantik itu itu berkata, "Saya adalah..........,"


Bella tiba-tiba bertepuk tangan sambil memekik riang, "Chan! Dia adik sepupu jauh kamu, ya?"


Chanan tersentak kaget dan kembali menatap Bella sambil merangkul bahu Gandasuli.


Gandasuli menoleh kaget ke Chanan dan semakin kaget saat Chanan menunduk untuk berbisik, "Dia mantan tunanganku. Kau harus kembali bersandiwara menjadi Istri yang sangat aku cintai"


Gandasuli sontak menghela napas panjang.


"Chan? Siapa gadis cantik yang kamu rangkul itu?" Bella bertanya dengan wajah penuh kecurigaan dan berharap kecurigaannya itu salah.


"Ini Istriku" Chanan berusaha tampak santai saat ia menjawab pertanyaan dari mantan kekasihnya itu.


"What?! Nggak! Kamu bohong, kan? Kamu sedang bercanda, kan, saat ini? Karena kamu kemarin bilang kalau kamu belum menikah" Bella membeliak kaget.


Gandasuli menoleh tajam ke Chanan dan Chanan langsung mendaratkan ciuman di kening Gandasuli sambil berkata, "Itu karena kemarin aku sedang kesal dengan Istri cantikku ini. Biasa, kan, pengantin baru"


"Aku masih nggak percaya, Chan!" Pekik Bella dengan penuh kecemburuan.


"Ini bukti buku nikahnya, Tuan beneran sudah menikah" Sahut Roy sambil memperlihatkan dua buku nikah.


Chanan yang masih menatap Gandasuli berkata, "Dan aku sangat mencintai Istri imutku ingin Benar, kan, Sayang?" Chanan mengusap mesra kepala Gandasuli.


Gandasuli kembali menghela napas panjang lalu menganggukkan kepala sambil menoleh kembali ke depan dengan perlahan dan berharap sandiwara yang ia mainkan segera berakhir karena ia sudah lapar membayangkan salad buah.


"Kau bohong, Chan! Aku bisa tahu kalau kau bohong, Chan" Bella menyeringai dan terus menggelengkan kepala.


Gandasuli menepuk dada Chanan dengan kesal dan menggeram lirih, "Siapa yang liar?"


Chanan langsung menyusupkan wajahnya di kuping Gandasuli untuk berbisik, "Ssstttt! Jangan protes! Kalau protes nggak dapat salad buah dan aku akan cium bibir kamu"


Gandasuli refleks menepuk kembali dada Chanan.


Melihat kemesraan yang ditunjukkan Chanan, Bella langsung berbalik badan dan pergi dari rumahnya Chanan tanpa pamit.


Chanan menoleh ke depan dan langsung tersenyum penuh kemenangan lalu berkata, "Fiuuhhhh! Akhirnya aku berhasil mengusirnya dari hidupku untuk selama-lamanya"


"Permisi! Kenapa tangan ini masih ada di bahuku, ya? Emang senyaman itu bahu ini?" Bisik Gandasuki dengan wajah kesal dan Chanan tersentak kaget dan langsung menarik tangannya sambil berkata, "Apanya yang nyaman? Bahu kurus penuh tulang gitu, mana ada nyaman"


"Kau........."


"Ayo buruan keluar! katanya mau salad buah"


Seketika menguap semua kekesalan Gandasuli. Gadis cantik itu lalu mengekor langkah Chanan dengan wajah cerah ceria dan penuh antusias.


Roy langsung bergegas menyusul langkah tuan muda dan nyonya mudanya.


Beberapa jam kemudian Roy, Gandasuli, dan Chanan telah duduk di sebuah meja bundar di dalam sebuah restoran yang berkonsep alam.


Gandasuli langsung berbisik ke Chanan, "Apa aku boleh bermain berguling-guling di rumput itu? Rumputnya hijau banget dan tampak tebal. Mirip banget sama rumput yang ada di rumahku. Aku mendadak rindu sama rumahku. Aku rindu Ayahku juga"


Chanan menoleh ke Gandasuli ingin menyalami kata tidak. Namun, saat ia melihat pijar bahagia di kedua bola mata indah Gandasuli, pria tampan itu justru menganggukkan kepala dan berkata, "Boleh. Tapi, jangan lama-lama"


Saking girangnya, Gandasuli tanpa sadar memeluk Chanan dan mencium pipi Chanan seperti yang biasa ia lakukan kepada ayahnya kalau ia kegirangan sambil berkata, "Terima kasih" Lalu, gadis cantik itu berlari ke halaman belakang restoran tersebut dengan melompat-lompat kegirangan.


Sementara itu Chanan membeku setelah menerima pelukan dan ciuman di pipi.


"Tuan, Nyonya muda menggemaskan banget, ya. Imut, polos, dan sayang banget sama Tuan" Sahut Roy.


Roy mengerutkan keningnya saat ia melihat bosnya tidak merespons ucapannya. Bosnya tengah menatap nyonya mudanya yang tengah bermain ayunan. Roy tersentak kaget saat ia melihat bosnya kembali tersenyum secara alami.


Ah! Tuan muda, Anda mani banget kalau jatuh cinta. Terkahir saya melihat Anda tersenyum seperti ini pas Anda bertunangan dengan Nona Bella. Ah! Aku biarkan saja Tuan memandangi Istrinya. Aku nggak akan menggangunya. Batin Roy sambil mengulas senyum lega akhirnya bosnya kembali jatuh cinta dan bahagia.


"Aku senang banget main ayunan tadi, tapi aku lapar banget dan ingin segera menikmati salad buahnya" Ucap Gandasuli sambil duduk di sebelahnya Chanan..


Alih-alih merespons ucapannya Gandasuli, Chanan justru menatap terus Gandasuli dengan senyum lebar.


"Apa aku boleh mencicipi makanan kamu? Apa itu?" Gandasuli menunjuk kue cokelat almond yang ada di depannya Chanan.


"Hah?!" Chanan tersentak kaget dan langsung bertanya, "Kau ngomong apa barusan?"


"Apa aku boleh mencicipi makanan yang ada di depan kamu? Kelihatannya enak. Apa namanya?"


"Oh, ini. Ini namanya kue cokelat almond. Untuk kamu aja semuanya. Makan yang banyak biar cepat pulih kaki kamu" Chanan berucap sembari menggeser piring kecil berisi cokelat almond itu.


"Kakiku udah sembuh. Aku udah berlari melompat-lompat tadi dan aku sudah main ayunan, kan? Kamu nggak lihat tadi?"


"Hah?! Kenapa bisa cepat sekali sembuhnya. Mana aku lihat. Jangan-jangan tambah parah lagi. Sembrono banget kamu berlari dan melompat-lompat tadi. Dasar bodoh!" Chanan langsung berjongkok dan saat ia menyentuh kaki Gandasuli, dada gadis cantik itu kembali berdegup abnormal.