My Sisters & Me

My Sisters & Me
ch 20 malam yang menegangkan



tidak terasa kehamilan mama sudah mendekati hari kelahiran.


aku berusaha menghibur mama untuk tetap tenang.


meskipun aku sendiri agak kepikiran dengan kondisi mama.


berharap semua akan baik-baik saja.


mama selalu mengkhawatirkan Nissa.


siapa yang akan merawat Nissa kalau mama melahirkan.


selalu itu yang mama tanyakan.


"le .... bentar lagi dedek bayimu akan lahir",kata mama.


"iya mam,mama tenang ya,aku akan menjaga mama", jawabku menenangkan mama.


"iya sayang,kamu bisa jaga mama,lalu siapa yang akan menjaga Nissa, bagaimana kalau adekmu rewel sementara mama masih dalam perawatan?",mama bertanya padaku.


aku hanya diam saja, berharap menemukan jawaban yang dapat menenangkan mama.


"bagaimana kalo untuk sementara Nissa di titipkan di rumah Mak Enok?",kata mama tiba-tiba.


Mak Enok adalah saudara jauh dari papa, anaknya sudah pada gede semua.


"kalau mama percaya sama Mak Enok kenapa tidak?", jawabku setuju dengan usulan mama.


"ya sudah,besok kalau tiba-tiba mama ingin melahirkan, tolong kamu bawa adekmu kerumahnya Mak Enok ya sayang?", pinta mama kepadaku.


"iya mam, tenang mam", jawabku santai.


papa sudah beberapa hari tidak pulang


lewat sambungan telepon papa mengatakan sedang ada tugas ke luar kota.


mama sudah biasa di rumah hanya dengan aku dan adikku.


apabila sedang hari libur papa lebih sering pergi memancing bersama teman-temannya.


hobby papaku adalah memancing dan main game online.


mama sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.


mama menghabiskan waktunya untuk kami, anak-anaknya dan pekerjaannya.


jam delapan malam mamaku mengeluh perutnya mulas.


aku berusaha tenang meskipun cemas sekali.


"le tolong bawa adekmu ke Mak Enok sekarang,katakan pada Mak kalau mama mau periksa ke bidan sebentar!", perintah mama sambil duduk mengusap-usap perutnya.


"mama mau lahiran sekarang?", tanyaku sedikit cemas melihat raut muka mama yang tegang menahan sakit.


"belum tahu sayang,karena HPL nya masih dua minggu lagi,mama minta tolong,agak cepat le!",jawab mama dengan mimik muka yang sangat kepayahan menahan sakit.


tanpa menjawab lagi aku menggendong Nissa yang sudah tidur ke rumah Mak Enok, kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh.


setelah menitipkan Nissa aku berlari pulang, buru-buru ingin lihat kondisi mama.


sampai di rumah aku lihat mama sedang berbicara melalui handphone dengan seseorang.


"sekarang ya pak,.. iya ke bidan, terimakasih!", kata mama menutup sambungan teleponnya.


"eeh le .. gimana adekmu,apa kata Mak Enok?",tanya mama ketika melihat kedatanganku, nafasku masih ngos-ngosan karena berlari.


"emm .. iya,kata Mak Enok mau jagain Nissa!",jawabku.


"ya sudah, siap-siap le, tunggu taxi kita ke rumah bidan langganan mama sekarang,kalo masih lama waktu melahirkan kita bisa pulang lagi, tapi kalo sudah waktunya,kita bisa langsung bawa semua persiapannya!",kata mama.


mama mengeluarkan tas-tas berisi perlengkapan bayi dan barang-barang yang biasa di perlukan seorang ibu yang akan melahirkan.


sudah ada taksi di depan rumah.


"le... minta tolong supir taksi untuk bantu kamu membawa tas mama ya?", pinta mama.


tapi rupanya pak supir taksi nya sudah siaga, mungkin mama sudah memberi tahu kondisinya ketika menelpon tadi.


singkat cerita 15 menit kemudian kami tiba di rumah bidan langganan mama, setelah membayar ongkos taksi kami mulai masuk ke tempat praktek bidan tersebut.


obrolan diantara bidan dan mama terjadi.


tidak lama kemudian mama di ajak masuk ke ruang pemeriksaan.


aku di minta menunggu di ruang tunggu pasien.


sepuluh menit kemudian bidan itu keluar, menanyakan keberadaan papa.


" mama bagaimana Bu?", tanyaku tidak sabar.


"mama kamu sudah mau melahirkan,tetapi ada satu dan lain hal, sehingga mama kamu harus di rujuk ke rumah sakit khusus bersalin", bidan itu menjelaskan.


"kenapa Bu, tidak bisakah mama saya melahirkan di sini saja?", tanya ku lagi.


"eem... tidak bisa,karena ini membutuhkan penanganan khusus,tensi mama kamu terlalu tinggi, dan ini sangat beresiko bagi mama kamu!", jawab bidan itu.


" Sekarang bagaimana,apa papa kamu tidak bisa pulang, soalnya kami tidak menyediakan ambulans,apa mau menelpon taksi?!", tanya bidan itu lagi.


"papa di luar kota Bu,tadi kami kesini naik taksi, bisakah Ibu tolong kami panggil taksi?", pintaku pada bidan itu.


"baiklah,saya juga harus dampingi mama kamu sampai rumah sakit untuk menjelaskan kondisinya",kata bidan itu lagi.


akhirnya kami berangkat ke rumah sakit bersalin malam itu.


hanya aku,mama, asisten bidan dan bidan tersebut.


mama terus menerus berteriak kesakitan, ternyata waktu melahirkan tidak lama lagi.


untungnya sopir taksinya cekatan membantu mama.


sungguh perjalanan yang sangat menegangkan.


sesampainya di rumah sakit mama langsung di tangani dokter dan perawat di ruang persalinan.


atas keterangan dari bidan yang merujuk mama ke rumah sakit, dokter di rumah sakit tersebut tidak ada yang menanyakan papa.


mereka sudah tahu kalau papa sedang di luar kota.


pukul sebelas malam adek bayiku yang berjenis kelamin perempuan dilahirkan.


aku bersyukur adek bayiku dan mama diberikan keselamatan dan kesehatan keduanya.


bidan pendamping mamaku berpamitan untuk pulang setelah dedek bayi lahir dengan sehat wal afiat tidak kurang apapun juga.


aku tertidur di ruang tunggu bersama dengan orang-orang yang juga menunggu pasien lainnya.


tengah malam ada yang membangunkan aku, antara sadar dan tidak aku mendengar suara Oom Ipunk saudara sepupu mama.


"Bra,ayok Oom antar kamu pulang dulu,mama kamu juga sudah di ruang perawatan, nanti biar Oom yang jaga mama kamu",kata Oom Ipunk.


"eeh Oom... tau dari siapa mama di sini?', tanyaku dengan muka bingung.


karena aku tidak ingat untuk menelpon Oom sebelumnya saking paniknya.


"ooh, Mak Enok yang menelpon Oom, supaya menemani mama kamu di rumah sakit, tadinya Oom tidak tahu mama kamu di rumah sakit ini, Oom kira mamamu melahirkan di rumah bidan", Oom Ipunk menjelaskan.


akhirnya aku diantar Oom Ipunk pulang ke rumah Mak Enok terlebih dahulu, untuk menemani Nissa di sana karena khawatir Nissa akan mencari mama.


pagi hari aku dan Nissa di antar pulang ke rumah oleh Mak Enok.


"Bra, Mak bantu siapin kamar bayi untuk adek kamu ya, mama boleh pulang nanti sore",kata Mak Enok.


"iya Mak, terimakasih juga sudah bantu jaga dedek Nissa semalem",kataku.


"hari ini kamu libur sekolah dulu,kamu pasti lelah tadi malam menjaga mama kamu di rumah sakit", Mak Enok menyarankan.


"iya Mak,aku ngantuk sekali....hooaaam!",jawabku sambil menguap.


tau-tau aku tertidur di kursi tamu.


sampai akhirnya aku mendengar suara Oom Ipunk lagi.


"Bra ... Bra... pindah kamar sana!",


terdengar suara Oom Ipunk membangunkan aku untuk pindah ke kamar.


hari itu kami sibuk bersih-bersih untuk menyambut kepulangan mama dan dedek bayi baru kami.


belum sempat pindah kamar mama sudah kembali ke rumah sambil menggendong dedek bayi.


aku memeluk mama dan adek bayi.


sementara itu Nissa di gendong Mak Enok.


**********************************


Alhamdulillah selesai.


selamat membaca.


semoga tidak bosan dengan cerita saya.