My Snowy

My Snowy
Perlindungan Dari Dewa Petir



"Chan! Jangan main peluk Istri kamu terus, dong. Kasihan sama jiwa jombloku ini. Jiwa jombloku merana,nih Chan" Leo sontak mewek di samping Roy dan tanpa ia sadari tangannya merangkul bahunya Roy


Roy sontak menoleh kesal ke Leo dan langsung menepis tangan Leo sambil menggeram, "Jangan main rangkul sembarangan! Jomblo begini, saya pria normal dan masih suka sama wanita"


Leo langsung meringis dan berkata, "Maaf. Khilaf, hehehehehe"


Roy menghela napas panjang dan kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.


Chanan yang tengah didera rasa bersalah dan kesedihan yang sangat dalam, tidak menggubris orang-orang yang ada di sekitarnya. Pria tampan itu nekat baik ke ranjang.


"Lho! Mau ngapain dia? Mau beradegan mesum, ya?" Leo sontak menutup matanya dan Roy langsung menepuk keras bahu Leo sambil menggeram kesal, "Mesum gundulmu! Tuan muda hanya ingin tidur sambil memeluk Istrinya. Yang mesum itu otak kamu, cih!"


Leo menarik tangannya dan langsung menoleh ke Roy untuk memamerkan deretan gigi putih sempurnanya.


"Dasar gila!" Sembur Roy dengan wajah sangat kesal.


Saat Ratih melihat Chanan naik ke ranjangnya Gandasuli yang ia kenal bernama Snowy. Lalu, Ratih melihat Chanan memeluk Gandasuli begitu saja tanpa memperhatikan ada orang lain di kamar itu, maka Ratih langsung melangkah lebar dan berkata, "Kita tinggalkan Chanan dan Snowy sendirian malam ini! Kita pulang saja! Jangan ganggu mereka!"


Leo, Roy, dan Dona langsung menganggukkan kepala mereka secara bersamaan dan langsung mengekor langkahnya Ratih.


Lho, emangnya siapa yang tadi bilang ingin tidur di sini, ya? Batin Dona sambil mengulum bibir menahan geli.


Saat meraba ranjang dan tidak menemukan istrinya, raja Jahanara membuka kedua kelopak matanya dan langsung berteriak, "Zahwa! Kau di mana, Sayang?"


Karena tidak ada sahutan, raja Jahanara kemudian bangun dan memakai kembali semua bajunya. Kemudian raja yang berwajah tampan, polos, namun naif itu, melangkah pelan keluar dari kamarnya lalu melesat keluar dari istana ratu karena entah kenapa ia ingin segera menuju ke taman pelangi dan berjalan-jalan di sana.


Sesampainya di tengah-tengah taman pelangi, raja Jahanara menghentikan laju larinya dan sambil berdiri tegak dia bergumam, "Kenapa aku ingin ke sini? Apa karena aku sangat merindukan Suli, Putri tercintaku? Kenapa jantungku berdetak tidak karuan dan aku memikirkan Suli? Oh, Tuhan! Semoga Suli tidak kenapa-kenapa. Di mana pun Suli berada saat ini semoga dia tidak kenapa-kenapa"


Kenapa teman itu diberi nama taman pelangi? Karena di taman itu, terdapat tatanan bunga dengan banyak warna seperti pelangi indah sesuai namanya. Deretan pelangi itulah yang menjadi spot favorit putri kesayangannya, Gandasuli. Karena di taman pelangi begitu Gandasuli menamai taman itu, terdapat 80% bunga yang bisa dimakan atau disebut Edible Flowers.


Gandasuli sangat menyukai mengonsumsi Edible Flowers karena bunga ini, memiliki cita rasa seperti jeruk yang dapat memperkaya berbagai macam hidangan. Bunga ini paling tepat digunakan pada salad buah, namun juga dapat digunakan pada hidangan penutup lain atau dibuat teh.


"Gandasuli sendiri yang menanam tanaman itu dan merawatnya sampai menjadi seindah ini. Putriku memang sangat hebat. Suli mewarisi kecantikan dan kebaikan hati ibunya. Terima kasih Azales kau sudah memberiku putri yang sangat cantik, baik hati, dan hebat. Oh! Sayangku Azales. Aku sangat merindukanmu saat ini" Gumam Raja Jahanara sembari memetik salah satu pucuk tanaman bunga itu dan memakannya.


Setelah memakan Edible Flower, raja Jahanara seolah terbuka kembali kesadarannya dan bergumam lirih, "Ayah merindukanmu, Suli. Ayah yakin kamu tidak seperti yang dikatakan oleh ibu tiri kamu. Ayah yakin kamu hanya ingin berpetualang saja dan suatu saat nanti kau akan pulang, Sayang. Kau tidak nakal. Tapi, kau hanya periang dan suka berpetualang. Ayah sementara menitipkan ahli waris ke adik tiri kamu. Tapi, jangan khawatir. Setelah kau pulang nanti, Ayah akan kembalikan semuanya ke kamu"


Dewa petir menutupi awan hitam di negara I khususnya di seputar kota J dengan awan hitam karena dia tidak ingin keberadaannya Gandasuli diketahui oleh siapa pun juga termasuk oleh ratu Zahwa, ibu tirinya Gandasuli. Apapun akan Adrakhs lakukan demi untuk melindungi gadis yang sangat ia cintai.


"Aku akan melindungi calon Istriku dengan segenap jiwa dan raga. Lalu, besok aku akan turun ke bumi, menjemput belahan jiwaku, lalu kembali ke kahyangan untuk melamar dan menikahinya. Setalah itu, barulah aku akan mengunjungi istana bunga dan bikin perhitungan dengan wanita penyihir yang bernama Zahwa itu" Gumam dewa petir Adrakhs.


"Wah! Kok, mendung dan petir membahana menusuk hatiku, nih. Aku nebeng mobil kamu, ya, Roy. Aku, kan, ke sini naik motor. Kalau aku tiba-tiba kehujanan motorku bisa kotor dan besok aku harus mencucinya, males aku. Lagian aku alergi sama air hujan. Aku bisa flu dan demam kalau kehujanan" Leo menoleh ke Roy dan langsung memasang wajah memelas.


"Oke. Masuklah!"


"Oke. Aku akan anteng seperti anak kecil yang tengah menikmati es krim, hehehehehe" Sahut Leo.


Chanan meletakkan lengannya di perut Gandasuli dengan hati-hati, kemudian dia menempelkan bibirnya di kening Gandasuli. Tidur dengan posisi miring seperti itu dirasakan sangat nyaman bagi Chanan. Dokter bedah tampan itu kemudian berbisik, "Aku sangat mencintaimu. Tapi, jika merelakanmu pergi bisa membuatmu aman dan nyaman, mungkin aku akan merelakanmu pergi. Besok saat kau bangun dari tidurmu ini, aku akan kasih kalung kamu dan aku akan relakan kamu kembali ke kahyangan. Semoga aku nggak plin-plan lagi"


"Kenapa langit sangat gelap dan petir terus menyambar mengerikan seperti ini, tapi tidak turun hujan?" Ucap Ratih tiba-tiba.


"Anda benar, Nyonya besar? Kenapa alam tampak aneh malam ini? Seolah akan ikut merasakan kesedihan kita karena Nyonya muda belum sadarkan diri" Sahut Dona sambil terus fokus menyetir mobil.


"Iya, kamu benar" Sahut Ratih dengan nada suara yang masih sedih. "Semoga besok, Snowy sudah bangun"


"Amin" Sahut Dona.


"Dewa petir apa lagi PMS, ya? Kenapa dia mendatangkan awan hitam dan petir yang mengerikan seperti ini? Atau dewa petir lagi masuk angin? Eh! dewa petir kentutnya suaranya seperti apa, ya? Apa seperti petir begini" Leo sontak mengulum bibir menahan tawa saat ia membayangkan dewa petir yang agung sedang kentut.


Roy melirik kesal ke Leo dan menggeram, "Aku bilang jangan berisik, kan?"


Leo menoleh ke Roy dan dengan Setengah berbisik ia berkata, "Aku tidak berisik tadi, tapi aku berbisik, hihihihi"


"Dasar gila" Sahut Roy sambil mendengus kesal.


"Jangan diulangi lagi! Atau aku akan turunkan kamu di sini!" Ucap Roy kemudian.


"Oke" Sahut Leo dengan suara sangat lirih.


Roy kembali mendengus kesal dan menggelengkan kepalanya.


Leo kemudian menempelkan keningnya di jendela kaca mobil, lalu bergumam di dalam hatinya, kenapa perasaanku nggak enak? Biasanya kalau aku merasa seperti ini, maka akan ada kejadian yang tidak mengenakkan untuk dirasakan dan dilihat. Seperti tadi pagi, perasaanku terus terasa tidak enak seperti ini lalu aku mendengar kabar kalau Suli dan Chanan ada di rumah sakit. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya?


Sementara itu, Chanan yang ditinggalkan sendirian di kamar rawat inap VVIP, terus menciumi tangan Gandasuli. Pria tampan itu menciumi tangan istri cantiknya yang tidak terpasang infus. Lalu, pria tampan dan berotak cerdas itu bergumam, "Kau cantik sekali, Suli. Sesuai dengan nama kamu, ya, benar sekali apa yang pernah kau katakan, kulit kamu putih dan indah seindah salju. Kamu seperti putri salju di dalam buku dongeng yang pernah aku baca. Aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu, mencintaimu, menikahimu, dan mendapatkan cintamu. Aku sangat beruntung sayang" Chanan mencium pipi Gandasuli dengan penuh rasa cinta.


"Kenapa tidak terlihat apa-apa di cermin kamu? Kenapa hanya tampak awan hitam dan terdengar petir menggelegar, hah?! Kata kamu cermin kebanggan kamu itu sangat hebat. Ternyata cermin kebanggaan kamu itu hanyalah barang rosok tidak berguna" Ratu Zahwa mendengus kesal.


"Diam kamu! Jangan hina cerminku! Aku rasa dewa Adrakhs yang melajukan ini. Dewa petir sialan itu melindungi putrinya Jahanara"


"Sial! Lalu, bagaimana? Kita harus gimana? Celaka! Celaka dua belas! Aku dan Putirku pasti celaka!" Pekik ratu Zahwa dengan wajah panik.


"Lupakan soal dewa petir dan putrinya Jahanara! Kita nikmati dulu malam kebersamaan kita ini, Sayang" Raja Akamu langsung mengecup bibir wanita penyihir pujaan hatinya itu dengan pelan. Lalu memeluk tangannya bergerak memeluk erat pinggang ramping wanita berhati kelam, namun sangat cantik itu.


Lalu, terjadilah pergulatan panas di atas ranjang setelah raja Akamu mendorong ratu Zahwa ke ranjang dan raja berhati iblis itu melemparkan begitu saja cermin kebanggannya ke lantai. Cermin itu kuat, jadi saat cermin itu membentur kerasnya lantai keramik kamar pribadinya raja Akamu, cermin tersebut tidak pecah.