
Hanya satu kata yang aku ucapkan, menyebalkan.
Gara-gara lupa memakai masker hari ini aku menjadi tontonan warga di sepanjang jalan utama.
Duh malu banget,ini untuk pertama kalinya dan semoga untuk yang terakhir kali juga aku berurusan dengan yang namanya satpol PP.
"Dodol,bego lu pake lepas masker!",emosi ku aku lampiaskan kepada Daniel temanku.
"Eeh kenapa jadi nyalahin gua?", jawab Daniel merasa tidak bersalah.
Padahal jelas-jelas semua ini terjadi karena kelakuan Daniel.
flashback on.
"Bra,ayo anterin gua beli buku sebentar!" tiba-tiba Daniel sudah ada di kamarku.
"Aiish,lu neeh,kenapa mesti gua sih,kan ada Dave,ada Rizky,ada Oniel?",jawabku malas-malasan.
"Mereka kaga bisa bro,gua udah tanya tadi, katanya cuma elu yang kaga ada acara keluar rumah hari ini!",jawab Daniel.
"Ckckck.... lu ini,gak bisa banget apa liat orang lagi rebahan?",aku sedikit kesal.
"Come on....?",kata Daniel sambil monyong,dia kesal juga karena aku menolak ajakan nya.
"Baiklah kalo lu maksa,tapi pulangnya kita mampir ke MacDi yang ada di jalan Pemuda itu ya ya ya..?",jawabku bernegosiasi.
"Aish dasar lu karung bergigi,tukang makan!",jawab Daniel bersungut-sungut.
"Deal or not deal?",kataku lagi.
"Iya iya...bawel lu!",sahut Daniel sambil menyeret tanganku keluar kamar.
"Eeeh sabar napa Niel,gua belom pamit nyokap dodol!",kataku sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Daniel.
"Lah nyokap lu di mana,rumah lu sepi gak ada siapa-siapa,dari tadi gua ketok pintu gak ada yang bukain, makanya gua langsung masuk kamar lu!",kata Daniel.
"Mama di kamar sama adek-adek gua,mereka tidur siang,dah lu tunggu di luar,gua pamit nyokap sekalian ambil helm di belakang!", kataku sambil meninggalkan Daniel di ruang tamu.
Pelan-pelan aku masuk kamar mama dan berbisik akan keluar sama Daniel sebentar.
Mama mengijinkan,hanya mengingatkan untuk tidak mengebut di jalan,jangan lupa memakai helm dan yang terpenting adalah masker,karena sekarang sedang musim virus.
Aku mengiyakan semua ucapan mama, tujuannya satu, biar cepat keluar rumah karena Daniel sudah menunggu sambil manyun.
'Lu pamit mau kemana sih,lama amat timbang minta ijin keluar sama gua juga...!"kata Daniel bersungut-sungut.
"Aiih,emak-emak biasa lah,kalo di pamitin mesti wejangannya panjang kali lebar, minta ijin beli buku seperti ijin mau berangkat perang tau gak lu!",jawabku sambil naik motor Daniel.
Hari ini kita berboncengan, padahal biasanya menggunakan motor masing-masing,
Aku sedang malas keluar rumah sebetulnya,kalau bukan karena terbayang hamburger sama kentang goreng di Macdonald,aku memilih untuk rebahan sambil main game kesukaanku saja di kamar.
Sepuluh menit kami sampai di pusat kota, menuju toko buku langganan kami.
Tidak sampai satu jam kami sudah keluar toko buku dan mendapatkan buku yang Daniel inginkan.
Daniel menepati janjinya, sebelum pulang kami mampir dulu ke macdonald,dia memesankan makanan favorit ku.
Kami menikmati makanan sambil mengobrol santai.
Aku dan Daniel berteman dari kecil,kami beda perumahan,tapi jarak rumah kami hanya sekitar 2 km.
Dari TK sampai sekarang kami selalu satu sekolah.
Kami pernah menjaga jarak sebetulnya beberapa bulan yang lalu.
Tepatnya aku yang menjaga jarak dari Daniel, berusaha untuk tidak bertemu berdua saja.
Hal ini aku lakukan bukan tanpa alasan.
Aku hanya tidak habis pikir saja kenapa Daniel selalu mengutamakan aku di bandingkan teman yang lain,bagi Daniel, apapun itu harus buat aku dulu,baru dia setelah aku dan teman-teman yang lain selalu dia abaikan.
Situasi ini tentu disadari teman-temanku yang lain.
Hingga suatu hari tanpa sengaja aku melihat muka Daniel memerah hanya karena melihatku keluar dari kamar mandi memakai handuk saja.
"Eeh sejak kapan lu di situ dodol?", tanyaku pada Daniel yang masih bengong menatapku.
"Hahahaha, kenapa grogi begitu dodol,kita kan sama-sama cowok,ngapain lu seperti melihat cewek gak pake baju aja!",aku tertawa geli melihat reaksi Daniel yang mukanya merah karena malu.
"Ooh bukan begitu,hanya saja.... ah sudahlah cepat pake baju lu!",jawab Daniel sambil membuang muka.
Ini aneh sekali.
Akhirnya aku berpakaian dan menyuruh Daniel menunggu di teras rumah.
Aku lupakan peristiwa hari itu.
Satu kejadian aneh lagi pas kami nge-game bersama.
Kami main hanya berdua karena teman yang lain main dari rumah masing-masing.
"Bra numpang ke kamar mandi ya!"kata Daniel sambil meletakkan HP nya di atas meja.
"Hemm..!"aku hanya berhem ria karena sedang asik dengan permainanku.
Kami memang sedang game bareng, sehingga HP kalo bisa tidak terlalu lama di tinggal atau kita akan kalah.
Sepertinya terburu-buru Daniel berlari dari kamar mandi sampai tidak melihat ada kucing sedang rebahan di lantai.
Bruugh gubraaaak...
Karena menghindari kucing yang menjerit histeris setelah ekornya keinjak Daniel.
"Weeeeoooooow ....!",kucingku melolong panjang, Daniel pun sontak melompat menghindari meskipun sudah terlanjur menginjak ekornya.
Mereka berdua sama-sama kaget, kucingku dan Daniel.
Akupun jadi ikutan kaget karena Daniel melompat menabrak meja dan berakhir menabrakku.... Daniel menabrak mukaku.
Ponselku terpental entah kemana,hidung ku serasa patah dah reaksi Daniel yang membuat ku ingin memukul kepalanya.
Bluush muka merah seperti biasa dan terus menatap ku tanpa berkedip sementara posisi nya benar-benar ambigu bagi yang melihatnya.
Aku mendorong Daniel menjauhi ku,sambil ku usap hidungku.
"Heh dodol, kucing segede itu kaga lu liat apa,lu main injek aja!", omelan ku menyadarkan Daniel.
"Hadooow Ibra,gua kaga sengaja,maaf deh...!",jawabnya sambil meringis mengelus lututnya hasil menabrak meja.
Ada memar di lutut Daniel, kulit nya yang putih itu tidak dapat menyembunyikan luka memar kemerahan di lututnya.
"Heem gitu tuh kalo jalan gak pake mata!",aku masih mengomelinya.
"Terus kenapa muka lu kek kepiting rebus gitu habis nabrak muka gua,lu nabrak gua ya bukan nyium gua!"protesku masih sedikit kesal karena sakit di hidung ku juga karena gara-gara Daniel aku jadi kena headshot,kalah di game.
Entah kenapa mendengar kata-kataku barusan itu semakin membuat Daniel memerah muka nya.
"Eeh Ibraa ... jangan ngomong gitu napa!", sahut Daniel malu.
"Lah bener kan yang gua bilang barusan?",aku masih kesal.
"Eem.. lu tau gak sih kalo gua selalu grogi di saat-saat tertentu ketika gua bersma elu!",jawab Daniel.
"Lah kenapa?",tanyaku gak habis pikir.
"Karena gua suka sama elu Ibraaaa...!", jawaban Daniel membuat ku melongo.
"hah?!!", aku kehabisan kata-kata.
#############################
Hehehehe tunggu ch berikutnya ya
.. selamat membaca.
Maaf typo bertebaran.
Jangan lupa like dan komen nya.
🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻