
Arabella memukul kemudinya beberapa kali sambil berteriak kesal, "Aku nggak akan pernah melepaskan kamu lagi, Chan. Walaupun kmu sudah menikah saat ini, aku nggak peduli! Aku akan tempuh berbagai cara yang memungkinkan aku untuk bisa kembali lagi ke kamu, Chan. Karena aku, hanya menginginkan kamu. Hanya kamu, Chan"
Model cantik yang baru saja menikah itu nekat pergi ke kantor mamanya Chanan. Dan saat ia akhirnya berdiri di depan meja mamanya Chanan, dengan tidak ada malunya ia berkata, "Saya masih sangat mencintai Putra Anda, Tante. Saya meninggalkan Chanan karena saya dijodohkan dan saya menyesali perjodohan itu. Saya akan mengajukan gugatan cerai dan kembali pada Chanan"
Ratih, mamanya Chanan sontak bangkit berdiri karena kaget dengan pernyataannya Bella. Kemudian, Ratih berkata, "Chan sudah menikah dan dia sudah bahagia. Kalau kamu tidak bahagia dengan pernikahan kamu, itu urusan kamu. Jangan ganggu Chan lagi!"
Arabella mundur satu langkah ke belakang karena syok dengan tanggapan yang diberikan oleh mamanya Chanan dan wanita cantik itu langsung berkata, "Ta.....tapi, bukankah Anda sangat menyukai saya, Tante. Anda bahkan sangat menyayangi Anda"
"Itu karena kamu tidak menimbulkan alergi di diri Chan. Kamu juga cantik, manis, dan baik. Tapi, ternyata Tante salah menilai kamu. Kamu ternyata egois dan jaha" Sahut Ratih.
Arabella kembali syok dan mundur selangkah lagi ke belakang. Lalu, wanita itu bertanya, "Di mana Chanan bertemu dengan gadis cantik yang sekarang ini sudah menjadi Istrinya? Kenapa dia bisa menemukan wanita selain saya yang tidak menimbulkan alergi di diri Chan"
"Itu berkah dari langit. Langit mempertemukan Chan dengan Snowy di saat Putraku itu tengah mengalami patah hati. Snowy itu manis, cantik, baik hati, lugu, penyayang, dan sudah berhasil membuat Chan melupakan kamu. Chan sangat mencintainya begitu pula Snowy. Jadi, sekarang pergilah dan jangan ganggu kebahagiaan Chan dengan menantu cantikku itu. Asal kau tahu, aku sangat menyayangi menantuku. Kalau kau berani membuat menantuku mengeluarkan air mata satu tetes pun, aku akan membalas kamu dengan ribuan tetes air mata. Sekarang pergilah dan jangan muncul lagi depanku!" Sahut Ratih dengan wajah datar dan sorot mata tegas.
Arabella bergidik ngeri dan wanita cantik berprofesi model itu langsung berbalik badan dengan cepat dan pergi meninggalkan mamanya Chanan tanpa pamit.
Mamanya Chanan duduk kembali di kursi kerjanya dan langsung menelepon sekretaris pribadinya untuk mulai mengikuti dan mengawasi Arabella.
Gandasuli refleks menarik kakinya sambil berkata, "Kakiku baik-baik saja. Sudah sembuh, kok. Nggak usah dipegang-pegang lagi!"
Chanan bangkit berdiri dan duduk kembali sambil berkata, "Jangan kepedean! Aku nggak ingin memegang kaki kamu. Aku cuma pengen.........." Chanan tertegun melihat sudut bibir Gandasuli ada remahan kue cokelat almond.
Kenapa dia makan sampai belepotan gitu, sih? Tapi, kenapa ia justru tampak sangat imut. Batin Chanan dan seketika jantungnya berdebar abnormal kembali.
"Apa lihat-lihat?" Gandasuli memonyongkan bibirnya ke Chanan dan saat Chanan mengecup sudut bibir Gandasuli, gadis cantik itu terlonjak kaget dan sontak mendelik ke Chanan
Begitu pula Roy. Karena nggak tahan melihat kemesraan tuan muda dan nyonya mudanya, Roy akhirnya melipir pindah meja.
Chanan langsung mengarahkan pandangannya ke depan sambil berkata, "Tanganku kotor, jadi aku lap remahan kue yang ada di sudut bibir kamu dengan bibirku"
Dan untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya, pria tampan itu langsung menyesap kopi hitam kentalnya.
Gandasuli menatap Chanan dari samping dengan mengerjapkan mata dan gadis cantik itu kembali dibingungkan dengan adanya gelitikan di perut dan desiran hangat di hati yang ia rasakan saat ini. Gadis itu hendak marah, namun entah kenapa ia justru mematung dan membisu.
"Enak nggak kuenya?" Tanya Chanan tanpa menoleh ke Gandasuli karena Chanan, bisa merasakan kalau Gandasuli tengah menatapnya dari arah samping. Pria tampan itu menyendok udang mentega madunya setelah bertanya karena ia, masih merasakan jantungnya berdebar abnormal dan wajahnya memerah malu.
Sial! Kenapa aku bisa ambil tindakan impulsif mengecup sudut bibirnya tadi? Ada apa denganmu, Chan? Apa kamu pria mesum saat ini? Batin Chanan kesal pada dirinya sendiri.
"Enak. Sangat enak. Apa aku boleh minta lagi?" Tanya Gandasuli tanpa.ragu.
"Boleh" Chanan lalu mengayunkan tangannya ke pramusaji restoran yang berdiri di dekat mejanya untuk memesan kue cokelat almond dan nasi goreng mangga juga susu strawberry. Chanan ingin Gandasuli mencicipi nasi goreng mangga agar gadis itu mau makan nasi nggak melulu sup sayur.
Semoga dia mau makan makanan dan minuman yang aku pilihkan untuknya. Kalau makan sup sayur terus, lama-lama dia bisa kurang gizi dan lemas. Bisa-bisa jatuh pingsan dan harus menjalani rawat inap. Batin Chanan.
"Mama nanti menginap lagi di rumah Kakak, kan?" Tanya Gandasuli.
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Malam ini hujan terus. Apa aku boleh tidur di sofa aja? Aku kedinginan kalau tidur di lantai. Semalam aja belum hujan, aku sudah kedinginan"
"Hah?! Kalau kamu tidur di sofa, Mama bisa menjewer kupingku sampai ke Negeri Paman Sam, dong"
"Negeri Paman Sam itu ada di mana. Aku cuma tahu Negeri di awan" Tanya Gandasuli.
"Nanti kalau pas aku bisa ambil cuti lagi, aku akan ajak kamu ke Negeri Paman Sam. Sekarang kita bahas soal kita. Kalau kamu kedinginan, kamu boleh naik ke ranjangku dan kita tidur satu ranjang"
"Hah?! Nggak boleh! Nggak baik kalau pria dan wanita tidur di ranjang yang sama"
Chanan menyentil pelan kening Gandasuli.
"Aduh" Gandasuli mengusap keningnya dan dengan cemberut ia berucap, "Kenapa disentil? Sakit tahu!"
"Salah sendiri kenapa berpikiran mesum. Aku nggak akan menyentuh tubuh kerempeng kamu itu, cih! Kita hanya akan tidur satu ranjang dan nggak aku nggak akan ngapa-ngapain kamu"
"Benarkah?" Tanya Gandasuli dengan wajah polosnya
Chanan langsung mengalihkan pandangannya ke depan sambi menyahut, "Hmm"
Tiba-tiba ada seorang laki-laki dengan oufit mahal dan wangi parfum mahal yang dipakai oleh laki-laki itu langsung menguar di sekeliling Gandasuli dan Chanan.
Sial! Dia suaminya Bella. Mau apa dia menemuiku? Batin Chanan sambil bangkit berdiri.
Melihat Chanan berdiri, Gandasuli ikutan bangkit berdiri.
Chanan kemudian bertanya ke pria itu dengan wajah penuh tanda tanya, "Abram Prist. Mau apa Anda menemui saya? Apa Anda mengikuti saya sampai ke sini dan sejak kapan Anda mengikuti saya?"
"Sejak kamu masuk ke kamar hotel bersama dengan Istri saya" Sahut pria ber-outfit mewah itu sambil bersedekap dan memindai penampilannya Chanan dari ujung rambut sampai dada dan kembali ke wajah tampannya Chanan.
Tampan dan keren juga cowok di depanku ini. Pantas saja kalau Bella sangat mencintainya. Batin pria ber-outfit mewah itu.
Chanan melakukan hal yang sama dan bergumam di dalam hatinya, cih! Aku jauh lebih tampan ke mana-mana kalau dibandingkan dengan pria ini. Dia cuma menang di umur saja. Kalau nggak salah dia lima tahun lebih tua dariku dan dia seorang duda tanpa anak. Berarti dia juga lima tahun lebih tua dari Bella.
"Kau sudah berani menemui Istriku secara diam-diam dan masih menjalin hubungan dengan Istriku secara diam-diam" Pria yang bernama Abram Prist itu menghunus tatapan tajam di depan Chanan.
Gandasuli tampak kebingungan, dia terus menatap pria di depannya dan gadis itu langsung berkata di dalam hatinya, pria ini tampak berbahaya. Dia jahat. Aku bisa lihat dari sorot mata dan aura wajahnya.
Chanan menyeringai mengejek dan sambil merangkul bahunya Gandasuli, Chanan berkata, "Saya sudah menikah. Ini Istri saya. Jadi, Istri saya sangat cantik bukan?"
Mendengar kata sangat cantik, Gandasuli sontak menoleh ke Chanan dengan bergumam di dalam hatinya, dia beneran memuji aku sangat cantik, atau ucapannya kali ini hanya untuk bersandiwara lagi?
"Iya. Saya akui wanita yang anda rangkul saat ini, sangat cantik dan masih sangat muda" Sahut Abram sambil memindai Gandasuli.
Gandasuli bergetar ketakutan dan Chanan bisa merasakan itu. Pria tampan itu sontak mendeik, "Jangan menatap Istri saya terus seperti itu! Lebih baik Anda pulang dan menatap Istri Anda sendiri sana!"
"Anda sudah menikah ternyata"
"Iya. Sekarang Anda berpikir sendiri, saya sudah punya Istri yang sangat cantik, jadi untuk apa saya menjalin hubungan lagi dengan Istri Anda?" Sahut Chanan dengan seringai mengejek.
"Tapi, kenapa kamu mengajak Istriku ke kamar hotel dan Istriku ke rumah kamu tadi"
"Kalau ke hotel, itu adalah hotelku dan Istri kamu ingin bicara denganku. Aku meladeninya hanya demi masa lalu. Kalau soal masuk ke dalam kamar hotel dan jika Anda penasaran dengan apa yang terjadi di dalam kamar hotel waktu itu, lebih baik Anda pulang dan bertanya sendiri pada Istri Anda. Soal kedatangan Istri Anda ke rumah saya tadi, Anda juga perlu tanyakan hal itu ke Istri Anda. Bukan kepada saya, Tuan Abram Prist yang terhormat"
Sial! Apa aku salah mencurigai bocah ini. Apa aku juga telah salah mencurigai Bella? Batin Abram Prist.
Melihat Abram Prist masih berdiri kaku di depannya dan tampak meragukannya, Chanan langsung berkata, "Saya sangat mencintai Istri saya" Demi melancarkan sandiwaranya, lalu agar pria itu tidak mencurigai dan mengganggunya lagi, Chanan nekat menunduk, mencari bibir Gandasuli, dan memagut bibir Gandasuli.
Chanan mempererat rangkulannya saat ia merasakan Gandasuli terlonjak kaget dan hendak meronta. Pria tampan itu terus memagut bibir Gandasuli dan semakin memperdalam ciumannya, bahkan ia nekat menyusupkan lidahnya ke dalam mulut gadis itu saat gadis itu melenguh dan merekahkan bibir. Chanan terus mencium Gandasuli dengan lembut dan semakin dalam sampai ia mendengar bunyi langkah sepatu pria yang bernama Abram Prist itu menjauh dan lenyap.
Setelah Chanan melepaskan pagutannya dengan pelan dan hati-hati, Gandasuli menatap Chanan dengan rasa pening di kepalanya, lalu gadis itu jatuh pingsan di dalam pelukannya Chanan.
Chanan langsung membopong Gandasuli dan bergumam, sial! Dia gadis yang sangat kuat dan tangguh. Kenapa sekarang malah pingsan setelah aku cium bibirnya dengan sangat dalam tadi?
Chanan berlari membopong Gandasuli menuju ke mobilnya dan Roy langsung mengekor laju lari bosnya dengan wajah panik.