
Keesokan harinya~
"Ali, aku mau bicara sama kamu."ucap Prilly yang kala itu sedang menatap Ali yang tengah bersiap
"Apa itu sayang? Bicaralah."jawab Ali sambil menyisir rambutnya
"Kapan kamu akan menceraikan aku?"tanya Prilly
Mendengar hal itu Ali langsung menoleh menatap tajam kearah Prilly..
"Apa maksud kamu?"tanya Ali tak mengerti dan melangkah mendekati Prilly
"Tidak perlu berpura pura lagi, aku yakin kamu pasti mengerti maksud perkataanku."ucap Prilly memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan airmatanya yang hendak menetes
"Aku kan sudah pernah bilang aku tidak akan pernah menceraikanmu. Apa kamu lupa?"ucap Ali
"Tidak, aku tidak lupa dan tidak akan pernah bisa lupa. Terutama lupa akan rencanamu bersama kekasihmu itu."jawab Prilly sambil meremas tangannya sendiri.
"Sayang, itu sudah menjadi masalalu.
Aku bahkan sudah lupa akan rencana itu, percayalah.. awalnya aku memang berniat seperti itu. Tapi semuanya sudah berubah sekarang, aku mencintaimu sangat mencintaimu. Jadi tidak mungkin aku menceraikanmu sayang."ucap Ali mengusap pipi Prilly
Prilly tersenyum getir mendengarnya~
"Kamu yakin?"tanya Prilly dengan mata yang berkaca kaca
"Maksud kamu...?"tanya Ali dengan wajah herannya
"Apa kamu yakin dengan perasaanmu terhadapku itu?"Prilly
"Tentu saja, ada apa denganmu sebenarnya? Katakanlah, aku sungguh tidak mengerti apa maksudmu. Aku tidak tau apa yang sedang kamu pikirkan saat ini."ucap Ali frustasi
"Aku juga tidak tau rencana jahat apalagi yang sedang kamu dan Tania rencanakan untukku."ucap Prilly mengalihkan pandangannya
"PRILLY!!!"bentak Ali dengan rahangnya yang mengeras
"Ya! kenapa? Apa tebakanku benar?"jawab Prilly memberanikan diri dan bersamaan dengan airmatanya yang jatuh
"Kamu..... Apa kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan? Kamu tidak percaya padaku, suamimu sendiri?"tanya Ali
Prilly mengutak ngatik handphonenya..
"Aku tidak tau harus percaya pada siapa, tapi mungkin ini bisa memperjelas semuanya."ucap Prilly
"Kita lihat apa setelah mendengar ini kamu masih bisa berkata bahwa kamu mencintaiku.."ucap Prilly
"Apa maksud kamu?"tanya Ali yang masih tidak mengerti
Prilly pun memutarkan sesuatu yang berada di handphonenya..
*"*Kamukan sudah berjanji padaku akan menikahiku begitu kamu bercerai dengan istrimu itu, kamu tidak lupa akan janji itukan sayang?"
"Ohh i....iya sayang... tentu saja aku ingat, tidak mungkin aku melupakannya."
"Aku sudah tidak sabar menanti hari itu tiba sayang, aku ingin segera menikah denganmu dan menjadi nyonya Ali Syarief. Membayangkannya saja sudah membuatku sangat bahagia."
"Sabarlah Tania, aku juga menantikannya. Aku akan selesaikan ini dengan segera. Jadi tolong bersabarlah..... sa....yang."
"Iya pasti sayang, aku akan sangat sabar menunggu untuk itu."
"*Yasudah kalau begitu aku tutup dulu ya teleponnya, ada Prilly datang. Aku takut nanti dia curiga."
"Baiklah, bye sayang. Aku mencintaimu."
"Iya..."
"Iya, iya, aku juga mencintaimu."
"Yasudah aku tutup teleponnya yaa.."
"Baiklah, bye.. muaacchhh**..."
Mendengar itu semua kedua mata Ali melotot seketika.
"Ini....inikan...bagaimana kamu....."ucap Ali terbata bata
"Iya, ini suara kamu dan Tania ketika kalian bertelepon semalam."jawab Prilly
"Darimana kamu mendapatkannya? Bagaimana bisa?"tanya Ali
"Tidak penting aku mendapatkannya darimana."jawab Prilly
"Kemarikan ponselmu, aku ingin tahu darimana kamu mendapatkan rekaman itu."ucap Ali berusaha mengambil alih handphone milik istrinya
"Tidak mau."ucap Prilly berusaha mempertahankan handphonenya
"Maka aku akan memaksamu agar menyerahkannya padaku. Jangan salahkan aku jika aku sedikit menyakitimu."ucap Ali dengan segenap usahanya..
"Tidak mau. Ali..... kembalikan handphoneku."ucap Prilly berusaha merebut paksa kembali handphonenya yang berhasil di rampas oleh suaminya
"Tidak akan sebelum aku mengetahuinya.."ucap Ali dan mulai membuka buka isi handphone Prilly
"Tania...."ucap Ali setelah mengetahui darimana asal rekaman tersebut
"Jadi Tania yang mengirimkan rekaman suara ini padamu? Dia benar benar keterlaluan..."ucap Ali geram
Prilly hanya terdiam~
"Prilly, itu..... itu tidak seperti yang kamu pikirkan. itu semua......"ucapan Ali terpotong
"Itu apa? Kamu mau berbohong apalagi? Ini semua sudah merupakan buktinya. Ini rekaman suara kamu dan Tania. Kamu mau mengelak lagi? Mau membohongi aku lagi? Iya, begitu?"ucap Prilly dengan deraian airmata di pipinya
"Sayang, tolong jangan menangis."ucap Ali dan hendak menghapus airmata Prilly namun Prilly dengan segera menepisnya
"Aku akan segera mengurus perceraian kita."ucap Prilly mengusap kasar airmatanya
"Apa?"Ali kaget mendengar pernyataan Prilly
"Tidak, aku tidak mau. Aku menolak bercerai denganmu. Sampai kapanpun aku tidak mau bercerai, aku tidak akan pernah melepaskanmu."ucap Ali dengan wajah memerahnya karena berusaha menahan amarah dan kepanikannya
"Kenapa? Bukankah itu yang kamu inginkan selama ini? Menikahiku kemudian menceraikanku setelahnya, itu rencana kalian dari awalkan."ucap Prilly
"Prilly aku sangat mencintaimu, aku bersumpah aku amat sangat mencintaimu. Jadi tidak mungkin bagiku untuk menceraikanmu. Percayalah padaku."ucap Ali memegang kedua pipi Prilly
"Ali sudahlah, berhenti menipuku seperti ini. Jangan membuatku merasakan sakit hati lebih dalam lagi."ucap Prilly dengan deraian airmata di pipinya
"Sayang, aku tidak berbohong. Demi Tuhan aku sangat mencintaimu, tarik kata katamu untuk soal perceraian itu. Jangan tinggalkan aku."ucap Ali yang kini ikut meneteskan airmatanya
"Kamu sudah berjanji pada Tania Al, kamu berjanji akan menikahinya. Aku sangat mengerti bagaimana perasaan Tania nanti jika kamu mengingkari janji kalian."ucap Prilly
"Aku tidak perduli, aku akan batalkan janji itu. Aku tidak ingin kehilanganmu Prilly, aku sangat mencintaimu."ucap Ali kemudian memeluk Prilly dan mencium puncak kepalanya berkali kali
"Jangan tinggalkan aku."sambung Ali memeluk erat Prilly
"Apa yang harus aku lakukan? Ali tidak mau bercerai denganku, lalu bagaimana dengan Tania? Di satu sisi aku sangat bahagia Ali memilih tetap bersamaku, tapi di sisi lain ada hati yang tersakiti karena kebersamaanku dengan Ali. Aku sangat bingung harus bagaimana."ucap Prilly di dalam hatinya
"Jangan lepaskan aku Al, jangan biarkan aku pergi."ucap Prilly membalas pelukan erat Ali