My Sisters & Me

My Sisters & Me
ch 21 adek-adek perempuan



dedek bayi baruku berjenis kelamin perempuan, artinya aku menjadi saudara tertua dan satu-satunya laki-laki diantara kami bertiga.


adek kecilku namanya Ianna Fauzia.


Ianna dan Nissa,dua adek perempuanku.


mereka lucu dan sedikit bandel.


Nissa sudah dua tahun sedangkan


lanna masih sebulan.


betapa repotnya mama mengurus dua balita ini.


aku terkadang gemas dengan Nissa kecil yang masih dua tahun lebih sedikit ini.


cadelnya yang belom hilang kadang membuat aku dibully teman sepermainanku.


meskipun diajari berulang kali tetap tidak mau memanggil aku kakak Ibra.


kadang aku dan mama sengaja mengggoda Nissa.


"Ca sini ca... !", panggilan kesayangan aku pada Nissa adalah Ica.


"apa... Biba ?", jawab Nissa sambil menghampiri aku yang sedang melihat acara televisi.


"itu film apa Ca,kamu tau tidak?" tanyaku.


Nissa mengangguk-angguk.


"apa coba?", tanyaku.


"embeeek ..... !",jawab Nissa sambil loncat-loncat.


"bukan mbek lah Ca, tapi Shaun the sheep!", jawabku, sengaja ingin mendengar kelucuan suara Nissa.


"iya.. ya... ya... sondop sindip!", kata Nissa.


"wkekekekek... apa Ca?", tanyaku sambil terkekeh.


"son .... dop... sin...dip....!"jawab Nissa berusaha menjawab pelan-pelan, berharap jawabannya benar.


"wkekekekek... bukan sondop sindip ,tapi Shaun the sheep!"jawabku sambil tertawa-tawa.


Nissa mengagguk-angguk seolah-olah mengerti dengan penjelasanku.


"Ca.... coba bilang i love you kakak Ibra!", kataku meminta Nissa untuk mengulang kata-kata yang aku ucapkan.


"cucah ...Biba!", jawab Nissa menolak.


"masak susah, kan belum di coba?", jawabku.


"eemm... a yu pu Biba!",kata Nissa.


"weeee... apa'an a yu pu, i love you !",kataku terus menggoda Nissa.


"cucaaaah bibaaaa..... !",kata Nissa.


aku tertawa melihat ekspresi lucu Nissa.


Nissa merasa kalau aku sedang meledeknya.


mulut mungilnya dimonyongkan.


"coba ulangi lagi,kalo Ica bisa bilang i love you kakak Ibra,nanti kakak belikan es krim!",kataku menyemangati.


"gak mauuu .... cucaaah,Biba tawa muyu!", jawab Nissa dengan raut muka yang menggemaskan.


(gak mau,susah, Ibra tertawa melulu)


begitulah yang ingin Nissa ucapkan.


"Ibraaaaa .... jangan meledek adekmu terus!",kata mama.


"lucuuuu maaaaam.... !",jawabku sambil tersenyum.


"gak gitu,ini dedek Ianna jadi gak bisa bobok kalo kalian berisik!",jawab mama.


"hehehe.... ma'apin mam,sengaja....!",jawabku sambil lari keluar rumah.


"haiiish kamu iniiii.... !", mama cuma tersenyum dengan keisenganku.


**************


Ianna sudah umur delapan bulan,mama mulai buka lagi bimbelnya.


meskipun mama sangat kerepotan,tapi mama senang dengan pekerjaannya itu.


mengajar anak-anak di rumah,kata mama hal itu sudah dilakukan sejak mama masih sekolah.


waktu mama masih sekolah mama mengajar dengan suka rela saja,mama tidak mau menerima uang.


tetapi setelah dewasa, tepatnya setelah mama berkeluarga,mama mulai membuat hobby mengajarnya menjadi lahan pekerjaan yang di manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.


semua bisa mama kerjakan sendiri meskipun agak melelahkan.


aku lihat mama sosok wanita yang tangguh dan mandiri.


saat ini aku kelas lima,adek bayiku sudah bisa merangkak,si Nissa umur tiga tahun lebih sedikit.


kemaren aku diberi ponsel bekas pakai Oom Nana Nando saudara papa.


katanya tidak bisa dibuka.


yang jelas harus di bawa ke konter untuk lebih tau kenapa-kenapa nya.


ponsel itu di letakkan di meja dekat televisi.


kata mama akan di bawa ke konter kalau sudah ada uangnya.


lumayan daripada beli ponsel baru,karena ponsel yang di kasih Oom ini ponsel android terbaru.


"sayang tolong kapan-kapan bawa ke konter aja ini hape nya yang dari Oom Nando!", kata mama.


"emm... kapan mam?", tanyaku.


"kalo kamu ada waktu,besok sepulang sekolah juga tidak apa-apa,lumayan bisa untuk kamu pegang",jawab mama.


"iya mam, besok aku bawa sekalian berangkat ke sekolah, soalnya aku lewati konter kalo mau ke sekolah",kataku lagi.


" iya,terserah kamu aja", jawab mama menyetujui saran ku.


hari itu pulang bermain aku langsung ke kamar mandi untuk cuci tangan.


aku lihat adekku Nissa sedang duduk dengan bangku kecilnya di kamar mandi bermain sabun cuci.


banyak busa di mana-mana,dan dia senang sekali.


tadinya aku berniat mengagetkan Nissa.


pelan-pelan aku jalan berjinjit mendekati Nissa.


bukannya Nissa yang kaget,tapi aku kaget bukan kepalang melihat betapa asyiknya adekku mencuci sesuatu.


"adeeeeek ..... !", teriakku mengagetkan Nissa juga.


"bibaa... adet atu!",kata Nissa dengan polosnya


(Ibra,kaget aku)


" apa yang kamu cuci itu hah?", tanyaku sambil menunjuk barang yang di pegang Nissa.


"bibaa... iyat bibaa...!", seru Nissa antusias.


"lihat apa heh... kamu cuci hape mamaaaaaaa ...!",teriakku jengkel sekali.


"huwaaaa.., huwaaaa..... !", Nissa menjerit menangis karena aku membentaknya.


"apa siih sayang... kenapa lagi ini?",tanya mama mendekati kami berdua di kamar mandi.


"mamaaaa .... liatin niih!"jawabku sambil menunjukkan ponsel dari Oom Nando yang sedang di cuci Nissa.


"astaghfirullah....adeeek,....yaelah deek...!", kata mama sambil geleng-geleng kepala.


"nakal sih adek neeh.... !", sahutku kesal.


"emmm kenapa kamu cuci hape mama dek?", tanyaku mulai melunak,karena kasihan melihat ekspresi muka Nissa yang merasa ketakutan.


padahal mama tidak marah.


"hape otoy kenak debu!",jawab Nissa tanpa merasa bersalah.


(otoy\=kotor)


"adek tau gak, hape itu mau di bawa ke konter,mau dibetulin,tapi karena sudah kamu cuci pastinya sudah tidak mungkin lagi untuk di betulin!", jawabku mencoba memberikan penjelasan.


"gak tau ... ", jawaban Nissa sambil mengangkat pundaknya membuat aku jadi tertawa.


"sudah-sudah jangan ribut, adekmu masih kecil, jangan terlalu disalahin!", mama menengahinya.


aku diam,tapi Nissa malah senang.


"mam iyatin... hape mama dah becih, Ica cuci mam!", Nissa bangga menunjukkan ponsel yg bersih karena di rendam menggunakan detergen.


"iya Ica pinter sayang... tapi,besok besok jangan di cuci lagi ya,cara membersihkan hape kotor tidak menggunakan sabun cuci sayang, tapi cukup di lap aja menggunakan tissue atau sapu tangan ya?",kata mama sambil mengusap kepala Nissa dengan kasih sayang.


Nissa mengangguk-angguk,entah mengerti atau tidak dengan apa yang dikatakan mama barusan.


"ca... jangan lupa,kalo sudah kering hapenya ntar di setrika ya!", kataku sambil berlalu.


tapi mama menghalangi jalanku dan menegurku.


"sayang,kamu tau adekmu masih berumur tiga tahun, jangan diajarkan yang tidak benar,entah apa jadinya jika apa yang kamu katakan itu di lakukan adekmu,itu berbahaya,tau tidak?",kata mama penuh penekanan.


"iya mam, maaf,.... kan aku bercanda?", kataku membela diri.


"lagian masak hape mo disetrika?",aku membalikkan perkataanku pada mama.


"lah... adekmu masih sangat polos sayang,sudah, jangan berdebat sama mama,mama tidak suka!",jawab mama sambil geleng-geleng kepala.


aku menyesali perkataanku tapi juga penasaran dengan pemikiran adekku.


"Ca.. Ica,.. hape mama yang kamu cuci karena kotor itu, kira-kira bisa kaga kalau di setrika?",tanyaku pada Nissa yang sedang asyik bermain boneka barbienya.


"uuh... Biba aneh,.. hape gak kucuut gak ucah tika lah!",jawab Nissa seolah-olah mau mengatakan aku bodoh.


(uuh... Ibra aneh,... hape gak kusut gak usah disetrika lah)


begitu kata Nissa.


aku menghela nafas panjang,amaaan....


***********************************


Alhamdulillah , terimakasih semua yang sudah mendukung karya saya,memberikan vote dan komennya.🙏🙏🙏🙏