
"Lho! Kenapa kalian saling pandang dalam diam? Hei! Chan! Kau lupa kalau hari ini ada pertemuan dengan para CEO tingkat Internasional?" Suara merdu mamanya yang dibarengi dengan tepukan hangat di pundak membuat Chanan tersentak kaget dan membuat Gandasuli spontan bangkit berdiri lalu berlari kecil untuk memeluk pinggang mama mertuanya.
Ratih tersentak kaget dan langsung meluk erat tubuh ramping menantunya dan wanita cantik berumur kepala lima itu langsung menoleh tajam ke Chanan, "Kau apakan Snowy? Kau apakan menantuku?"
"Aku nggak melakukan apa-apa, Ma. Aku........"
"Sebentar! Siapa yang mengambil sprei di kasur? Kenapa kasurnya tidak ada sprei? Padahal biasanya,kan, ada"
"Saya, Ma" Gandasuli melepaskan pelukannya untuk melihat mama mertuanya.
Ratih lalu menepuk punggung Chanan dan berkata, "Wah! Kau ternyata hebat juga, Chan! Mama senang kalian pun melakukannya di sini, hihihihihi. Udah kalian mandi dan ganti baju dulu. Mama udah bawakan dua paper bag, nih. Yang warna hitam milik Chanan dan yang warna pink milik menantu kesayangannya Mama. Mama tunggu di luar.
"Terima kasih, Ma"
Ratih tersenyum lebar sambil mengusap lembut kanan Chanan dan pipi kiri Gandasuli.
Kemudian wanita yang masih tampak sangat cantik dan modis di usia kepala limanya itu, berkata, "Kalian berdua harus menghadiri pertemuan para CEO tingkat Internasional itu" Ratih kemudian menutup pintu dengan senyum semringah dan mengedipkan mata ke Chanan.
Chanan mendekap paper bag yang berisi baju ganti untuk dia dan Gandasuli pemberian mamanya dengan helaan napas panjang. Lalu, ia bertanya ke Gandasuli yang masih berdiri di depannya dengan menundukkan kepala, "Kau sudah mandi?"
Gandasuli menganggukkan kepala tanpa mengangkat wajahnya.
"Baiklah! Kau ganti baju dulu dan aku akan mandi. Ini paper bag yang berisi baju ganti buat kamu" Sahut Chanan sambil memberikan paper bag yang berwarna pink ke istri cantiknya. Chanan ingin sekali memeluk dan berkata kalau dia merindukan Gandasuli, namun ia tahan perasaan itu karena Gandasuli masih tampak canggung di depannya.
Chanan meletakkan kedua telapak tangannya di tembok keramik kamar mandi dan menundukkan kepala untuk untuk mengguyur kepalanya dengan air hangat.
Dokter bedah itu menghela napas panjang dan bergumam, "Kenapa Suli masih canggung di depanku? Aku ini suaminya. Aku dan dia juga sudah saling menyatakan cinta kami. Kenapa dia masih canggung di depanku? Aku harus bagaimana selanjutnya? Hufftttt! Aku tidak menyangka akan secepat ini jatuh cinta lagi dan jatuh cinta sama seekor kelinci yang sangat imut dan kelinci itu jatuh dari kahyangan. Takdir gila apa ini?"
Chanan kemudian meraup kasar wajah tampannya dan kembali bergumam, "Apakah aku harus merasakan patah hati lagi saat Suli balik ke kahyangan, nanti? Nggak! Aku nggak akan biarkan Gandasuli pergi dari sisiku. Dia berbeda dengan Bella. Suli perempuan yang sangat lugu dan berhati putih seputih salju. Aku nggak akan biarkan dia pergi dari sisiku untuk selamanya. Aku nggak akan bahas soal kalung itu lagi kalau Suli bertanya maka aku akan alihkan saja pertanyannya. Hanya dengan cara itu aku bisa menahan Suli untuk tetap berada di sisiku"
Beberapa menit kemudian, Chanan keluar dari dalam kamar dengan mengenakan kemeja biru muda seperti warna langit yang dipadukan dengan jas berwarna biru tua dan jas itu senada dengan celana kainnya. Ada dasi kupu-kupu yang berwana senada juga dengan warna jasnya yang menghiasi kerah kemejanya Chanan.
Gandasuli menatap suaminya tanpa berkedip. Dia sangat mengagumi ketampanan suaminya dalam diam.
Ratih tersenyum saat ia menoleh ke Gandasuli dan berkata, "Pria yang sama-sama kita cintai dan berdiri di depan kita ini sangat tampan, kan, Sayang?" Ratih berucap sambil merangkul bahu Gandasuli.
Chanan seketika kesulitan menelan air liurnya saat ia melihat dress yang dikenakan oleh Gandasuli. Dress warna hitam pekat sepekat langit malam, membalut lekat tubuh rampingnya Gandasuli. Dress itu panjangnya hanya sampai di atas lutut dan di sebelah kiri dress tersebut tidak ada lengannya. Bahu putih dan seksinya Gandasuli terpampang jelas dan dress itu adalah pilihan mamanya.
Ratih menautkan alisnya ke Chanan dan bertanya, "Snowy sangat cantik, kan, malam ini? Dress yang Mama pilihkan sangat pas dia pakai. Snowy sangat ........."
"Terbuka, Ma. Bahu Snowy terbuka dan aku tidak suka kalau nanti banyak mata pria hidung belang melirik Snowy"
"Aish! Jangan kuno! Ini keren. Baru trend dress model begini. Udah jangan bawel kayak kakek-kakek, ayo kita berangkat sekarang!" Pekik Ratih sambil mengajak Gandasuli berbuat badan lalu melangkah bersama mendahului Chanan.
Chanan hanya bisa mendengus kesal dengan sikap seenaknya yang ditunjukkan oleh Mamanya. Lalu, pria tampan itu mengekor langkah mama dan istrinya sambil bergumam kesal, "Dia itu Istriku, Ma. Kenapa Mama seenaknya memilihkan baju terbuka seperti itu? Lain kali, Mama tanya dulu ke aku"
"Jangan dengarkan burung Beo mengoceh. Kamu naik ke mobilnya Mama aja. Biar dia naik mobilnya sendiri. Mama takut kalau nanti kalau dia mengganti dress kamu" Ratih menarik Gandasuli dengan pelan menuju ke mobilnya. Gandasuli mengulum bibir menahan senyum melihat tingkah polos mama mertuanya.
Chanan masuk ke dalam mobilnya sambil mendengus kesal, "Dasar Mama egois! Dia menguasai Suli di saat aku sangat merindukan Suli saat ini. Eh! Kalau Mama pergi dengan Suli, aku bisa beli cincin pernikahan dulu dong. Lalu, aku bisa kasih ke Gandasuli nanti pas acara dansa"
Chanan membiarkan mobil mamanya melaju lebih dahulu meninggalkan mobilnya. Kemudian dokter tampan itu melajukan mobilnya ke arah yang berbeda. Karena dia ingin membeli cincin pernikahan terlebih dahulu.
Alhasil, pada akhirnya Chanan ke jewer di telinga karena datang terlambat selama satu jam. "Ke mana saja kamu, hah?! Mama dan Snowy nungguin kamu sampai lumutan" Rati mendelik kesal sambil melepaskan jeweran di telinga Chanan yang sebelah kanan.
Gandasuli langsung mengalihkan pandangannya di saat ia ingin tertawa melihat Chanan kena jewer.
"Ma! Aku udah gede. Kenapa masih main jewer aja, sih?! Snowy ketawain aku, tuh"
Gandasuli langsung menatap Chanan dan berkata, "Nggak! Aku nggak ketawa, kok"
"Biarin aja. Karena kamu masih pantas dijewer. Dari mana saja kamu?!
"Mama akan tahu nanti" Chanan menyahut pertanyaan mamanya dengan pandangan yang terus mengarah ke Gandasuli.
Gandasuli kembali mengalihkan pandangannya sembari membatin, kenapa Kak Chan terus menatapku dengan senyum yang tampak mencurigakan?
"Baiklah! Cepat masuk! Ajak Istri kamu berdansa sana! Mama akan menemui pemilik resor Bunga sebentar. Mama pengen belajar caranya bikin resor" Sahut Ratih sambil menyerahkan tangan Gandasuli ke dalam tangan Chanan.
Chanan lalu mengandeng tangan Gandasuli untuk ia ajak berdansa dan ia berencana akan memasangkan cincin pernikahan di sela-sela mereka berdansa nanti.