My Sisters & Me

My Sisters & Me
ch 5 teman kampus



pagi ini ada kelas pagi,mata kuliah matematika dasar.


jam 6 Rifana sudah siap berangkat karena kuliah dimulai pukul 7 pagi.


Tante Yani sudah menyiapkan sarapan untuk anak anaknya dan juga Rifana.


"Fa , jangan lupa sarapan sebelum berangkat kampus!"


" maaf Tan, gak keburu nih... Rifa da kelas pagi Tan,belom lagi jalanan macet nanti, Rifa mau pamit sekalian ya Tan !" kata Rifana sambil mencium tangan tantenya.


"ya udah,hati hati di jalan ya, jangan kelayapan kall udah pulang langsung ke rumah!" nasehat Tante Yani panjang lebat.


"siap Tan!"jawab Rifana sambil tersenyum.


Rifana biasa naik angkutan umum ke kampus.


pagi itu Rifana sedang menunggu angkutan umum ketika tiba-tiba ada sepeda motor berhenti di depan Rifana berdiri.


Rifana mengamati seseorang yang memakai helm dan tidak bisa melihat dengan jelas wajah sang pemilik motor.


Rifana agak memundurkan langkahnya bermaksud memberi jalan.


"ayo bareng enggak, angkot macet nih gak bisa lewat!" kata pengendara motor sambil membuka helm nya.


"aelaaaah, Tommy...gua kira siapa lu!" jawab Rifana setelah mengetahui kalau si pemilik motor adalah Tommy,teman satu jurusannya di kampus.


"udah cepetan naik!" perintah Tommy.


akhirnya Rifana berangkat ke kampus bersama Tommy.


kurang lebih 10 menit perjalanan, mereka sampai di kampus. karena kebetulan mereka satu kelas maka mereka berjalan bersama menuju kelas yang ada di lantai 3.


baru saja Rifana duduk, masuklah dosen matematika.


kebetulan selama sebulan ini sang dosen ada kesibukan lain makanya baru sempat tatap muka hari ini.


"selamat siang.... perkenalkan saya dosen matematika disini,nama saya Dedy Permadi,ini hari pertama saya tatap muka dengan kalian". dosen itu memulai perkenalannya.


satu kelas teman Rifana ada 30 mahasiswa/mahasiswi.


setelah perkenalannya yang cukup singkat tersebut pak dosen mengabsen satu persatu mahasiswanya.


perkenalan yang singkat dan tidak berkesan,itu menurut Rifana.


akhirnya dosen langsung memberikan materi pelajaran.


bagi Rifana penjelasan pak dosen sangat mudah di fahami, apalagi materinya hanya mengulang materi SMA.


matematika dasar ini sangat mudah,bagi Rifana.


akan tetapi beberapa mahasiswa tampak bengong belum mengerti.


."ini ada 5 soal di papan tulis,tolong dikerjakan!" perintah pak Dedy.


mahasiswa itu gasrak gusruk saling berbisik-bisik. Rifana santai mengerjkan tugas dari dosen,karena dari awal dia sudah sangat faham dengan materi tersebut.


"waktu tinggal 10 menit lagi!"kembali pak Dedy mengingat kan soal waktu yang makin habis.


tuk.... sepertinya ada yang melempar sesuatu ke kepala Rifana.


Rifana menoleh ke arah sang pelempar, ternyata Basuki Rahmat si ketua kelas.


"Ssssst, nomer 1,2,3,4,5.... tolong jawaban tulis kertas lempar kesini!" Basuki bicara sambil berbisik dan meletakkan jaringan di bibir sebagai isyarat untuk diam.


"huh, enak aja 12345.... tulis kertas lagi, ketahuan bisa berabe!" Rifana merutuk dalam hati.


tanpa di sadari nya dosen itu sudah di belakang Rifana.


"ada apa?" tanya pak Dedy sang dosen matematika.


"emm tidak pak, saya sudah selesai koq" jawab Rifana cepat.


." kumpulkan di depan, kalo gitu kamu boleh keluar kelas". perintah pak Dedy pada Rifana.


Rifana memutuskan untuk membaca di perpustakaan karena jadwal kuliah baru ada lagi jam 11 siang.


kalo mau pulang ke rumah tantenya nanti bolak balik jadinya.


"hai Fa....". seseorang menyapa Rifana di perpustakaan kampus.


"hmm lu pikun apa amnesia seh?" seseorang itu mendengus kesal.


"aiiiih.... lupa gua, kita sekelas ya'?" saut Rifana merasa tidak enak hati.


"hmm, mentang-mentang gua jelek dan tidak populer ya,lu pura-pura gak ingat gua?"sarkas seseorang tersebut.


namanya Anton,memang teman sekelas Rifana.


orangnya biasa saja, Rifana hanya ingat bahwa mereka pernah kenalan waktu ospek,di suruh maju satu persatu sebutin nama sama asal kota.


wajar Rifana tidak.mengingat Anton, karena tiap harinya Anton jarang ngampus, dan kalaupun masuk,duduk di pojok belakang.


" eh bukan begitu,lu jarang ngampus kali,wajar gua lupa,lagian lu datang cuma absen doang,trus cabut.....iya kan?" Rifana membela diri.


"hehehe...iya juga sih". jawab Anton sambil nyengir mengingat dosa-dosanya karena selalu bolos kuliah.


"eheeem... udah ingat gua kan sekarang, fine....anggap aja kita teman lama hehehe". Anton cengengesan


Rifana tetap asik membaca buku Seni Budaya untuk mata kuliah berikutnya.


padahal Rifana sudah tahu kalau Anton mempunyai tujuan tertentu mendekati nya di perpustakaan.


Rifana pura-pura acuh, hingga akhirnya Anton kembali membuka suara.


"Fa ... lu pinter ya,kata pak Dedy di kelas tadi nilai lu 100 !" kata Anton.


Rifana menatap Anton untuk melihat keseriusan di matanya,dan Anton memang kelihatan serius.


"hmm memang sudah di koreksi,gua kan tadi langsung keluar kelas?' tanya Rifana.


"sambil menunggu yang lain menyelesaikan tugasnya,pak Dedy mengoreksi kerjaan lu tadi,trus katanya siapa lagi yang bisa menyelesaikan tugas dan mendapatkan nilai sempurna seperti ini.... sambil mengangkat kertas hasil tugas lu tadi". Anton menjelaskan panjang lebar.


"ooh...". saut Rifana pendek.


"hah..... "ooh" doang? gua ngoceh sampai kering tenggorokan,lu cuma bilang "ooh"?? kata Anton kesal.


" lu pengen gua bagaimana,loncat-loncatan sambil teriak kegirangan?,itu soal memang mudah, kebangetan kalau kalian tidak bisa!" jawab Rifana tak kalah nge gas nya.


"hemm,mudah bagi lu belom tentu bagi yang lain, otak gua berasa mendidih, itupun gak jamin gua dapat nilai bagus". Anton kelihatan putus asa.


"oke lah,sekarang lu curhat ama gua pasti ada tujuannya,gak mungkin juga kebetulan lu ada di perpustakaan ketemu gua'. Rifana ingin jawaban sebenarnya dari Anton.


"emm gini Fa,lu mau gak ngajar gua private matematika...gua bersedia datang ke rumah lu dan membayar berapapun yang lu mau !" kata Anton sambil memasang muka memelas.


"hah...kasih private lu,,,di rumah gua?" tanya Rifana sambil menunjuk hidung sendiri


"iya,apa ada yang salah?" Anton balik bertanya.


waduuuuh.... rupanya belum ada yang tahu kalau Rifana tidak tinggal di rumah sendiri, melainkan tinggal menumpang sama Tantenya.


Rifana bimbang antara mengiyakan dan menolak.


sebetulnya lumayan bisa menambah uang jajan, tapi bagaimana tanggapan tantenya jika mengetahui Rifana di datangi teman kampusnya yang laki-laki.... pastinya akan membuat semua tidak nyaman.


"eh gini Ton,lu kan gak tau gua disini masih numpang di rumah tante gua,...jujur gua gak enak sama tante gua,ntar aja ya,emm insyaallah bulan depan gua kos dekat kampus dah biar gua bisa belajar bareng lu!" kata Rifana berusaha memberikan harapan pada teman sekelasnya.


Rifana sengaja menggunakan kata belajar bareng, supaya tidak ada kesan kata menggurui antara dirinya dan Anton yang siap jadi murid les nya.


"okelah kalau begitu, gua sabar menunggu lu sampai pindah kos...". jawab Anton dengan wajah sumringah nya.


Anton berharap Rifana akan secepatnya menjadi guru privat nya.


"eh, sudah hampir jam 11 nih,lu ikut mata kuliah SB engga?" tanya Rifana.


" ikutlah.... ya udah,ayo ke kekas bareng!" kata Anton sambil beranjak dari tempat duduknya di ikuti Rifana. mereka keluar dari perpustakaan menuju ke kelas bersama-sama.


*************************************


Alhamdulillah, selesai juga.


maaf ya,masih banyak kesalahan di sana sini.


maklum ya, saya masih belajar menulis.


tolong kasih like,komen rate, favorit ya karena itu geratis.


terimakasih 🙏