My Snowy

My Snowy
Kalung dan Cincin



"Iya. Benar. Ada kandang kelinci. Kapan aku melihara kelinci? Lalu, di mana sekarang kelincinya?" Chanan menoleh ke Leo dengan kerutan di keningnya.


"Lho, aku juga nggak tahu di mana kelinci itu? Aku cari di semua sudut rumah kamu, nggak ada satu lun kelinci. Makanya aku lari ke ruang kerja kamu tadi. Aku pikir kelincinya kamu bawa ke ruang kerja kamu. Tapi, ternyata di ruang kerja kamu juga nggak ada kelinci" Sahut Leo dengan kerutan di keningnya.


Kedua pria tampan yang saling mengerutkan kening itu bersitatap dalam diam.


Lalu, Chanan berkata, "Bukan hanya ini keanehan yang terjadi. Aku pakai cincin nikah" Chanan menunjukkan cincin di jari manis tangan kanannya dan Leo langsung memegang tangan Chanan sambil berkata, "Astaga! Iya, benar! Kau pakai cincin nikah. Kau nikah dengan siapa?"


"Kau juga tidak tahu aku nikah dengan siapa?"


Leo melepaskan tangan Chanan dan menggelengkan kepalanya dengan wajah penuh tanda tanya.


"Ada nama my Snowy Gandasuli di bagian dalam cincin yang aku pakai ini" Chanan berkata sambil memutar-mutar cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya.


"Kenapa namanya aneh banget? Eh! Kalau kamu sudah menikah, ayo kita cari buku nikah kamu dan ........"


"Aku sudah lihat buku nikahnya. Ada fotoku dan seorang gadis yang sangat cantik di buku nikahku. Nama gadis itu Snowy"


"Berarti memang benar kalau kamu sudah menikah. Lalu, kenapa kita tidak bisa ingat siapa gadis itu. Kalau kamu yang amnesia, harusnya kamu doang yang lupa sama gadis itu, sama pernikahan kamu, sama cincin nikah kamu. Tapi, kenapa aku, Mama kamu, Ibu Dona, dan asisten pribadi kamu, nggak ada yang ingat soal ini? Kenapa kita bisa amnesia berjamaah seperti ini?" Leo semakin mengerutkan keningnya.


Chanan semakin menarik ke dalam tautan alisnya lalu berkata, "Aku juga berpikiran seperti itu. Kita semua sepetinya memang mengalami amnesia berjamaah. Pertanyannya adalah, siapa yang sudah membuat kita amnesia berjamaah dan ke mana aku harus mencari Istriku?"


Leo hanya bisa mengangkat kedua bahunya dan menghela napas panjang.


Keesokan harinya di kahyangan, Dewa petir Adrakhs ingin mengajak istrinya untuk kembali bercinta, tapi Gandasuli menolaknya dengan halus dengan berkata, "Maafkan aku suamiku. Aku masih lelah"


Dewa petir Adrakhs yang sangat mencintai Gandasuli tersenyum penuh cinta lalu mencium kening istri cantiknya dan berkata, "Baiklah. Aku nggak akan memaksa kamu dan aku nggak akan pernah memaksa kamu. Sekarang mandilah! Aku akan mengurus istana petir dulu karena sebentar lagi, kita akan tinggalkan istana petir"


Gandasuli yang masih memegang kedua ujung selimut yang menutupi dirinya sampai ke leher bertanya, "Memangnya kita mau ke mana, Suamiku?"


"Anda keluar dulu"


"Kenapa?"


"Saya malu. Saya tidak pakai baju saat ini"


Adrakhs tersenyum lebar lalu berkata, "Apa bedanya? Aku sudah lihat semuanya kemarin malam"


Gandasuli langsung menarik selimut untuk menutupi wajahnya dan berteriak di balik selimut, "Itu beda! Sekarang keluarlah!"


Adrakhs langsung menggelegarkan tawanya dan berkata sambil bangkit berdiri, "Baiklah. Aku keluar sekarang"


Setelah tidak terdengar lagi suara langkah kaki, Gandasuli menyibak selimut dan langsung melompat dari atas ranjang lalu berlari kencang masuk ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Gandasuli melihat bekas tanda merah kebiruan di lehernya di depan cermin dan dia seolah merasa familier dengan tanda yang seperti itu. Lalu, gadis cantik yang masih berumur delapan belas tahun lebih beberapa bulan itu menatap cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya, "Siapa Chanan? Kenapa terukir nama Chanan di bagian dalam cincin yang ku pakai ini?"


Lalu, Gandasuli memegang kalung yang dia pakai. Di kalung emas dengan liontin berbentuk petir itu terukir nama Gandasuli dan Adrakhs. Kalau di kahyangan, bukan cincin pernikahan yang dipakai sama pasangan suami istri melainkan kalung.Dan di pergelangan tangan bagian dalam yang sebelah kanan ada tanda bulat kecil berwarna merah.


"Kenapa perasaanku hampa dan hatiku terasa kosong saat aku menatap kalung dari suamiku, dewa petir Adrakhs. Tapi, pas aku melihat cincin yang melingkar di jari manis tangan kananku, hatiku berdesir hangat dan ada gelitikan ribuan sayap kupu-kupu di perutku? Apa ini tandanya aku mencintai orang yang bernama Chanan itu? Lalu, di mana sekarang orang yang bernama Chanan itu?"


Beberapa jam kemudian, setelah menyelesaikan sarapan bersama, Adrakhs mengajak putri bunga Gandasuli pulang ke istana bunga. Dewa Adrakhs ingin menemui mertuanya sekaligus ingin memberikan mengungkap semua kejahatan ibu tirinya Gandasuli selama ini dan ingin mengungkap siapa ibu tirinya Gandasuli yang sebenarnya.


Ibu tirinya Gandasuli langsung membeku di singgasana saat suaminya bangkit berdiri dan berlari menuruni anak tangga untuk bisa memeluk erat putri tunggal tercintanya yang sudah sangat ia rindukan.


Adrakhs menghunus tatapan tajam ke ibu tirinya Gandasuli yang masih duduk di singgasana dan tatapannya Adrakhs itu membuat ibu tirinya Gandasuli bergidik ketakutan dan semakin membeku di singgasananya.


Raja bunga melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah cantik putri tunggal tercintanya dengan derai air mata kerinduan. Raja bunga kemudian mengusap rambut Gandasuli dan bertanya, "Ke mana saja kamu selama ini? Kenapa baru pulang sekarang?"