My Snowy

My Snowy
Raja Jahanara



Arabella terus menangis di atas lantai ruang tamu dan Adam Prist membiarkannya. Pria tampan itu masih terbakar Kecemburan yang sama sekali ngawur dan tidak jelas.


Hingga pada akhirnya Arabella tertidur di lantai ruang tamu itu. Entah ketiduran, entah kelelahan karena terlalu banyak menangis, atau entah karena pingsan. Namun, yang pasti Adam Prist membopong istrinya masuk ke dalam kamar saat istrinya sudah memejamkan mata dan meringkuk seperti seekor udang di atas lantai.


Sepanjang malam Ratih berada di samping bed-nya Gandasuli. Wanita berumur kepala empat itu terus menatap wajah cantik dan imut menantunya dengan sedih dan prihatin. Dia bahkan tidak bisa memejamkan kedua kelopak matanya padahal jam di dinding kamar rawat inap VVIP itu sudah menunjukkan pukul sebelas lebih empat puluh lima menit. Jam itu sudah melebihi jam tidurnya Ratih.


Ratih terus meneteskan air mata dan bergumam tanpa melepaskan tangan Gandasuli, "Cepatlah sadar, ya, Cantik. Mama akan ajak kamu dan Chanan berlibur. Ke pantai. Atau ke kebun binatang. Kata Leo, kamu sangat menyukai binatang. Kamu bahkan sudah melepaskan semua burung mahal koleksinya suami Tante. Ratih tersenyum, lalu bergumam kembali, "Selain sangat cantik, kamu itu lugu, lucu dan baik hati. Pantas saja alerginya Chanan bisa sembuh dan Chanan bisa dengan cepat jatuh hati padamu. Cepatlah bangun, ya, Mama mohon"


Dona dan Roy yang masih belum beranjak dari kamar rawat inap VVIP itu saling pandang.


Roy memberikan kode ke Dona agar Dona mengajak Nyonya besar mereka pulang dan beristirahat di rumah


Dona kemudian menghela napas panjang lalu berjalan pelan menghampiri nyonya besarnya dan setelah memegang pelan kedua bahu Nyonya besarnya, Dona berkata lirih, "Nyonya, Anda sebaiknya pulang dulu untuk beristirahat. Besok pagi-pagi kita ke sini lagi, Nyonya"


Ratih menepis pelan kedua tangan Dona yang merangkul kedua bahunya. Kemudian mamanya Chanan yang berwajah cantik, lembut sekaligus tegas itu, bergumam lirih, "Aku akan tidur di sini"


"Tepi, Nyonya Anda tidak akan bisa beristirahat dengan nyaman di sini. Biarkan Roy dan.........."


"Aku Tante. Aku akan menjaga Snowy dan Chanan" Leo tiba-tiba muncul di kamar rawat inap VVIP itu.


"Nah, ada Leo juga" Sahut Dona.


"Nggak! Aku akan tetap duduk di sini dan menunggu sampai menantu cantikku ini membuka matanya. Aku ingin saat ia membuka mata, dia melihatku" Sahut Ratih.


Dona kemudian menatap Roy dan mengajak kedua bahunya dengan pasrah.


Roy pun menghela napas panjang dan berkata, "Baiklah, Nyonya. Kami semua akan ada di sini untuk menemani Anda"


"Kenapa ini bisa terjadi? Hei! Roy! Kau sudah dapatkan info Jeep yang mendorong mobilnya Chan? Siapa yang mengemudikan mobil itu?" Leo menyenggol bahu Roy.


Roy sontak menoleh tajam ke Leo dan meletakkan. jari telunjuk di atas bibir lalu berbsisik lirih, "Ssssstttt!"


Ratih menoleh pelan ke Leo dan berkata dengan suara setengah berbisik, "CCTV yang ada di dermaga memperlihatkan dengan jelas siapa orang yang mengemudikan Jeep itu"


"Siapa Tante? Orang itu siapa? Aku akan bikin perhitungan dengannya" Leo menggeram penuh amarah.


"Dia Abram Prist. Suami dari Arabella, mantan tunangannya Chan" Sahut Ratih dengan wajah lesu dan suara setengah berbisik.


"Hah?!" Leo tanpa sadar memekik kaget dan Roy sontak menepuk keras bahu kanan Leo.


Leo menoleh ke Roy dan langsung berkata, "Maaf! Aku kaget makanya khilaf teriak, hehehehe"


Roy menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Sementara itu, burung Gagak hitam telah mendarat dengan selamat di istananya dewa petir. Dia langsung menggelepar di atas lantai dan merintih lirih, "Saya sudah menemukan di mana Tuan Putri Gandasuli berada, Dewa"


Dewa petir langsung turun dari tahtanya dan berlari mendekati burung gagak hitam itu. Lalu, ia merengkuh burung gagak hitam itu ke dalam pelukannya sambil bertanya, "Kau kenapa? Kenapa bisa terluka parah seperti ini?"


"Ibu tirinya Putri Gandasuli menyuruh seseorang untuk mengentikan langkah saya agar saya mati dan tidak bisa sampai di sini. Tapi, karena saya mengemban misi yang sangat penting, saya berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri dan bisa sampai di sini menghadap Anda, Dewa"


"Kamu sembuhkan dulu luka kamu dan......."


"Tidak ada waktu. Saya sudah sangat lelah. Saya akan beritahukan ke Anda kalau Tuan Putri Gandasuli berada di bumi bagian timur. Di Asia. Di negara I dan ada di kota J" Lalu, burung gagak hitam itu jatuh pingsan di dalam pelukan hangat dewa petir.


Dewa petir langsung berteriak ke pelayan pribadinya, "Bawa gagak hitam ini ke kamar tamu dan langsung bawa tabib ke sana untuk mengobati semua luka di tubuh gagak hitam ini"


"Baik, Dewa" Sahut pelayan pribadinya Dewa petir itu.


Dewa petir kemudian bangkit berdiri dan setelah punggung pelayan pribadinya menghilang dari pandangannya, dewa petir itu bergumam, "Aku akan turun ke bumi besok setelah aku memastikan kondisi gagak hitam baik-baik saja"


Utusan ibu tirinya Gandasuli langsung bersimpuh di depan ibu tirinya Gandasuli untuk memberikan laporan, "Maaf Ratuku, saya telah gagal membunuh burung gagak hitam itu"


"Lalu, kalau kau gagal membunuhnya apa kau berhasil dapatkan informasi di mana Suli berada? Kalau kau tahu, langsung kau turun ke bumi dan bunuh Suli! Karena kalau sampai dewa petir bodoh itu berhasil membawa kembali Gandasuli ke kahyangan, aku dalam bahaya besar. Posisi ahli waris kerajaan bunga yang disandang oleh putriku juga dalam bahaya besar. Kau tahu itu, kan?"


Urusan itu langsung bergidik ngeri melihat mata tajam ratu Zahwa. Dan seketika sekujur tubuhnya bergetar hebat saat ia berkata, "Maafkan saya Ratuku. Saya tidak berhasil mendapatkan info apapun dari gagak hitam karena dia sangat licik dan pandai"


Ibu tirinya Gandasuli langsung bangkit berdiri dan dengan wajah murka ia mengangkat jari telunjuk tangan kanannya dan mengarahkannya ke utusannya itu. Seketika terdengar suara teriakan memilukan dan tubu utusan itu berubah menjadi tumpukan abu.


Ibu tirinya Gandasuli kembali duduk di singgasananya dan bergumam penuh amarah, "Dasar.tidak berguna! Untuk apa aku tetap membiarkan kamu hidup kalau kamu bodoh dan tidak berguna, cih!"


Ibu tirinya Gandasuli sontak bangkit berdiri kembali dengan wajah kaget dan panik saat ia melihat suaminya masuk ke dalam istana ratu.


Raja Jahanara, ayahnya Gandasuli melangkah masuk menghampiri Istrinya yang masih berdiri kaget di depan kursi singgasana ratu dan saat raja bunga melintasi tumpukan abu, ia bertanya, "Zahwa? Kamu mengumpulkan abu di istana kamu untuk apa?"


Abu apa ini?"


Ratu Zahwa langsung berlari turun dari atas singgasana ratu dan bergegas menghampiri suaminya untuk memeluk suaminya dan berkata sambil mengelus dada bidang suaminya, "Itu tadi Putriku, Putri kedua kita belajar memasak di depanku dan memasaknya memakai Abu dan dia lupa membersihkannya. Kamu tunggu aku di kamar dan aku akan suruh pelayan untuk membersihkan abu ini"


"Hmm" Sahut Raja Jahanara. Setelah mengecup bibir Istrinya, ia melangkah ke kamarnya.


Raja Jahanara tidak seperti raja-raja di luaran sana yang memiliki banyak selir selain ratu. Raja Jahanara adalah pria yang sangat setia. Hanya memiliki satu istri untuk selamanya. Sayangnya wanita belahan hati dan jiwanya yang adalah cinta sejatinya telah meninggal dunia. Cinta sejatinya itu adalah ibunya Gandasuli. Jika tidak tersihir oleh kecantikannya Zahwa ia mungkin tidak akan menikah lagi untuk selamanya.


Bahkan saking cintanya sama ibunya Gandasuli, raja Jahanara membuat istana khusus dan patung ratu Azales di istana itu. Istana itu adalah tempat di mana abu ratu Azales ditempatkan dan setiap pagi, raja Jahanara pasti berkunjung ke istana itu. Ratu Zahwa terbakar cemburu dan hanya bisa berdiam diri karena jika ia melancarkan protes maka semua rencananya untuk merebut istana bunga akan menjadi berantakan.


Ratu Zahwa kemudian masuk ke kamar dan langsung melayani raja Jahanara dengan sangat baik.