
Setelah teguran dari mama masalah aku dan Nay,aku menjadi lebih hati-hati lagi.
Nay tetap belajar sama mama dan menjadi murid kesayangan mama.
Mama tidak curiga,karena aku dan Nay tidak memperlihatkan di depan semua orang sikap perhatian kami satu sama lain.
Kami hanya berhubungan sebatas chatting, sedangkan untuk waktu bertemu, selalu ada, baik aku yang ke rumah Nay atau Nay yang ke rumah aku, namun dengan alasan belajar, keluarga Nay mengenal aku dengan baik sebagai anak dari guru lesnya Nay, mereka tidak menaruh curiga sedikitpun kepadaku.
Sejauh ini hubungan aku dengan Nay,aman.
Hubungan aku dan adik-adikku selalu diwarnai insiden kecil.
Aku yang jahil dan adik-adikku yang bar-bar selalu membuat mama kewalahan.
Hari itu mama akan membuat kue donat kesukaan kami,aku dan adikku sangat menyukai donat buatan mama.
Kata mama setelah mengajar,sore nanti baru bisa buat donat.
Mama ada acara kumpul ibu-ibu RT jam sepuluh pagi.
Seperti biasanya aku yang jaga adekku Ica,karena Ianna memilih untuk ikut mama.
"Ibra,jaga adekmu,jangan dibuat menangis!",kata mama disertai ancaman.
"Iya... santai mam", jawabku sambil bermain ponsel.
"Eeeh... berhenti dulu main hapenya, liatin mama!", perintah mama.
Sepontan ponsel aku taruh dan memperhatikan mama.
"Nah begitu,kalau mama sedang bicara, jangan asyik maen hape aja!",kata mama lagi.
"Iya mam,maaaaaf...!",sahutku.
"Kamu tau apa yang mama katakan tadi??",tanya mama menegaskan.
"Iya maaam.... !",jawabku lagi.
"ya sudah mama berangkat dulu,paling gak sampai satu jam,karena mama harus mengajar juga jam sebelas",kata mama mengakhiri percakapan.
Mama berangkat ke tempat kumpulan dan aku kembali bermain ponsel.
Aku melihat adekku sedang bermain dengan kucing-kucing kami.
Ada Painah, Paiman, Paijan sama Painem.
Mereka berempat adalah kucing yang penurut, apalagi kalau sama Ica,semua kucing patuh padanya.
Samar-samar aku mendengar suara adekku memanggil kucing kami.
"Inah,Iman,Ijan,Inem..... baris sini!", samar-samar aku mendengar suara Ica.
Aku tetap asyik dengan ponselku.
Bagiku yang penting Ica tidak rewel dan tidak menggangu aku bermain game.
Tidak berasa waktu satu jam telah berlalu.
Mama sudah pulang dari kumpulan RT nya.
"Adekmu mana,kok tidak kelihatan?", tanya mama tiba-tiba.
"Eeh mam, kapan datang,kok aku gak lihat mama datang sih?", kataku sedikit kaget.
"Baru juga masuk... , mama cari Ica, kenapa dia tidak bersama kamu disini?", tanya mama lagi.
"Ica ya,... astaghfirullah,aku lupa mam, tadi dia main sama kucing-kucing itu!",aku juga terkejut karena tidak lagi melihat Ica di sekitarku.
"Kamu ini kebiasaan deh....tiap mama minta kamu jagain adek, pasti akhirnya ada masalah.
Akhirnya aku menemukan adekku di dapur,sedang asyik bermain tepung.
Tepung satu kilo habis buat mainan adek.
Ada yang m membuat aku terkejut dan sekaligus tertawa terbahak-bahak.
Penampilan adekku yang mirip dengan ondel-ondel, seluruh tubuhnya penuh tepung terigu,dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Dan penampakan kucing-kucing kami yang tak kalah hancur dengan adekku.
Ternyata terigu satu kilo di habiskan buat mainan bedak-bedakan sama adekku dan kucing-kucing kami.
"Icaaaaa.... apa-apaan sih kamu ini, haduuuuh,bisa ngamuk mama kalau tahu terigu bakal bikin donat, kamu habisin buat bedakin kucing!",aku berteriak gemas pada Ica.
Ica tertunduk tidak berani menatap wajahku.
Tiba-tiba mama sudah muncul di belakang kami.
"Iya mam,Ica bedakin kucing biar cantik, Ica juga pengen cantik mam, hehehe!",jawab Ica sambil nyengir.
Ica tanpa beban menjawab pertanyaan mama, karena mama bertanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Hmmm,pasti aku lagi nih sasaran kemarahan mama..... (aku membatin dalam hati)
"Ica sayang, sekarang boleh mandi, sebentar lagi waktunya tidur siang!",kata mama sambil menggiring Ica menuju kamar mandi.
"Kak, Ica sepelti hantu...hiiih celeeem!",seru Ianna sambil bergidik seperti orang yang sedang ketakutan.
Hahaha... benar juga, melihat penampakan Ica yang putih semua kena tepung,jadi ingat penampakan hantu-hantuan di sinetron yang ada di televisi.
"Celem mana cama papa?", tanyaku sambil menirukan logat cadel Ianna.
"Celem papa ciih!", sahut Ianna polos.
"Kenapa celem papa?",aku bertanya jahil.
"Kalena papa gocooong....kekekek!",teriak Ianna sambil terkekeh lucu.
Memang benar adanya,papa sedikit lebih hitam dibanding kami serumah.
Bagi Ianna hitam itu seram.
Mungkin karena jarang bertemu papa,Ianna bahkan tidak mau untuk sekedar video call sama papa.
Satu hal yang membuatku selalu tersenyum,Ianna tidak pernah mau dicium papa,dan tiap habis dicium papa langsung cuci muka, takut ketularan gosong katanya.
Mama memandikan adekku sambil menasehatinya,bahwa untuk lain hari tidak boleh lagi kasih kucing bedak menggunakan tepung.
Tapi adekku gagal faham,dia kira hanya tidak boleh di bedakin menggunakan tepung dan boleh menggunakan bedak yang lainnya.
Hehehe siap-siap habis tuh bedak mama.
"Mam,... bikin donat gimana dong?", tanyaku.
"Ya gak jadi,tepung terigunya dah habis buat bedakan adikmu!",jawab mama santai.
"Mama gak marah?",aku kembali bertanya.
"Enggaklah,... memangnya kalau mama marah, tepungnya akan kembali utuh?",mama balik bertanya.
"Hemm,ya enggak juga sih mam",jawabku sambil tersenyum.
"Sebetulnya mama malah senang,kan mama jadi tidak perlu lagi capek-capek buatin donat buat kalian,besok pagi aja beli donat di Abang yang sering keliling di komplek perumahan kita",kata mama lagi.
"Tapi kalau beli tidak seenak buatan mama,dan tidak bisa makan banyak!",jawabku bersungut-sungut.
"Ya kapan-kapan lagi bisa kita buat donatnya",kata mama menghiburku.
"Huh...gegara adek neh,gagal makan donat bikinan mama!",seruku protes.
"Kakak mau donat ya,besok Ica buatin!",kata Ica dengan semangat.
"Hilih kek bisa aja kamu dek!",kataku sambil ku usap kasar kepala adekku karena gemas.
"Aiih kakak tidak percay Ica ya?", tanya adekku sambil cemberut kesal.
"Iya iya.. kakak percaya kamu bisa... bisa hancur donatnya, kekekek!",jawabku sambil terkekeh geli.
"Ibraaa...sudah jangan meledek adekmu terus!",mama paling tidak suka melihat aku menggoda adekku.
"Asiaap.. komandan!",jawabku sambil tersenyum meninggalkan mama dan adekku.
"Issshhh... kamu ini,kalau dibilangin mama!",kata mama sambil geleng-geleng kepala.
Mama yang paling tahu dengan sifat jahilku.
Mama tidak pernah benar-benar memarahi aku.
Karena mama yang paling tahu, seberapa isengnya dan jahilnya aku, bagiku adekku adalah kesayangan aku setelah mama.
Aku akan menyayangi mereka dengan segenap jiwa dan ragaku.
*********************************************
Selamat membaca semoga terhibur ya.
Jangan lupa like dan komentarnya.
Vote juga sangat membantuku, kalau tidak keberatan.
Terimakasih 🙏🙏.