
"Sebentar, Tuan! Saya belum membayar makanan kita dsn belum mengambil makanan yang Anda pesan" Roy mengerem langkahnya dan berbalik badan dengan cepat untuk membayar dan mengambil makanan dan minuman yang tuan mudanya pesan sebelum nyonya mudanya jatuh pingsan.
"Oke! Aku tunggu di mobil" Sahut Chanan tanpa menoleh ke belakang sambil terus membopong Gandasuli menuju ke mobil.
"Kenapa hal mengejutkan selaku terjadi pada Anda, Tuan Chanan. Lama-lama saya bisa ikutan pingsan kayak Nyonya muda kalau terus mengalami syok terapi kayak begini" Gumam Roy sambil menunggu makanan dan minuman selesai dibungkus untuk ia bawa pulang ke rumah tuan mudanya.
Chanan merebahkan Gandasuli di atas kasur dengan hati-hati dan langsung menoleh ke Roy, "Jangan kasih tahu Mama kalau Snowy pingsan"
"Baik, Tuan. Lalu, saya harus bagaimana sekarang?"
"Kamu balik saja ke kantor. Aku akan urus Snowy"
"Baik, Tuan" Sahut Roy.
Chanan kemudian duduk di tepi ranjang sambil menggerakkan pelan botol plastik minyak kayu putih berukuran kecil ke kanan dan ke kiri di depan lubang hidungnya Gandasuli. Ia menatap Gandasuli dengan jari cemas dan bergumam, "Semoga kamu nggak papa. Aku periksa sekilas kondisi kamu nggak papa, sih dan semoga beneran nggak papa. Kalau sampai kamu bangun dan kamu langsung mengeluh kepala kamu sakit, maka aku akan bopong kamu ke rumah sakit segera"
Gandasuli menggerak-gerakkan kelopak matanya dan saat gadis cantik itu membuka kedua kelopak matanya, Chanan menarik botol minyak kayu putih yang terbuat dari plastik dan langsung bertanya, "Gimana?.Apa yang kau rasakan? Apa kau merasa pusing? Nyeri yang berlebih di kepala?"
Gandasuli menggelungkan kepalanya dengan wait wajah yang masih tampak kebingungan.
Chanan memajukan wajahnya tanpa ia sadari saking paniknya dan Gandasuli sontak menampar pipi Kanan cukup keras, lalu gadis itu menarik selimut sampai menutupi wajahnya sambil berteriak, "Jangan cium aku lagi! Dasar cowok mesum!"
Chanan mengerutkan kening dan langsung merengut. Dia menarik paksa selimut Gandasuli sampai wajah gadis cantik itu terlihat dan pria tampan itu langsung menyembuhkan, "Hei! Kenapa kau menamparku dan memfitnah aku, hah?! Siapa yang ingin mencium kamu? Cih! Alih-alih berterima kasih karena aku udah membawamu ke rumah dan membangunkan kamu dari pingsan, kau justru menampar dan menuduhku. Nyesel aku khawatir sama kamu tadi, cih!"
Gandasuli menarik lagi selimut yang masih ia genggam kedua ujungnya sampai menutupi wajahnya dan langsung berkata dengan nada bicara yang cukup tinggi, "Aku nggak mau bertemu denganmu. Kamu tadi menciumku. Aku belum pernah dicium laki-laki sebelumnya. Kenapa harus kamu yang pertama kali menciumku? Kamu sudah merusak bayanganku akan ciuman pertama yang sangat manis.Kau juga sudah membuat hatiku terasa sesak dan jantungku berdebar kencang. itulah kenapa aku pingsan tadi. Kau sudah membuatku pingsan. Kau jahat!"
Chanan tertegun sejenak saat ia mendengar Gandasuli belum pernah dicium oleh laki-laki. Ada perasaan bersalah terselip di hati Chanan. Lalu, hati Gandasuli terasa sesak dan jantung Gandasuli berdebar kencang dan itulah kenapa Gandasuli jatuh pingsan. Gandasuli jatuh pingsan karena ciumannya.
Glek! Chanan sontak kesulitan menelan air liurnya sendir dan pria tampan itu meraup kasar wajah tampannya, lalu dengan menghela napas panjang ia kembali menarik ke bawah selimut yang menutupi wajah Gandasuli sampai wajah Gandasuli terlihat kembali dan pria tampan itu langsung menyemburkan, "Hei! Itu hanya sandiwara. Salah sendiri kenapa kau main hati. Salah sendiri kenapa kau biarkan jantung kamu berdebar kencang Dasar bodoh! Aku sudah katakan berulangkali ke kamu, kan, kalau kita ini cuma bersandiwara"
Harusnya aku meminta maaf padanya, kan? Tapi, kenapa aku justru mengomelinya? Batin Chanan heran.
Gandasuli melotot kesal mendengar kata sandiwara keluar dari mulut Chanan. Dia langsung menarik ke atas dengan cukup keras selimut yang masih ia genggam erat kedua ujungnya dan Chanan mendengus sontak kesal. Pria tampan itu lalu menarik selimut ke bawah dengan sangat keras. Maka terjadilah gaya tarik menarik yang sangat alot sampai akhirnya terdengar suara weeekkkkk!!!!!!
Gandasuli sontak ternganga lebar dan menatap Chanan dengan wajah ketakutan.
Chanan melotot sempurna saat ia melihat selimut kesayangannya robek. Selimut itu adalah selimut pemberiannya Arabella di hari Valentine tahun lalu. Chanan sontak memerah wajahnya penuh amarah dan blub! Karena takut diomeli, Gandasuli merubah dirinya menjadi seekor kelinci.
Chanan langsung menarik selimut yang sudah robek lalu melemparkannya ke lantai dengan kesal sambil berteriak kencang, "Snowy!!!!!!! Kenapa kau selalu membuatku kesal. Lalu, apa, hah?! Kau berubah jadi kelinci lagi? Kenapa kau selalu berubah menjadi kelinci di saya kemarahanku sudah berada di ubun-ubun seperti ini, hah?! Dasar menjengkelkan!!!!!!"
Gandasuli diam membisu dan tidak berani menoleh ke Chana. Gandasuli kemudian melompat pelan di atas ranjang dan dengan perlahan ia menyusupkan kepalanya di bawah bantal dan sembunyi di sana dengan posisi pantatnya masih kelihatan.
Chanan merasa gemas melihat tingkah polosnya Gandasuli itu dan ingin sekali rasanya menarik kelinci putih itu, mendekapnya erat dan memberikan beribu ciuman di pucuk kepala kelinci putih itu.
Chanan lalu memukul kepalanya sambil bergumam lirih di dalam hatinya, Hei! Harusnya kau marah saat ini. Kenapa malah terpesona sama kelucuan tingkahnya itu dan kau mulai memikirkan hal-hal yang nggak jelas lagi, Chan!
Chanan kemudian berbalik badan dan pergi meninggalkan Gandasuli sambil bergumam, "Aku harus menemui Dokter Fendy sekarang juga. Jantungku kembali berdebar abnormal ini"
Sepeninggalnya Chanan, Gandasuli kembali merubah dirinya menjadi manusia, memakai kembali semua bajunya dan berlari ke kamar mandi untuk menguyur kepalanya dengan air dingin.
Beberapa jam kemudian, Chanan duduk di depan meja prakteknya Dokter Fendy. Kolega yang sekaligus sahabat baiknya Chanan setelah Leo.
"Ada apa? Tumben kamu menemui aku? Aku kira kamu udah lupa sama aku" Tanya Dokter Fendy dengan acuh tak acuh.
"Dadaku sering berdebar abnormal akhir-akhir ini. Aku takut kolesterolku baik dan aku terima penyakit jantung koroner. Buruan periksa aku, Kak, eh, Dok, eh, Bro, hehehehehe" Chanan meringis di depan dokter Fendy.
Dokter Fendy menggelengkan kepala dan berkata, "Oke! aku akan memeriksa kamu"
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan dan cek lab. Chanan kembali duduk di depan meja prakteknya Dokter Fendy
Dokter Fendy langsung berkata, "Kamu tidak sakit apa-apa, Chan. Hasil lab kamu semuanya bagus dan detak jantungku normal saat ini"
Dokter Fendy sontak tergelak geli dan bertanya, "Kau mencium siapa? Bukankah kau tidak punya pacar lagi setelah Bella meninggalkan kamu?"
Chanan memukul sendiri bibirnya dan berkata dengan rona malu di wajahnya, "Ah! Aku hanya adalah mengucapkannya. Lupakan saja!"
Dokter Fendy kembali tergelak geli Lalu, dokter tampan yang lebih tua tiga tahun dari Chanan dan sudah menikah itu berkata, "Kamu jatuh cinta Memangnya kamu lupa rasanya jatuh cinta itu seperti apa? Memangnya kamu tidak merasakan beberapa hal mendasar saat kamu jatuh cinta sama Bella dulu?"
"Hal-hal mendasar apa?" Chanan mulai mengerutkan alisnya.
"Hahahahaha! Kau ini sangat cerdas, tapi ternyata bloon kalau soal cinta. Kau sudah lupa ternyata, ya, rasanya terkena panah asmara" Dokter Fendy kembali tergelak geli.
"Sial! Katakan saja! Jangan ketawa terus! Teganya kau tertawa di tas penderitaan sahabat kamu ini, Bro!" Chanan mendengus kesal dan merengut di depan dokter Fendy.
"Oke. Aku akan katakan. Dengarkan baik-baik dan ingatlah baik-baik. Agar kelak saat kau merasakan semua ini nanti, lagi dan lagi, kau tidak akan menemuiku untuk memeriksakan kesehatan kamu, hahahahahaha" Dokter Fendy masih belum bisa menghilangkan rasa gelinya melihat kepolosannya Chanan.
"Dokter Fendy, katakan sekarang juga!" Chanan mulai menggeram kesal.
"Oke. Kau katakan Apa kamu merasakan kalau kamu terbuai dengan kecantikannya saat kamu memandang wajahnya?"
"Ke.....cantikan apa? Dia cuma gadis kecil yang menyebalkan. Mana ada cantik, cih!"
"Berarti saat ini ada seorang gadis di dekat kamu, kan? Siapa dia? Kenapa belum kau kenalkan dia sama aku?" Dokter Fendy tersenyum lebar sambil menggerak-gerakkan kedua alisnya ke atas.
Chanan mengusap kesal kemudian berkata, "Dia hanya gadis yang numpang lewat di hidupku. Dia akan segera balik ke asalnya. Jadi, nggak usah aku kenalkan ke kamu" Sahut Chanan dengan wajah datar.
"Pulang ke asalnya? Memangnya dia darimana, Chan?"
"Nggak usah dibahas. Yang pasti, aku tidak peduli sama dia. Dia hanya gadis kecil yang menyebalkan dan selalu saja ceroboh, juga bodoh"
"Tapi, dia cantik, kan? Kamu pasti kepikiran dirinya apabila kamu hendak tidur dan masih teringat akan dirinya saat kamu memejamkan mata kamu, kan?"
"Nggak! Aku nggak pernah seperti itu" Sangkal Chanan, namun wajahnya tampak merah merona.
Dokter Fendy mengulum senyum, lalu berkata kembali, "Lantas kamu tanpa sadar sering tersenyum sendirian saat kamu membayangkan wajah dan tingkahnya yang menurut kamu sangat menggemaskan"
Chanan mengalihkan pandangannya ke kalender meja, lalu sambil memainkan kalender meja itu, ia berucap, "Dia itu sangat menyebalkan. Nggak ada sama sekali tingkah laku dia yang tampak menggemaskan di mataku, cih!"
Dokter Fendy menepuk pelan pucuk kepala Chanan dengan ujung oulpenya dan berkata, "Kalau ada orang tua bicara, dengarkan!"
Chanan mengusap pucuk kepalanya dan mendelik ke dokter Fendy, "Kamu cuma beda beberapa tahun dariku, mana ada tua"
"Tapi, aku tetap lebih tua dari kamu. Dengarkan aku!" Dokter Fendy medegus kesal ke Chanan.
"Iya, baik!" Chanan menatap wajah tampan seniornya kembali.
Dokter Fendy berdeham untuk mengusir rasa gelinya, lalu berkata kembali, "Kamu spontan akan melangkah perlahan apabila berjalan bergandengan tangan dengannya. Kamu mulai merasa resah gelisah serba salah dan tak tahu apa sebabnya apabila si dia berada jauh dari mata. Kamu juga akan tersenyum pas mendengar suaranya walaupun hanya lewat sambungan telepon.Apabila kamu memandang raut wajahnya, kamu tidak melihat kehadiran orang lain yang ada di sekitar kamu. Hanya dia saja yang ada di mata kamu. Kamu juga akan senantiasa memikirkan tentang dirinya setiap masa. Sampaikan di dasar sanubari yang paling dalam sampai tandas pun kamu selalu memikirkannya. Iya, kan?"
"Nggak! Omong kosong apa semua itu! Nggak ada! Aku nggak pernah seperti itu! Kalau aku sehat dan semua hasil lab normal. Aku permisi. Mau pulang. Makasih udah memeriksa aku" Chanan bangkit berdiri dan berbalik badan dengan cepat sambil melambaikan tangannya dengan acuh tak acuh
Dokter Fendy hanya bisa mengulum bibir menahan geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Chanan yang masih mengabaikan segala rasa yang ada di diri Chanan saat ini.
Chanan melajukan mobilnya di jalan raya sambil bergumam, "Apa benar aku jatuh cinta sama Snowy tanpa aku sadari? Nggak! Nggak mungkin. Aku nggak mungkin jatuh cinta padanya dan aku nggak boleh jatuh cinta padanya. Dia akan segera balik ke kahyangan. Aku nggak boleh jatuh cinta padanya. Tapi, kalau Dokter Fendy benar gimana? Apa aku perlu melakukan tes dulu pada diriku? Emm, seperti misalnya susah tidur, terus suka mendengarnya suaranya di telepon, lalu jika aku menggandeng tangannya maka aku akan berjalan perlahan. Oke! Aku akan melakukan tes besok. Kalau benar, maka aku harus hilangkan perasaan cintaku untuk Gandasuli kalau aku nggak ingin mengalami patah hati untuk yang kedua kalinya"
Sementara itu di kahyangan, Dewa petir Adrakhs uring-uringan karena ia masih belum bisa menemukan keberadaannya Gandasuli dengan mesin pelacak sinyal kakungnya Gandasuki. Kemudian, sahabatnya Gandasuli yang lainnya, selain burung beo yang sudah gosong disihir oleh anak buah dari mama tirinya Gandasuli, datang menemui Dewa Petir Adrakhs. Sahabatnya Gandasuli itu adalah seekor burung gagak hitam, menemui dewa petir Adrakhs untuk menyampaikan idenya, "Dewa, bagaimana kalau saya turun ke bumi dan mencari Gandasuli. Saya yakin kalau saat ini kalung Gandasuli rusak. Makanya pas mesin pencari sinyal kalungnya Gandasuli sudah jadi, Anda masih belum bisa menemukan Gandasuli"
"Baiklah. Turunlah ke bumi dan kasih kabar aku secepatnya kalau kamu sudah menemukan keberadaannya Gandasuli" Sahut Dewa Adrakhs penuh semangat.
"Baik, Dewa. Saya akan turun ke bumi sekarang juga dan segera mencari Gandasuli. Saya permisi, Dewa" Sahut burung gagak hitam itu.
"Hmm" Sahut Dewa Petir Adrakhs dengan senyum ceria yang penuh dengan harapan.