
"Kenapa kau jadi Istri, tapi nggak perhatian sama Suami kamu, hah?! Suami jatuh kenapa nggak lekas ditolong?" Bella mendelik ke Gandasuli.
"Aku mau menolongnya, tapi tiba-tiba datang ulat keket " Sahut Gandasuli dengan berkacak pinggang.
Chanan menoleh kaget ke Gandasuli dan dengan mengulum bibir menahan senyum ia membatin, dia marah. Apa dia cemburu saat ini?
"Kau! Siapa yang kau katakan ulat keket?"
Gandasuli hanya mengangkat kedua bahunya dengan wajah kesal.
Chanan terus menatap istrinya dengan terus mengulum bibir dan wajahnya tampak semringah. Sampai ia melupakan rasa nyeri di punggungnya.
"Ayo Chan! Aku akan papah kamu masuk ke dalam ruangan kamu" Bella tiba-tiba menggelungkan tangannya di lengan kanan Chanan.
Chanan tersentak kaget dan menoleh ke Bella.
Gandasuli langsung menggelungkan tangannya di lengan kiri Chanan, menariknya sambil berkata, "Aku yang akan memapahnya. Aku Istrinya"
Chanan menepis tangan Bella dan langsung menoleh ke Gandasuli, "Aduh! Jangan ditarik kencang-kencang, Sayang. Sakit" Chanan menoel pucuk hidungnya Gandasuli dengan pandangan penuh cinta.
Dia cemburu. Kenapa hatiku bahagia banget melihat dia cemburu, ya? Batin Chanan.
"Ayo kita masuk. Aku akan obati punggung kamu" Gandasuli memapah Chanan ke ruang kerjanya Chanan.
"Chan! Tunggu! Kamu nggak bertanya dulu kenapa aku ada di sini?"
"Itu urusan kamu. Ngapain aku harus bertanya? Aku bukan suami kamu" Pekik Chanan tanpa menoleh ke belakang.
"Badanku penuh lebam dan kau tidak lihat wajahku tadi? Wajahku penuh lebam Chan!" Teriak Bella dengan wajah kesal penuh Kecemburuan.
"Katakan itu ke Suami kamu" Pekik Chanan tanpa menoleh ke belakang.
"Dan jangan mengganggu Suami orang lagi!" Pekik Gandasuli.
Chanan tersenyum lebar melihat Gandasuli dan ia menutup pintu ruang kerjanya dengan tumit kaki kanan masih dengan senyum lebar sambil berkata di dalam hatinya, wah! Dia benar-benar cemburu. Aku suka melihatnya cemburu, hihihihihi.
Bella berteriak, "Aaaaaaa! Sambil menjejakkan kedua kakinya secara bergantian ke lantai. Lalu, wanita cantik itu berbalik badan masuk kembali ke dalam lift dengan wajah sedih bercampur kesal dan hatinya terbakar rasa cemburu.
Gandasuli membantu Chanan duduk di sofa dan langsung mendelik tajam, "Kenapa senyum lebar seperti itu? Apa yang lucu?"
Chanan sontak menghapus senyum lebarnya dan berkata, "Ah! Siapa yang senyum. Nggak, kok. Aduh! Punggungku kenapa sakit banget, Aduh! Duh! Duh!" Chanan mengalihkan perhatiannya Gandasuli dengan memegang pinggang dan meringis kesakitan.
"Di mana salep untuk mengobati punggung kamu?"
"Ada di laci mejaku.Laci sebelah kanan dan yang paling atas" Sahut Chanan.
Gandasuli bangkit berdiri dan langsung melangkah menuju ke meja kerjanya Chanan.
Pandangan Chanan mengikuti arah perginya Gandasuli dan dia kembali mengulas senyum lebar di wajah tampannya. Kemudian pria tampan itu bergumam lirih, "Dia cemburu dan dia peduli padaku. Ah! Kenapa hatiku berdesir hangat seperti ini? Apa benar aku sudah jatuh cinta padanya?"
Gandasuli membuka laci sebelah kanan paling atas dan di sana ia menemukan salep dan sebuah foto dalam bingkai berbentuk love. Di dalam bingkai itu nampak Chanan tengah mencium pipi Bella dan entah kenapa, Gandasuki merasa kesal dan sangat kesal melihat foto itu.Gandasuli seketika mematung.
Kenapa hatiku terasa sakit melihat foto ini? Batin Gandasuli.
"Ada, kan, salepnya?" Tanya Chanan.
Kenapa dia mematung di sana? Batin Chanan sambil bangkit berdiri.
Gandasuli masih mematung dan terus melihat ke tempat sampah.
"Hei! Buruan! Kenapa kamu belum ke sini untuk oleskan salep itu ke punggungku?!"
Teriakan Chanan membuat Gandasuli sontak berlari mengitari meja dan menuju ke sofa.
Melihat Chanan tengkurap di atas sofa dan masih memakai kemeja, Gandasuli langsung bertanya, "Kok belum dilepas kemejanya?"
"Wah! Kamu ketagihan melihat tubuh bangusku, ya?" Goda Chanan.
"Siapa yang pengen melihat tubuh jelek kamu, huh! Kalau nggak lepas kemeja bagaimana mengoleskan salep ini?" Pekik Gandasuli kesal.
"Tarik aja kemejaku ke atas. Yang sakit punggung bagian bawah!" Sahut Chanan dengan senyum semringah.
Gandasuli menghela napas panjang, lalu ia melompat naik dan duduk di atas pantatnya Chanan.
"Hei! Siapa yang menyuruh kamu naik dan duduk di pantatku, hah?!" Chanan sontak menoleh ke belakang dan memekik kesal.
"Kalau nggak seperti ini, lalu gimana caranya aku mengoleskan salep ini. Sofa kamu penuhi dengan badan kamu" Gandasuli mengomel sambil menarik kemejanya Chanan ke atas lalu mengoleskan salep sambil bertanya, "Di sini yang sakit?"
Sial! Kenapa tangannya lembut sekali dan astaga! Kenapa pikiranku jadi kacau balau begini. Batin Chanan.
"Hei! Yang sakit sebelah mana? Benar tidak di aku oleskan salepnya di sini?" Pekik Gandasuli kesal.
Chanan tersentak kaget dan langsung menjawab, "Ah! Iya, benar! Oles di situ dan agak ke kanan sedikit. Ya! Benar. Lalu, agak di tekan sedikit, ya, pas kamu oleskan salepnya"
Gandasuli menuruti perintahnya Chanan dan tanpa ia sadari tangan Gandasuli selip sedikit ke bawah dan wajah Chanan sontak memerah panas. Pria tampan itu langsung berteriak kesal, "Jangan masukkan tangan kamu ke sana! Kamu bisa membangunkan seekor singa! Sial!"
"Maaf! Salepnya licin dan tanganku selip sendiri ke bawah tadi" Pekik Gandasuli.
Astaga! Pikiran dan jantungku kenapa kompak sekali hari ini, kebat-kebit nggak karuan. Batin Chanan.
Chanan langsung mendengus kesal dan berteriak, "Turun! Sudah enakan punggungku. Nggak usah dioles dan ditekan-tekan lagi"
Gandasuli melompat turun dari pantat Chanan dan Chanan langung duduk di tepi sofa dan langsung merapikan kemejanya.
Gandasuli kemudian sontak melangkah maju saat ia melihat tasnya yang ia letakkan di ujung sofa hampir jatuh. Namun, karena ia melangkah dengan tergesa-gesa, kakinya terantuk kakinya Chanan dan dia terjatuh di atas pangkuannya Chanan.
Chanan refleks memeluk bahunya Gandasuli dengan tangan kiri dan tangan kanannya memeluk perut rampingnya Gandasuli.
Chanan dan Gandasuli kemudian saling memandang dalam kebisuan.
Dan entah apa yang merasuki Chanan saat ini, dia nekat mengecup bibir Gandasuli.
Gandasuli mengerjap kaget dan diam membeku.
Melihat Gandasuli diam saja, Chanan nekat mencium bibirnya Gandasuli. Lalu, pria itu melepaskan ciumannya untuk melihat reaksi Gandasuli.
Chanan tersenyum saat ia melihat Gandasuli memejamkan kedua kelopak mata dengan sangat rapat dan wajahnya tampak tegang.
Chanan kemudian menyelipkan rambut Gandasuli dibalik telinga, lalu ia mencubit dagu Gandasuli sambil berkata, "Kamu adalah Istriku. Aku berhak mencium kamu dan meminta lebih dari ciuman"
Gandasuli hanya bisa diam mematung dan masih memejamkan kedua kelopak matanya. Dan jantungnya kembali berdetak kencang.
Melihat Gandasuli tidak bangkit berdiri dan diam saja, jantung Chanan semakin berdetak kencang dan pria tampan itu nekat mencium bibir Gandasuli lebih dalam dan lembut.