My Snowy

My Snowy
Rasa Bersalah



Chanan terbangun kaget saat ia merasakan pipinya dicubit dan mendengar ada gumaman-gumaman aneh, "Permen kapas! Ah! Lembut sekali permen kapas ini. Saya suka, saya suka. Ahhhhhh!!!!!" Gandasuli semakin gemas mencubit pipinya Chanan.


Chanan mengaduh lirih dan mendelik kesal ke Gandasuli yang masih memejamkan matanya dengan rapat.


"Kenapa kau bisa mengigau separah ini dan nggak ada berhenti-berhentinya, hah?! Hadeeeehhhh!!!!! Sabar, Chan!" Chanan menggeram lirih.


Gandasuli lalu mengempit kaki Chanan dan memeluk pinggang Chanan sambil menggeram, "Aku nggak akan lepaskan. kamu! Kamu popcorn jumbo. Aku nggak akan lepaskan kamu.Ah! Senangnya! Akhirnya aku bisa memeluk popcorn jumbo!"


"Hadeeeehhhh! Kenapa dia masih memikirkan popcorn?" Chanan mendelik kaget.


Lalu, Gandasuli menubrukkan bibirnya ke bibir Chanan dengan cukup keras.


Pria tampan itu membeliak kaget dan sontak bertanya, "Apalagi sekarang? Apa yang dia pikiran saat ini? Kenapa ia menabrakkan bibirnya ke bibirku?"


"Ah! mangga madu. Manis banget mangga madunya" Gandasuli berucap sembari mengigit pelan bibirnya Chanan berulangkali.


"Hah?! Tadi kau sebut bibirku ini popcorn dan sekarang kau sebut bibirku ini mangga? Hadeeehhh! Kenapa di otak kamu hanya ada makanan melulu"


"Umm, Umm, Umm, manis banget mangga madunya" Gandasuli bergumam dengan masih menggigit pelan bibir Chanan berulangkali.


Chanan meringis dan menangis frustasi, "Hiks, hiks, hiks! Snowy! Kau sangat nakal dan suka banget menyiksaku, hiks, hiks, hiks!" Jantung Chanan kembali berdetak abnormal dan pria tampan itu hanya bisa mengerang kesal sambil menatap langit-langit kamarnya di saat Gandasuli terus menggigiti bibirnya.


Mamanya Chanan yang menempelkan telinganya ke daun pintu tersenyum bahagia mendengar ucapannya Chanan itu dan Ratih langsung meninggalkan daun pintu kamarnya Chanan dengan wajah semringah sambil bergumam, "Ah! Senangnya mendengar Snowy nakal, Hihihihihi! Sebentar lagi aku akan punya cucu. Cucu yang pastinya sangat cakep karena menantuku itu sangat cantik. Ah! Nggak sabar aku, nggak sabar!"


Keesokan harinya, Chanan bangun dan tersenyum bahagia saat ia menemukan kening Gandasuli menempel di keningnya dan kepala gadis itu berada di atas lengannya.


Sial! Kenapa dia cantik banget di pagi hari ini? Dia tidak pernah pakai bedak dan pakai lipstick. Tapi, kenapa bisa secantik ini. Batin Chanan sambil memindai wajah Gandasuli.


Kenapa hatiku berdesir hangat dan aku tidak ingin mengalihkan pandanganku dari wajah cantik alami ini. Batin Chanan.


Chanan kemudian meringis, Sial! Lenganku kesemutan, nih. Tapi, kenapa aku tidak merasa keberatan,ya? Batin Chanan.


Chanan kemudian menarik pelan lengannya dan langsung mematung saat ia melihat Gandasuli berdecak dan bergerak meraih guling lalu memeluknya.


Chanan melirik ke samping kiri dan saat ia melihat Gandasuli tidak bergerak lagi dan sudah terdengar dengkuran halus. Chanan baru berani bergerak untuk memijat lengannya sambil bangun dengan pelan lalu bangkit berdiri tanpa mengeluarkan suara.


Chanan terkejut melihat Leo sudah berada di ruang makan dan tengah menata susu kotak siap minum di lemari esnya.


"Kenapa kamu udah ada di sini sepagi ini, hah?!"


"Aku berjanji membelikan Snowy susu kotak siap minum dan aku menatanya pagi-pagi begini di lemari es biar dinginnya pas nanti buat Snowy" Sahut Leo.


"Bawa pulang sekalian botol wine kamu!"


"Lho, ya, biar di sini botol wine-nya. Kamu tahu, kan, kalau lemari es di rumahku masih diservis dan belum jadi"


"Botol Wine kamu diminum satu sama Snowy kemarin malam Snowy sepertinya mengira botol Wine itu berisi air putih karena warnanya putih dan Snowy mabuk berat semalam" Chanan berucap dengan wajah merah padam menahan kesal.


"Hah?!" Leo spontan menghitung botol Wine biliknya yang ia titipkan di lemari esnya Chanan dan pria tampan itu sontak memekik, "Astaga! Benar berkurang satu" Leo menatap Chanan dan bertanya dengan wajah panik, "Lalu, Snowy gimana?"


"Oke! Aku gagak akan bilang soal ini ke Mama kamu. Maafkan aku! Aku akan bawa semua botol Wine ini ke rumahku kalau begitu" Leo berucap sambil mengambil lima botol Wine yang ada di lemari esnya Leo lalu memasukkan ke dalam paper bag yang masih ia jinjing.


Chanan mendengus kesal. Lalu, dokter bedah tampan itu berjalan ke dapur.


Leo langsung bertanya, "Kau mau masak apa hari ini? Biar aku bantu. Emm, untuk mengurangi rasa bersalahku karena aku secara tidak langsung sudah membuat Snowy mabuk semalam"


"Aku akan masak sup ayam untuk Snowy karena sup ayam bisa mengatasi dehidrasi akibat alkohol. Selain itu, daging ayam kaya akan asam amino sistein. Zat ini bisa membantu meluruhkan racun (detoksifikasi) di tubuh akibat alkohol, yaitu asetaldehida. Efeknya, asupan sistein mengurangi pusing, mual, dan sakit kepala" Ucap Chanan dengan wajah serius dan datar.


Leo, pria yang sudah bersahabat dengan Chanan sejak ia masih berumur lima tahun itu menghela napas panjang, menautkan kedua alis, dan menggeleng-menggelengkan kepala lalu berkata, "Iya,oke! Masak, ya masak aja. Nggak usah pakai penjelasan! Pusing aku mendengar penjelasan kamu yang ruwet itu"


"Aku juga pusing lihat wajah jelek kamu sepagi ini di rumahku" Sahut Chanan tanpa menoleh ke ke Leo dan Leo langsung mengarahkan kepalan tangannya ke Chanan. Chanan langsung berkata, "Kau tengah mengacungkan tinju ke aku, ya?"


"Sial! Kenapa kau bisa tahu? Kamu punya mata di belakang kepala kamu?" Leo mengacak-acak rambut bagian belakang kepala Chanan dan Chanan langsung mengeram, "Kau mau mati, ya?!"


"Hahahahahaha! Sori panggilan alam, Bro! Sudah lama banget aku ingin mengacak-acak kepala kamu, hahahahahaha!"


Chanan mendengus kesal


"Lho! Kedua anak tampannya Mama, kok, udah ngobrol di dapur?" Ratih menyapa Chanan dan Leo dengan senyum cantiknya.


"Ah! Mama cantikku sudah bangun?" Leo langsung memeluk Ratih dan setelah mencium mamanya Chanan yang sudah ia anggap seperti mamanya sendiri, Leo berkata, "Tidur lagi aja, Ma! Nggak usah masak! Anak Mama yang tampan-tampan ini yang akan memasak untuk Mama dan Snowy"


"Hahahahaha. Oke. Mama akan mandi kalau gitu. Snowy belum bangun?"


"Belum, Ma. Sahut Chanan"


"Oke! Biarkan menantu Mama yang cantik itu tidur sepanjang hari. Kerena semalam, ia sudah berkerja sangat keras" Sahut Ratih.


Sepeninggalnya Ratih, Leo menoleh ke Chanan dan sambil menepuk bahu Chanan, ia bertanya, "Bekerja keras? Apa maksud Mama kamu? Kau suruh Snowy mengerjakan apa semalam?"


"Aish! Kalau ceriwis terus lebih baik kamu pulang sana! Ganggu aja!" Chanan mendengus kesal.


"Tepi, jawab dulu! Kau suruh Suli mengerjakan apa semalam?"


"Suli? Nah, itu dia!" Chanan langsung mematikan kompor dan menoleh tajam ke Leo.


"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Jawab pertanyaanku tadi, Chan!"


"Sial! Aku tidak menyuruh Snowy mengerjakan apapun. Puas?! Lalu, kau panggil Snowy dengan nama Suli tadi. Kasih tahu siapa nama Snowy yang sebenarnya sekarang!"


"Gandasuli. Namanya Gandasuli. Artinya bunga putih dan aku rasa kau harus memanggilnya Suli bukan Snowy lagi. Karena Istri kamu itu sangat suka dipanggil Suli. Dia merindukan namanya karena nama itu pemberian orangtuanya dan dia sangat merindukan Ayahnya saat ini"


Chanan diam mematung di depan Leo. Dia merasa bersalah karena selama ini dia hanya memanfaatkan Gandasuli untuk kepentingan pribadinya dan dia sama sekali belum memperbaiki Kalungnya Gandasuli.


Maafkan aku, Snowy. Maafkan aku Gandasuki. Batin Chanan dipenuhi rasa bersalah.