
hari yang di nanti telah tiba.
hari ini prosesi ijab kabul Rifana dan Ryan.
akhirnya mereka berdua sah sebagai suami istri.
jodoh ada di tangan Tuhan,itu benar adanya.
kalaupun ada perpisahan di tengah sebuah hubungan, artinya jodoh cukup sampai di situ.
tidak ada yang harus disalahkan.
Rifana dan Ryan menikah karena kehendak Tuhan.
perbedaan usia tidak menjadi penghalang cinta mereka berdua.
(maaf readers,saya sebagai author, tidak bisa menceritakan part malam pertama mereka berdua, alasannya,takut kena teguran fihak MT)
"pagi sayang,...", Ryan mencium kening Rifana yang masih malas-malasan untuk bangkit dari tempat tidur.
"pagi juga... jam berapa ini,masih pagi sepertinya", Rifana berusaha bangkit dari tempat tidurnya dengan susah payah.
"duuh,remuk badanku!", Rifana merutuk dalam hati,dia meringis merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya.
"ada apa sayang?", tanya Ryan perhatian.
"tidak apa-apa koq, cuma lelah saja",jawab Rifana pelan.
"emmmm, makasih sayang, untuk malam pertama yang begitu indah dan sangat istimewa tadi malam ya?",kembali Ryan mencium kening Rifana.
Rifana buru-buru bangkit dan berjalan ke kamar mandi.
Ryan tersenyum melihat punggung Rifana yang berjalan menjauhi ranjang pengantinnya.
"i love you sayang!", suara Ryan masih bisa di dengar Rifana
"i love me,too!",jawab Rifana sambil tertawa.
"aaissh kau curang sayaaang!", seru Ryan.
Rifana tersenyum mendengar suara Ryan.
************
dua tahun setelah pernikahan mereka, lahirlah seorang bayi laki-laki.
"Alhamdulillah anak gantengku sudah lahir!",seru Ryan bahagia.
"sudah ada nama apa belom sayang?", tanya Ryan pelan sambil mencium kening Rifana.
"sudah,...sejak beberapa bulan yang lalu aku sudah siapkan nama untuk dedek bayi kita!", Rifana semangat menjawab pertanyaan Ryan,ayah dari bayi yang baru saja dia lahirkan.
bayi laki-laki itu diberi nama Maulana Malik Ibrahim.
*************
waktu begitu cepat berlalu.
karena urusan pekerjaan Ryan dan Rifana pindah ke kota B, saat itu Ibra alias aku berusia 6 tahun.
Rifana dan Ryan beserta anak semata wayangnya menetap di kota B.
"mah, bagaimana sekolah Ibra, kita kan warga pindahan,apa bisa dia masuk di sekolah favorit, umurnya saja baru 6 tahun?", tanya Ryan pada Rifana, menyangkut kepindahan sekolah Ibra dari kota M ke kota B.
"bisa koq,kan dibantu Tante",jawab Rifana.
"syukurlah kalo begitu,kapan anak kita mulai masuk sekolah mah?",tanya Ryan penuh antusias.
"bulan depan pah !",jawab Rifana.
keluarga kecil Rifana menetap di kota B dari semenjak Ibra berumur 6 tahun.
Rifana membuka les private untuk anak-anak sekolah dasar dan anak-anak sekolah menengah pertama.
untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya Rifana juga mengajar door to door.
sedangkan Ryan bekerja di perusahaan kakak sepupunya.
ketika Ibra berusia sembilan tahun, dia merasa kesepian karena kedua orang tuanya sibuk dan dia tidak memiliki adek.
padahal teman-teman sebayanya pada punya adek kandung.
"mam,kenapa aku gak punya adek?", tanya Ibra kepada Rifana,sang mama.
"eem,memangnya kamu mau punya adek bayi?", tanya mamanya.
"maulah mam,punya adek mungkin akan menyenangkan!",jawab Ibra antusias.
"sabar ya,...semua kan melalui proses sayang...?",jawab mamanya kalem.
"kalo lama-lama prosesnya mending kita beli aja mam !", jawab Ibra asal.
"aiiiih anak mama nih,kamu mau seorang adek apa mau seekor kucing?", tanya mamanya.
"idiiiiiiiih mama,ya mau adek bayi laaah!", jawab Ibra sambil monyong.
"kalo mau adek bayi,harus sabar,karena adek bayi tidak di jual di pasar!", jawab mamanya tegas, supaya Ibra tidak terus menerus minta di buatin adek bayi.
"hmm,ya udah...aku sabar", jawab Ibra pelan.
namun itu hanya sebatas janji bocah kecil saja ,jadi tidak ada satu hari pun ibra tidak bahas masalah dedek bayi.
Rifana kewalahan memberikan penjelasan.
hingga suatu hari Rifana hamil lagi anak kedua tanpa perencanaan.
adek bayi perempuannya di beri nama Cintameriva Khoirunisa.
Ibra sangat senang memiliki adek perempuan.
kelahiran anak kedua membuat Rifana semakin repot.
Ibra sudah berumur 10 tahun,namun masih seperti anak kecil.
mamanya sibuk dengan adek bayi dan pekerjaannya.
dari kelas 1 sampai kelas 3 selalu masuk 5 besar karena mamanya telaten membimbing Ibra.
Ryan sebagai papanya Ibra mulai agak keras mendidik Ibra.
hal ini di sebabkan karena Ibra anak laki-laki dan adeknya perempuan,jadi papanya berharap Ibra akan dapat menjaga adeknya suatu hari nanti.
"bagaimana nilai sekolahmu le?", tanya Ryan pada anaknya.
"emmm.... belom di nilai", jawab Ibra pelan.
"tapi bisa kan mengerjkan tugas dari ibu gurumu?", kembali Ryan bertanya.
Ibra tidak menjawab,hanya mengangguk pelan sebagai tanda mengiyakan.
"ya sudah,besok kasih tau papa nilai mu berapa!", kata Ryan sambil mengusap kasar rambut kepalanya anaknya.
"iya pah!", jawab Ibra tersenyum kecut.
******
sore itu Ryan pulang kerja, langsung menemui Rifana yang sedang di kamar bersama si kecil Cintameriva .
"masak apa ma?", tanya Ryan.
"gak bisa masak,dedeknya rewel,goreng telur aja pah!",jawab Rifana menyarankan.
"mama udah makan belum,biar aku bikin telur dadar untuk Mama dan Ibra sekalian?", tanya Ryan.
"iya pah, bikin banyak aja sekalian buat semua,aku sama Ibra belom makan",jawab Rifana.
Ryan berjalan ke dapur menghampiri kulkas untuk mengambil telur
Ryan melongok ke dalam kulkas untuk mengambil telur.
matanya melihat kertas-kertas ulangan milik Ibra.
emosi Ryan tidak terbendung lagi melihat nilai ulangan Ibra disembunyikan di dalam kulkas.
"Ibraaaaaa.....!!!!!" , Ryan berteriak memanggil Ibra.
"iyaaa paaaah!", Ibra berlari masuk rumah menghampiri ayahnya.
kaget bercampur takut, Ibra menghampiri ayahnya yang sedang memegang kertas-kertas ulangan yang selama ini dia sembunyikan di dalam kulkas karena nilainya tidak bagus.
"ini apa heh?!", tanya Ryan tegas memendam emosi.
"i..i..itu... emmm... ulangan pah,eemm maafkan pah!", Ibra terbata-bata menjawab pertanyaan ayahnya.
Ibra merasa sangat bersalah,tapi tidak tahu harus berbuat apa.
Ibra pasrah untuk menerima jeweran lagi kali ini.
"apa bgini anak papa hah?", tanya Ryan kesal.
"siapa yang sudah suruh kamu sembunyikan kertas ulangan ke dalam kulkas!", kembali Ryan bertanya,dan Ibra tetap terdiam di penuhi rasa bersalah.
"maafkan pah...",lirih suara Ibra hampir tidak bisa di dengar oleh ayahnya.
"huaaaa... huaaaa...!", tak tahan lagi dengan tatapan tajam ayahnya, Ibra menangis kencang sehingga membuat Rifana terkejut dan berlari ke dapur sambil menggendong si kecil Nissa.
"ampuuuuuuun papaaah, huaaaa,bsok gak lagii , huaaaa...!",, Ibra terus meraung-raung.
"ada apa pah?", tanya Rifana sambil memeluk Ibra yang kelihatan ketakutan.
"tanya sama anak manja ini!", Ryan pergi meninggalkan Rifana dan anak-anaknya.
Rifana hanya menghela nafas panjang untuk meredam amarahnya.
"sayang... bilang sama mama kenapa kamu lakukan semua ini?!", tanya Rifana pelan sambil mengusap-usap kepala Ibra untuk meredakan tangisnya.
Ibra tertunduk lesu, merasa sangat bersalah kepada kedua orang tuanya.
"mama tunggu penjelasan dari kamu ya sayang...?", kata Rifana penuh kasih sayang.
Rifana berjalan meninggalkan Ibra sendirian.
namun tiba-tiba Ibra menghentikan langkahnya.
"mama..maafin Ibra mam, Ibra takut di jewer papa kalo ketahuan nilai ulangan jelek, makanya Ibra simpan di dalam kulkas", Ibra menjelaskan dengan cepat alasannya.
"hmm,sayang... tindakan kamu malah semakin membuat papa marah,laen kali tidak boleh seperti ini lagi,nanti kalo papa pulang, jelaskan dan minta maaf!," kata Rifana berusaha untuk bersikap bijaksana.
********************************
ini sudah masuk part cerita aku sebagai Ibra ya ... untuk selanjutnya, tokoh Ibra akan di gantikan dengan tokoh aku.
sekian penjelasan dari penulis.
jangan sungkan untuk like dan komen ya 🙏🙏
terimakasih.