My Snowy

My Snowy
Siksaan



Chanan bisa merasakan ketegangan di diri Gandasuli dan pria itu tersenyum di atas bibir Gandasuli saat ia merasakan Gandasuli belum merespons ciumannya.


Chanan kemudian bertanya di atas bibir Gandasuli, "Aku tahu kalau ini pengalaman pertama bagi kamu. Untuk itulah aku melakukannya dengan lembut"


Kedua tangan Chanan meremas lembut pinggang Gandasuli. Lalu, ditariknya wanita itu agar lebih dekat lagi dengan dirinya. Kemudian Chanan kembali mencium bibir Gandasuli dengan lebih intens, lembur, dan dalam. Di saat Chanan nekat menggigit pelan bibir Gandasuli, wanita itu merekahkan bibirnya dengan lenguhan pasrah. Chanan tersenyum dan dia langsung menyusupkan lidahnya di sana.


Tangan Chanan menyentuh daerah lembut yang kenyal. Meremas dan bermain asyik di sana tanpa membuka kancing blusnya Gandasuli. Lalu, tangannya meluncur ke bawah, dari pinggang ke pinggul Gandasuli, menariknya lebih dekat lagi sehingga tubuh mereka menempel erat


"Kau harum. Aku ingin selalu berada cukup dekat denganmu seperti ini. Aku ingin mencium wangi tubuh kamu, Suli. My Snowy" Sambil bersuara penuh gairah, disembunyikannya hidungnya di leher Gandasuli.


Tiba-tiba terdengar bunyi, Krucukkkkk!


Chanan menarik wajahnya dan dia sontak tersenyum geli saat ia melihat Gandasuli merona malu dan menundukkan wajahnya.


Chanan lalu menusukkan pucuk hidungnya di telinga Gandasuli dan berbisik, "Aku akan lepaskan kamu saat ini. Sekarang berdirilah! Kita harus segera makan. Jam makan siang udah hampir habis"


Gandasuli sontak bangkit berdiri dan duduk di sebelahnya Chanan sambil merapikan rambut dan blusnya.


Chanan membuka satu per satu susunan rantang dan meletakkannya di atas meja.


"Aku suapi, ya?! Aaaaaa!" Chanan mengerahkan sendok ke mulut Gandasuli


Gandasuli yang masih berusaha mengatur detak jantung dan meredakan rona malu di wajahnya, membuka mulut dengan canggung.


Chanan mengusap sudut bibir Gandasuli yang terkena saus lalu menjilat ibu jari yang terkena saus itu.


Kenapa dia mengusap sudut bibirku dengan ibu jarinya dan menjilat ibu jarinya? Bukankah itu artinya, kita berciuman lagi? Batin Gandasuli sambil mengalihkan pandangannya karena, malu.


Chanan mencubit dagu Gandasuli dan menarik pelan wajah Gandasuli agar gadis itu menatapnya lagi. Chanan mengarahkan sendok dan berkata, "Habiskan dulu makanannya jangan menoleh ke sana-sini. Repot nyuapinnya"


"Aku bisa makan sendiri" Gandasuli merebut rantang yang berisi nasi goreng mangga dan langsung memangku rantang itu sambil berkata, "Kamu makan sendiri punya kamu. Jam makan siang hampir berakhir dan kita harus buruan habiskan makanan kita, kan?"


"Ah! Iya. Kamu benar" Sahut Chanan dengan canggung.


Chanan dan Gandasuli kemudian makan dengan diam. Mereka berdua sama-sama tidak tahu harus berkata apa. Mereka berdua sama-sama tidak tahu harus berbuat apa. Mereka berdua sama-sama tidak tahu dengan apa yang mereka rasakan saat ini.


Kenapa dia menciumku? Tidak ada orang lain di sini. Dia nggak mungkin melakukannya untuk bersandiwara. Batin Gandasuli.


Namun, saat gadis cantik itu menoleh ke Chanan untuk bertanya kenapa Chanan menciumnya, mulut gadis cantik itu terkunci rapat dan ia kembali menunduk untuk menatap nasi goreng mangga.


Apakah aku harus meminta maaf padanya? Aku tiba-tiba menciumnya. Sial! Apa yang kau pikirkan tadi? Kenapa aku nekat menciumnya? Batin Chanan.


Gandasuli hanya menganggukkan kepalanya dan menyahut, "Hmm"


Chanan kemudian berbalik badan dengan cepat dan melangkah lebar meninggalkan Gandasuli.


Di dalam lift, Chanan bergumam sambil mengusap bibirnya dengan ibu jari, "Sial! Aku menginginkan Snowy lebih dari aku menginginkan Bella. Sudah bisa dipastikan kalau aku mencintainya. Apa aku harus menyatakan perasaanku? Sial! Itu tidak boleh terjadi, Chan! Dia bukan makhluk bumi dan dia harus kembali ke kahyangan. Jangan bebani dengan cinta. Biarkan dia kembali ke kahyangan tanpa beban"


Chanan kemudian meraup wajah tampannya dan kembali bergumam, "Iya, benar! Aku akan simpan rasa cintaku ini rapat-rapat. Aku tidak akan pernah menyatakannya ke Snowy, eh, Suli, maksudku. Dan aku harus secepatnya memperbaiki Kalungnya Snowy, eh, Suli, agar dia bisa cepat kembali ke kahyangan bertemu kembali dengan Ayahnya. Aku harus berkorban untuk kebahagiaannya Suli. Aku lihat dia juga tidak bahagia hidup di bumi. Lagipula aku sudah banyak memanfaatkannya selama ini dan aku harus menebus semuanya"


Ting! Pintu lift terbuka dan Chanan melangkah keluar dari dalam lift dengan masih meraup kasar wajah tampannya.


Saat Chanan hendak membuka ruang prakteknya, dia dikejutkan dengan pelukan dari arah belakang.


Chanan mengurai tangan yang memeluk pinggangnya dan berbalik badan dengan cepat, "Bella! Kenapa kau masih ada di sini, hah?"


Bella menggelungkan tangannya di lengan Chanan sambil berkata dengan wajah ketakutan, "Tolong bantu aku! Aku takut, Chan"


Chanan menarik lengannya dari genggaman tangan Bella sambil berkata, "Jangan main peluk dan jangan sentuh aku! Aku sudah menikah dan kamu juga sudah menikah"


"Kau lihat wajahku" Bella membuka kacamata hitamnya.


Chanan tertegun melihat lebam di sudut mata Bella yang sebelah kanan dan di sebelah kiri, ada lebam di bawah pelupuk mata itu. "Apa yang terjadi?"


"Suamiku yang melakukan semua ini. Dia suka memukuli aku, Chan. Dan saat aku mau pulang tadi, aku melihat anak buahnya ada di pelataran parkir dengan seringai mengerikan. Aku takut, Chan"


Chanan melangkah mundur dan menghindar saat ia melihat Bella ingin memeluknya lagi.


"Aku harus bekerja. Aku akan telepon Roy untuk mengantar kamu. Tunggulah di ruang tunggu. Kau harus segera masuk ke ruang praktek untuk menangani pasienku" Chanan masuk ke dalam ruang prakteknya sembari menelepon Roy.


Bella kembali mendengus kesal dan bergumam, "Percuma aku datang kemari kalau kamu nggak mau mengantarku pulang. Sial! Kalau aku tidak menunggu di ruang tunggu maka akan ketahuan kalau aku hanya berpura-pura ketakutan" Bella bergumam kesal sambil duduk di bangku kosong yang ada di ruang tunggu.


Chanan menyelesaikan prakteknya di jam lima sore dan pria tampan itu berlari ke lift pribadinya. Dia ingin segera sampai ke ruang kerjanya untuk segera melihat wajah cantik istirnya. Entah kenapa dia sangat merindukan Gandasuli saat ini


Ceklek. Chanan membuka pintu dan dikejutkan dengan tabrakan bibir Gandasuli di bibirnya.


Chanan menautkan kedua alisnya dan langsung mengunci pintu sambil melirik ke meja saat ia mencium aroma alkohol dari mulutnya Gandasuli, "Sial! Kenapa kamu ambil kaleng itu? Itu minuman beralkohol, Suli. Kau mabuk lagi, ini. Hadeeeehhhh!"


Alih-alih menjawab pertanyannya Chanan, Gandasuli terus menggigit pelan bibir Chanan sambil bergumam, "Salad buah. Aku suka salad buah.


Chanan langsung menghela napas panjang dan memekik frustasi, "Hiks, hiks, hiks! Siksaan lagi, oh! Siksaan lagi"