My Snowy

My Snowy
Namaku Disebut



Arabella membuka Kedua kelopak matanya dengan malas, "Jam empat?" Gumamnya sambil menguap dan wanita cantik itu langsung membeliak kaget lalu duduk tegak di atas ranjang dan bergumam, "Kenapa aku bisa berada di kamar ini lagi? Apa Mas Abram menyuruh seseorang untuk mengikutiku?"


"Sudah bangun?" Suara Adam Prist langsung membuat Arabella ketakutan. Wanita cantik itu menggeser pantatnya ke depan dan di saat punggungnya menabrak sandaran ranjang, ia membeku dengan wajah pucat pasi ketakutan.


Abram menghentikan langkahnya di tepi ranjang dan langsung menarik kasar tangan istri cantiknya dengan berteriak, "Dasar wanita matre menjijikkan! Kau melirik hartaku dan sekarang ingin melirik harta dokter bodoh itu, hah?!"


Plak! Abram menampar pipi Arabella cukup keras.


Arabella memekik kesakitan dengan isak tangis.


"Kau merayuku, menjebakku, dan saat aku mau bertanggung jawab menikahimu, kau tidak pernah mau melaksanakan kewajiban kamu sebagai seorang Istri. Dasar wanita gila!"


Plak! Abram kembali menampar pipi Arabella.


Arabella langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil berteriak, "Jangan pukul aku lagi! Aku mohon!"


Dua jam kemudian, Arabella berakhir di atas ranjang dengan tubuh terkulai lemas dan penuh kuka lebam.


Aku telah salah memilih suami. Aku hanya dibutakan oleh harta selama ini dan aku menyesal telah melepas kamu, Chan. Gumam Arabella lirih di sela isak tangisnya.


"Kalau kau tidak ingin aku pukuli lagi, maka layani aku saat ini juga!" Abram Prist menarik paksa kedua tangan istrinya lalu menciuminya dengan paksa.


Gandasuli bangun bertepatan dengan masuknya Chanan ke dalam kamar.


Entah karena rasa bersalah yang teramat dalam atau karena rasa cinta yang masih tersamar, Chanan langsung berlari mendekati ranjang, meletakkan nampan di atas nakas dan langsung duduk di tepi ranjang untuk bertanya, "Gimana keadaan kamu? Pusing banget, ya?"


Gandasuli meringis dan mendesis sambil menoleh ke Chanan. Gadis cantik itu kemudian berkata masih dengan mendesis, "Sshhhhh! Iya. Kepalaku pening banget? Kenapa bisa kening banget seperti ini? Air putih di bumi ternyata berbahaya. Air putih bisa bikin tenggorokan kita terasa seperti terbakar dan tiba-tiba kesadaran kita hilang Terus pas bangun kepala rasanya pening banget. Trauma aku minum air putih"


"Yang kamu minum semalam bukan air putih, dasar bodoh! Yang kamu minum semalam itu Wine"


"Iya. Ada tulisannya Wine" ( Gandasuli mengucapkannya, uwine)


"Bukan uwine, tapi wine" (Chanan mengucapkannya, wain)


"Iya, itulah pokoknya. Kalau bukan air putih, lalu itu apa?" Sahut Gandasuli.


"Yang kamu minum semalam itu mirip arak, tapi terbuat dari anggur dan mengandung alkohol"


"Hah?! Berarti semalam aku mabuk?"


Chanan mengangguk-angguk.


"Hah?! Lalu, a.....a.......apakah a.....a......aku mengatakan sesuatu yang aneh atau bertingkah laku aneh?"


Chanan hanya menatap Gandasuli dalam diam.


Glek! Gandasuli langsung kesulitan menelan air liurnya.


"Emm, itu Karena aku pernah melihat Ayahku mabuk dan Ayahku bertingkah laku aneh A.....apa a.....aku juga begitu semalam" Gandasuli menatap Chanan dengan wajah was-was.


Alih-alih merespons pertanyannya Gandasuli, Chanan mengambil mangkuk berisi sup ayam lalu berkata, "Kita bicarakan hal itu nanti. Sekarang kamu makan sup ayam dulu untuk menghilangkan pengaruh alkohol dan meredakan rasa pening kamu. Aku akan suapi kamu, aaaaaaa!"


"Aku bisa makan sendiri"


"Kamu sakit saat ini. Masih terasa sangat pening, kan, kepala kamu?"


Gandasuli menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Makanya nurut dan sekarang buka mulut kamu, Aaaaaa! Kamu harus segera makan dan habiskan sup ayam ini pening di kepala kamu cepat reda"


Dengan malu-malu Gandasuki membuka mulutnya.


"Pinter. Kalau nurut kayak begini, kan, manis"


"Sup ayam. Kamu suka?"


"Suka. Suka banget" Sahut Gandasuli sambil berkali-kali menganggukkan kepalanya.


"Kalau kamu suka, aku akan masak sup ini tiap pagi untuk kamu" Ucap Chanan sambil terus menyuapi Gandasuli.


"Terima kasih" Gandasuli berucap sambil memandangi wajah tampannya Chanan yang terlihat sangat enak dipandang mata di pagi hari ini.


"Aku tahu kalau aku ini sangat tampan, Aaaaaa!" Ucap Chanan sambil mengarahkan sendok berisi sup ayam ke mulut Gandasuli.


Gandasuli mengunyah sup ayam sambil bertanya, "Siapa yang bilang kalau kamu itu tampan?"


"Kedua mata kamu" Sahut Chanan dengan wajah santai dan datar.


"Apa? Mana ada mata bisa bicara?" Gandasuli langsung mengalihkan pandangan untuk menyembunyikan rona malunya.


"Mata kamu memang tidak bisa bicara, tapi aku bisa rasakan kalau kamu mengagumi ketampananku"


"Nggak, kok? Aku nggak mengagumi ketamoanan kamu"


"Kalau nggak mengagumi Ketampananku, Kenapa kau memandangiku terus?"


"Ah! Nggak, kok! Siapa yang memandangimu terus? Jangan kepedean! Orang aku menatap mangkuk, kok, tadi" Gandasuli sontak mengalihkan pandangannya.


Chanan mengulum bibir menahan geli. Kemudian pria tampan itu berkata, "Pinter banget, Istri kecilku ini makan dengan lahap" Chanan mengusap kepala Gandasuli sambil meletakkan mangkuk sup yang telah kosong di atas nakas"


Gandasuli sontak menunduk malu.


Chanan kembali mengulum bibir menahan senyum melihat Gandasuli kembali tersipu malu. Kemudian pria tampan itu bangkit berdiri dan sambil membawa nampan ia berkata, "Sekarang mandi dan bersiaplah untuk homeschooling! Sebentar lagi dosen kamu datang. Aku akan ke kantor dan nanti sore kita perlu memperhitungkan sesuatu"


Gandasuli menatap punggung Chanan yang menjauh dan langsung berteriak, "Hei! Memperhitungkan apa?"


"Kau akan tahu nanti. Sekarang buruan mandi!" Teriak Chanan tanpa menoleh ke belakang.


"Aku nggak akan pernah puas menyiksa Istri mata duitan dan yang tidak setia seperti kamu, Bella. Tapi, aku akan melakukannya dengan penuh cinta, buahahahahha! Karena, terus terang aku sangat mencintai kamu Bella dan aku tidak akan melepaskanmu pergi. Kamu Istriku selamanya dan harus selalu berada di sisiku" Abram Prist mencengkeram lengan atasnya Arabella. Kemudian pria itu mencium kening Bella dan melangkah pergi meninggalkan Bella yang tengah sarapan di meja makan.


"Hai! Leo menyapa Gandasuli dengan senyum cerah ceria.


Ratih langsung menarik tangan Gandasuli dengan penuh kasih sayang dan mengajak Gandasuli duduk di sebelahnya sambil menatap Chanan, "Mama pengen duduk bersebelahan dengan menantu Mama nggak papa, kan?"


"Terserah Mama saja" Sahut Chanan acuh tak acuh.


Ratih, Gandasuli, Chanan, dan Leo menikmati sarapan mereka di pagi hari itu dengan penuh kehangatan dan canda tawa.


Satu jam kemudian, Leo pamit pulang karena ada panggilan darurat. Ratih pun mencium kedua pipi Gandasuli dan berkata, "Mama harus segera ke kantor. Ada rapat penting pagi ini. Maafkan Mama, Mama nggak bisa bantu kamu mencuci perabot makan yang kotor"


"Nggak papa, Ma" Sahut Gandasuli sambil mencium punggung tangan mertuanya yang sangat cantik dan baik hati itu.


Leo dan Ratih sudah pergi, maka tinggalah Chanan dan Gandasuli yang bersitatap di meja makan.


Gandasuli kemudian bangkit berdiri di saat ia merasakan jantungnya kembali berdegup kencang dan gadis cantik itu langsung memunguti perabot makan yang kotor.


Saat Gandasuli hendak membawa perabot makan yang ada di dalam kedua tangannya ke wastafel, Chanan menahan lengan Gandasuli dan berbisik di telinga Gandasuli, "Biar aku saja yang mencuci semuanya, Suli"


Gaandasuli sontak menoleh ke Chanan dan menatap Chanan dengan wajah sendu. Dia tidak menyangka kalau Chanan masih mengingat namanya dan mau memanggil namanya.


Ah! Senangnya mendengar namaku disebut oleh pria aneh ini. Lalu, kenapa jantungku berdetak kencang sekali saat ini? Batin Gandasuli.


Chanan dan Gandasuli bersitatap dalam keheningan.


Dan terdengarlah suara deg, deg, deg, deg! Di antara keduanya.