
berita kehamilan mama sangat mengagetkan seluruh keluarga besar.hal ini disebabkan karena adekku masih belum berumur dua tahun dan mama sudah akan memiliki bayi lagi.
sedangkan jarak kelahiran aku dengan adek ke-duaku cukup jauh, sembilan tahun.
papa panik waktu pertama kali mendengar kehamilan mama.
"ya ampun ma bagaimana ini, Nissa masih belom dua tahun, kamu juga masih repot dengan bimbelmu yang baru mulai berkembang!", kata papa .
mama hanya tersenyum hambar sambil mengusap perutnya.
"kenapa aku harus hamil lagi,kenapa pah?", tanya mama
papa pun terdiam merenung,atau lebih tepatnya melamun.
entah apa yang ada di dalam lamunannya.
"ma, gimana kalo kita gugurkan saja?",kata papa dengan pelan,namum bagi mama,suara papa seperti petir yang menyambar tanpa di sertai hujan, sungguh sangat mengagetkan.
"apa,,koq tega papa ngomong seperti itu,ini anak kita loh pah!", mama berteriak penuh amarah.
"sampai kapanpun tidak akan pernah aku mau membuang bayi ini, biarkanlah aku merawatnya sendiri kalo kamu tidak mau bertanggung jawab!",emosi mama meledak-ledak.
"sabar ma... aku hanya menyarankan, maaf kalo kata-kataku sudah melukai perasanmu",papa kembali bersuara pelan.
"sebenarnya aku hanya tidak ingin kamu kenapa- kenapa ma,.. dan Nissa juga masih terlalu kecil untuk punya adek bayi, tolong maafin aku ya?", papa berusaha mereda kemarahan mama, memegang kedua tangannya dan menciumnya perlahan-lahan sebagai bentuk permintaan maafnya.
"iya pa,maafin aku juga karena terlalu emosi,akhir-akhir ini aku mudah sekali tersinggung pa", jawab mama dengan berurai air mata.
"maaf pa,aku akan mengurus bayi dalam rahimku ini, apapun resikonya akan aku hadapi",kembali mama menegaskan kalau dirinya akan mempertahankan kehamilannya.
"iya ma, sehat selalu ya ma, jangan sampai terlambat makan?",kata papa mengakhiri percakapan hari itu.
***********
perut mama semakin besar.
sekarang sudah masuk bulan ke lima kehamilan mama.
sore itu setelah pulang dari kerja,papa cepat-cepat mencari mama.
"ma... sini duduk!", kata papa tiba tiba.
"ada apa pa?",jawab mama sambil duduk di sebelah papa.
"janji untuk tidak marah ya?", kata papa,mama hanya mengangguk saja.
"bgini ma,..tadi ketemu Bu dhe,aku cerita tentang kehamilan kamu, tiba-tiba Bu dhe ingat sama Lina,anaknya yang sudah menikah selama lima tahun tapi belum juga dapat momongan",cerita papa panjang lebar.
"hmm, teruuus.... apa hubungannya dengan aku?",jawab mama seperti tidak suka.
"emm,kata Bu dhe,kalo kamu setuju,biar Lina yang mengurus bayi kita, dan semua keperluan kamu dari pemeriksaan rutin sampai kelahiran akan di tanggung sama Lina!",papa bersemangat menjelaskan, berharap mama akan tertarik.
namun jawaban mama membuat papa sadar bahwa apapun yang terjadi keputusan mama mutlak tidak bisa di ganggu gugat.
"hmm, terserah apa kata papa dan kata mereka,ini bayi aku dan aku juga yang akan mengurusnya !",mama menjawabnya dengan penuh emosi.
"mama apa tidak kasian Nissa?",tanya papa masih tetap dengan nada lembutnya.
"kasihan kenapa,,karena masih kecil sudah punya adek atau kasihan karena hal yang lain??",
pertanyaan mama yang tidak terduga sebelumnya membuat papa terdiam seribu bahasa.
"pah,aku masih sanggup mengurus mereka,tolong kamu berhenti membujukku agar memberikan bayi kita pada orang lain!", mama sedikit kesal.
"kenapa mama gak mau dengerin aku ngomong,aku hanya ingin yang terbaik bagi mama dan anak-anak",kata papa pelan, untuk meredam emosi mama.
"jangan pernah mengungkit lagi soal bayi dalam rahimku pah,tidak Lina atau siapapun juga berhak atas bayiku,titik!",mama menegaskan lagi ketidak sukaannya dengan kata-kata papa yang mengatakan akan memberikan dedek bayi dalam perut mama kepada saudara papa.
"iya,maaf mah....", kata papa sambil memegang kedua tangan mama dan mengelus punggung tangannya.
mama hanya diam saja,namun raut muka mama masih kelihatan tidak enak dipandang mata, bagai dompet di tanggal tua,alias kusut.
**********
waktu menunjukkan pukul delapan malam.
aku masih melihat acara televisi kesukaanku.
mama mendekatiku setelah menidurkan Nissa adekku.
"belom ngantuk le,besok sekolah loh?",tanya mama.
"le... mama mau tanya sama kamu,tolong jawab dengan jujur ya?",kata mama sedikit serius.
"ada apa sih mam,serius amat?", tanyaku penasaran.
"kamu tau mama hamil kan, perasaan kamu bagaimana?", tanya mama.
aku terdiam sejenak, berfikir untuk menjawab pertanyaan mama.
"emmm.... sebenarnya aku gak ingin adek lagi mam",aku menjawab pelan.
mama terlihat kecewa mendengar jawabanku.
"maaf mam,aku hanya kasihan melihat mama kerepotan mengurus Nissa sambil mengajar",aku memberikan alasan
"iya le ,apa kamu tau, mamapun sebenarnya belum ingin memiliki bayi lagi,mama khawatir tidak dapat mengurus kalian dengan baik, apalagi si kecil Nissa juga masih minum ASI,mama bingung le harus bagaimana?",mama mengatakan semuanya dengan raut muka penuh kesedihan.
"iya mam, terus apa yang akan mama lakukan?", tanyaku pelan-pelan.
"mama tetap akan merawat bayinya sayang,kalau perlu,kita pulang ke kampung halaman,di sana banyak yang akan membantu mama mengasuh adek-adekmu ",kata mama.
aku mengangguk saja,tanpa ingin bertanya lagi.
kasihan mama terlihat sangat tertekan.
"le,... misalnya dedek bayi yang masih dalam perut mama diminta orang lain,kamu boleh apa enggak?", tanya mama lagi.
"enggak mam, jangan sampai dikasilah!",jawabku tegas.
"ya,mama juga tidak ingin memberikan bayi mama pada siapapun, meskipun dia saudara papamu ",jawab mama.
"ya sudah, sekarang istirahat,besok bangun pagi,biar tidak terlambat ke sekolah", kata mama menyuruhku tidur.
"iya,mam, bentar lagi",jawabku.
"ya sudah,mama mau tidur dulu",kata mama sambil beranjak meninggalkan aku sendirian.
jam sembilan malam papa pulang dari memancing ikan bersama teman-temannya.
"le mama mana?",tanya papa yang melihat aku menonton televisi sendirian.
"dah tidur",jawabku.
papa melongok ke kamar tidur mama.
"pap, jangan berikan adek bayiku pada Tante Lina ya, kasihan mama,sedih banget!",kataku pada papa.
"siapa yang bilang begitu?",tanya papa terkejut dengan pertanyaanku.
"tidak ada pap,gak sengaja dengar papa ngomong sama mama kemaren malam", jawabku jujur.
"hmm... papa hanya kasihan sama mama, tidak ada maksud untuk membuat mama kamu sedih", jawab papa.
"iya pah, aku juga tidak mau melihat mama sedih lagi",kataku.
"le,sudah malam,sana tidur dulu,besok kesiangan kamu!",papa menyuruhku pergi tidur.
"iya pah... aku mau tidur sekarang", jawabku sambil beranjak ke tempat tidurku.
di dalam kamar aku tidak bisa tidur karena memikirkan mama,
kasihan mama, sepanjang kehamilan ke-tiga nya ini mama begitu tertekan.
jarak kehamilan yang begitu dekat,menjadi omongan tetangga kiri kanan.
siang tadi sepulang sekolah,aku tanpa sengaja mendengar obrolan tetangga yang suka nyinyir.
"eeh,tau gak Bu,si Nissa,anak Tante Rifa yang guru les itu loh kasihan banget tau,masih kecil sudah di tinggal hamil lagi!", ceritanya pada ibu-ibu perumahan yang lain.
"masak sih,rajin amat ya,apa gak KB ya?", mereka terus nyinyir tanpa tahu bahwa orang yang mereka bicarakan adalah mama aku.
mama pasti tertekan dengan nyinyiran tetangga kami....
**********************************
Alhamdulillah selesai.
selamat membaca, jangan lupa like komen dan rate ya 🙏