My Sisters & Me

My Sisters & Me
ch 22 adek bar-bar



Kejadian Ica mencuci hape membuat aku harus ekstra hati-hati menjaga Ica dan Ianna.


Ica sangat hiperaktif.


Dia tidak bisa diam, selalu ada saja yang dia lakukan kalau lagi merasa kesepian.


Mencuci semua mainan, memotong rambut barbie dan menggangu aku main hape adalah kesukaan Ica.


Saat ini Ica masih berumur tiga tahun dan aku sudah kelas lima sekolah dasar.


Suatu hari datang seseorang menggendong anak balita seumuran Ianna.


dia menanyakan tentang mama.


Rupanya orang tersebut adalah pengasuh di sebuah keluarga.


Ternyata dia ingin mendaftarkan anak-anak majikannya untuk les di rumah bersama mama.


Yang aku tahu ada dua anak perempuan, murid baru mama.


sepertinya baru akan mulai belajar Minggu depan.


Di rumah sudah ada sekitar sepuluh murid yang belajar pada mama,dan mereka rata-rata anak sekolah dasar.


Nissa senang sekali dengan keberadaan murid-murid mama,karena kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan senang mengajak Nissa maupun Ianna bermain bersama.


Bila tiba waktu mengajar dan pekerjaannya mama belum selesai,maka murid mama yang membantu menjaga adek-adekku.


Meskipun terkadang adekku juga jahil sama mereka,dengan ngumpetin alat tulis mereka atau mencoret-coret buku mereka.


Satu yang aku masih kesal dengan Nissa adalah tidak mau memanggil aku dengan sebutan kakak, padahal sekarang sudah tidak cadel lagi.


Nissa lebih menggap aku sebagai teman bermain ketimbang kakaknya.


Ianna biasa memanggilku kakak dan tidak sebar-bar Nissa.


Ianna masih agak kalem dibanding Nissa.


Tetapi tidak ada yang mau mengalah kalau sudah berebut mainan.


Mama hanya bisa geleng-geleng kepala kalau mereka sedang ribut berebutan mainan dan tidak ada yang mau mengalah.


Sudah dipastikan kalau hanya akan berhenti setelah salah satu dari mereka menangis.


Siang ini mama membawa Ianna ke sekolahku untuk kumpulan wali murid di SD tempat aku menimba ilmu.


"Sayang,tolong jaga rumah ya,mama ke sekolah kamu sebentar",kata mama.


"Iya mam,nanti kalau ada murid-murid mama bagaimana?", tanyaku pada mama.


"Bilangin untuk kesini lagi siang atau sore,karena mama tidak meliburkan jadwal les mereka!", jawab mama tegas.


"Eemm ... murid baru,kapan datang mam?",kembali aku bertanya.


"Ooh, mereka mungkin minggu depan baru mulai les",jawab mama datar tanpa ekspresi.


"Kamu jaga Nissa baek-baek, jangan sampai adekmu main jauh- jauh!",pesan mama.


"Iya mam... !",sahutku tanpa melihat mama karena sedang asik bermain hape.


"Ibra sayang, dengerin mama.... jangan bikin adek kamu nangis,mengerti?",kata mama.


"Iya mam ... !", sahutku lagi.


"Ya sudah mama berangkat dulu... !",kata mama.


"Yo'i mam, hati-hati di jalan mam....!",jawabku.


Nissa yang sedang asyik bermain tidak begitu memperhatikan ketika mama pergi.


Namun setelah beberapa saat dia menyadari kalau mama tidak kelihatan mulai resah dan bertanya tentang keberadaan mama.


"Ba .... mama mana?", tanya Nissa.


"Mama ke sekolah lagi kumpulan ", aku menjawab tanpa melihat Nissa.


"Ba ... main sama Ica?", pinta Nissa.


"Emmm ... aku lagi game sama teman, Ica maen sendiri dulu ya?",bujukku pada Nissa.


Nissa menganggukkan kepalanya dan berlari ke kamar untuk bermain lagi dengan bonekanya.


***********


Satu jam berlalu, Nissa mulai bosan.


"Ba .... !", Nissa berteriak memanggil namaku.


"Heemm ...?",jawabku sambil terus bermain hape.


"Ba ,tipi kena debu ya?",tanya Nissa,


Aku hanya mengangguk tanpa tahu betul apa maksud pertanyaan Nissa.


"Ica becihin ya'!",kata Nissa lagi.


"Hmm...", kembali aku tidak menghiraukan adekku.


aku tetap asik mainan hape.


Tiba-tiba dia menyeret bangku untuk naik dan sudah siap untuk mencuci televisi kami.


kaget bukan kepalang aku melihat kelakuan adekku yang satu ini.


"Icaaaaa stooop ....!", aku berteriak mengagetkan adekku Nissa.


Kaget dan.menoleh padaku dengan mimik muka yang memelas.


"Apa...?",tanya Nissa tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Aku gemas bukan main.


"Ica,buat apa ember sama lap itu??!", tanyaku dengan suara tinggi.


"Buat cuci tipi Bibaaaa,iiiish ... Biba tadi bilang iya,boleh belcihin tipi!",jawab Nissa tak kalah kencangnya.


Suara Nissa menandakan dia juga emosi.


"Kapan kakak bilang kalau Ica boleh cuci tipi ,kapan??!",tanyaku dengan sedikit geram.


Entah apa yang akan terjadi jika televisi kami di cuci Nissa,pasti nasibnya akan sama dengan hape pemberian Oom Nando.


the end alias tamat tidak tertolong lagi.


Dan ujung-ujungnya aku lagi di salahin sama mama.


"Biba main hape mulu,tadi Ica sudah tanya Biba ...hiks .. hiks ... !", Ica mulai terisak-isak.


Waduuuuh malah mewek,bisa kena omel mama.


"Aiiish ... memang kamu tadi sudah tanya kakak?",tanyaku sedikit melunak.


Nissa mengangguk cepat.


aku berfikir sejenak, adekku tidak mungkin berbohong,ini pasti karena aku asik bermain ponsel sehingga tidak terlalu fokus dengan pertanyaan Nissa.


Yang aku ingat,tadi Nissa bertanya tentang televisi kami yang berdebu,dan aku mengabaikan pertanyaan yang lain.


Aku benar-benar merasa bersalah.


Kenapa aku tidak pandai menjaga adekku.


untungnya cepat ketahuan, sehingga tragedi Nissa mencuci hape tidak terulang lagi dengan mencuci televisi kami.


**********


Hari ini mama menyuruh seseorang mengecat pagar rumah kami.


"Ibra,nanti tolong bantu Pak As mengecat pagar rumah ya?", kata mama.


"koq aku sih mam?", tanyaku protes.


Aku pasti tidak akan bisa main game kesukaanku kalau harus membantu Pak As hari ini.


Tetapi aku juga tidak berani terang-terangan menolak, karena mama pasti akan marah jika aku membantah.


"Iya kamu lah sayang, bantu mengawasi saja, karena mama ada jadwal mengajar besok, kalau tukang catnya perlu sesuatu, kamu kan bisa mengambilkannya!",jawab mama.


"Ya udah kalau cuma membantu seperti itu aku bisa,aku kira harus bantu mengecat mam",kataku kemudian.


Mama cuma tersenyum tanpa menjawab.


Akhirnya tukang cat itu selesai dengan pekerjaannya.


Aku tidak dimintai bantuan apapun olehnya.


Mungkin dia tahu kalau aku tidak akan bisa membantu apa-apa.


Setelah selesai dengan pekerjaannya,dia pamit pulang,dan mama langsung membayar ongkos mengecatnya.


Singkat cerita, aku sedang diruang tamu duduk sambil bermain hape seperti biasanya, tiba-tiba mama bertanya,"Ibra,apa sisa catnya tadi sudah kamu bereskan,kalau belum, sekarang ambil dan simpan di gudang!".


"Iya mam!", jawabku.


Tetapi aku tidak beranjak juga.


Aku pikir,tidak mengapa jika nanti saja membereskannya.


Aku akan selesaikan dahulu main game online,karena sedang seru.


"Sayaaaang... kamu ini kalau mama ngomong tidak segera dikerjakan ya?", kata mama sedikit kesal.


"Iya mam, bentar lagi,ini tanggung dikit lagi menang!", jawabku dengan serius.


"Ya sudah terserah kamu,tapi jangan lupa untuk dirapikan ya?", pinta mama.


"Beres mam,ntar pasti rapi!",jawabku meyakinkan mama.


Akhirnya mama melanjutkan pekerjaannya,dan aku melanjutkan main game ku.


***********************************


Alhamdulillah selesai.


Bantu like,rate,komennya ya sahabat readers semua.


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏.