
"Eeh ...!",aku tidak tau harus berkata apa.
Otak ku seketika blank mendengar kata-kata Daniel yang di ucapkan dengan terus terang barusan.
"What's??!!",aku bertanya pada Daniel.
"Iya,gua suka elu Ibra, dari dulu,lu tau itu!",jawab Daniel setengah berteriak.
"Suka.... maksud lu..?",aku masih belum mengerti, sehingga aku angkat dua jariku memberi kode "suka",dalam arti yang lain.
Daniel tidak menjawab pertanyaan ku,tetapi langsung mengambil HP nya dari atas meja dan pergi entah kemana.
Aku masih duduk memikirkan perkataan Daniel,dia suka sama aku dari dulu,aku rasa wajar dia suka aku karena kami memang berteman dari kecil, sepertinya kami cocok bermain apapun,karena Daniel selalu mengalah dan cenderung melindungi aku.
Semua di luar nalarku ketika Daniel menyukai aku dalam arti yang lain.
Dia tau aku mempunyai seseorang yang penting dalam hidupku.
Dia tau aku cowok normal,akupun berfikir Daniel normal juga,dia cowok yang populer di sekolah kami.
Banyak cewek yang ingin menjadi pacarnya.
Aku tidak habis pikir,sejak kapan Daniel punya perasaan sama aku,karena selama ini hubungan kami baik-baik saja.
Apa aku yang tidak peka?
Bagaimana aku harus merespon semua ini?
Daniel teman kecil ku,kami sudah berteman lebih dari tujuh tahun.
Sungguh sangat disayangkan jika persahabatan kami harus berakhir karena hal konyol seperti ini.
Satu yang pasti,aku normal dan tidak ingin membiarkan Daniel salah mengartikan kebaikan dan perhatian yang aku berikan,karena itu murni hanya perhatian seorang teman atau sahabat,tidak lebih.
Sejak saat itu aku berusaha menghindar dari Daniel,aku merasa tidak enak sendiri.
Setiap Daniel ingin menemui aku maka dengan berbagai alasan aku akan menolak nya.
Daniel mungkin merasakan perubahan sikapku.
Bahkan teman-teman sepermainan kami mulai bertanya-tanya tentang masalah kami berdua,kenapa kami tidak lagi seakrab dulu.
"Bra,lu di cari Daniel tuh!",kata Dave sambil menunjuk ke arah Daniel dengan dagunya karena melihat Daniel berjalan ke arahku.
"Sorry Dave,gua duluan,mau ketemu Nay sebentar!",jawabku asal supaya bisa meninggalkan tempat tersebut dan tidak harus bertemu dengan Daniel.
Bergegas aku meninggalkan mereka,aku melihat sekilas wajah kecewa di muka Daniel,namun aku tidak peduli.
Hingga suatu hari aku yang memutuskan untuk menemui Daniel,karena bagaimana pun juga persahabatan kami lebih utama.
"Niel... tidak bisakah kita berteman saja seperti dulu?",aku mulai membuka percakapan.
Karena ada kecanggungan di antara kami berdua.
"Tidak adakah kesempatan untukku sekedar dekat sama elu,lebih dekat dari sekedar teman?",Daniel berkata lirih, mungkin khawatir aku akan tersinggung.
Daniel tau selama ini aku menghindari nya karena aku tidak ingin menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman dengan dirinya.
Mati-matian aku memberikan penjelasan bahwa ini salah dan jangan di teruskan,tapi Daniel selalu minta di beri kesempatan.
Bagaimanapun juga itu hal yang tabu dan di larang dalam Agama ku.
Pada akhirnya aku hanya bisa memberikan dua pilihan pada Daniel.
"Kalo lu masih mau berteman sama gua ,masih mau dekat-dekat sama gua,tolong lu buang jauh-jauh pikiran lu untuk jadi someone spesial di hidup gua,tapi, bila lu masih maksa untuk suka sama gua,maka lebih baik lu cari teman bermain yang lain!", aku mengatakan semua itu dengan jelas dan tegas.
"Ibraaa .... gua gak bisa jauh dari elu!",jawab Daniel.
"Kalo begitu, lupain perasaan elu ke gua, anggap seperti biasa, seperti teman yang lain, faham ?", kataku dengan tegas, berharap Daniel akan memahami semua masalah ini.
"Iya,tapi gua sudah terlanjur suka sama elu,tidak bisakah di coba?", Daniel mengajukan penawaran nya.
"Dicoba bagaimana maksud lu heh,lu minta di gibeng apa ya!",aku menjadi agak emosi, karena kata-kata Daniel tersebut.
"Ya dicoba jalani gitu, gua tau lu ada cewek koq, gak masalah,gua cuma ingin dekat sama elu,itu saja!", jawab Daniel seenaknya.
"wuidhiih,gua gibeng juga lu neeh,lu pilih mo gua kirim kemana geh,kutub Utara kutub selatan, segitiga Bermuda, benua Antartika?", kataku mulai kesal.
"Kejam bener lu sama teman sendiri!", kata-kata Daniel penuh nada protes.
"Ah sudahlah, mending lu jauhin gua deh kalo lu masih maksa in perasaan lu juga!",makin emosi aku dibuatnya.
"Ayolah... ?",rengek Daniel membuatku merasa risih.
"Dasar brengsek,dodol, gebleg....lu mau bikin gua belok,heh,enak aja, sepertinya lu mesti di getok pake palu nya Thor ya biar otak lu bisa kaga kacau lagi?",caci maki lolos dari mulutku begitu saja saking kesalnya.
"Aiih, kelurakan terus sumpah serapah lu itu,puas-puasin lu maki gua, yang penting lu jangan jauhin gua lagi, come on man,kita sudah berteman lebih dari tujuh tahun,gua bener-bener merasa seperti jadi virus yang terus lu hindari,iya gua salah,tapi tolong jangan jauhin gua, oke?",kata-kata Daniel disertai wajah memelasnya , membuat aku jadi tidak tega.
"Iya, gua gak jauhin lu,asal lu jangan curi-curi kesempatan sama gua,ngerti kaga lu, gua punya cewek,lu tau itu!",jawabku penuh dengan penekanan.
Aku hanya ingin semua baik-baik saja,kembali seperti sediakala.
Dan Daniel berusaha keras untuk menjadi cowok normal, Daniel itu terlalu keren untuk menjadi cowok belok, sungguh sangat di sayangkan,karena dia menyia-nyiakan cewek cantik di sekitar nya yang rela menunggu ajakan kencan Daniel.
Aku tidak mau turut campur urusan pribadinya, yang aku tau Daniel sudah berusaha,itu saja.
Sehingga kami berteman lagi seperti biasa, seolah-olah aku tidak pernah tau jika Daniel pernah "suka" sama aku.
"Eeh oke, let's go home..!",aku berdiri dan berjalan keluar menuju parkiran diikuti Daniel di belakang ku.
"Dodol... lu mau kemana lagi?",tanyaku pada Daniel.
"Mau beli stiker di pinggir jalan itu!",tunjuk Daniel pada pedagang kaki lima di seberang jalan.
"Ya sudah kita kesana sebentar,motor bawa aja sekalian jalan pulang!",jawabku.
Aku dan Daniel asik memilih-milih stiker,ketika tanpa sadar ada sekelompok orang berseragam satpol PP menghampiri kami berdua.
"Selamat siang adek-adek!",sapa komandan nya kepada kami.
"Eeeh,,ooh,,siang pak!",aku menjawab sedikit gugup.
Ada apalagi ini,karena aku tidak merasa membuat kesalahan, menjadi tidak habis pikir untuk apa mereka menghampiri kami, perasaan ku sungguh sangat tidak nyaman.
Banyak pengguna jalan yang berhenti memperhatikan kami.
Oh God...malunya.
"Apa adek tidak tau prokes ?", komandan nya mengintimidasi kami berdua.
"Tau pak,kami sudah sesuai dengan prokes anjuran dari pemerintah",jawabku .
"Lalu kenapa anda tidak memakai masker?",komandan itu sedikit memperhatikan penampilan kami berdua.
"Saya membawa nya pak!",sahut Daniel sambil mengeluarkan masker dari kantong celananya.
"Ampuuun maaak, dodoooool ....!",aku menggeram karena kesal.
Rupanya Daniel lepas masker dari dalam macdonald tadi dan tidak memakainya lagi sampai saat ini,akupun tidak memahami situasi ini.
Karena aku dibelakang Daniel,aku tidak tau kalau Daniel lah penyebab sekelompok satpol pp itu mendekati dan menginterogasi kami.
"Maaf Bra, hehehe ..gua lupa memakainya lagi!",nyengir Daniel minta maaf tapi tidak merasa bersalah.
Mukaku sudah merah menahan malu jadi tontonan para pejalan kaki dan pengendara motor lainnya.
"Huh.... menyebalkan!",jawabku kesal.
"Sudah-sudah,karena anda melanggar peraturan maka akan kami kenakan sanksi administratif!",Kata komandan satpol PP.
Aku dan Daniel hanya menunduk, sampai pada akhirnya satpol pp itu menyebutkan hukuman buat kami.
"Anda hafalkan Pancasila dengan keras sekarang dan isi data di bawah ini nama serta asal sekolah kalian!!", perintah sang komandan.
Aku gak masalah dengan hafalan Pancasila nya, yang jadi masalah harus mengisi nama dan asal sekolah,itu aib buat ku.
Benar-benar memalukan.
Giliran Daniel menghafal Pancasila,aku dan orang-orang di sekitar Daniel dibuat kaku ketawa karena kegrogian Daniel.
"Pancasila,satu ketuhanan yang maha esa, dua kemanusiaan yang adil dan beradab,tiga persatuan yang beradab,empat kerakyatan yang beradab lima keadilan sosial yang beradab....!", Daniel mengucapkan dalam satu tarikan nafas seperti orang di kejar setan.
Lah... koq beradab semua dodoool.
Grrrrrrr
ngakak semua orang disekitar kami termasuk aku yang sudah memegang perut menahan ketawa dari tadi.
Para satpol pp itu tersenyum ke arah kami,kecuali komandan nya...dia berjalan ke arah Daniel.
Tuk... stik kayu bawaanya memukul helm Daniel.
"Kelas berapa dek?", tanya nya.
"Se ..se sembilan !*, tergagap Daniel menjawab.
"Masak kelas sembilan tidak hafal Pancasila?", komandan itu kembali bertanya,lebih tepat nya meremehkan.
Aku yakin semua ini karena Daniel grogi.
"Maaf pak...!",jawab Daniel sambil menunduk.
"Ya sudah, anda saja,bantu hafalkan Pancasila, setelah itu menyanyikan lagu Indonesia Raya!", tunjuk nya ke arah mukaku.
Wanjiiiir Danieeel .... lu cari mati .umpat ku dalam hati.
Huh gara-gara si dodol brengseeek gak pake masker,gua jadi konser geratisan di pinggir jalan.
Dengan menahan rasa malu yang tidak dapat aku deskripsikan,aku selesaikan hafalan Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
"Sudah tau kesalahan nya, tolong Jangan di ulang lagi, silahkan pakai masker nya,eeh ngomong-ngomong,Adek ini gak mau memakai masker apa karena takut gak keliatan ganteng nya bgitu?!",sarkas komandan satpol PP itu sukses membuat ku dan Daniel kompak ber " hah" ria.
flashback off
Sudahlah,aku masih malu sekali mengingat semua itu.
#############################
Maaf typo bertebaran,maklum penulis amatiran.
Selamat membaca,jangan lupa like dan komen nya.
Semoga sehat selalu semua...Aamiin 🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲