My Snowy

My Snowy
Raja Akamu



Setelah suaminya tertidur karena sudah sangat puas mendapatkan layanannya, ratu Zahwa keluar dari kamar dan secara sembunyi-sembunyi ia menemui kekasih hatinya, raja kerajaan lembah tengkorak yang bernama raja Akuma. Mereka berdua memang bersekongkol ingin merebut kerajaan bunga agar raja Akuma bisa memperluas daerah kekuasaannya.


"Gimana? Kamu sudah sampai berapa persen? Aku sudah tidak sabar ingin segera merebut istana bunga itu" Ucap raja Akuma sembari memainkan tangannya di tubuh Zahwa.


"Sudah hampir seratus persen. Aku sudah masukkan bubuk penghilang sihir di makanan Jahanara. Lusa, sihirnya Jahanara sudah hilang total dan kamu bisa merebut singgasananya. Lagipula saat ini putri kita yang jadi pewaris tahta. Kau bisa masuk dengan leluasa ke istana bunga, lusa" Sahut Zahwa di sela aktivitasnya mencium bibir raja Akuma.


"Bagus. Kerja bagus kekasihku yang cantik dan seksi" Raja Akuma tertawa lepas dan ia langsung membopong Zahwa ke ranjangnya.


Di saat raja Akuma ingin menyatukan raga, Zahwa menahan dada Akuma dan berkata "Sebentar, Sayang"


"Ada apa?" Raja Akuma menatap kekasihnya dengan kerutan di keningnya.


"Aku mempertaruhkan nyawa datang ke sini diam-diam karena........"


"Kamu merindukan aku" Raja Akuma mengusap lembut bibir Zahwa dengan penuh damba.


Zahwa menggelengkan kepala sambil mengusap lembu dada bidang raja Akuma.


"Bukan karena rindu? Lalu karena apa?"


Raja Akuma langsung bangun dan duduk di tepi ranjang dengan kesal


Zahwa bangun lalu memeluk tubuh kekasihnya dari arah belakang. Lalu, ia menyusurkan bibirnya di leher raja Akuma sambil berkata, "Ada sedikit Kendala di rencanaku"


"Apa itu?" Ucap raja Akuma sambil menciumi tangan Zahwa.


"Aku gagal membunuh gagak hitam utusannya Dewa Petir Adrakhs. Gagak hitam itu berhasil masuk ke istana dewa petir dan memberitahukan keberadaannya Gandasuli, putri tiriku, Sayang"


Raja Akuma sontak bangkit berdiri dan berbalik badan dengan cepat untuk melotot ke Zahwa.


Ratu Zahwa langsung bangkit berdiri dan memeluk pinggang raja Akuma dengan wajah ketakutan.


Raja Akuma orang yang sangat kejam dan tidak punya hati nurani sama sekali karena dia adalah jelmaan Iblis.


Raja Akuma menggeram penuh amarah, "Putrinya Jahanara masih hidup berarti?"


Ratu para penyihir itu langsung mempererat pelukannya dan memekik lirih, "Maafkan aku. Aku pikir Gandasuli sudah mati. Aku sihir dia menjadi kelinci putih dan aku buang ke tengah hutan. Aku pikir dia mati ditelan binatang buas saat itu"


Raja Akuma mendorong kasar tubuh ratu Zahwa dan langsung berteriak, "Kau pikir, hah?! Harusnya kau pastikan dia sudah mati bukan hanya kau pikirkan saja! Dasar bodoh!"


"Maafkan aku! Aku ke sini karena aku ingin meminjam cermin kamu. Dengan cermin tengkorak hitam yang kamu miliki, kita bisa tahu keberadaan seseorang, kan? Kalau kita sudah tahu, kita bisa mengirim utusan untuk turu ke bumi dan membunuh Suli"


"Bumi? Kenapa putrinya Jahanara brengsek itu bisa turun ke bumi, hah?!"


"Panjang ceritanya. Kita harus segera temukan keberadaannya Suli saat ini sebelum dewa petir menjemput Suli"


"Dewa petir Adrakhs?" Raja Akuma mendelik kaget, "Kenapa sekarang muncul nama dewa petir Adrakhs, hah?!"


"Anu, itu, emm, maafkan aku" Ratu para penyihir itu langsung memeluk kembali pinggang kokoh raja Akuma.


"Katakan!" Raja Akuma mulai menggeram kesal. Sangat kesal. Bahkan hatinya merah dan siap meledakkan amarahnya.


"Aku tidak tahu kalau Suli diselamatkan oleh dewa petir saat Suli aku buang ke hutan. Aku biarkan saja karena kau pikir itu tidak masalah dan.........aduh!" Ratu Zahwa mengaduh keras saat raja Akuma mendorong kasar dirinya hingga pantatnya terjatuh cukup keras di atas lantai.


"Oke! Masalah Jahanara hampir kelar dan kau malah berurusan dengan dewa petir Adrakhs. Kau benar-benar wanita bodoh! Kau tahu kalau aku tidak sebanding dengan Jahanara apalagi dengan Adrakhs. Adrakhs jauh lebih kuat dibandingkan dengan Jahanara. Kau pikir aku, kita bisa melawan Adrakhs kalau dewa itu memihak Gandasuli, Hah?!"


Raja Akuma berteriak kesal sambil mengeluarkan cermin kebanggannya.


Chanan membuka kedua kelopak matanya dan mengeluarkan suara lirih, "Di mana Istriku? Bagaimana keadaan Istriku? Snowy, Snowy!"


Ratih tersentak kaget. Wanita berkepala empat yang masih tampak muda dan cantik itu sontak bangkit berdiri dan berbalik badan dengan cepat untuk menatap putra tercintanya.


Ratih langung melangkah lebar dan memeluk Chanan sambil berkata di sela isak tangisnya, "Syukurlah kamu sudah sadar, Chan"


Chanan refleks mendorong pelan kedua bahu mama cantiknya sambil bertanya dengan nada dan wajah panik, "Di mana Istriku, Ma. Aku lihat Snowy menggedor kaca jendela mobilku dan dengan sudah payah dan tanpa menyerah Snowy akhirnya berhasil mengeluarkan aku dari dalam mobil. Lalu, aku pingsan"


Ratih menggeser tubuhnya ke kanan dan sambil menoleh ke belakang ia berkata, "Istri kamu, menantu Mama yang sangat cantik, masih tidur di sana" Ratih kemudian menundukkan wajahnya dan menangis tergugu di tempat ia berdiri Dona langung melangkah lebar dan memeluk bahu Ratih.


Chanan menoleh ke kanan dan sontak ia melepas Selan infus yang ada di punggung tangannya. Pria tampan berprofesi dokter bedah itu langsung bangun.


Leo dan Roy sontak melangkah lebar dan berteriak, "Jangan turun dari tempat tidur!"


Chanan langsung berkata, "Aku nggak papa. Jangan khawatirkan aku!"


Ratih semakin tergugu dalam pelukannya Dona dan Leo langsung melangkah lebar menghampiri Chahan saat ia melihat Chanan hampir terjatuh dan Leo langsung memapah Chanan untuk berjalan pelan menuju ke bed-nya Gandasuli.


Leo kemudian membantu Chanan duduk di kursi yang berada di samping bed-nya Gandasuli.


Leo kemudian melangkah kembali ke sofa dan membiarkan Chanan melepaskan kerinduan dengan Gandasuli.


Chanan menundukkan wajahnya di perut ratanya Gandasuli dan menangis terisak di sana, "Maafkan aku, Suli. Maafkan aku. Kenapa semua ini bisa terjadi. Siapa yang sudah tega menyakiti kita berdua?"


"Pelakunya adalah Abram Prist. Suaminya mantan tunangannya kamu, si Arabella bodoh itu" Sahut Leo Dangan nada bicara dan wajah yang sangat kesal.


Chanan mengangkat wajahnya dari perut rata Gandasuli dan langsung menoleh ke Leo dengan kaget, "Abram Prist? Tapi, kenapa dia nekat ingin membunuhku? Padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun sama dia"


"Kau yakin? Kau tidak pernah melakukan kesalahan apapun sama dia?" Tanya Leo dengan sorot mata penuh kecurigaan.


"Aku cuma khilaf sesaat. Aku pernah ajak Bella ke hotel dan .........aduh! Ma! Kenapa Mama memukul kepalaku? Aku baru bangun dari tidur panjang, lho" Chanan menoleh kaget ke mamanya.


"Kenapa kau bawa Bella kan hotel, hah?! Kau sudah menikah"


"Tidak terjadi apa-apa di sana, Ma. Yeeeaahhh! Sesaat aku lepas kontrol dan kami berciuman........aduh! Mas! Sakit! Kalau kepalaku benjol aku jadi bodoh gimana?"


"Biar saja bodoh karena kamu memang bodoh sejak kamu berkenalan dan berpacaran dengan Bella brengsek itu. Mama sudah larang kamu berhubungan dengan wanita itu, tapi kamu selalu ngeyel! Sekarang lihat akibatnya! Istri kamu terbaring tak sadarkan diri seperti itu" Ratih memekik kesal di sela isak tangisnya


Dona kembali memeluk bahu Ratih sambil berucap, "Sabar, Nyonya besar. Ingat kesehatan Anda. Anda tidak boleh terlalu emosi"


Ratih menghela napas dalam-dalam dan menatap Chanan dengan sangat kesal.


"Maafkan aku. Aku memang bodoh. Akibat dari kebodohanku, aku telah membuat Snowy menanggung semuanya. Kenapa harus Snowy? Kenapa Tuhan tidak menghukum diriku saja?" Chanan menundukkan wajahnya dan menangis tergugu di sana.


Leo yang selalu tidak tega melihat sahabatnya menangis langsung berkata, "Sudahlah! Jangan terus menyesali kebodohan kamu dengan air mata! Sekarang kita fokus ke kesehatannya Snowy dan fokus ke Abram Prist, kita harus membuat pria itu menyesali perbuatannya. Dia harus masuk penjara"


"Saya setuju. Saya sudah buat laporan ke pihak kepolisian dan besok pagi, Abram Prist akan ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara"


Chanan bangkit berdiri dan langsung memeluk Gandasuli lalu berkata, "Cepatlah bangun, Cantikku! Gandasuli, putri bunga putih yang tangguh, jangan tidur terus seperti ini! Apa kamu tidak rindu berdebat denganku lagi?"