My Sisters & Me

My Sisters & Me
ch 30 berebut BTS



Malam ini perasaanku begitu kacau, rasanya gak enak banget.


Aku berharap tidak terjadi apa-apa pada keluargaku.


Ditengah kodisi pandemi seperti saat ini, aku mengkhawatirkan orang-orang terdekat yang berdomisili di luar kota.


Dua hari yang lalu papa memberitahu kalau saat ini Oma sedang di rawat karena sakit, kebetulan papa memang satu kota sama Oma saat ini, sedangkan mama dan anak-anak, termasuk aku berdomisili di lain kota.


Bude, saudara sepupu papa juga masih dalam tahap penyembuhan setelah beberapa waktu yang lalu di nyatakan positif covid.


Ya Alloh ...


Aku memijit pelipis ku sendiri yang tiba-tiba berdenyut karena mengingat mereka.


Pagi hari aku mendengar mama berteriak dari kamarnya memanggil namaku, sepertinya mama membutuhkan bantuanku.


"Leee ... kesini sebentar, tolongin mama!",teriak mama.


"Iya maaaam,bentar!",sahutku.


Aku buru-buru mematikan HP ku dan segera masuk ke kamar mama,aku terkejut melihat mama seperti sedang menahan sakit pada kakinya.


Mama sedang duduk di tepi ranjang sambil memegangi kakinya.


"Mama kenapa?",aku bertanya cemas.


Belum pernah aku melihat mama dalam kondisi seperti ini, kepayahan untuk sekedar menggerakkan kaki kanannya.


Dan aku melihat kaki mama yang bengkak dan kemerahan.


"Mama mau ke kamar mandi,tapi kaki mama nyeri sekali,bantu mama ya?",kata mama sambil meringis menahan sakit pada kakinya.


Aku memapah mama ke kamar mandi.


Aku sangat cemas menunggu mama di luar kamar mandi,aku dengar mama istighfar berulang kali ketika kaki nya dirasa sakit.


"Maaam,are you okay?",tanya ku dengan nada cemas.


"Iya... gak papa,ini hanya sedikit nyeri di pakai buat jalan!", terdengar suara mama menahan sakit.


Sepuluh menit kemudian mama keluar dari kamar mandi,aku kembali memapahnya.


Mama kembali aku antarkan masuk ke kamarnya.


"Bra,bisakah kamu masak air buat merendam kaki mama, jangan lupa tambahkan garam dapur sedikit!", perintah mama yang langsung aku kerjakan.


Aku paling tidak bisa melihat mama kesakitan, pikiran ku kemana-mana, mengingat papa tidak tinggal bersama kami, kebayang betapa repotnya aku harus mengurus adek bar-bar ku dan juga mengurus rumah sendirian.


Hari pertama mama sakit,kucing ku kelaparan, biasa'nya mama yang memberi makan mereka.


Ada rasa menyesal merayap dalam hatiku melihat mama kesakitan seperti saat ini.


Harusnya aku bisa membantu pekerjaan mama sehingga mama tidak harus kecapekan dan sakit seperti ini.


Air hangat di tambah garam sudah aku siapkan.


Aku membawa ember yang sudah siap ke dalam kamar mama, pelan-pelan mama merendam kakinya.


Aku melihat wajah mama yang terlihat menahan sakitnya.


Adek-adekku aku biarkan bermain di luar.


Mereka mau mendengarkan kata-kata ku setelah aku pinjamkan ponselku.


"Kakaaak, Ica mau liat black pink !", kata Ica.


"Ianna mau liat blak pink enggak?", tanyaku pada adek bungsuku.


"Gak mauuu....!",jawab Ianna sambil mengerucutkan bibirnya.


"Lah, terus mau liat apa dong?",aku kembali bertanya.


"BTS...!",jawab Ianna cepat.


"Hah??!",Aku berusaha meyakinkan adekku.


Berharap jawaban lain seperti film Ipin Upin, Spongebob atau apapun yang penting jangan KPop.


Ica melotot sambil berteriak,"Ya udah liat BTS,tapi aku mau jadi pacar Jungkook!".


Ianna pun ikutan berteriak,"Gak mauuu, Jungkook punyaku,Ica bilang suka Taeyeon bukan Jungkook!".


Ini anak umur di bawah enam tahun pada berebut Jungkook,"What the hell!", batinku menjerit.


"Ica,Ianna.. apa yang kalian lihat dari Jungkook itu hingga kalian berebut dirinya?", tanya ku terheran-heran dengan keduanya.


Aku jadi ingat teman-teman cewek sekelas ku yang tergila-gila dengan member BTS,sampai mengoleksi segala pernak-pernik nya.


Hingga sebagian teman sekelas ku hafal semua lagu-lagu mereka dan segala sesuatu yang berkaitan dengan mereka.


Ramai Ica dan Ianna jingkrak-jingkrak menonton konser BTS di YouTube.


Aku lihat mama menelepon seseorang.


Tak lama kemudian mama memanggil ku dan memberikan kertas serta menyuruhku ke apotik untuk membeli obat seperti yang tertulis di kertas tersebut.


Rupanya mama menelpon sahabatnya yang kerja di rumah sakit,mama menceritakan keluhan nya dan memperlihatkan kondisi kaki nya yang membengkak.


Akhirnya temannya memberikan resep untuk di tebus di apotik terdekat.


Mama tidak mau periksa di rumah sakit dengan berbagai alasan.


Yang jelas pasti tidak ingin membuat kami cemas.


Secepatnya aku menebus obat ke apotik.


Obat segera di minum mama.


Setelah meminum obat,mama merasa mengantuk dan ingin istirahat, berharap setelah istirahat mama akan segera pulih dan mampu mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya.


Selagi mama istirahat,aku sibuk menjaga adekku agar tidak menggangu istirahat mama,aku kerjakan pekerjaan rumah yang aku bisa.


"Icaaaaa..... !",teriak Ianna.


Aku kaget dan berlari ke arah mereka berdua yang sedang berebut ponsel.


Ianna kalah berebut, sehingga ponsel di pegang Ica.


"Issh kalian nih,apa lagi sih !",teriakku kesal.


"Ica kak,hape nya di bawa Ica, Jungkook aku kakaaaak,huaaaa 😭!", Ianna berteriak seolah-olah di tinggal mati pacar nya wkwkwkwk.(Uuppss umur Ianna masih belum genap empat tahun ya).


"Apa'an Jungkook kamu,ini Jungkook aku, Jungkook Ica,bleeee 😛!", Ica membalas sambil memeletkan lidah nya.


Hadeeh kenapa juga adek-adek kau ini.


Aiiish bagaimana cara membuat mereka mengerti agar tidak terlanjur tergila-gila sama member BTS terutama si bungkuk ini (aku kesal dan lebih suka menyebut nya begitu,dan di larang protes).


Jujur saja teman-teman sekolahku terkadang sampai kehilangan akal sehatnya saking mengidolakan mereka.


Lihatlah nickname di Facebook nya,"Alea istri Jungkook","Erin selingkuhan Taeyeon","Robby saingan BTS",nama terakhir adalah nickname cowok teralai di kelasku.


Iya kali cowok ikutan menggunakan nama BTS, greget banget enggak sih,sampai pengen lempar sendal ke muka alay nya itu.


"Kakak cuma pengen tau kenapa kalian berebut bungkuk!", tanyaku lagi.


"Iissh kakak nih bego banget sih, Jungkook bukan bungkuk!", Ica berteriak persis di telingaku.


Sontak telingaku berdenging dan spontan aku toyor kepala Ica sambil aku omelin


"Dasar adek sesaaaaat...,budeg telinga kakak tau gak luuu!", aku kesal karena telingaku terus berdengung akibat teriakan Ica.


"Siapa suruh menghina pacar Ica?!",jawaban Ica sukses membuat mataku melotot.


"Apa kamu bilang,..pacar?", tanyaku pada Ica.


Ica manggut-manggut, sementara Ianna sudah menggembung kan pipinya siap-siap menangis.


"Ianna kenapa?",aku bertanya pada Ianna, ingin tahu alasan dia menangis.


"Jungkook huaaaa...😭!",kembali tangisan pilu keluar dari mulut Ianna.


Dan aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah polah mereka.


"Sudah,biar adil,sini Jungkook nya kakak bagi dua, separuh buat Ica separuh buat Ianna, bagaimana?",kataku memberikan penawaran pada mereka.


Ianna terlihat bahagia...


"Horeee dapat separuh..!",teriak Ianna sambil loncat-loncatan.


"Huh... dasar kakak bego!",selali lagi aku mendengar Ica mengatai aku, dia terlihat cukup kesal.


'Lah salah kakak di mana?",aku pura-pura bertanya,ingin tahu apa yang membuat Ica marah padaku.


"Kakak mikir enggak sih,kalo Jungkook di bagi dua terus aku mesti bagaimana, bukannya dia akan mati kalau tubuhnya di bagi dua?", tanya Ica yang di luar pikiran ku.


Aku tidak pernah menyangka jika Ica akan berpikir sampai kesana.


Ianna memang masih kecil, sedangkan Ica sudah lebih dewasa dalam berpikir, Ica bisa menggunakan logika nya sedangkan Ianna belum, meskipun terkadang Ica terlalu bar-bar untuk anak seumuran dirinya.


#############################


Sudah selesai ch 30 nya,mau aku end di episode ini sebenarnya...


Mohon masukannya ya kakak, Tante , Oom,teman semua.


Maafkan masih banyak typo di mana-mana karena aku penulis amatiran 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻