
hari demi hari dilewati Rifana seperti biasa,belajar di kampus,ngajar private temannya,ngajar Ryan juga.
tidak terasa telah 2 tahun berlalu.
Ryan telah kelas 3 SMA, Rifana pun telah tingkat tiga,waktu kebersamaan mereka semakin sering, ketika sebentar lagi Ryan akan menghadapi ujian nasional.
hampir setiap hari Ryan belajar bersama Rifana. bulan depan adalah pelaksanaan ujian.
saat ini hampir tiap hari Ryan datang ke kost an Rifana untuk belajar dan mengejar materi yang tertinggal.
Ryan selalu semangat setiap kali datang ketempat kost Rifana.
Rifana juga selalu menunggu kedatangan Ryan setiap harinya.
mereka ada persamaan rasa meskipun tidak terungkapkan.
semangat untuk belajar dan semangat untuk mengajar.
Ryan selalu datang selepas Maghrib setiap harinya, kecuali hari Minggu, Ryan akan belajar dari jam 1 siang hari.
hari ini Sabtu malam Minggu.
biasanya Ryan akan datang selepas Maghrib.
tapi saat ini sudah jam 8 malam dan Ryan belum datang.
biasanya Ryan akan menelfon ibu kost untuk mengabarkan perihal keterlambatan nya.
(tahun 2000 an baru sedikit yang memegang HP gaes, umumnya orang akan memanfaatkan telfon umum, yang biasa di sebut dengan wartel)
namun hari ini Ryan tidak memberi kabar apapun,dan ada perasaan yang beda di hati Rifana,rasa cemas dan ketakutan yang tidak jelas.
"hadeeeh,kmana lah nih bocah,jam delapan blom nongol juga",batin Rifana.
tiba-tiba suara teh Nia anak pemilik kost memanggil Rifana.
"kak Rifa,ada telpon nih!", teriaknya dari pintu dapur.
"iya teh, bentar...!",jawab Rifana sambil menutup pintu kamarnya.
"dari siapa teh Nia?",tanya Rifana sambil menghampiri meja telepon.
"gak tau kak, cuma bilang,dari teman kakak,emmm suaranya sih seperti yang biasanya itu",jawab Nia.
tiba-tiba jantung Rifana berdegup kencang,dag dig dug seperti ada perasaan aneh antara senang dan khawatir terjadi apa-apa pada Ryan.
entah mengapa fikiran dan perasaan Rifana langsung tertuju pada Ryan.
dengan pelan-pelan telpon diangkat nya.
"halo..,",sapa Rifana pelan.
sementara seseorang di ujung telepon sebelah sana sedang tersenyum mendengar suaranya.
tidak terdengar ada jawaban.
"halo,...ini siapa ya?", tanya Rifana pelan dan masih belom ada jawaban juga.
"teh Nia,lagi bercanda ya,ini loh gak ada siapa-siapa!",kata Rifana sambil menyodorkan gagang telepon pada Nia.
"eeh,tadi ada kak, seriusan, coba siniin!",jawab Nia sambil meraih telepon dari tangan Rifana.
"halo,hai...halo!", Nia setengah berteriak di telepon.
"halo teh!"jawab Ryan.
"lah,masih ada,kenapa diam saja?" kata Nia.
"maaf teh,saya sengaja,cuma ingin menggoda kak Rifa aja kok!"jawab Ryan spontan.
tanpa menjawab lagi, Nia langsung mengulurkan telponnya pada Rifana.
"haissssh,lu nih mainin gua ya!", kata Rifana seolah-olah marah pada Ryan.
"enggak kok, siapa yang mainin elu?",jawab Ryan di ujung telpon.
ada ekspresi bahagia di muka keduanya meskipun mereka tidak saling berjumpa.
"kenapa gak datang,ini sudah jam berapa?", tanya Rifana pada Ryan.
"eeeem nungguin ya kak?", jawab Ryan sambil nyengir di ujung telpon.
"eh eng eng gak lah...!",jawab Rifana yang gugup tiba-tiba.
"haissssh gak bisa ngelak lu kak!",ledek Ryan.
"hayoo, nungguin gua kan,bilang aja kalo kangen!", Ryan masih menggoda Rifana.
"eeh jangan marahlah,ntar cantiknya hilang,ya sudah kalo gak kangen, dadaaagh!",kata Ryan mengakhiri telponnya.
"lah,...kok di tutup?",kata Rifana sambil menatap gagang telpon yg tinggal ada bunyi nuut... nuut.. nuut... tanda sudah tidak ada kehidupan di ujung sebelah sana.
Rifana kembali ke kamarnya,sambil terus memikirkan Ryan.
kenapa tiba-tiba merasa aneh ketika sosoknya tidak muncul di hadapannya.
waktu sudah hampir pukul 9 malam, Rifana sudah akan beranjak tidur dan akan mengunci kamarnya.
ketika tiba-tiba di kagetkan oleh panggilan seseorang yang sangat dia kenal.
"aiih baru jam 9 ini,besok kan libur,kenapa dah buru-buru mau di kunci, biasanya juga jam 11 malam baru tidur!" katanya.
spontan Rifana melihat Ryan yang sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum.
"lah,koq sudah sampai sini aja,kirain telpon dari rumah!" kata Rifana.
"hehehe,gua telpon dari wartel di ujung jalan sono!", jawab Ryan menjelaskan.
"aelaah, kurang kerjaan banget sih lu!",jawab Rifana sambil mencubit lengan Ryan.
"haduuuuh...jangan nyubitlah sakiit tau!", kata Ryan sambil mengusap lengannya yang sedikit merah karena cubitan Rifana.
"makanya jadi orang jangan suka iseng,weeeek!",jawab Rifana sambil menjulurkan lidahnya.
Ryan tersenyum senang,dia tahu Rifana merindukannya.
Rifana juga senang,karena memang beberapa jam ini pikirannya di penuhi pertanyaan akan sosok Ryan ini.
"ya udah,duduk dulu geh,gua ambil baju hangat dulu,kita duduk di teras aja!",kata Rifana sambil masuk dan mengambil jaketnya.
Ryan duduk di teras, sementara Rifana juga sudah keluar lagi dengan mengenakan jaket dan celana panjang sport.
mereka duduk bersebelahan di teras depan kamar Rifana.
ntah suasana malam yang dingin atau memang perasaan keduanya yang mulai terhubung, tiba-tiba mereka duduk semakin rapat, tanpa di ketahui siapa yang mendekat terlebih dahulu.
suasana dingin tiba-tiba menyelimuti keduanya.
hati Rifana tiba-tiba merasa aneh,ada rasa bahagia yang tidak bisa di jelaskan ketika tiba-tiba tangan Ryan menggenggam tangan Rifana.
"dingin ya kak...!",kata Ryan memecah kesunyian.
"iya...", jawab Rifana pendek.
Ryan terus mengusap usap lembut tangan Rifana,dan Rifana menikmatinya.
ntah siapa yang mendahului tiba-tiba jari tangan Ryan mengusap pipi lembut Rifana.
Rifana memegang lengan Ryan.
mereka telah duduk berhadapan
"kak....",kata Ryan tanpa melepaskan belaian jari tangannya di pipi Rifana, Ryan menikmati kulit lembut pipi Rifana.
"hmmm...",jawab Rifana pelan.
"bolehkah....?",tanya Ryan menggantung.
namun Rifana tidak peduli dengan kata lanjutannya.
Rifana mengangguk saja, padahal belum tahu apa yang di minta Ryan darinya.
tanpa menunggu lama, Ryan mengangkat dagu Rifana dan memperhatikan dengan tajam bibir Rifana yang sedikit terbuka.
Rifana memejamkan matanya ketika pelan-pelan Ryan mencium bibirnya. sepertinya hawa dingin mendukung suasana malam itu.
Rifana membiarkan tangan Ryan turun membelai lehernya yang tertutup rambut sebahunya.
Ryan terus menciumi bibir Rifana dan semakin panas ciumannya.
darah Rifana berdesir merasakan ciuman panas Ryan.
Rifana tak kuasa menolak setiap gerakan tangan Ryan yang ntah sudah sampai dimana.
Rifana hanya menikmati saja setiap sensasi rasa unik yang Ryan ciptakan dengan sentuhan tangannya dan juga permainan lidahnya yang benar-benar memabukkan Rifana.
**********************************
hadeh selesai juga.
maaf ya pembaca yang Budiman,jika ada kekacauan dalam tulisan disana sini.
maklum, masih belajar.