My Snowy

My Snowy
Bodo Amat!



Chanan membopong Gandasuli dan berlari kecil melangkah ke kamar sambil menggeram kesal, "Leo! Kenapa kau masih sisakan kaleng minuman beralkohol kamu di lemari esku yang ada di ruangan ini? Hadeehhhhh!"


Chanan merebahkan Gandasuli dengan pelan di atas ranjang dan tersentak kaget saat wanita itu menarik tengkuknya dan mengajaknya berciuman.


Chanan lalu mendorong pelan kedua bahu Gandasuli, lalu menatap wajah cantik istri kecilnya itu untuk bertanya, "Suli! Sayang! Eh, kenapa aku bilang Sayang? Mak .. maksudku Snowy, kau mabuk. Apa kau tahu siapa aku saat ini? Kenapa kau mengajakku berciuman saat ini?"


"Tahu" Sahut Gandasuli sambil mendaratkan beberapa kecupan di bibir Chanan sambil berucap, "Mmuaaah, Mmuuaahh mmuuahh!"


Chanan mendorong kedua bahunya Gandasuli lagi dan bertanya dengan helaan napas frustasi karena dia harus berusaha sekuat tenaga menahan gairahnya. "Siapa aku?" Suara Chanan mulai terdengar serak.


"Chanan. Dokter Chanan Rahardian yang sangat tampan. Dokter yang digemari oleh Ibu-ibu di luar san dan dokter yang sangat menyebalkan. Galak, judes, dan aneh" Sahut Gandasuli sambil menggoyang-goyangkan kepala dan menusuk-nusuk dada bidang Chanan dengan jari telunjuknya. Lalu, Gandasuli kembali menarik tengkuk Chanan dan mengajak pria tampan itu berciuman lagi dengannya.


"Sebentar! Tunggu, Sayang, eh, Suli!" Chanan kembali mendorong kedua bahu Gandasuli dengan erangan frustasi dan pria tampan itu lalu bertanya, "Kenapa kau mengajakku berciuman saat ini?"


"Karena kamu!" Gandasuli menusuk dada Chanan cukup keras sampai Chanan mengaduh dan Chanan sontak bergumam kesal, "Bekas ciuman yang kau daratkan di dadaku semalam belum hilang dan kau mau menambahkannya sekarang? Karena aku apa, hah?! Karena aku sangat tampan?"


Gandasuli merebahkan kepalanya di dada Chanan sambil berkata, "Karena kamu selalu membuat hatiku kebat-kebit dan jantungku berdetak kencang. Aku nggak tahu kenapa aku seperti ini setiap kali aku berdekatan sedekat ini denganmu. Lalu, aku mencoba mengajakmu berciuman untuk mengecek jantungku dan benar jantungku sekarang berdetak kencang. Peganglah!" Gandasuli menarik tangan Chanan dan meletakkan tangan itu di atas dadanya.


Chanan seketika kesulitan menelan air liurnya dan setelah berkata, "Ah! Bodo amat akan hari esok. Aku sangat ingin memiliki kamu saat ini juga, Suli" Chanan kemudian memagut bibir Gandasuli dengan penuh gairah dan memainkan tangannya di atas titik kenyal dengan lembut.


Gandasuli membeliak kaget dan sontak menengadahkan wajahnya ke atas dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Chanan untuk menyusupkan wajahnya di leher Gandasuli sambil berucap, "Salah sendiri kenapa kau imut banget saat ini dan kau mengatakan yang aneh-aneh tentang aku" Pria tampan itu kemudian mendaratkan tanda kepemilikan di leher putihnya Gandasuki. Leher yang putih seputih salju itu sontak memerah tajam seperti terkena darah segar dan seketika Gandasuli merintih lirih.


"Kali ini aku tidak akan melepaskanmu, Suli. Salah sendiri kenapa kau terus menggodaku" Chanan berucap sembari melepas bajunya Gandasuli lalu melemparkan asal baju itu sambil berkata, "Baju ini mengganggu saja!"


Chanan kemudian meletakkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan kepalanya Gandasuli untuk menahan tubuhnya lalu pria tampan itu berucap, "Astaga! Aku ini seperti terkena durian runtuh. Kenapa aku bisa seberuntung ini memiliki Istri secantik ini. Suli, kau sungguh cantik, kulitmu putih bak salju dan sangat indah"


Dan di detik berikutnya, Chanan memagut bibirnya Gandasuli kembali dengan lebih dalam dan intens.


Chanan terus mengajak Gandasuli berciuman dengan lembut dan pria tampan itu tersenyum saat ia merasakan Gandasuli mulai merekahkan bibir. Tanpa menunggu komando, pria itu menelusupkan lidahnya ke dalam dan mengajak lidah Gandasuli berdansa tango dengan lidahnya.


Chanan memang ahlinya kalau dalam teknik berciuman. Itu yang dikatakan Arabella, mantan tunangannya Chanan. Tapi, untuk menyatukan raga, Chanan belum pernah. Saking cintanya sama Arabella, dia selalu menjaga kesuciannya Arabella dan sayangnya dia menjaga kesuciannya Arabella untuk pria lain.


Gandasuli melenguh, merintih, dan seakan meleleh. Gadis cantik itu mulai kewalahan mengikuti permainan Chanan yang semakin lama semakin liar, panas, dan luar biasa. Permainan baru sampai pada tahap berciuman, namun sudah membuat Gandasuli kelimpungan dan hampir kehabisan napas.


Chanan lalu menyusupkan wajahnya di dada Gandasuli, bermain asyik di sana lalu ia menurunkan bibirnya sampai ke pusar dan bermain asyik di sana. Kemudian pria tampan itu menggerakkan bibirnya ke bawah dan bermain asyik di sana hingga membuat kedua mata Gandasuli seketika terbuka lebar dan membeliak kaget.


Gandasuli tanpa ia sadari terus melenguh dan di sela lenguhannya, ia memanggil-manggil nama Chanan.


Chanan tersenyum senang dan bergumam, "Aku akhirnya bisa menghapus nama dewa bodoh itu dari beak kamu, Suli" Chanan kemudian merangkak naik dan mengajak Gandasuli berciuman sambil berkata, "Aku di sini, Suli dan kali ini aku tidak mampu lagi mengendalikan diriku. Kamu juga menginginkannya, kan?"


Gandasuli menganggukkan kepalanya dengan lemah tanpa ia sadari.


Chanan semakin menggila. Pria tampan itu nekat menyatukan raganya dengan Gandasuli. Itu adalah pengalaman pertama bagi Chanan dan bagi Gandasuli. Chanan tahu itu, maka pria itu melakukannya dengan pelan karena ia tidak ingin menyakiti Gandasuli.


"Astaga! Suli! Kau luar biasa. Aku tidak bisa berhenti"


Setelah pergulatan panas ketiga, Chanan rebah di sebelahnya Gandasuli dan dia mengusap air mata yang membasahi pipi Gandasuli sambil berkata, "Maafkan aku! Aku khilaf. Lagipula kita sudah menikah. Aku juga berjanji kalau aku akan setia. Aku hanya akan mencintaimu. Hanya mencintaimu seorang, Sayang" Chanan mencium pipi Gandasuli dan Gandasuli berucap lirih di bawah kesadarannya, "Tadi sangat hebat" Lalu, wanita itu terkulai lemas jatuh ke alam mimpi.


Chanan tersenyum. Dia menarik selimut dan memeluk Gandasuli sambil berkata, "Kamu yang sangat hebat Suli. Kamu wanita pemberani, tangguh, cantik dan hebat. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu" Lalu, pria tampan itu pun jatuh terkulai ke alam mimpi.


Seorang burung pipit mencegah burung gagak sahabatnya Gandasuli dan berkata, "Stop! Jangan teruskan menuju ke sana!"


"Lho, ada apa?" Tanya burung gagak itu.


"Kamu mencari Gandasuli, kan?"


"Kok, kamu tahu?"


"Aku pernah bertemu dengan burung Beo yang bercerita soal putri bunga yang terjatuh di bumi. Putri bunga itu bernama Gandasuli dan dia banyak bersahabat dengan burung-burung" Sahut burung Pipit itu.


"Lalu, kamu tahu di mana putri itu berada sekarang ini?"


"Tahu. Aku akan tunjukkan tempatnya"


"Ah! Terima kasih pekik burung gagak itu.