My Snowy

My Snowy
Menyukaimu



Dewa Adrakhs terus tersenyum. semringah saat ada harapan baru bahwa dirinya akan segera bertemu kembali dengan Gandasuki. "Aku akan langsung melamar kamu saat aku berhasil menemukan kamu nanti, Putri Gandasuli. Lalu, aku akan menolong kamu merebut kembali tahta kamu. Kamu harus kembali ke kerjaan bunga dan membuat perhitungan dengan ibu tiri jahat kamu itu. Aku sungguh tidak sabar menunggu hari itu tiba"


Burung gagak hitam, sahabatnya Gandasuli menukik tajam ke bawah menuju ke bumi dan burung gagak hitam itu memutuskan untuk mengelilingi bumi karena dia sendiri juga tidak tahu keberadaannya Gandasuli


"Kita ke mana sekarang ini Nyonya?" Tanya Dona asisten pribadinya Ratih.


"Chan sudah sampai di rumah?" Tanya Ratih.


"Sudah Nyonya. Anak buah saya yang saya suruh untuk mengikuti Tuan muda sudah memberikan laporan ke saya kalau Tuan muda sudah sampai di rumah" Sahut Dona.


"Kita ikuti dulu ambulans yang memindahkan wanita menjijikan yang tidak tahu malu itu"


"Baik, Nyonya" Sahut Dona.


Gandasuli kemudian memeluk erat leher Chanan setelah itu ia menggigit bibir Chanan sambil bergumam, "Popcorn. Aku mau popcorn lagi. Popcorn ini sangat enak. Aw! Aku suka, aku suka, aku suka!!!!" Pekik Gandasuli sambil terus mengigit pelan bibir Chanan.


"Hah?! Popcorn? Kau mengira bibir berhargaku ini popcorn? Dasar bodoh" Chanan lalu mendorong kedua bahu Gandasuli dengan helaan napas panjang.


Gandasuli beringsut mendekati Chanan dan dengan nakal ia menarik ujung kemeja Chanan hingga keluar dari pinggang celana panjang kain yang dikenakan oleh Chanan di hari itu."Badan siapa ini? Kenapa bagus sekali badan ini? Apa ini dadanya Dewa Adrakhs?" Gandasuli mendongak dan ia langsung mendorong dada Chanan sambil berteriak, "Kau! Ternyata kau pria aneh itu!" Gandasuli menunjuk wajah Chanan dengan badan bergoyang-goyang.


Lalu, gadis itu memeluk erat pinggangnya Chanan sambil berteriak, "Tolong aku! Ada gempa! Kerajaan bunga terjadi gempa lagi. Tolong!"


Chanan menghela napas panjang dan berkata, "Nggak ada gempa. Dasar bodoh"


"Kenapa goyang-goyang begini kalau tidak ada gempa?"


"Itu karena kau mabuk!" Chanan menggeram kesal.


"Mabuk? Aku gadis baik-baik. Nggak pernah mabuk" Gandasuki menepuk-nepuk dada Chanan.


Di saat Gandasuli kembali mendongak dan kedua bola matanya bertabrakan dengan kedua bola mata Chanan, gadis itu terkesiap dan sontak berkata, "Mata kamu lebih hitam dari biasanya. Kenapa bisa begini?" Gandasuli bangkit berdiri di ata sofa untuk melihat lebih dekat kedua bola matanya Chanan dan Chanan dengan menggeram kesal memeluk Gandasuli agar hadir itu tidak terjatuh di lantai.


Gandasuli kemudian menangkup wajah tampannya Chanan dan bertanya, "Iya! Bola mata kamu lebih hitam dari biasanya. Kenapa?"


"Ini karena gairah. Gairah yang timbul karena kenakalan kamu ini, bodoh" Sahut Chanan sambil membopong Gandasuli dan langsung berlari masuk ke kamar saat Gandasuli meronta-ronta dan hampir terjatuh di lantai.


Chanan menjatuhkan Gandasuli dengan pelan di atas ranjang dan di saat pria itu ingin pergi meninggalkan Gandasuli sendirian di kamar, gadis itu menarik Chanan hingga Chanan jatuh di atas tubuh Gandasuli dan menempel lekat.


"Kau! Kenapa kau menarikku, bodoh! Kau bisa berbuat nekat. Kau tahu saat ini aku sudah dikuasai gairah dan aku harus menghindari kamu. Lepaskan aku.........hmpppttthhh!"


Gandasuli kembali memagut bibir Chanan dan kembali bergumam, "Popcorn, aku suka, aku suka, aku suka"


"Hadeehhhhh! Hiks,hiks,hiks! Kenapa kau menyiksaku seperti ini, Snowy!!!!!" Chanan memekik frustasi.


Gandasuli lalu menyusupkan wajahnya ke leher Chanan dan menggigit leher itu sampai Chanan memekik, "Aduh! Hei! Kenapa kau gigit leherku, hah?!"


Gandasuli menangkup wajah Chanan dan berkata, "Aku membalas kamu, hihihi. Kamu juga menggigit leherku"


Gandasuli kemudian menatap Chanan dengan sorot mata sendu.


"Kenapa kau menatapku terus? Aku tampan, kan?"


Gandasuli yang masih menangkup wajah Chanan, menganggukkan kepalanya berulangkali dengan penuh semangat.


Chanan mengulum bibir menahan geli melihat kejujuran dan tingkah polosnya Gandasuli. Lalu, pria tampan itu meletakkan tangan di sisi kanan dan kiri kepalanya Gandasuli sambil berkata, "Kenapa kau tidak pernah bilang kalau aku ini tampan. Lebih tampan mana aku sama dewa petir bodoh kamu itu?"


"Lebih tampan dewa petir. Tapi, wajah kamu lebih imut" Gandasuli menggerakkan wajah Chanan ke kanan dan ke kiri.


Posisi berganti, Gandasuli berada di atas tubuh Chanan kini.


"Sentuhlah aku, Snowy" Kedua tangan Chanan terlipat di bawah kepalanya, tetapi suaranya yang lembut terdengar seperti kerikil tajam menusuk pendengarannya Gandasuli.


Gandasuli mengamati wajah Chanan sambil meletakkan tangannya di sisi kiri dan kanan kepalanya Chanan. Gandasuli menggeleng ingin mengatakan kata tidak, namun detak jantung abnormal mengkhianati dirinya dan membuat kedua bola matanya tidak mampu beralih dari tatapan Chanan.


Gandasuli kemudian melepaskan ikatan rambutnya, mengibaskan rambutnya, dan bertanya, "Kenapa panas sekali? Badanku seperti terbakar matahari? Kita sedang ada di tepi danau, ya, saat ini? Kenapa panas sekali? Kenapa matahari menyengat tubuhku seperti ini Kau jahat sekali matahari, hiks,hiks,hiks"


"Hahahaha" Chanan tidak bisa lagi mengendalikan tawa gelinya.


Gandasuli merengut dan menepuk dada Chanan cukup keras. Lalu, gadis cantik itu berkata, "Ssstttt! Jangan tertawa keras-keras. Kalau pemilik rumah ini bangun, kau bisa diomelin habis-habisan"


"Benarkah?" Tanya Chanan sambil mengulum bibir menahan geli.


"Hmm! Pemilik rumah ini sangat galak dan dia pria aneh yang suka, emm, apa namanya, ya, tadi, Kak Leo bilang, pemilik rumah ini plin plan dan suka semau Gue" Ucap Gandasuli sambil menggoyang-goyangkan kepalanya"


Sial! Aku akan bikin perhitungan sama Leo soal ini besok. Batin Chanan.


"Kau bilang apa tadi? Kau menyuruhku apa tadi?" Gandasuli menatap lekat Keuda bola matanya Chanan.


Chahan terkekeh geli. Kemudian, pria tampan itu kembali berkata, "Sentuhlah aku!" Ulang Chanan dengan suara serak menahan gairah. "Kau pun sudah terbakar gairah saat ini Snowy. Seberapa jauh kau bisa bertahan?"


Seluruh bagian dalam tubuh Gandasuli seketika bergejolak. Gejolak asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Gandasuli mencoba tetap tenang dan dengan pelan ia mengangkat tangannya lalu meletakkan kedua telapak tangannya pada dada Chanan. Gadis cantik itu kemudian mengelus dada itu dengan gerakan yang agak menekan. Setelah itu sambil menatap lekat kedua bola mata lekat-lekat, Gandasuli mulai melepaskan ikat pinggang Chanan lalu menarik turun ritsleting. Lalu, ia menciumi dada Chanan. Memberikan banyak tanda merah karena dia menggigit dada Chanan sampai ke perut dan gadis cantik itu kemudian jatuh tertidur di atas perutnya Chanan.


Chanan menyeringai senang dan berkata, "Wah! Kau nakal juga, ya, Istri kecilku. Kau sangat menggemaskan kalau mabuk begini"


Chanan kemudian merebahkan Gandasuli dengan perlahan di atas ranjang, menyelimuti Istrinya itu dengan penuh kasih sayang, kemudian di ma bergegas keluar dari dalam kamar dan berlari sambil menaikan lagi ritsleting dan mengaitkan kembali sabuknya.


Sesampainya di ruang tengah, Chan. mengambil kemejanya yang teronggok manis di atas sofa, kemudian ia mengambil botol wine berukuran kecil dan membawa lari botol wine kecil itu ke halaman belakang rumahnya dan dia lemparkan botol itu ke keranjang sampah di sana agar mamanya tidak menemukan botol wine itu dan menginterogasinya panjang lebar.


Kemudian, Chanan kembali masuk ke dalam kamarnya, merebahkan diri di atas ranjang dengan posisi miring, dan sambil merapikan rambut yang menutupi wajah cantik istrinya, Chanan terus mengamati wajah wanita yang sudah menjadi istri sahnya dengan identitas dan nama baru yaitu Snowy.


"Snowy. Aku yang memberikanmu identitas baru dengan nama itu. Sial! Tapi, kenapa aku bisa lupa sama nama asli kamu? Emm, nama asli kamu berkaitan dengan lagu Jawa yang berjudul Gambang Suling, tapi, sial! Siapa nama kamu?" Di saat Chanan mulai kesal karena dia belum juga berhasil mengingat nama aslinya Snowy, Chanan menepuk jidatnya cukup keras sampai dia mengaduh sendiri cukup keras, "Aduh!"


Pria tampan itu langsung menepuk pelan bahu Gandasuli saat gadis itu berdecak dan membuka sedikit kedua kelopak matanya. Chanan menepuk bahu Gandasuli sambil berkata "Maafkan aku, aku mengaduh cukup keras barusan! Sekarang tidurlah lagi, ya. Aku akan nyanyikan lagu Nina Bobo untukmu. Nina, eh mending aku ganti saja dengan Snowy bobo, oh, Snowy bobo, kalau tidak bobok digigit nyamuk"


Gandasuli tiba-tiba membuka Keuda kelopak matanya dan berkata, "Nyamuk adalah sahabatku. Mana mungkin menggigitku. Yang suka menggigit aku, tuh, pria yang bernama Chanan. Pemilik rumah ini. Dia aneh dan menyebalkan"


Chanan tersentak kaget dan saat pria itu hendak menyemburkan protes, Gandasuli beringsut dan memeluk pinggangnya sambil berkata, "Tapi, dia baik. Dia sangat imut kalau diam dan tidak mengomel. Dia juga tampan. Dia membiarkan aku tinggal gratis di sini dan berjanji akan memperbaiki kakungku. Dia juga membelikan aku makanan enak. Aku rasa aku mulai menyukainya"


Chanan tertegun mendengar Gandasuli mengucapkan kata menyukainya. Pria tampan itu langsung menunduk untuk melihat wajah Gandasuli dan bertanya, "Apa kau bilang kalau kau menyukaiku? Barusan kau bilang begitu, kan? Hei! Snowy? Snowy?"


Hanya terdengar dengkuran halus. Gandasuli kembali tertidur.


Chanan menghela napas panjang dan bergumam, "Kenapa jantungku berdetak abnormal lagi saat ini? Apa benar prediksi Dokter Fendy kalau aku mulai ada rasa sama kamu, Snowy? Tapi, bukankah itu tidak boleh terjadi? Kita berasal dari dua dunia yang sangat berbeda. Sebelum aku memutuskan untuk menghapus rasa ini, aku akan pastikan dulu apakah benar ini rasa cinta kalau menang benar, aku akan segera menghapusnya. Karena kita tidak mungkin bersama"


Sementara itu, Arabella berteriak kesal di dalam mobil ambulans dan karena dia terus meronta dan membuat petugas medis di dalam mobil ambulans itu kewalahan, maka Arabella disuntik obat bius dosis kecil dan dalam hitungan detik, wanita cantik itu jatuh tertidur.


Orang suruhan suaminya Arabella terus mengikuti mobil ambulans itu dan nekat menghadang mobil ambulans itu saat mereka melintas jalanan yang sepi. Orang suruhan suaminya Arabella itu kemudian membawa Arabella dan memulangkan Arabella ke rumah megah bosnya.


Suami Arabella mengusap pipi Istrinya sambil bergumam, "Akhirnya kau kembali juga ke pangkuanku, Sayang. Lihat saja besok, hukuman apa yang akan kau dapatkan dariku. Aku juga akan memberi dokter brengsek itu pelajaran besok"


Abram Prist terus menyeringai sambil terus mengusap pipi istri cantiknya.