My Snowy

My Snowy
Perubahan Sikap



Arabella tersentak kaget saat lengannya ditarik oleh seseorang dan wanita berprofesi model itu seketika mendelik kaget dan berbisik panik ke dirinya sendiri, "Kenapa kau bisa ada di sini?"


Pertanyaan itu bisa Abram dengar dengan jelas. Lalu, pria itu mencekik leher istri cantiknya itu sambil menggeram penuh amarah, "Aku datangkan dokter pribadi ke rumah supaya kamu tidak keluyuran seperti ini. Tapi, kenapa kamu nekat keluar rumah dan ke sini, hah?!"


Saat Abram melihat wajah istrinya merah padam karena tidak bisa bernapas dengan baik dan lancar. Abram melepaskan cekikannya.


Arabella langsung terbatuk-batuk dan mengelus-elus lehernya.


"Kau sudah tidak sabar ingin menemui kekasih gelap kamu itu, ya?! Dokter bedah ingusan itu, hah?! Lalu, apakah kamu juga ingin mempermalukan suami kamu dengan muncul di tempat umum seperti ini dan penuh luka lebam di wajah kamu? Oh! Aku tahu! Kau memang ingin curhat ke kekasih gelap kamu, itu, kan?"


Arabella sontak berkata, "Tidak. Itu tidak benar" Dengan napas tersengal-sengal.


"Masuk ke dalam mobil cepat!"


Arabella tersentak kaget dan refleks membuka pintu jok depan.


Adam Prist menggeram kesal dan langsung berteriak, "Jangan di jok depan! Supir akan mengantarmu pulang, masuk ke jok belakang! Cepat!"


Arabella langsung masuk ke jok belakang dan diam membisu.


Adam lalu menutup pintu jok belakang dengan sangat keras dan melihat gelagat suaminya yang mencurigakan, Arabella langsung membuka jendela kaca mobil untuk


bertanya, "Kau mau ke mana? Jangan ganggu Chanan! Dia tidak tahu apa-apa soal kita dan dia sudah punya Istri. Aku dan dia nggak ada hubungan apa-apa lagi!"


Adam menyeringai lalu berkata, "Melihatmu melarang aku menemui dia dan melihatmu begitu peduli sama dia. Aku semakin ingin memberikan pelajaran ke bocah ingusan itu karena dia sudah berani mengganggu Istriku"


"Tidaaaaakkkk!!!!!" Arabella hanya bisa berteiak frustasi saat mobil yang ia tumpangi sudah bergerak maju dan melesat cepat meninggalkan pelataran parkir rumah sakit milik Zayyan Grup.


Chanan terus semringah di saat ia menangani pasien-pasiennya di sore itu dan perawat yang mendampinginya dalam berpraktek tergelitik untuk bertanya, "Apa Anda baru saja memenangkan undian bernilai milyaran, Dok?"


Chanan menoleh ke perawat itu, "Apa? Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Anda dari tadi tersenyum terus. Anda tidak pernah semringah seperti ini sebelumnya"


Chanan memperlebar senyumannya dan berkata, "Itu karena Istriku sangat manis. Aku sangat mencintainya"


"Hah?! Anda sudah menikah? Tapi, di jari manis tangan Anda belum ada cincin yang melingkar di sana" Perawat itu melirik tangan kanan Chanan.


Chanan sontak menunduk untuk melihat jari manis di tangan kanannya dan dokter bedah nan tampan itu sontak bergumam, "Sial! Aku bahkan lupa belum membeli cincin pernikahan Dia dapat kalung dari dewa petir sialan itu dan tidak bisa lupa sama dewa petir itu. Kalau nanti aku kasih cincin ke dia? Berarti dia bakalan ingat terus sama aku, kan? Tapi, apa dia mau memakai cincin dariku? "


Melihat Chanan tamoam kesal, perawat tersebut langsung berkata, "Saya akan memanggil pasien terakhir kita di sore ini, Dok"


Chanan yang masih menatap jari manis di tangan kanannya hanya menyahut, "Hmm"


Beberapa detik kemudian, muncul seorang ibu paruh baya bersama seorang pemuda duduk di depan meja prakteknya Chanan.


"Ini anak saya, Dok"


"Oh, iya. Selamat operasi usus buntu Ibu Anda sukses kemarin lusa. Sekarang saya akan mengecek luka jahitannya" Chanan tersenyum ke pemuda itu.


Chanan Kemudian bangkit berdiri dan berjalan ke balik tirai.


Chanan sontak berkata, "Wah! Ada infeksi, Bu m di luka jahitan ibu. Itu karena di perut Ibu, ada lipatannya. Lukanya harus dimedikasi. Ibu harus tarik napas dan tahan sakitnya, ya?! Saya akan lakukan dengan perlahan dan saya usahakan tidak akan terasa sangat sakit"


"Baik, Dok"


Namun, di detik berikutnya, ibu tersebut berteriak, "Sakit, Dok" Dan menangis tersedu-sedu.


Pemuda yang mengantar ibu itu langsung berkata, "Dok, saya keluar, ya. Saya tidak tega mendengar suara tangis Ibu saya"


"Oke" Sahut Chanan.


"Wah! Kok, malah keluar pas ibunya kesakitan seperti ini" Sahut perawat yang mendampingi Chanan.


"Maafkan anak saya, Dok, Sus" Sahut ibu itu di sela isak tangisnya.


"Ibu fokus ke luka Ibu saja dulu. Tahan napas dalam-dalam, ya Bu!" Sahut Chanan.


Tiba-tiba ibu tersebut memekik keras, "Dok! Medikasinya sakit banget! Apa saya boleh menggenggam tangan Dokter? Huhuhuhuhu, sakit banget, Dok!"


Perawat yang mendampingi Chanan melakukan medikasi ke seorang ibu paruh baya sontak mendelik kaget mendengar permintaan si ibu tersebut dan perawat itu bergegas mengulas senyum lalu berkata, "Maaf, Bu. Dokter Chanan alergi dan beliau tidak bisa digenggam tangannya. Tapi, Anda boleh menggenggam tangan sa............,"


"Boleh. Silakan genggam tangan saya, Bu. Alergi saya sudah hilang. Anda lihat, kan, saya tidak memakai masker dan sarung tangan lagi"


Perawat yang berdiri di samping Chanan sontak mendelik kaget menatap Chanan.


"Kenapa malah bengong?" Chanan menoleh ke perawat itu dan dokter bedah termuda yang sangat tampan itu langsung berkata, "Gantikan aku melakukan medikasinya, cepat!"


"Ah! Baik, Dok" Sahut perawat itu.


Ibu tersebut langsung menggenggam tangan Chanan dan suster yang mendampingi Chanan bergegas mengambil alih pekerjaan Chanan melakukan medikasi luka jahitan yang mengalami infeksi di lipatan kulit perut ibu tersebut.


"Menangis nggak papa, Bu. Memang sakit, kok. Saya paham. Remas tangan saya juga nggak papa. Saya tidak keberatan" Sahut Chanan.


Perawat tersebut melirik Chanan sambil terus melakukan medikasi dan perawat itu membatin, kenapa sekarang ini aku seolah tidak sedang berdiri dengan Dokter Chanan? Ke mana Dokter Chanan yang dingin dan selaku cuek sama pasiennya? Kenapa Dokter Chanan seorang ini sangat ramah, baik, dan bahkan tidak keberatan tangannya digenggam dan diremas-remas seperti itu oleh seorang wanita? Aku jadi ingin tahu seperti apa Istrinya Dokter Chanan. Karena, wanita itu sudah membawa perubahan yang sangat besar di diri Dokter Chanan.


"Terima kasih banyak, Dok. Anda sudah mewakili saya mendampingi Ibu saya. Saya seorang pria, tapi saya tidak kuat melihat darah dan tangisan seorang wanita apalagi kalau itu tangisan ibu saya" Ucap putra dari wanita yang sudah meremas tangan kanan Chanan cukup keras.


Chanan tersenyum dan berkata ke pemuda itu, "Sama-sama. Jaga Ibu kamu dengan baik. Tiga hari kontrol"


Setelah menangani pasien terakhirnya itu, Chanan melepas jas dokternya yang berwarna putih bersih, lalu ia bergegas berlari keluar dari ruang prakteknya untuk segera masuk ke dalam lift pribadinya. Dia sudah sangat merindukan istrinya yang baru ia tinggalkan selama empat jam


Perawat yang mendampingi dokter Chanan di malam itu hanya bisa menghela napas panjang lalu bergumam, "Apa yang ingin segera Anda lihat, Dok? Kenapa Anda berlari sekencang itu dan meninggalkan semua berkas ini ke saya, Hufftttt!"


Ceklek! Chanan membuka pintu kamar tidur yang ada di ruang kerja pribadinya dan ia langsung bersitatap dengan Gandasuli yang tengah duduk di tepi ranjang.


Keduanya merona malu dan seketika mematung. Keduanya sama-sama bingung harus mengucapkan kata apa setelah apa yang terjadi di antara mereka. Terlebih Chanan. Dia benar-benar merasa bersalah, namun ia tidak tahu harus berkata apa saat ini.