My Sisters & Me

My Sisters & Me
ch 15 berpisah untuk bertemu



satu bulan setelah kelulusan Ryan.


Rifana sudah satu Minggu tidak bertemu Ryan.


bagaimanapun Ryan adalah pacarnya,wajar jika Rifana merasa kesepian ketika kini Ryan tidak lagi datang ke rumahnya.


Rifana tidak pernah tau jika Ryan sudah berangkat ke Jawa untuk bekerja.


"lu dimna seh ... seminggu kaga nongol,gua kangen juga ternyata", Rifana berbicara dengan hatinya.


yang ada di kepalanya hanya ada Ryan dan Ryan.


Rifana menunggu kabar yang tidak kunjung tiba.


"kak Rifa,ada telfon dari Jawaaaa!", teriak Nia dari rumahnya.


hah Jawa?? siapa ya??


orang tua kandung Rifana memang tinggal di Jawa, dan seminggu sekali selalu menelpon untuk menanyakan kabarnya dan kuliahnya.


tapi baru kemaren sore ibunya menelpon,masa iya sudah nelpon lagi, jangan-jangan ada sesuatu dengan ibunya...


Rifana tersentak dari lamunannya,bergegas lari menuju rumah ibu kostnya.


"dari teman kakak yang di Jawa katanya", kata Nia sambil menyodorkan gagang telpon untuk Rifana.


" hah,teman, cowok apa cewek teh?", tanya Rifana penasaran.


" cowok kak", jawab Nia singkat.


" halo, assalamualaikum, siapa ya?", tanya Rifana tidak sabar ingin segera tau siapa cowok yang sedang menelponnya.


"halo,bisa bicara dengan Rifana?" jawab seseorang di ujung telpon dengan logat asing.


"iya,ini Rifana, Anda siapa?", jawab Rifana sambil bertanya sopan karena merasa tidak kenal suaranya.


"aaaiiih...pacar sendiripun kau tak ingat??", jawab seseorang tersebut terdengar agak jahil.


"haduh, jangan bercanda,ini siapa?", Rifana kembali bertanya.


"janganlah marah-marah,nanti kau tak cantek lagi!", jawaban yang masih sama,hanya ingin memancing emosi Rifana.


"haissssh,ya sudahlah kalo tak mau bicara,saya masih banyak pekerjaan, wassalam!", jawab Rifana ketus sambil meletakkan gagang telpon ke posisi semula.


baru saja mau melangkah pergi terdengar lagi telpon berdering,


kriiiiiing...kriiiiiing....kriiiiiing.....


"kak Rifa,tolong di angkatin!',teriak Nia dari dalam kamarnya.


"iya teh", jawab Rifana.


Rifana mengambil nafas dalam-dalam sebelum berbicara di telepon.


"halo, assalamualaikum... ", Rifana menyapa terlebih dahulu.


"wa'alaikum salam,bisa bicara dengan Rifana?', jawab seseorang yang terdengar tidak asing ditelinga Rifana.


"ya,saya sendiri... ", jawab Rifana datar.


"ya ampuuuuuuun sayang,lu gk kangen gua?", tanya seseorang dengan suara terdengar sedih.


"eeeh ooh.... lah.. lu kenapa tidak datang ke rumah, gua kangenlah",jawab Rifana setelah tau kalau Ryan yang telah menelponnya.


"sayang.... gua gak bisa ke rumah lu,gua sudah mulai kerja di Jawa!", jawab Ryan bangga.


hal berbeda di rasakan Rifana.


"hah.. Jawa... ngapain kerja jauh-jauh?', tanya Rifana dengan nada kecewa.


"aiiish bukannya lu asli Jawa ya sayang?",jawab Ryan santai.


"iya juga sih, gua juga akan kembali ke jawa setelah kelar belajar di sini" jawab Rifana.


" gua tau,makanya gua terima ketika teman nawarin kerjaan di Jawa, pokoknya selesai lu kuliah,kita menikah!", kata Ryan penuh penekanan dan keyakinan.


"eeeh jangan gitu lah,beri kesempatan gua untuk kerja dulu setelah wisuda,plisss!",pinta Rifana.


"kaga, gua gak sanggup terlalu lama nunggin elu!", jawab Ryan.


"kalo lu mau,bulan depan juga gua mau nikahin lu,sayang!",kata Ryan lagi berusaha meyakinkan Rifana.


"aiih...kaga, tunggu sampai gua kelar wisuda napa sih,gak sabaran amat ya jadi orang!", kata Rifana lagi.


"gua gak sanggup lagi sayang.... !", suara Ryan terdengar menyedihkan.


" hemm,gua cuma gak ingin jagain jodoh orang terlalu lama!" jawab Ryan.


"aiih, sayaaang.... jangan ngomong gitulah!", jawab Rifana terdengar tidak suka.


"lah sejujurnya itu yang gua takutkan,gw kadung nungguin elu, ternyata elunya nikah sama orang lain",jawab Ryan.


"percaya saja jodoh gak akan kemana, yang penting setia dan saling percaya, selesai study gua di sini gua pasti kembali ke Jawa", Rifana berjanji dan menenangkan Ryan.


"okelah kalo begitu,gua akan setia menunggu di Jawa,baek-baek lu di situ ya, jangan nakal....bye sayang, love you!", Ryan menutup teleponnya.


"bye,love you too", jawab Rifana sambil meletakkan gagang telepon pada tempatnya.


ada yang hilang dari dalam hatinya, Rifana merasakan kesepian yang tidak biasa.


"apakah dia jodoh gua..?", Rifana bertanya pada diri sendiri.


*******


satu tahun telah berlalu.


*kota M


"Fa,kamu sudah selesai kuliahnya, rencananya mau bagaimana?", tanya ibu Rifana ketika mereka sedang duduk santai di ruang keluarga rumahnya.


"rencana sih kerja Bu,ada tawaran temen untuk membantu usahanya di Jogja", jawab Rifana datar.


"ooh,ya sudah terserah kamu, karena semua ini kamu yang menjalani", kata ibu Rifana lagi.


ting.... tong.... ting.... tong....


suara bel rumah berbunyi.


Rifana bergegas membuka pintu tanpa di suruh ibunya.


terpaku Rifana berdiri di depan pintu.


"hah... koq elu sampai sini?", Rifana membuka mulutnya ternganga karena tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya.


"hai sayang...kaget ya'?",tanyanya sambil tersenyum manis,ada tatapan kerinduan yang dalam.


"ah...eh ...oh... ii ii iiya.... sangat kaget!", jawab Rifana gelagapan.


gemas Ryan di buatnya,karena lagi-lagi Ryan melihat pemandangan yang membuatnya ingin segera memeluk dan mencium bibir Rifana yang sedikit terbuka karena masih tidak percaya dengan sosok laki-laki dewasa di depannya.


Ryan banyak berubah, badannya kelihatan kekar berisi,kumis tipis menambah penampilan yang lebih dewasa.


umur Ryan 19 tahun sekarang.


penampilannya menunjukkan sosok laki-laki dewasa yang pantas untuk duduk berdampingan dengan Rifana yang berusia 23 tahun.


"aiih sayang... kenapa memandangiku seperti itu, terpesona ya?", tanya Ryan sambil mengedipkan mata menggoda Rifana.


"iish.. kau ini, masih saja menggodaku!",kata Rifana tersipu malu,mukanya merona merah,makin membuat Ryan gemas.


tiba-tiba terdengar suara ibu Rifana dari dalam,"Fa, temannya disuruh masuk!"


"iya Bu...!",Jawab Rifana singkat.


"ayo masuk, duduk di dalam!", ajak Rifana, yang diikuti Ryan berjalan masuk dan duduk di ruang tamu.


"ibu,ini Ryan, teman aku waktu aku sekolah di sana", kata Rifana memperkenalkan Ryan pada ibunya.


"halo Tante,saya Ryan, pacar Rifana",kata Ryan sambil mengulurkan tangannya.


Rifana melotot ke arah Ryan pertanda protes,dia tidak suka Ryan memperkenalkan diri sebagai pacarnya pada ibunya.


karena selama ini Rifana tidak pernah bercerita sedikitpun tentang teman laki-lakinya.


"eeh... koq Rifa tidak pernah bercerita ya?", tanya ibu Rifana sambil menyambut uluran tangan Ryan.


"iya Tante, sebelumnya saya minta maaf karena baru sempat kesini hari ini, padahal saya kerja di Jogja loh Tan, soalnya setiap mau main kesini tidak pernah di bolehkah sama dia", kata Ryan sambil menunjukkan dengan dagunya ke arah Rifana yang sedang duduk di sebelahnya.


"begitukah?",tanya ibu Rifana pada Rifana.


"emm,ya kan di sini gak ada siapa-siapa Bu,"Rifana beralasan.


"ya sudah, ibu masuk dulu ya, Fa, temannya buatin minum", kata ibu Rifana sambil melangkah masuk ke kamarnya dan meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


**********************************


Alhamdulillah selesai juga.


jangan lupa like komen rate ya.