My Snowy

My Snowy
Seringai Senang



Saat Chanan hendak masuk ke dalam lift, ada seorang perawat yang berteriak dan membuat Chanan menahan pintu lift yang hendak menutup kembali. Pria tampan berprofesi dokter bedah itu kemudian menoleh ke perawat yang telah menahan langkahnya untuk masuk ke dalam lift dan Chanan langsung bertanya, "Ada apa?" Ke perawat itu.


"Ada seorang wanita muda yang hampir saja mati bunuh diri dengan menyayat nadi di pergelangan tangan kanannya, Dok. Untungnya luka sayatannya tidak begitu dalam dan pendarahannya tidak parah. Dia masih hidup cuma masih syok, Dok"


"Kenapa lapor ke saya? Kenapa nggak bawa wanita itu ke IGD biar ditangani sama dokter yang bertugas di sana?"


"Kami mencari dokter dan sangat senang dokter ternyata ada di rumah sakit pas kami butuhkan. Karena, wanita yang nekat hendak bunuh diri itu memanggil-manggil nama dokter terus"


"Hah?! Kok bisa?" Chanan sontak mengerutkan keningnya.


"Iya. Dan dia menyusahkan kami para perawat IGD yang harus terus menerus menahan tangannya karena dia nekat mengambil gunting yang ada di dekatnya dan hendak bunuh diri lagi kalau dia tidak segera dipertemukan dengan Anda. Kami ingin membiusnya, tapi dokter jaga IGD melarangnya Jadi, dengan sangat terpaksa kami mengikat tangannya. Tolong kami, Dok. Kamu sudah sangat kewalahan menghadapinya"


"Siapa dia? Kenapa dia terus memanggil namaku? Memangnya aku ini Ayahnya? Kenapa juga dia nekat hendak bunuh diri lagi kalau tidak bertemu denganku? Memangnya aku ini artis yang punya fans fanatik?"


"Dia mantan tunangan Anda, Dok"


"Hah?! Antar aku menemuinya sekarang kalau begitu! Sial! Kenapa harus Bella? Bikin repot saja"


"Mari, Dok"


Chanan lalu membiarkan pintu lift menutup kembali dan dia berlari kecil menuju ke ruang ke IGD yang berada di ujung selasar lantai satu.


"Wanita yang tadi menemui Anda, mantan tunangan tuan muda, saat ini ada di ruang IGD rumah sakit Rahardian,.Nyonya. Saya yang membawanya ke sana. Dia nekat bunuh diri dengan menyayat nadi di pergelangan tangan kanannya. Dia melakukannya di dalam mobilnya saat ia parkir di halaman sebuah restoran mewah"


"Apa?! Mamanya Chanan tersentak kaget saat ia mendengar laporan dari sekretaris pribadinya.


"Iya, Nyonya. Saya langsung membawanya ke IGD dsn untungnya lukanya tidak begitu dalam dan dia selamat. Namun, dia terus memanggil nama Tuan muda, Nyonya. Untuk itulah saya bergegas kemari untuk melaporkan semuanya"


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang juga!" Pekik Mamanya Chanan sambil berlari kecil keluar dari ruang kerjanya.


Gandasuli kemudian berjalan ke ruang makan. Setelah bangun dari pingsan dan mandi, badannya terasa sangat segar, namun perutnya terasa sangat lapar.


Gandasuli duduk di kursi dan memandang kertas bertuliskan, "Makan, minum susunya, dan minum obatnya! Obat ini vitamin penambah darah. Kamu pingsan kemungkinan karena kamu anemia. Suami kamu yang perhatian ini harus terus bersabar dengan kebodohan dan fitnahan kamu. Kebaikanku selalu saja kamu balas dengan fitnahan"


"Huh! Fitnahan apa?! Kamu memang menciumku dan membuatku sesak napas sampai pingsan. Dasar aneh!" Gandasuli meremas kertas itu dengan mendengus kesal , lalu melemparkan kertas itu ke kotak sampah.


Gandasuli kemudian memakan kue cokelat almond yang perdana ia sukai setelah kue bulan. Lalu, Gandasuli juga tersenyum senang saat ia mengunyah nasi goreng mangga yang juga perdana ia cicipi dan langsung ia sukai.


"Hei! Kok melamun"


Suara Leo membuat kedua pundak Gandasuli terangkat ke atas karena kaget.


Leo kemudian duduk di depan Gandasuli dan meletakkan kotak kan di atas meja, "Oh! Udah makan, ya? Mana Chan?"


"Entahlah. Dia pergi tanpa pamit" Sahut Gandasuli dengan acuh tak acuh.


"Aku bawa salad buah. Kata Chan, kamu menyukainya. Kita makan bareng, ya?"


"Hmm. Ini kue cokelat almond-nya juga masih ada dua. Makanlah! Aku udah makan satu tadi"


"Ah! terima kasih. Sebentar, aku ambil piring dan sendok dulu" Sahut Leo.


Setelah duduk kembali di depan Gandasuli, Leo bertanya, "Kamu udah mulai bisa makan nasi goreng, ya? Nggak melulu sayuran lagi, kan? Kalau kamu jadi manusia dan makan sayur thok, kamu bisa kekurangan gizi dan lemas. Kamu bisa tahu-tahu jatuh pingsan. Baguslah kalau kmu udah mulai mau makan nasi goreng dan itu susu, kan?"


"Iya. Tulisannya susu strawberry, nih" Gandasuli menunjukkan bagian depan botol susu itu.


"Nah! Bagus itu untuk kesehatan. Minum dan habiskan! Ternyata Suami kamu perhatian juga, ya" Leo berucap sambil mengunyah kue cokelat almond.


Gandasuli hanya tersenyum dan mengangguk pelan.


"Chanan itu orangnya memang aneh. Pendiam. Suka semua Gue, emm, maksudku suka seenaknya. Itulah kenapa dia kesannya plin-plan, emm, maksudku tidak punya pendirian" Ucap Leo sambil menyomot kue cokelat almond dari dalam kotak kue.


"Oh! Semau Gue itu artinya suka seenaknya dan plin-plan itu artinya tidak punya pendirian" Sahut Gandasuli.


"Yes! Benar sekali. Kamu pinter, Suli"


"Kenapa? Kamu nggak suka aku panggil Suli?"


Gandasuli sontak melambaikan tangannya sambil berkata, "Nggak! Aku justru sangat suka mendengar namaku lagi. Aku rindu dipanggil Suli, kak"


Air mata tampak mengumpul di kedua pelupuk mata Gandasuli saat gadis cantik berkulit putih seputih salju itu tiba-tiba merindukan ayah dan tanah kelahirannya.


"Suli, kenapa mata kamu berkaca-kaca?" Tanya Leo dengan wajah penuh tanda tanya.


Gandasuli menggelengkan kepala dan sambil mengusap air mata yang menetes di pipi, gadis cantik itu berkata, "Aku tiba-tiba merindukan Ayahku dan ingin segera pulang ke kahyangan"


"Nah! Itu yang ingin aku tanyakan ke Chan sebenarnya. Tapi, karena kamu mengucapkannya saat ini, maka aku nanya aja ke kamu" Leo memasukkan pototngan terakhir kue almond ke dalam mulutnya.


"Mau nanya apa?"


"Kalau kamu kembali ke kahyangan, bagaimana dengan pernikahan kalian? Kalian menikah karena saling mencintai, kan? Lalu, apakah kamu tega meninggalkan Suami kamu begitu saja? Kalian menikah sah, lho, di sini. Chanan akan terpuruk, kamu juga akan terpuruk, dan......"


"Kenapa terpuruk? Aku tidak mencintainya dan pria aneh itu tidak pernah mencintaiku. Dia menikahiku karena kecelakaan"


"Hah?! Kecelakaan? Jadi, kamu sudah hamil saat ini?" Leo tersentak kaget dan refleks memundurkan wajahnya ke belakang.


"Bukan begitu. Kak Chanan ingin lepas dari perjodohan yang sering dilakukan sama Mamanya. Jadi, dia minta tolong sama aku untuk jadi tunangan bohongannya. Tapi, kami justru dipaksa menikah sama Mamanya Kak Chan. Lalu, makin ke sini, dia makin suka bersandiwara. Dia meminta aku bersandiwara menjadi pasangan suami istri yang bahagia di depan mantan tunangannya agar tunangannya pergi dari hidupnya selamanya. Kami tidak saling mencintai. Jadi, kalau aku balik ke kahyangan, ya, tidak akan ada yang akan terpuruk. Semua akan kembali seperti semula dan Kak Chanan akan menemukan wanita yang ia cintai, melupakan aku, dan menikah lagi"


Leo tercengang kaget. Setelah terhenyak selama beberapa detik, pria tampan yang berprofesi sebagai dokter hewan itu kemudian bertanya kembali, "Kenapa kamu mau menolong Chanan melakukan semua itu? Aku lihat, kamu yang justru banyak dirugikan di sini"


"Karena aku tidak punya siapa-siapa di bumi Dan aku rasa aku harus membalas budi. Kak Chan yang menolongku waktu aku jatuh dari atas langit, memberiku makan, minum, baju, dan membiarkan aku tinggal di sini secara gratis. Kak Chanan juga berjanji akan segera memperbaiki kalungku. Jadi, aku bisa segera balik ke kahyangan"


"Begitu, ya. Kenapa di saat aku melihat ada celah untuk mendekati kamu, langsung ada nyala lampu warning untuk tidak mendekati kamu karena kamu bukan berasal dari bumi dan harus balik ke kahyangan" Leo langsung tertunduk lesu dan bergumam lirih untuk dirinya sendiri.


"Kak Leo ngomong apa? Aku nggak bisa mendengar gumaman Kak Leo dari sini"


Leo tersentak kaget dan sontak mengangkat wajahnya, lalu langsung berkata, "Lupakan saja! Aku cuma bergumam hal yang nggak penting. Ayo kita makan lagi dan hei! Kau sudah meminum habis susu strawberry-nya, ya? Enak?"


Gandasuli menganggukkan kepala dengan wajah ceria lalu berkata, "Iya. Ternyata enak. Aku suka. Aku suka kue cokelat almond, nasi goreng mangga, dan susu strawberry, selain salad buah dan sup sayur, Kak"


"Syukurlah! Kamu nggak akan lemas kalau mau minum susu setiap hari dan makan makanan lain selain salad buah dan sup sayur. Nanti aku bawakan satu kotak susu strawbery dalam kemasan siap minum. Kamu tinggal menyimpannya di dalam lemari es biar dingin dan bisa meminumnya setiap hari" Leo tersenyum ceria menatap Gandasuli sambil mendesak ke pojok hati perasaan cintanya untuk gadis cantik di depannya itu.


"Terima kasih banyak, Kak Leo. Kak Leo sahabat yang baik. Pantas saja kalau Kak Chan bisa berteman sangat lama dengan Kak Leo"


"Hahahahaha" Leo merona malu menerima pujian dari Gandasuli.


Chanan tersentak kaget melihat Bella meronta lemah di atas ranjang ruang IGD karena kedua kaki dan tangannya diikat. Setelah Chanan melepaskan semua ikatan itu, Bella langsung memeluk pinggang Chanan, menangis sesenggukkan dan berkata, "Aku takut pulang, Chan. Aku pulang ke rumah kamu saja, ya. Aku nggak masalah tinggal satu atap dengan Istri kamu, Chan. Hiks,hiks,hiks,hiks"


Chanan langsung merasa iba karena sejujurnya ia masih sangat mencintai Arabella Rahardja Prist. Chanan mengusap lembut rambut indah panjangnya Arabella sambil bertanya dengan nada prihatin, "Kenapa kamu takut pulang?"


"Suamiku suka main tangan. Kau bisa memeriksa sekujur tubuhku kalau kamu tidak percaya" Bella melepaskan pelukannya dan tangannya bergerak mulai membuka kancing blusnya.


Chanan langsung menutup tirai dan menarik tangan Bella sambil mendelik, "Apa yang kau lakukan? Kita di tempat umum sekarang ini"


Bella kembali memeluk pinggang Chanan dan berkata, "Bawa aku pulang ke rumah kamu, Chan. Atau sembunyikan aku di salah satu kamar yang ada di salah satu hotel kamu, Chan"


"Apa Suami kamu sangat menakutkan? Bahkan lebih menakutkan dari maut sekalipun sampai-sampai kamu nekat bunuh diri di dalam mobil kamu" Chanan mengusap kembali rambut Bella dengan wajah sedih.


"Iya. Suami aku sangat mengerikan, Chan. Dia lebih mengerikan dari Iblis dan lebih mengerikan dari maut" Arabella masih berucap sambil mempererat pelukannya dan masih terisak menangis.


"Aku akan memindahkan kamu ke kamar rawat inap dulu. Aku akan pikirkan soal kamu nanti" Chanan menarik lepas tangan wanita cantik itu dari pinggangnya, kemudian ia menyibak tirai dan melangkah keluar dari bilik kosong delapan tempat Bella mendapatkan pertolongan pertama di rumah IGD itu. Dokter tampan itu kemudian berkata ke dokter yang berjaga di ruang IGD, "Saya akan menanggung pasien yang ada di bilik kosong delapan"


Bella menyeringai senang melihat Chanan masih peduli padanya. Wanita cantik itu kemudian bergumam di dalam hatinya, aku akan memiliki kamu seutuhnya sebentar lagi, Chan.


"Baik, Dok. Sus! Pindahkan pasien ke kamar rawat inap......." Dokter IGD itu menoleh ke Chanan dan bertanya, "Ke kamar apan, Dok?"


"Mawar kosong lima. Ruang VVIP" Sahut Chanan.


"Baik, dok" Sahut perawat yang berdiri di samping meja dokter IGD yang bertugas jaga di hari itu.