
"A......aku akan membersihkan rumah" Gandasuli berbalik badan dengan cepat dan berlari kecil meninggalkan Chanan.
Chananmengukum bibir mengajak geli melihat tingkahnya Gandasuli.
Setelah mencuci semua perabot makan, Chanan ke ruang depan dan terkejut saat melihat Gandasuli menyoal lantai dengan menggunakan kemoceng.
"Hei, Bodoh! Kenapa kau menyapu lantai dengan menggunakan kemoceng?"
"Kenapa kau bilang aku bodoh, hah! Ini memang untuk menyapu lantai, kan? Aku menggunakan ini untuk menyapu lantai di rumah Ayahku" Gandasuli berkacak pinggang di depan Chanan.
"Jadi, selama ini kamu menyapu semua lantai di rumahku pakai kemoceng itu?"
"Hmm" Gandasuli mengagguk dengan wajah polos.
"Hadeehhhhh! Itu berbahaya untuk punggung kamu. Kamu harus membungkuk terus kayak tadi pas nyapu, kan?"
"Iya. Memangnya kenapa?" Gandasuli melotot ke Chanan.
"Aku, tuh peduli sama punggung kamu. Kalau kamu membungkuk seperti tadi dan kamu lakukan terus menerus itu bisa berbahaya. Aku, tuh, peduli sama kamu, kok, malah ngotot, melotot, dan berkacak pinggang. Itu kemoceng bukan sapu. kemoceng itu untuk membersihkan debu di meja, kursi, dan lain-lain. Kalau mau menyapu lantai kamu tinggal hidupkan benda bulat hitam di pojok itu" Chanan kemudian berjalan di pojok ruang keluarga, lalu berjongkok untuk menghidupkan robot berbentuk bulat dan robot itu langsung bergerak untuk menyedot semua kotoran di lantai.
"Benda bulat itu lucu banget. Itu sapu? Kenapa dia bisa bergerak sendiri?"
"Ini robot yang diprogram untuk membersihkan lantai menggantikan tugas sapu. Taruh kemoceng itu di tempatnya lagi dan siapkan peralatan belajar kamu.Dosen kamu sebentar lagi datang"
"Nanti ajari aku cara menghidupkan dan mematikan benda bulat lucu itu, ya" Gandasuli berteriak sembari membawa kemoceng untuk mengembalikan kemoceng kembali ke tempatnya dan Chanan kembali mengulum senyum geli melihat tingkah polosnya Gandasuli.
Gandasuli kembali ke ruang keluarga dan kaget karena Chanan masih ada di sana.
"Hmm. Kamu nggak pergi bekerja?" Gandasuli mengerutkan alisnya.
"Aku tunggu dulu dosen kamu. Kalau yang datang cowok lagi, aku akan benar-benar mencabut dukunganku di kampus itu, cih"
Setelah dosennya Gandasuli datang dan seorang perempuan yang datang, Chanan langsung pamit pergi ke rumah sakit untuk berdinas dan karena tergesa-gesa, Chanan refleks mendaratkan ciuman di pipi Gandasuli
Gadis cantik itu sontak mengerjapkan mata dan langsung mematung.
Dosennya Gandasuli langsung berdeham dan berkata, "Anda beruntung, ya, Nona"
"Emm, apa? Anda berkata apa barusan, Bu?" Gandasuli langsung menoleh kaget ke dosennya.
"Anda beruntung memiliki suami yang sangat mencintai Anda, Nina" Sahut dosennya Gandasuli.
Gandasuli menyahut, "Ah! Iya, hehehehehe"
Mencintai apa? Dia selalu membentak dan melotot ke saya. Batin Gandasuli.
Kegiatan belajar mengajar di rumah selesai tepat jam dua belas sing dan Gandasuli memutuskan untuk memasang makanan kesukaannya Chanan sebagai rasa terima kasih karena Chanan sudah memasak sup ayam untuknya dan membuat pening di kepalanya sembuh berkat sup ayam itu.
"Wah! Ternyata Dokter bedah yang bernama Chanan Rahardian itu sangat tampan. Orangnya baik lagi. Bisik seroang ibu paruh baya yang tengah mengantre di depan apotik.
Ibu paruh baya yang lain langsung menyahut, "Iya. Ternyata Dokter Chanan Rahardian sangat tampan. Selama ini dia, kan, selalu memakai masker dan anehnya selalu memakai sarung tangan kalau memeriksa pasien. Tapi, sekarang nggak lagi"
"Itu karena Dokter Chanan punya penyakit alergi. Sekarang sepetinya penyakit alerginya sudah sembuh. Dia bukan hanya tampan tapi juga hebat. Dia dokter bedah termuda, lho" Sahut ibu paruh baya yang lainnya lagi.
Gandasuli yang berjalan melintasi apotik tersenyum senang mendengar banyak pasien memuji Dokter Chanan Rahardian.
Gadis cantik itu kemudian berdiri di depan pintu lift dan langsung menoleh ke kanan dan ke kiri untuk meminta seseorang menemaninya masuk ke dalam karena ia takut masuk ke lift sendirian.
Ting! Pintu lift terbuka dan Gandasuli sontak mundur ke belakang karena kaget. Chanan langsung melompat keluar dari dalam lift dan dengan sigap menangkap tubuh Gandasuli yang hampir jatuh. Dia menarik tubuh Gandasuli ke dalam pelukannya sampai tubuh mereka menempel erat dan langsung mendelik, "Kenapa kau ada sini, hah?! Aku sudah suruh kamu berdiam diri di rumah saja, kan? Kenapa sekarang malah keluyuran ke sini?"
Gandasuli mendongak dan berkata, "Aku masak semur kesukaan kamu dan pengen makan siang sama kamu. Bisa kamu lepaskan pelukan kamu dan kita masuk ke dalam lift?"
"Iya, aku tahu. Terima kasih. Ayo kita masuk ke dalam lift"
Saat lift bergerak ke atas, Gandasuli langsung berteriak, "Kyaaaaaa!" Dan menempelkan punggungnya di dinding lift karena dia tahu kalau dia memeluk pinggang Chanan, pria itu akan membentaknya.
Chanan mengulum bibir menahan geli dan pria tampan itu langsung menarik tangan Gandasuli lalu ia mendekap erat tubuh Gandasuli.
Gandasuli sontak membuka kedua kelopak matanya dan mengerjap beberapa kali sambil bertanya, "Kenapa kau memelukku?"
"Tentu saja aku harus memeluk Istriku pas Istu ketakutan itulah gunanya seorang suami"
Gandasuli menegakkan kedua tangannya yang masih memegang tantang dan tas di kedua sisi tubuh tegaknya Chanan dan bergumam lirih, "Kenapa kemarin nggak mau aku peluk dan nggak bilang begini?"
Chanan menunduk dan bertanya, "Kau hilang apa?"
Gandasuli mendongak dan berkata dengan senyum lebar, "Nggak! Nggak ngomong apa-apa, kok"
Ting! Pintu lift terbuka dan Chanan langsung melepaskan pelukannya dan Gandasuli langsung berlari keluar dari dalam lift. Chanan melangkah keluar dan sambil mengulum bibir ia membuka telapak tangannya di depan Gandasuli.
Gandasuli mengerjap bingung dan langsung bertanya, "Kamu mau minta apa? Mau makan di sini? Kan, nggak ada meja dan kursi di sini" Gandasuli berucap sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Aku hanya minta tangan kamu"
Gandasuli menunjukkan tangannya dan berkata, "Tanganku penuh. Di kanan ada rantang dan di kiri ada tas. Lagian mau kamu apakan tanganku? Kenapa kamu memintanya?"
Chanan mengambil rantang dari tangan kanan Gandasuli, lalu ia menggenggam tangan kanan Gandasuli dan dengan santainya ia kemudian mengajak Gandasuli berjalan menuju ke ruang kerjanya.
Sial! Kenapa benar sekali semua yang dikatakan oleh dokter Fendy? Kenapa langkahku menjadi pelan begini karena aku nggak ingin melepaskan tangan Gandasuli. Chanan membatin dengan mata terpejam erat.
"Kalau jalannya pelan-pelan seperti ini maka kita akan sampai di ruanganmu kamu, tuh, besok, Kak" Ucap Gandasuli sambil menoleh ke Chanan.
Eh! Kenapa pria ini memejamkan mata serapat itu? Apa dia sedang ketakutan saat ini. Kalau aku takut dia memeluk takut tadi. Lalu, apakah aku harus memeluknya saat ini untuk membalas budi? Ah! Peluk saja! Batin Gandasuli.
Gadis cantik itu kemudian memeluk Chanan sampai membuat Chanan tersentak kaget dan kedua insan itu kemudian terjatuh di atas lantai dengan posisi Gandasuki berada di atas dadanya Chanan.
Chanan menggeram kesal, "Kenapa kau memelukku tiba-tiba, hah?! Bikin kaget dan bikin kita jatuh ke lantai, kan, saat ini?"
"Habisnya aku lihat kamu ketakutan"
"Siapa yang ketakutan?! Jadi orang, tuh, jangan sok tahu!" Chanan mendelik kesal ke Gandasuli.
"Kamu memejamkan mata kamu rapat-rapat tadi" Sahut Gandasuli tidak mau kalah.
"Memejamkan mata rapat-rapat bukan berarti ketakutan. Bangun! Badan kamu berat!"
Gandasuli bangun dengan bibir mengerucut kesal dan bergumam, "Ditolong bukannya berterima kasih, eh, malah ngomel"
"Sekarang bantu aku berdiri! Punggungku terasa aneh, nih"
Gandasuli memilih untuk menyelamatkan rantang makanan terlebih dahulu dan langsung memeluk rantang itu sambil berucap, "Syukurlah masakanku tidak tumpah"
"Hei! Kenapa kau lebih mementingkan rantang itu daripada suami kamu, hah?! Bantu aku berdiri!"
Gandasuli membungkukkan badan dan langsung menegakkannya kembali saat ia melihat mantan pacarnya Chanan membantu Chanan bangun sambil berkata, "Aku akan membantu kamu berdiri, Chan"
Chanan berdiri dengan bantuan Bella dan pria tampan itu kemudian berdiri dengan canggung sambil menoleh ke Gandasuli lalu menoleh ke Bella.
Gandasuli mematung dengan wajah datar sedangkan Bella mematung dengan bibir mengulas senyum paling cantik.