
"Sial! Percobaan pertama sudah terbukti. Aku tidak bisa tidur memikirkan gadis bodoh ini. Setiap kali aku memejamkan mata, aku selalu melihat wajahnya" Chanan menunduk kesal, namun saat ia melihat wajah cantik Gandasuli yang tengah tidur dan nampak sangat cantik, pira tampan itu tersenyum.
Chanan seketika tersentak kaget dengan sendirinya, "Eh! Kenapa aku tersenyum saat aku melihat wajahnya?" Chanan lalu menepuk pipinya.
Kemudian pria tampan itu memutuskan untuk menarik pelan tangannya yang ditindih kepalanya Gandasuli. Lalu, ia merebahkan kepala Gandasuli di atas bantal. Wajah damai dan cantik alaminya Gandasuli membuat Chanan tanpa ia sadari, mendaratkan ciuman di kening istri kecilnya itu.
"Sial! Aku mencium keningnya barusan? Apa yang sudah merasuki diriku? Sial!" Chanan bergegas bangun dan keluar dari kamarnya dengan hati risau.
Chanan kemudian duduk di ruang keluarga. Dia menemukan sisa popcorn dan televisi yang masih menyala. "Siapa yang mengajarinya menyetel televisi? Lalu, siapa yang mengenalkan popcorn? Apa Leo? Sial! Apa yang sudah Leo ajarkan lagi pada gadis bodoh itu? Aku akan menginterogasi Leo besok"
Chanan kemudian mematikan televisi dan membersihkan ruang keluarga sambil bergumam, "Dia wanita, tapi kenapa makan popcorn saja bisa berantakan seperti ini. Apa dia tidak pernah bersih-bersih rumah di kahyangan sana? Ah! Benar saja kalau dia tidak pernah bersih-bersih rumah. Dia, kan, Putri Raja. Sial! Apa dia lebih kaya dariku?" Chanan terus bergumam sambil berjalan menuju ke ruang belakang rumahnya untuk membuang sampah yang ia dapatkan dari ruang keluarga.
Chanan kemudian duduk di kursi yang menghadap ke kolam renang. Pria tampan itu kembali bergumam, "Apakah Ayahnya akan menyetujui diriku? Ayahnya seorang Raja. Pasti kaya raya. Apakah dia akan menyetujui pernikahanku dengan Snowy? Apa dia akan merestui kamu kalau dia tahu aku dan Snowy sudah menikah"
"Aw!" Chanan kembali menepuk pipinya dan kembali bergumam, "Sial! Kenapa aku justru berpikir untuk mendapatkan restu dari ayahnya Snowy? Ada apa denganku?"
Chanan terlonjak kaget saat ia merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang.
"Ma. Mama sudah pulang"
Mamanya Chanan duduk di sebelahnya Chanan dan berkata, "Kenapa kau bodoh sekali, hah?! Kau menolong wanita Iblis itu. Kau sudah ditipu mentah-mentah olehnya, Chan. Dia nggak mungkin bercerai dengan Suaminya. Kau tahu siapa Abram Prist itu?"
"Tahu. Dia pemilik grup Prist yang bergerak di bidang elektronik"
"Selain itu, Adam Prist itu seorang mafia. Usahanya itu hanya kedok untuknya. Kalau kamu mengusik Istrinya, kau bisa bayangkan bahaya apa yang akan kau hadapi, hah?!"
"Aku tidak takut sama dia, Ma. Aku tidak mengusik Istrinya. Bella sendiri yang terus mendatangiku"
"Tapi, kau selalu merespons Bella. Kali ini Mama yakin banget kalau Adam Prist tidak akan tinggal diam. Apa kamu masih mencintai wanita Iblis itu?"
"Tidak!" Sahut Chanan tegas. Bahkan Chanan sendiri merasa heran dengan ketegasannya itu.
"Kau yakin?" Tanya Ratih.
"Mama bisa lihat dari kedua mataku saat ini. Aku tidak mencintai Bella lagi. Aku sudah melupakannya"
"Lalu kenapa kamu selalu menolongnya? Meresponsnya, hah?! Bagaimana kalau Adam Prist berpikir sebaiknya dan bertindak nekat memberimu pelajaran. Mama takut, Chan"
"Aku menolong Bella hanya karena rasa kemanusiaan Nggak lebih Aku sudah lihat siapa dia yang sebenarnya di balik topegnya selam ini. Aku menyesal pernah mencintainya dengan sangat dalam dulu. Lalu, soal Adam Prist, aku tidak takut, Ma. Aku akan ladeni Adam Prist. Kalau aku tidak bersalah, aku tidak pernah merasa takut, Ma"
"Tapi, Mama takut. Mama takut kamu kenapa-kenapa. Sekarang kamu juga sudah punya Istri. Kalau Adam tidak menyerangmu, tapi menyerang Snowy gimana?"
"Mama memang selalu benar. Baru sadar kau sekarang, hah?!" Ratih mendelik kesal ke Chanan.
"Aku akan menyuruh anak buahku untuk menjaga Snowy dua puluh empat jam saat aku bekerja. Mama nggak sudah khawatir. Lagian Snowy juga homeschooling. Snowy tidak akan ke mana-mana selama aku kerja, Ma"
"Oke. Mama sedikit tenang saat ini. Snowy sudah tidur?"
"Sudah, Ma"
"Lalu, kenapa kau ada di sini?" Ratih bersedekap di depan Chanan.
"Aku kegerahan, makanya aku ke sini. Pengen menghirup udara segar sebentar"
"Kegerahan?" Kedua bola matanya Ratih langsung mengerjap penuh arti.
"Apa? Apa yang Mama pikirkan saat ini?" Chanan menatap mamanya dengan mendengus kesal.
"Berapa ronde tadi?" Ratih mengulum bibir menahan senyum.
"Yang pasti aku sudah bikin Gandasuli KO. Udah aku ngantuk. Mau tidur" Ucap Chanan sambil bangkit berdiri dan langsung melangkah pergi meninggalkan mamanya.
Ratih menatap punggungnya Chanan dengan berteuk tangan dan memekik, "Wah! Ko! Snowy, KO?! Aw! Aw! Aw! Sebentar lagi aku akan menimang cucu. Ah! Bahagianya aku! Lagian Chanan sudah dua puluh delapan tahun kalau dia tidak segera punya anak, kasihan anaknya nanti. Pas anaknya butuh perhatian Papanya, Papanya udah tua dan loyo"
Chanan membuka pintu dan saat ia menutup pintu tanpa bersuara, pria tampan itu sontak menoleh dan langsung berlari mendekati ranjang saat ia mendengar Gandasuli menangis sesenggukan. Chanan langsung melompat ke ranjang dan tidur miring untuk melihat wajah Gandasuli.
Chanan kemudian mengusap lembut pipi Gandasuli yang basah kena air mata dan bergumam lirih, "Hei! Kenapa kamu menangis, Cantik?"
"Ayah. Aku masih hidup, Ayah. Aku masih hidup. Ayah jangan menangis terus. Aku akan segera kembali dan memeluk Ayah. Ayah jangan menangis terus, huhuhuhuhu" Gandasuli mengigau sangat panjang
Gadis cantik itu memang memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan ayahnya. Setiap kali ayahnya menangis dan bersedih, gadis cantik itu bisa merasakannya.
Chanan langung memeluk Gandasuli dan berkata, "Sssttt! Cup, cup, cup, Cantik. Jangan sedih dan jangan menangis seperti ini. Aku akan mulai memperbaiki kalung kamu besok. Jadi, kau bisa segera pulang ke kahyangan bertemu kembali dengan Ayah kamu, ya. Jangan menangis lagi" Chanan mengusap lembut punggungnya Gandasuli.
"Ah! Ibu, sakit! Ampun, ibu! Jangan sihir saya jadi kelinci. Huhuhuhu, kenapa Ibu jahat menyihirku jadi kelinci. Huhuhuhu. Padahal saya menyayangi Ibu, huhuhuhu* Gandasuli masih melanjutkan mengigau parah.
Alkohol bukan hanya membuat gadis cantik itu mabuk berat dan bertingkah konyol tanpa ia sadari. Alkohol juga ternyata bisa membuat Gandasuli mengigau parah.
Chanan langsung memeluk erat Gandasuli dan menggeram kesal, "Andai aku bisa terbang ke kahyangan, aku akan suntik mati Ibu tiri kamu yang sangat jahat itu. Tapi, jangan sedih lagi, Cantik Mamaku sangat menyayangi kamu. Anggap Mamaku seperti Mama kamu sendiri, ya" Chanan kemudian mendaratkan bibirnya di kening Gandasuli. dan tidak begitu lama pria tampan itu pun jatuh ke alam mimpi.