My Snowy

My Snowy
Mabuk



"Dok, tunggu!" Dokter IGD langsung mencegah langkah dokter bedah yang paling muda di rumah sakit Rahardian saat Chanan ingin melangkah mengikuti bed-nya Bella yang didorong dia orang perawat menuju ke ruang rawat inap VVIP pilihannya Chanan.


Chanan menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke dokter jaga IGD dan dengan wajah agak kesal, ia bertanya, "Ada apa?"


"Anda tidak memakai masker dan sarung tangan saat ini, Dok? Bahkan topi kesayangan Anda juga tidak tampak di kepala Anda. Apa Anda sudah sembuh dari alergi Anda? Anda tidak bersin-bersin saat ini tanpa masker dan sarung tangan, lho, Dok" Dokter jaga IGD itu menatap Chanan dengan wajah penuh tanda tanya.


"Sepertinya begitu. Istriku yang menyembuhkan aku sepetinya" Chanan mengucapkan kata Istriku tanpa ia sadari, lalu Chanan berbalik badan dengan cepat dan bergegas pergi meninggalkan dokter jaga IGD.


Dokter jaga IGD itu kemudian menoleh ke koleganya, "Istri? Kau dengar kalau Dokter Chan menyebut kata Istri, kan, barusan?"


Koleganya dokter jaga IGD itu menganggukkan kepala dengan wajah penuh tanda tanya.


"Kau diundang ke pernikahannya?"


"Tidak, Dok"


"Kau pernah lihat Istrinya? Setahuku wanita yang barusan dibawa ke ruang Mawar adalah mantan tunangannya Dokter Chan. Lalu, kapan Dokter Chan menikah? Kenapa kita tidak diundang, ya? Apa karena Istirnya sangat jelek atau ........"


"Dok! Jangan bergosip! Masih banyak pasien yang harus kita tangani"


"Ah! Iya maaf"


Di kamar rawat inap VVIP pilihannya Chanan, Bella mengambil sesuatu dari dalam tas jinjingnya yang diletakkan oleh suster yang mengantarnya ke kamar, di atas nakas. Lalu, ia membubuhkan sesuatu ke dalam bubur yang sudah ia buka kemasan plastiknya karena dia masih hapal dengan benar kalau Chanan selalu mencicipi buburnya terlebih dahulu sebelum ia menyuapi dirinya.


Kau akan pingsan dan tidur denganku makan ini, Chan. Kau harus menikahiku kalau ketahuan tidur denganku. Batin Bella dengan seringai senang khasnya.


Sementara itu di kahyangan, ayahnya Gandasuli tengah menangisi kepergian putrinya di dalam kamarnya. Dia sangat merindukan putrinya dan menangis di dalam kamar seharian. Raja taman bunga itu tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Bahkan oleh Istrinya sekalipun.


Ibu tirinya Gandasuli menggeram kesal dan dengan penuh kecemburuan dia memanggil anak buah kepercayaannya untuk mencari keberadaan Gandasuli di bumi karena, dari pekikan burung beo sahabatnya Gandasuli sebelum burung beo itu gosong dan mati, diketahui bahwa Gandasuli ada di bumi.


Mamanya Chanan sampai di ruang IGD dan langsung bertanya ke dokter jaga IGD, "Di bilik nomer berapa Arabella Prist mendapatkan pertolongan pertama?"


"Oh! Nona Arabella Prist sudah dibawa oleh Putra Anda, Nyonya"


"Ke mana? Apa ke ruang rawat inap Mawar? Kamar VVIP?"


"Benar Nyonya"


"Terima kasih" Mamanya Chanan langsung berbalik badan dengan cepat dan berlari kecil untuk segera menyusul Chanan sebelum Chanan ditipu mentah-mentah oleh wanita yang bernama Arabella Prist itu. Entah kenapa mamanya Chanan memiliki firasat buruk soal Bella saat ini.


Leo kemudian membantu Gandasuli mencuci semua perabot makan dan membereskan meja makan. Kemudian dokter hewan yang tampan itu berkata ke Gandasuli, "Tunggulah di ruang keluarga! Aku akan buatkan kamu popcorn"


"Popcorn? Apa itu popcorn?" Gandasuli menautkan kedua alisnya.


"Kau akan tahu nanti. Tunggulah di ruang keluarga. Kau bisa menyetel televisi, kan?"


Gandasuli menggelengkan kepalanya dan berkata, "Kak Chan belum pernah mengajak dan mengajariku menyetel televisi. Di kahyangan nggak ada televisi, Kak"


Leo tersenyum lalu ia mengajak Gandasuli berjalan ke ruang keluarga sambil berkata, "Aku akan ajari kamu cara menyetel televisi dulu kalau begitu"


Sepuluh menit kemudian, Leo bertanya ke Gandasuli, "Udah paham?"


"Iya"


"Ini remote-nya. Aku tinggal bikin popcorn, ya"


"Iya" Gandasuli mengulas senyum yang sangat cantik ke Leo.


Leo berjalan ke dapur sambil bergumam, byuh! Cantik banget wanitanya Chanan. Andai aku bisa memilikinya. Memang, ya, rumput tetangga itu selalu saja menarik untuk dilirik dan dipandang, hehehehehe"


Tok,tok,tok, Chanan mengetuk pintu kamar rawat inapnya Bella.


"Masuk!" Pekik Bella dari dalam kamar.


Ceklek! Chanan membuka pintu, melangkah masuk dengan pelan, lalu menutup pintu tanpa mengeluarkan suara.


"Itu hanya untuk rasa kemanusiaan. Aku seorang dokter dan aku harus menolong orang yang membutuhkan pertolongan"


"Bohong! Bukan itu alasan kamu. Kamu masih mencintaiku, kan? Jangan bohongi diri kamu sendiri, Chan. Aku di sini saat ini dan aku siap untuk kau cintai lagi seperti dulu"


Chanan duduk di sofa dan berkata, "Jangan berhalusinasi. Aku sudah tidak mencintai kamu dan........"


Chanan sontak menghentikan ucapannya dan langung berlari mendekati Bella saat ia melihat perempuan itu meraih mangkuk bubur dan hampir jatuh


Chanan dengan sigap memeluk Bella dan menyemburkan, "Hati-hati!"


"See! Kau masih sangat peduli padaku. Aku bisa merasakannya. Kamu masih mencintai, Chan"


Chanan langung melepaskan Bella dan berkata, "Maaf! Aku lancang memeluk kamu"


"Kamu boleh memeluk aku kapan pun kamu mau, Chan"


Chanan hanya menatap Bella dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Apa kau mau menyuapi aku bubur itu, Chan?"


Chanan bergeming.


"Ayolah, Chan! Aku minta tolong suapi aku! Aku lemah saat ini. Katanya kau seorang dokter dan akan selalu menolong siapa pun yang butuh pertolongan" Bella meraih tangan Chanan dan menggenggam tangan itu dengan erat.


Brak! Pintu terbuka lebar dengan suara yang cukup keras dan cukup mengagetkan.


Chanan dan Bella sontak menoleh ke pintu. Bella langsung mengumpat kesal di dalam hati, sial! Kenapa nenek sihir itu bisa datang ke sini? Ganggu aja!"


Chanan langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Bella saat ia melihat mamanya memelototi tangannya.


"Chan! Pulang! Istri kamu menunggu kamu" Ratih mendelik ke Bella.


Chanan langsung berputar badan dan keluar dari ruang rawat inapnya Bella tanpa pamit


Bella sontak berteriak, "Chan! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!"


Mamanya Chanan langsung berteriak, "Diam! Bukankah aku sudah bilang sama kamu, jangan ganggu Chan! Kau akan menyesal kalau kau terus mengganggu Puteraku, dasar wanita iblis!"


"Kau! Kau juga wanita Iblis! Kenapa kau selalu menggangguku, hah?!"


"Cih! Kau sudah membuka topeng kamu sekarang. Kau sudah merekamnya tadi, Don?" Tanya Ratih ke Dona, sekretaris pribadinya.


"Sudah, Nyonya"


"Bagus! Kita tinggal pakai rekaman itu untuk Chan, agar Chanan tahu seperti apa wanita ini sebenarnya. Ayo kita pergi! Dan saat ini juga suruh pihak rumah sakit memindahkannya ke rumah sakit yang lakin" Sahut Ratih sambil melangkah pergi meninggalkan Bella.


Bella langsung berteriak frustasi, "Dasar wanita gila!!!!!!! Semuanya gila!!!!!!!!"


Sementara itu di rumahnya Chanan, Gandasuli tengah tertawa lebar di depan televisi dan sangat menyukai popcorn buatannya Leo. Gandasuli akhirnya menonton televisi sendirian karena Leo mendapatkan panggilan darurat.


Gandasuli tiba-tiba merasa haus. Dia kemudian berjalan ke dapur dan membuka lemari es Gandasuli menemukan deretan botol yang terbuat dari kaca dan berisi cairan putih. Dia membaca tulisan disisi depan botol kaca itu, "Uwine? Lalu, yang mana air putih? Apa ini nama lain dari air putih? Kalau di bumi air putih namanya uwine, ya?"


Tanpa berpikir panjang, Gandasuli membuka botol yang bertuliskan Wine dan langsung mengernyit, "Kenapa rasanya aneh? Kayak anggur tapi di tenggorokan terasa hangat. Wah! Air putih di bumi ternyata ajaib. Bisa bikin tenggorokan dan badan terasa hangat" Gandasuli menenggak lagi Wine itu.


Chanan masuk ke rumah dan menemukan Gandasuli tidur di sofa. "Kenapa kamu tidur di sofa? Mama sebentar lagi pulang ke sini, kalau dia menemukan kamu tidur di sofa, Aku bisa diomelin Mama panjang kali lebar


setelah perkara Bella tadi. Terpaksa deh aku bopong kamu lagi. Untuk kamu itu seringan kapas kalau kamu gemuk dan berat, ogah banget aku bopong kamu, cih!"


Chanan kemudian menghela napas panjang dan di saat ia hendak membopong Gandasuli, gadis cantik itu langsung membuka kedua bola matanya lebar-lebar dan tertawa sangat aneh dan langsung merangkul lehernya Chanan dengan kedua lengannya.


Chanan sontak menoleh ke meja dan langsung mengumpat kesal, "Sial! Kau minum Wine, ya? Dasar bodoh! Kau bahkan tidak bisa membedakan Wine dengan air putih, ya? Kau mabuk saat ini dan...... hmpppthhhh!"


Chanan membeliak kaget saat Gandasuli tiba-tiba memagut bibirnya.