
Akhirnya mama selesai juga mengajar.
"Mam, mereka sekolah di mana?", tanyaku.
"Di SDIT !",jawab mama.
"Sekolah yang dekat pasar itu mam?", tanyaku pada mama.
"Iya, kenapa?",mama seperti curiga karena aku terus bertanya tentang murid baru nya.
"Kaga kenapa-kenapa mam, tanya doang hehehe",jawabku sambil cengengesan.
"Cantik ya Bra,kalo kamu suka kakaknya apa adekny?",mama malah memancing jawabanku.
"Kakak nya lah mam!",jawabku cepat.
Hadeeeh ketahuan mama dah,kalau dari tadi aku sudah memikirkan Nay.
Beruntung mama tidak membahas lagi,karena mama sibuk mengurus adek kecilku.
Aku kirim pesan pada Nay secara diam-diam,mama selalu mengecek ponselku setiap saat.
Kalau ada kontak asing, langsung ditanya,nomor siapa, tinggal di mana, teman sekolah apa bukan.
Sudah tahu kalau temen pun masih di tanya cowok apa cewek.
Nanti kalau ada teman nge WhatsApp kadang mama yang balas,uuh sungguh terlalu.
Tapi lepas dari suka atau tidak suka,aku tahu hanya ada satu alasan kenapa mama melakukan itu,yaitu karena mama sayang sama aku.
Mama tidak mau aku berkawan dengan orang yang tidak jelas atau dengan orang yang tidak seumuran.
Sudah pasti karena mama khawatir akan pengaruh buruk jika aku menjalin pertemanan dengan orang yang tidak jelas.
Aku hargai keputusan mama yang senantiasa mengontrol nomor kontak ponselku.
Aku simpan nomor telepon Nay dengan nama "Parmin", tukang kebun rumah sebelah.
Alasannya nanti kalau mama tanya kenapa ada nama Parmin di daftar kontak teman,aku akan jawab biar gampang kalau mau nyuruh-nyuruh orang untuk membereskan rumah.
Chat aku sama Nay :
#aku: hai nay
#nay: hai kak
#aku:nay lagi apa
#nay:lagi mau belajar
#aku:nay tidak sakit?
#nay:tidak kak,kakak sakit?
#aku: iya
#nay: sakit apa kak
#aku: sakitika aku mencintaimu 😘
#nay:sakit apa itu kak???
#aku: sakit karena virus
(hadeeh .... kenapa gak nyambung sih,rutuk aku dalam hati)
#nay: virus barukah
#aku: ho'oh,baru banget,belum 5 menit
#nay : semoga lekas sembuh kakak
#aku: hem,eeh nay,gua ganteng gak
#nay : lumayan kak 🙄
#aku: ooh baguslah lumayan daripada lu manyun
(ini gila,di saat teman sekelas ku antri berebut jadi pacarku, Nay menganggap ku biasa aja,makin penasaran aku)
#nay: ada yang salahkah??
#aku : kaga
#nay : ada apa kak,kirain ada pesan dari Tante yang berhubungan dengan pelajaran.
#aku : kaga
( gondok banget, cewek gak peka, apa memang masih polos ya',aku tidak mengerti )
#nay : ya sudah kakak,aku masih sibuk,dadaah
#aku : byeee
(cengok gaeesss)
***********
Hapus semua pesan, setelah selesaikan misi.
Misinya pedekate murid mama yang super imut,Nay.
Khawatir ketahuan mama kalau lupa menghapus riwayat pesan.
Ini sudah seminggu,aku dan Nay biasa berkirim pesan,dan seperti biasanya aku langsung menghapus jejak pesan.
Sejauh ini aman,mama tidak tahu aku dan Nay diam-diam sering berkirim pesan.
Nay masih menganggap aku sebagai kakak, karena menurut dia,seru memiliki kakak yang konyol seperti aku.
Disaat teman sekelasku berharap jadi kekasihku, Nay hanya ingin menjadikan aku seorang kakak.
Aku kecewa,tapi tidak bisa memaksa seseorang untuk menuruti kemauan aku.
Si Andin,si Elsa,si Arin,dan masih banyak lagi cewek yang bahagia hanya dengan aku pinjam bukunya. Ini si Nay masih biasa-biasa saja, padahal hampir setiap hari aku beri perhatian. Meskipun sekedar pertanyaan,sudah makan apa belum,sudah mandi apa belum,sudah jajan apa belum,(enggak tanyalah kalau itu mah,ntar malah dia minta jajan sama aku).
"Ibra sayang... !", mama memanggilku.
"lya mam,... ada apa?", tanyaku.
"Dapat salam dari Desi!", kata mama.
Aku bengong,mikir juga sih, Desi yang mana lagi lah, batinku.
"Desi teman TK kamu loh,masak sudah lupa??",tanya mama lagi.
Aku mengangguk-angguk,sambil mengingat sosok Desi teman TK ku ini.
"whooah... serius mam,Desi teman TK aku,di mana mam ketemu dia?"tanyaku antusias.
Ada memori TK yang tidak pernah aku lupakan sampai kapanpun dengan Ecy , namanya Desi tapi aku biasa memanggilnya Ecy, anaknya imut dan sedikit galak.
Aku selalu ingat kejadian di waktu kami masih TK.
*flashback on*
Hari itu kami bermain bersama, sekokah libur,jadi pagi-pagi Ecy sudah nyamperin aku.
"Bra maen ke lapangan yuuk !",ajak Ecy.
"Hayuuk.. tapi nanti aku pinjam sepedamu ya'?kataku.
"Boleeh, tapi kamu mesti goncengin aku!", Ecy mengajukan syarat.
"Eeh kalau jatuh bagaimana?", tanyaku.
"Gak papa lah jatuh!",kata Ecy ngeyel minta bonceng sama aku.
"Ya sudah hayuk, siniin sepedanya!",kataku pada Ecy.
Ecy turun dari sepeda dan menyerahkan sepedanya padaku.
Aku senang sekali,karena sepeda Ecy agak tinggi jadi kami seperti orang-orang dewasa yang sedang pacaran.
(cuma seperti ya,bukan beneran)
"Bra,kayak nya seru niih,kalau pas di turunan... ntar kamu bisa lepas stang kan keren!",kata Ecy sambil mengacungkan jempolnya.
Bener juga ya si Ecy,kan keren berboncengan di jalan menurun sambil lepas stang,uuh mantap.
(pikiran bocah yang belum faham bahaya)
Akhirnya aku dan Ecy berboncengan,pas sampai di tanjakan, Ecy turun,aku suruh dorong,dan Ecy semangat mendorong aku hingga sampai ke jalan agak datar.
"Cy ... ayuk naik,kita lepas stang dari sini, pasti seru!",aku berteriak semangat menyuruh Ecy naik ke depanku,jadi dia minta bonceng depan, karena model sepedanya sepeda cowok.
"Oke..!",jawab Ecy semangat.
Naiklah Ecy di depanku,dan aku kayuh sepeda sebentar,setelah sampai di jalan menurun,aku lepaskan stang nya,daaan kami meluncur dengan cepat.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa..... !",kami berdua berteriak senang di jalan yang menurun, sehingga tanpa menggoes pun sepeda meluncur dengan cepat.
Tiba-tiba ada batu ukuran kepalan tangan menghadang di tengah jalan,dan aku telat menghindari batu tersebut.
Bhruuugh ... gubraaaak...
Aku dan Ecy nyungsep ke dalam got.
Kami berdua bau comberan.
Entah kenapa Ecy memarahi aku.
"Ibra begooo ... kenapa gak hati-hati sih!", Ecy yang belepotan dan bau got memarahiku.
"Koq kamu marah sama aku,kan kamu yang mau aku bonceng, terus kamu juga yang mengusulkan kita meluncur dari atas jalan tanjakan tadi!",aku jadi emosi juga.
Ecy pulang menangis sambil menuntun sepedanya.
*flashback off*
Aku selalu ingat kejadian itu,nyungsep bareng di got.
Mama tertawa ketika aku mengingatkan kejadian waktu itu.
"Nah itu kamu ingat kejadian waktu itu,mama juga sampai sakit perut karena mentertawakan kamu yang pulang-pulang bau comberan dan kepala benjol!"Kata mama sambil tertawa geli.
"iya iya.... jangan di ingatkan bagian itu mam... !",kataku bersungut-sungut.
Mama tersenyum melihat aku sedikit kesal karena mama mentertawakan aku.
"Mama bertemu di jalan tadi sama Desi,mama malah lupa,kalau dia tidak menyapa duluan tadi", mama akhirnya menjawab pertanyaan aku.
Ooh ... rupanya Desi masih mengingat kami.
Apakah dia juga masih mengingat kejadian konyol waktu kecil dulu??
Aku kembali tersenyum sendiri.
(semoga mama tidak melihat aku tersenyum sendiri)
***********************************
Alhamdulillah, selesai, terimakasih untuk dukungan kakak,Oom, Tante dan kawan semua.
Jangan lupa like dan komennya ya.
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏