
Gandasuli membuka kedua kelopak matanya dengan sangat berat. Dia seketika mengernyit saat ia merasakan kepalanya pening bukan main. Lalu, perempuan itu menunduk pelan dan langsung bangun sambil menarik kedua tengkuknya lalu bersandar di ranjang saat ia melihat tangan Chanan memeluk perutnya.
Dengan perlahan, Gandasuli kemudian melongok ke dalam selimut dan gadis cantik itu spontan berteriak, "Kyyaaaaa!!!!" Saat ia melihat tubuhnya polos. Gadis itu kemudian menoleh ke kiri dengan tajam dan langsung menampar pipi Chanan cukup keras sambil berteriak, "Kenapa kau tega lakukan ini?! Kenapa, hah?! Huhuhuhuhu"
Chanan membuka kedua kelopak matanya dengan kaget dan semakin kaget saat ia melihat sorot mata tajam Gandasuli seolah membakar sanubarinya. Chanan sontak berkata, "Maafkan aku! Aku khilaf dan lihatlah! Kamu yang melakukannya terlebih dahulu" Chanan meraba dadanya memperlihatkan bekas ciuman di sana. "Ini ulah kamu"
Gandasuli menarik selimut dan melilitkan selimut itu di tubuhnya dengan berteriak, "Nggak mungkin aku yang memulainya duluan! Nggak mungkin aku yang memberikan tanda merah di dada kamu itu!"
"Itu benar. Aku nggak bohong. Kamu minum minuman kaleng dan minuman itu mengandung alkohol. Kamu merasa pening saat ini, kan?"
Gandasuli mengangguk pelan, lalu mendesis kesakitan saat rasa pening kembali menyerang kepalanya.
"Kamu mabuk dan kamu menyerangku"
"Kenapa kamu tidak mengikatku dan pergi meninggalkan aku. Kenapa kamu justru melakukan itu, hah?! Huhuhuhuhu"
"Maafkan aku. Kamu terus menyerangku dan terus memanggil namaku. Sebagai pria normal dan aku adalah suami kamu,.maka aku rasa tidak salah kalau aku melakukannya. Jadi, kalau akhirnya aku menyerah kalah tidak salah, kan?"
"Ma....mana mungkin aku terus memanggil nama kamu dan kamu tetap salah karena kamu melakukannya pas aku mabuk" Gandasuli mendelik kaget
"Jadi, kalau pas kamu tidak mabuk, boleh?" Tanya Chanan dengan wajah polos tanpa dosa.
Gandasuli kemudian melemparkan bantal ke Chanan sambil berteriak kesal, "Kau.........Kau dasar mesum! Kau telah membuka segel kesucianku, huhuhuhu"
Chanan menarik Gandasuli masuk ke dalam pelukannya dan Gandasuli sontak memukul dada Chanan dengan isak tangis. Chanan berkata, "Iya. Kamu boleh memukulku sepuas kamu. Tapi, stop jangan menangis lagi, ya?!"
"Huhuhuhuhu" Gandasuli semakin tergugu di dalam pelukannya Chanan.
Chanan mengusap lembut punggung Gandasuli sambil berkata, "Aku akan setia dan bertanggung jawab. Lagian aku ini suami kamu. Aku nggak akan pernah meninggalkan kamu"
"Huhuhuhuhu. Tapi, aku pengen balik ke kahyangan. Aku merindukan Ayahku. Lalu, Bagaimana kalau begini, huhuhuhuhu"
Sial! Kenapa aku bisa lupa soal itu tadi. Batin Chanan.
Gandasuli mendorong dada Chanan dengan kesal dan bertanya, "Kenapa kau diam?"
"Karena ada wanita yang sangat cantik di depanku dan wanita cantik itu tengah menangis hebat di depanku. Mana bisa aku berpikir jernih"
"Kau........." Gandasuli mengangkat tangannya ingin memukul Chanan dan Chanan dengan sigap menahan tangan itu.
"Kau tahu, Suli, kau punya ketiak yang sangat bagus. Kau juga memiliki kulit yang sangat indah, dan bentuk tubuh kamu sangat bagus. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Aku suami yang sangat beruntung" Chanan tersenyum penuh arti.
"Kau........" Gandasuli mengangkat tangan yang satunya hendak menampar pipi Chanan dan Chanan dengan sigap menangkap tangan Gandasuli lalu pria tampan itu langung menundukkan wajahnya dan kembali memagut bibir Gandasuli lalu pria tampan itu memberikan ciuman kecil di bibir istri imutnya sambil berkata, "Jangan berpikir dulu! Aku hanya menginginkan kamu saat ini, Suli. Aku tidak mau berpikir saat ini"
Sementara burung gagak hitam itu sampai di rumahnya Chanan dan burung Pipit langsung berkata, "Putri bunga yang cantik itu ada di sini. Tapi, aku lihat dia keluar rumah tadi. Pulangnya biasanya malam. Lebih baik kamu kembali lagi nanti malam"
"Baiklah. Terima kasih burung Pipit temanku" Sahut burung Gagak hitam.
"Sama-sama" Sahut si burung Pipit.
Burung gagak hitam itu pun kemudian bertengger di pohon mangga yang ada di halaman depan rumah itu dan memutuskan untuk menunggu putri Gandasuli di sana sampai putri Gandasuli pulang.
Chanan kemudian menyusupkan wajahnya ke telinga Gandasuli dan berbisik di sana, "Kau sudah tenang sekarang?"
Gandasuli menganggukkan kepalanya.
"Kau memercayaiku sekarang kalau aku tidak akan pernah menyakiti kamu dan tidak akan pernah meninggalkan aku?"
Gandasuli kembali menganggukkan kepalanya.
Chanan kemudian melepaskan ciumannya, mendorong pelan kedua bahu Gandasuli dan bertanya, "Aku bahagia kamu sudah tenang dan sudah percaya sama kamu. Kau tahu, aku sungguh tidak menyangka kalau kamu masih suci. Aku kira kamu dan dewa petir bernama aneh itu sudah melakukan itu......."
Gandasuli membuka kedua kelopak matanya dan mendelik ke Chanan, "Memangnya aku wanita seperti apa?"
Chanan langsung menangkup wajah Gandasuli dan berkata, "Maafkan aku! Bukan maksudku menghina kamu. Aku cuma mengira kalian sudah melakukan itu karena kalian tinggal satu atap cukup lama, kan?"
"Aku dan Dewa petir belum menikah. Dewa Adrakhs pria yang sopan dan menjunjung tinggi norma. Kalau belum menikah, ya, tidak boleh melakukan itu dan..........huhuhuhuhu"
"Kenapa kamu menangis lagi?"
"Aku melupakan cinta pertamaku. Aku mencintai dewa petir. Tapi, sekarang ini kenapa aku merasa kalau aku mencintai kamu, huhuhuhuhu. Kenapa aku bisa melupakan cinta pertamaku dan mencintai kamu" Gandasuli menangis dengan wajah polos dan lugunya.
Chanan langung terkekeh geli dan menarik Gandasuli ke dalam pelukannya dan berbisik di telinga Gandasuli, "Seharusnya aku yang lebih dulu menyatakan cinta. Aku, kan, cowok. Tapi, kok, malah kamu, sih, yang duluan menyatakannya?"
"Hah?! Siapa yang menyatakan cinta?"
"Kamu. Barusan. Aku merekamnya di ponselku. Kau mau dengar?"
"Hah?! Kenapa kau merekamnya? Hapus!"
"Nggak mau. Aku akan mendengarnya nanti berulang-ulang. Aku suka pernyataan cinta kamu yang lucu dan menggemaskan tadi"
"Hapus atau Tidak, hah?!"
Cup, cup. Chanan mendaratkan dua kecupan di bibir Gandasuli dan berkata dengan kening yang menempel di kening Gandasuli, "Aku nggak akan hapus rekamannya karena aku, mencintaimu. Dan mulai detik ini, kau milikku. Hanya milikku Jangan berani memikirkan dewa petir lagi. Soal kahyangan aku akan cari jalan keluar yang terbaik bagi kita"
"Se.....sejak kapan kamu mencintaiku?" Gandasuli mematung dan membeliak kaget.
"Aku rasa aku yang lebih dulu jatuh cinta padamu. Emm, sejak kapan, ya? Sejak kamu muncul telanjang di depanku, mungkin"
Blub! Gandasuli langsung merubah dirinya menjadi kelinci dan bersembunyi di bawah selimut sambil berteriak, "Tinggalkan aku! Aku ingin sendirian saat ini! Dasar cowok mesum!!!!!!!"
Chanan sontak menggemakan tawanya dan berteriak, "Aku akan keluar! Mandilah! Ada baju ganti di lemari. Aku akan memeriksa pasien lagi. Ada pasien jam empat ini. Aku kaan kembali Istriku yang sangat aku cintai!"
"Ah! Cepat pergi! Kau membuat aku sesak napas saat ini!" Teriak Gandasuli yang masih bersembunyi di balik selimut dalam wujud kelinci.
"Aku mencintaimu, Suli! Sangat mencintaimu!" Teriak Chanan sambil menutup pintu kamarnya.
Gandasuli yang masih berwujud kelinci tersenyum-senyum sendiri di dalam selimut.
Chanan memakai semua bajunya di balik meja kantornya dan dia mengambil kalungnya Gandasuli yang ada di dalam. saku kemejanya sambil bergumam, "Kalung kamu sudah jadi tadi siang. Pas tidak ada pasien aku iseng membetulkan kalung kamu dan ternyata sangat gampang untuk dibetulkan. Tapi, aku belum aktifkan kalung ini dan aku jadi ragu apakah aku harus berikan kalung ini ke kamu? Padahal tadi aku ingin kamu kembali ke kahyangan agar bisa bertemu lagi dengan Ayah kamu. Tapi, sepertinya sekarang ini aku berubah pikiran, Suli. Maafkan aku" Chanan kemudian memasukkan kalung itu di laci meja kerjanya dan ia menguncinya.