My Snowy

My Snowy
Jadi Manusia



Ratih dan Dona sampai di kamar rawat inap dan mereka berdua termangu melihat Chanan dan Leo ada di sana.


Mereka ingat Chanan dirawat inap di kamar tersebut yang membuat mereka termangu, kenapa ada dua bed di kamar VVIP.


Leo yang duduk di tepi ranjangnya Chanan langsung bangkit berdiri dan mencium punggung tangan mamanya Chanan. Kemudian pria tampan berprofesi dokter hewan itu berkata, "Chan, aku temukan jatuh di lantai tadi. Tapi, untunglah kata dokter Chan baik-baik saja, Tante dan sudah diperbolehkan pulang"


"Oh! Gitu, ya. Lalu, kenapa aku ke sini membawa banyak sekali makanan kalau Chan udah nggak papa dan udah diperbolehkan pulang? Kenapa aku beli banyak puding dan salad buah. Untuk siapa aku beli semua ini, ya? Padahal Chan tidak suka puding dan tidak begitu suka salad buah. Apalagi kamu, Yo. Kamu juga nggak suka puding dan salad buah, kan?"


"Iya, Tante. Saya kalau buah cuma suka sama anggur yang sudah difermentasi dan ditaruh di botol, hehehehe" Leo meringis di depan Ratih dan Chanan langung menjitak Leo sambil berkata, "Itu namanya minuman anggur beralkohol bukan buah. Dasar tukang mabuk"


"Eh! Aku jarang mabuk sekarang" Sahut Leo. "Cuma masih suka sama minuman anggur, hehehehehe"


Chanan mencebikkan bibirnya. Lalu, ia bangun, bngkit berdiri, dan mengedarkan pandangan sambil bertanya, "Kenapa ada dua bed di kamar VVIP? Apa Mama tidur di sini semalam dan minta ekstra bed?"


"Nggak. Mama aja bingung kenapa Mama khawatir banget, tapi kemudian rasa khawatirnya Mana tiba-tiba hilang dan Mama heran kenapa Mama ada di sini kalau kamu ternyata nggak papa"


"Aku juga nggak tidur di sini semalam. Aku juga khawatir banget tadi. Sama seperti Mama kamu, rasa khawatirku tiba-tiba hilang"


"Aku baik-baik saja dan udah diperbolehkan pulang. Tapi, kenapa hatiku merasa kosong dan sedih seperti ini. Apa sebenarnya yang sudah terjadi? Mama nggak sedang sakit, kan?"


"Nggak! Amit-amit! Semoga Mama sehat terus. Kamu tahu, kan, kalau Mama takut diinfus" Sahut Ratih.


Kemudian Chanan melangkah keluar dari dalam kamar sambil berkata, "Kita pulang sekarang saja. Aku bosan di rumah sakit. Kita ingat-ingat keanehan apa ini di perjalanan pulang"


"Oke" Sahut Ratih dan Leo secara bersamaan.


Sementara itu di kahyangan, Gandasuli yang masih berwujud kelinci putih, membuka mata dengan perlahan.


Adrakhs langsung memeluk kelinci putih itu dan mencium pucuk kepala kelinci putih itu dengan penuh kerinduan sambil berkata, "Syukurlah kau selamat dan aku tidak datang terlambat"


Gandasuli pun hilang ingatan, namun Gandasuli hilang ingatan total. Gadis cantik itu juga tidak ingat dengan pria tampan yang memeluknya.


"Kamu siapa? Kenapa kamu memeluk aku?"


Gandasuli menatap kaki depannya dan berkata, "Aku nggak ingat kamu dan nggak ingat sama diriku sendiri. Aku ini kelinci putih, tapi, kok, bisa ngomong?"


"Kamu adalah putri bunga. Kamu gadis yang aku cintai untuk itulah aku menyelamatkan kamu dan membawamu ke istanaku setelah kamu dikutuk sama ibu tiri kamu dan dibuang ke hutan" Akhirnya Adrakhs berani menyatakan cintanya. "Masak kamu nggak ingat sama aku?"


"Cinta? Kamu mencintaiku?" Gandasuli bertanya dengan nada suara yang masih terdengar lemas.


"Iya. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu. Sejak kamu menyelamatkan aku. Kamu sudah ingat, kan?" Adrakhs mengelus lembut pucuk kepala kelinci putih itu.


Kelinci putih itu menggelengkan kepalanya dan bergumam, "Aku tidak ingat apapun dan apa ini? Aku menggenggamnya terus" Gandasuli yang masih berwujud kelinci memperlihatkan sebuah cincin ke Adrakhs.


"Itu cincin. Kalau kamu menggenggamnya terus berarti itu cincin kamu dan kamu sangat menyukai cincin itu"


"Kenapa aku bisa memakai cincin? Aku ini seekor kelinci"


"Kamu sudah berhasil berubah menjadi manusia dan aku rasa setelah kamu minum ramuan ini, kamu bisa jadi manusia lagi. Aku akan bantu kamu meminum ramuan ini" Adrakhs kemudian mengambil cangkir yang ada di atas meja, kemudian membantu Gandasuli meminum ramuan itu sampai habis.


Tiba-tiba muncul cahaya kuning mengelilingi Gandasuli dan Adrakhs langsung bangkit berdiri dan berputar badan membelakangi Gandasuli karena dia tahu kalau Gandasuli Berbah wujud menjadi manusia, Gandasuli akan telanjang.


Gandasuli tersentak kaget saat dirinya berubah wujud menjadi manusia dan dia langsung meraih baju yang ada di atas ranjang, bergegas memakainya, lalu setelah selesai memakai baju itu, Gandasuli melompat turun dari atas kasur dan berdiri di belakang Adrakhs lalu berkata, "Aku sudah jadi manusia dan aku sudah pakai baju. Kamu bisa berputar badan melihatku" Gandasuli berucap sambil memakai cincin yang masih dia genggam.


Adrakhs berputar badan dengan perlahan dan saat ia berhadapan dengan Gandasuli, hatinya langsung berdesir hebat dan jantungnya berdegup kencang.


Adrakhs lalu meraih kedua tangan Gandasuli dan memandang kedua bola mata Gandasuli dengan penuh cinta. Lalu, pria tampan dan gagah itu berkata, "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu Putri Bunga Gandasuli. Maukah kamu menikah denganku?"


Karena merasa bahagia sudah menjadi manusia dan karena merasa berhutang budi pada pria tampan yang berdiri di depannya dan tengah memegang kedua tangannya, Gandasuli menganggukkan kepala tanpa ragu. Dia yakin pria itu sangat mencintainya dan dia akan hidup bahagia dengan pria.uanh sudah menyelamtakan nyawanya itu.


Adrakhs tersenyum lebar, lalu tertawa bahagia, kemudian ia mencium kedua tangan Gandasuli dan berkata, "Kita akan menikah malam ini juga dan besok kita akan mengunjungi Istana bunga untuk memberi kejutan ke ibu tiri kamu, Suli"


"Terserah kamu saja. Aku akan selalu menuruti ucapan kamu" Sahut Gandasuli.