My Snowy

My Snowy
Pingsan



Chanan meluncurkan mobilnya ke arah yang lain saat ia melihat mobil yang dikendarai Roy sudah meluncur ke jalan yang menuju ke kapal miliknya yang sandar di salah satu sudut di dermaga tersebut.


Tiba-tiba Gandasuli menoleh tajam ke Roy, "Putar balik mobil ini dan ikuti Kak Chan!"


"Nggak bisa, Nyonya muda. Saya bisa diomelin Tuan muda dan........"


"Kamu pilih diomelin oleh Tuan muda kamu atau aku sihir kamu menjadi kaktus brondhol sekarang juga, hah?!" Gandasuli mengarahkan jari telunjuknya ke Roy.


"Hahahaha. Anda jangan bercanda Nyonya muda. Masak Anda bisa menyihir dan.......sial! Oke, saya putar balik sekarang" Roy langsung memutar balik mobil yang ia kemudikan saat ia melihat Gandasuli mengubah hiasan kucing yang tertempel di atas dashboard mobil menjadi kaktus brondhol.


Roy kemudian melirik sekilas ke Gandasuli, lalu pria muda itu bertanya dengan nada ragu dan sedikit ketakutan, "Ke....kenapa Anda bisa menyihir hiasan imut di dashboard menjadi kaktus jelek seperti itu, Nyonya muda?"


"Aku bisa menyihir apapun menjadi tanaman atau bunga. Karena aku jatuh dari atas langit dan aku adalah putri dari kerjaan bunga yang ada di kahyangan"


"Hah?!" Roy sontak menoleh tajam ke Gandasuli karena kaget dan Gandasuli refleks berteriak, "Perhatikan jalan di depan!"


Roy kembali menatap ke depan sambil menstabilkan kemudi mobil.


"Itu kenyataannya dan jangan ceritakan hal ini ke Mamanya Kak Chan. Aku tidak ingin kalau Mama syok dan masuk rumah sakit"


"Siap, Nyonya muda. Saya akan tutup mulut soal asal usul Anda. Cuma saya dan Tuan muda yang tahu soal asal usul Anda, kan?" Tanya Roy kemudian.


"Kak Leo juga tahu. Karena Kak Leo yang memberiku makan untuk pertama kalinya dan......Lupakan saja!" Gandasuli menghentikan ucapannya saat ia melihat Roy mengerutkan alisnya.


"Oke. Baiklah, Nyonya muda" Sahut Roy.


Burung Gagak hitam yang menunggu di atas pohon yang ada di depan halaman rumahnya Chanan akhirnya memutuskan untuk balik ke kahyangan. Burung Gagak hitam itu kelelahan menunggu Gandasuli dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kahyangan menemui dewa petir terlebih dahulu.


Beberapa menit kemudian, Dokter yang sudah menjadi dokter bedah di usia muda karena kecerdasan di atas rata-ratanya itu tersentak kaget saat tiba-tiba ada mobil Jeep besar terus menabrak mobilnya dari belakang dan mobil Jeep besar itu terus mendorong mobilnya Chanan ke laut. Chanan panik, namun sudah terlambat. Mobil Chanan akhirnya jatuh ke dalam laut.


Lalu, mobil Jeep itu, mundur, kemudian berbalik arah dan pergi meninggalkan dermaga.


Gandasuli sontak membuka pintu mobil yang dikendarai oleh Roy dan tanpa berpikir panjang, gadis cantik itu berlari kencang, kemudian terjun bebas ke laut.


Roy berlari menyusul Gandasuli sembari menelpon polisi, lalu ia menelepon ambulans, dan yang terakhir ia menelepon mamanya Chanan.


Lalu, Roy berlari ke posko tim SAR dan melaporkan kalau ada sebuah mobil didorong jatuh masuk ke laut dan ada seorang gadis terjun bebas ke dalam laut.


Lima orang anggota Tim SAR langsung masuk ke dalam perahu karet dan mulai menyisir laut.


Roy yang tidak bisa berenang hanya bisa berjalan mondar-mandir di bibir dermaga dengan wajah panik dan sesekali pria muda itu melongok ke bawah melihat air laut dan berharap nyonya muda dan tuan mudanya segera menyembulkan kepala ke permukaan air. Lalu, Roy mengarahkan pandangannya ke perahu karet tim SAR dan dia langsung kecewa karena tim SAR belum menemukan tuan muda dan nyonya mudanya.


Roy benar-benar panik dan pria muda itu terus berdoa untuk keselamatan Tuan muda dan Nyonya mudanya.


Sementara itu, Abram Prist yang mengendarai mobil Jeep langsung menyeringai puas karena ia telah berhasil mendorong mobilnya Chanan masuk ke dalam laut dari ketinggian dua meter. Pria kaya raya itu kemudian melajukan mobil Jeep besar dan kokohnya itu ke arah rumahnya.


Arabella yang menunggu kepulangan suaminya di ruang tamu langsung bangkit berdiri saat ia melihat suaminya melangkah masuk ke dalam rumah. Wanita cantik itu langsung bertanya, "Darimana, Mas? Kamu tidak mencelakai Chanan, kan?"


Abram Prist hanya menyeringai dan berjalan melintasi istri cantiknya begitu saja.


Arabella berteriak, "Mas! Jawab aku! Mas!"


Namun, Abram Prist mengabaikan teriakan istri cantiknya itu.


Tim SAR berhasil menolong Gandasuli dan Chanan yang menyembulkan kepala di permukaan laut tepat di depan perahu karet tim SAR.


Roy melonjak girang saat ia melihat dari kejauhan tim SAR berhasil membawa naik Tuan muda dan nyonya mudanya ke dalam perahu karet yang panjang dan luas itu.


Perahu karet sampai di tepi dermaga bertepatan dengan datangnya mobil dari kepolisian, mobil ambulans, dan mobil sedan milik mamanya Chanan.


Mamanya Chanan langsung melompat turun dari dalam mobil mewahnya dan Dona langsung menyusul laju lari nyonya besarnya.


Ratih melihat Chanan yang tidak sadarkan diri, direbahkan dengan sangat hati-hati di atas bed lalu dibawa masuk ke dalam ambulans.


Roy berkata, "Nyonya muda yang telah menyelamatkan Tuan muda, Nyonya. Dengan gagah berani Nyonya muda terjun ke dalam laut untuk menyelamatkan Tuan muda"


Ratih menoleh kaget ke Gandasuli dan Roy. Ratih kemudian langsung memeluk tubuh Gandasuli yang masih basah sambil berkata, "Terima kasih banyak kamu dengan sangat gagah berani terjun ke dalam laut untuk menyelamatkan Chan dan........Snowy! Snowy!" Ratih sontak berteriak kaget saat Gandasuli jatuh pingsan di dalam pelukannya.


Gandasuli segera direbahkan di atas bed dan dibawa masuk ke dalam ambulans di dibawa ke rumah sakit.


Mobil kepolisian dan mobilnya Ratih langsung mengikuti ambulans itu. Dan setelah Roy mengucapkan terima kasih dan memberikan amplop ke pimpinan Tim SAR ia bergegas menyusul laju ambulans yang membawa tuan muda dan nyonya mudanya ke rumah sakit milik keluarga Rahardian.


Sesampainya di rumah sakit, Chanan dan Gandasuli langsung ditangani tim dokter khusus dan paling ahli di rumah sakit milik Rahardian Grup itu. Ratih, Dona, dan Roy terus berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan khusus tempat Chanan dan Gandasuli mendapatkan penanganan medis.


Dua jam berlalu, seorang dokter datang menemui Ratih dan berkata, "Dokter Chan baik-baik saja, Nyonya. Cuma ada sedikit luka memar di pelipisnya. Tuan muda akan dada besok pagi"


"Lalu, menantu cantik saya bagaimana?" Tanya Ratih dengan wajah panik.


"Oh! Gadis cantik yang tidur di sebelah Dokter Chan adalah Istrinya Dokter Chan? Akhirnya saya bisa melihat Istrinya Dokter Chan. Wah! Saya sangat beruntung hari ini dan........"


"Dok! Gimana keadaan menantu cantik saya? Kamu,kok, malah ngoceh nggak jelas, hufttttt!" Ratih sontak merengut dan bersedekap.


"Ah! Maafkan saya, Nyonya besar. Soalnya semua dokter dan perawat juga karyawan di rumah sakit ini penasaran dengan alerginya Dokter Chan yang mendadak sembuh dan itu karena Istrinya. Makanya semuanya penasaran dengan Istrinya Dokter Chan dan........"


"Dok!" Ratih memajukan wajahnya dan mendelik ke dokter yang berdiri di depannya.


"Ah! Iya, maafkan saya lagi, Nyonya besar. Emm, kondisi menantu cantik Anda.... "


"Dok!"


"Iya, Nyonya besar?"


"Hanya aku dan Chanan yang boleh mengatakan kalau Istrinya Chanan itu cantik. Ngerti?!" Ratih Kembali memajukan wajahnya dan mendelik ke dokter itu.


"Ah, iya, Nyonya besar. Maafkan saya. Kondisi menantu Anda sedikit lebih parah. Paru-parunya penuh air dan kemungkinan besar menantu Anda akan tidur lebih lama"


Ratih langung melemas dan menunduk sedih. Dona langsung merangkul bahu Nyonya besarnya sambil berkata, "Anda harus kuat Nyonya. Demi Putra dan menantu Anda yang sangat Anda sayangi"


"Iya, kamu benar" Sahut Ratih.


"Saya permisi Nyonya besar" Dokter yang menangani Chanan dan Gandasuli mengangukkan kepala kemudian ia berbalik badan meninggalkan Ratih setelah Ratih berkata, "Baiklah. Terima kasih banyak atas kerja keras kamu"


Ratih kemudian masuk ke dalam kamar dan duduk di samping bed-nya Gandasuli. Dia terus menggenggam tangan Gandasuli dan berbisik, "Cepatlah sadar,ya, Cantik. Jangan jadi sleeping beauty terlalu lama"