
Mama selalu menasehati aku untuk menjaga adekku.
Tentu saja aku mengiyakan, meskipun ini berat,karena adekku cewek tapi bukan anak yang kalem dan lemah lembut.
Adekku bar-bar senang bikin rusuh.
Aku sebagai kakak terkadang kesal juga.
Hampir tiap hari ada pengaduan dari teman mainnya, menyampaikan kalau Ica nya nakal .
Astaga,adek siapa sih ini.....
(adek gua dudul).
"Ibra, jaga adek ya sayang,mama mau keluar sebentar!",kata mama.
"Hooh mam... mau kemana lagi sih?", tanyaku malas, aku benar-benar malas harus menjaga Nissa lagi.
"Mama ada urusan sebentar, jaga rumah, jaga adek, oke?", kata mama membujukku.
"Huh... bakal gak bisa mabar nih!", kataku pada diri sendiri.
Mama sudah berangkat meninggalkan aku dan Nissa berdua saja di rumah.
Dalam hati aku berdoa semoga adekku tidak berulah lagi kali ini.
***********
Aku melihat adekku asik bermain dengan kucing-kucing kami.
Kebetulan teman mainku datang mengajak bermain bersama.
Aku mengiyakan asal bermainnya di rumah saja, karena aku sambil menjaga adekku sekaligus menjaga rumah kalau ada tamu.
Teman-temanku membuat aku melupakan adekku Nissa.
"Uuh bau cat!", kata temanku.
"Ya iyalah bau,kan baru kemaren itu pagar rumah di cat!", kataku menjelaskan.
"Eeeh ... tapi bau banget loh, seperti ada cat yang tumpah!", kata temanku sambil mengendus-endus bau.
Dan sejujurnya aku juga mencium bau cat yang sangat menyengat hidung.
Tiba-tiba aku ingat adekku Nissa.
"Waduuh,mati gua!", kataku sambil menepok jidat.
"Kenapa lu?", tanya temanku.
Aku tidak menghiraukan lagi teman ku,karena fikiranku fokus ingin menemukan adekku.
Aku curiga Nissa yang menumpahkan cat di gudang.
Pantesan Nissa tidak ngerecokin aku dan temanku bermain.
Aku tergesa-gesa berlari ke gudang untuk menemukan Nissa.
"Adeeeek.... aaaiiih, kamu yaa'!"aku berteriak dan Nissa kaget seketika.
"Apa Bibaaa... ?", tanya Nissa.
Pemandangan yang sangat mengenaskan.
Aku ingin tertawa tapi takut berdosa.
Aku melihat kucingku yang bernama Inah sedang tidur manis tanpa terganggu sedikitpun, sedangkan Nissa tengah mengecat bulunya menggunakan cat tembok sisa cat kemaren.
Kucing itu diam saja tanpa tau apa akibat dari cat yang menempel pada bulu-bulunya.
"Apa yang sedang kamu lakukan Ica?", tanyaku ingin tahu apa alasan Nissa mengecat bulu kucing kami.
"Biba ndak liat,Inah gak ada warna, Inah gak cantik bulunya hitam, Ica kasih warna biru biar cantik!",jawabnya polos dan menggemaskan.
"Biar cantik pala lu peyang,ntar Inah mati bagaimana,cat itu buat rumah,bukan buat yang lain-lain,ngerti enggak?", tanyaku dengan suara tinggi.
"Hiks hiks hiks... Biba jangan marah!",kata Nissa sambil mewek.
"Ya marahlah, orang kamu bandel!", kataku.
Aku biarkan si Nissa menangis.
Aku dan temanku sibuk mencari solusi bagaimana membersihkan cat yang menempel di bulu kucing kami.
"Bra,lu ada minyak tanah kaga, kalo ada ,kita gunakan minyak tanah aja!", usul temanku.
"Minyak tanah gak ada, minyak goreng yang banyak,!", jawabku sambil nyengir.
"Hoh... sekalian siapin tepung, kita bikin fried cat!", jawab temanku.
"Wekekekek.... !",kami tertawa bersama.
"Eeh seriusan, sepertinya kita harus menggunting bulu yang sudah terlanjur terkena cat, kebetulan kan masih sedikit itu yang kena cat!", usul temanku.
Akhirnya aku menggunting bulu kucing kami.
Yang aneh bagiku dan teman-temanku adalah kenapa kucing kami tidak kabur waktu Nissa mengecat bulunya.
Aku dan keluargaku pecinta kucing, biasa'nya aku akan merawat kucing -kucing yang terlantar karena dibuang pemiliknya.
Saat ini aku punya empat ekor kucing.
Bahkan tiap-tiap Nissa tidur, selalu di kelilingi kucing kami.
"Bra... kucing lu dikasih apa sama adek lu koq bisa nurut gitu ya?", tanya temanku penasaran.
"Lah kaga tau gua... !", jawabku singkat.
Karena sejujurnya aku memang tidak pernah tahu ada apa dengan kucing kami, kenapa mereka bisa lengket sama Nissa.
***********
Mama terkejut sewaktu mengetahui apa yang sudah Nissa lakukan terhadap kucing kami.
Mama tidak marah,hanya menasehati saja.
"Ica sayang,lain kali tidak boleh ya memberikan warna apapun pada kucing, karena mereka sudah punya warna sendiri, mengerti?",tanya mama dengan lembut.
Ica mengangguk tanda mengerti.
Tiba-tiba ada tamu datang.
Ooh rupanya orang yang kemaren mengantar anak kecil yang ingin les sama mama.
Namun kali ini dia datang bersama dua anak berseragam SD.
Sepertinya mereka kakak beradik.
"Silahkan masuk,mari duduk di sini!", kata mama ramah menyambut murid baru nya.
"Iya, terimakasih Tante!",jawab mereka malu-malu.
"mBak boleh menunggu di luar atau mau di tinggal pulang dulu nanti jemput lagi setelah selesai?", tanyaku pada pengasuh anak anak itu.
"Biar saya menunggu saja!", jawabnya ramah.
Diam-diam aku memperhatikan kedua anak perempuan itu.
Cantik-cantik, batinku dalam hati.
"Ayok perkenalkan diri masing-masing, biar Tante tahu namanya siapa dan kelas berapa!"mama memerintahkan pada keduanya untuk memperkenalkan diri.
"Nama saya,Nayla, panggil saja saya Nay,saya kelas empat",kata anak yang kelihatannya lebih tua.
"Oke Nay, semoga betah belajar sama Tante ya?,"kata mama ramah.
"Yang ini adek nya Nay ya',ayok kenalan juga sayang!"kata mama menyemangati.
Malu-malu akhirnya adiknya Nay memperkenalkan diri juga.
"Nama Khanza, panggil saya Caca,saya kelas dua!"jawab Caca lebih tegas dari kakak nya.
"Oke,Nay dan Caca,apa kalian mau mulai berlajar hari ini atau besok saja?", tanya mama lagi.
"Mulai sekarang juga tidak apa-apa Tante, kebetulan kami berdua ada PR!",jawab Nayla.
"Baik, kalau begitu kalian bisa siapkan bukunya, Tante tinggal masuk sebentar ya?",kata mama dengan ramah.
Aseeek ... kesempatan.
Aku menghampiri mereka berdua.
"Eeh murid baru ya?", tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Iya kak!", jawab mereka bersamaan.
"Kenalin,namaku Ibrahim, panggil aku Ibra!",kataku memperkenalkan diri.
"Kakak kelas berapa?",tanya Nay.
"Kelas enam", jawabku datar.
Kami sempat ngobrol dan bertukar nomor hape sebelum mama datang dan memarahi aku.
"Ibra... tolong jangan ganggu murid mama!",kata mama.
"Engga ganggu mam, cuma menemani saja!",jawabku membela diri.
"Ahh kamu nih paling bisa jawab!",kata mama sambil mengibaskan tangannya memberi tanda supaya aku menjauhi murid baru mama.
"Diiih mam niih... ,aku cuma pengen kenal pun, masak gak boleh?",jawabku membela diri.
"Hmm kalian masih Sekolah Dasar,jangan ganjen!",kata mama sedikit sewot.
Akhirnya aku mengalah,aku masuk kamar bermain ponsel. Menunggu mama selesai mengajar,aku menjaga Ianna dan Nissa bermain.
Aku ingin mama cepat selesai mengajar, karena aku ingin bisa mengirim pesan pada Nay.
Ada perasaan nyaman mengobrol dengan Nay.
Aku tidak tahu namanya,tapi aku merasa bahagia bisa melihat senyumannya.
***********************************
Alhamdulillah selesai ch 23.
Semoga bisa di maklumi apabila masih ada kesalahan di sana sini.
Terima kasih buat kalian yang sudah mendukung karya ku.
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏