
"Aku minta kamu..............."
Prilly masih menunggu Ali melanjutkan kara katanya..
"Aku minta kamu jangan pernah berdekatan dengan lelaki lain."ucap Ali dengan wajah angkuhnya
"Apa?"tanya Prilly membulatkan matanya
"Kenapa? Kenapa kamu kaget seperti itu? Apa kamu keberatan dengan permintaanku?"tanya Ali
"Tidak, bukan begitu...."ucap Prilly
"Lalu?"tanya Ali
"Apa tidak bisa kamu mengganti permintaanmu itu?"tanya Prilly dengan ragu ragu
"Tidak bisa, hanya itu yang aku minta darimu."jawab Ali penuh ketegasan
"Baiklah.."jawab Prilly pada akhirnya
-------------
Keesokan harinya seperti biasa Prilly pergi pagi pagi menuju lokasi pemotretannya.. ia berpamitan kepada Ali hanya dengan sepucuk surat yang ia letakkan di meja makan bersamaan dengan sarapan pagi yang telah dibuatnya..
Sekitar pukul 9 pagi Ali baru membuka kedua matanya, ia mencari keberadaan istrinya..
Ali mulai beranjak dari tempat tidurnya..
"Prill...."
"Prilly, kamu dimana?"panggil Ali
Ali mengecek semua sudut ruangan yang ada disana namun tidak menemukan keberadaan Prilly.
"Prill, Prilly.... Prilly...."ia sedikit menaikkan volume suaranya
"Apa dia pergi?"tanya Ali pada dirinya sendiri
"Tapi kemana?"sambungnya
Kemudian dilihatnya meja makan..
Prilly membuatkan sarapan untuknya, pikirnya..
Tapi tunggu.. apa itu?
Diambilnya sepucuk surat yang Prilly tulis untuknya.. kemudian membacanya~
'Aku ada urusan sebentar, maaf tidak meminta izinmu. Ohh iya, aku membuatkan sarapan untukmu. Aku tidak tahu apa kamu akan menyukainya atau tidak, tapi aku harap kamu mau memakannya. Tidak seperti kemarin kemarin kamu membuangnya..'
Prilly
"Dia sok tahu sekali, siapa bilang aku membuangnya. Dia tidak tahu saja aku memakan semua masakan buatannya.."Ali tersenyum dan mulai memakan sarapan buatan istrinya
"Enak..."ucap Ali dengan lahap memakan masakan istrinya itu
"Tapi tunggu, ada urusan mendesak apa sampai dia tidak sempat untuk berpamitan langsung padaku."ucap Ali sambil mengunyah nasi goreng dengan telur mata sapi buatan Prilly
"Aku harus mencari tahu.."ucapnya lagi kemudian memainkan handphonenya
"Ha, untuk apa dia ada disana?"ucap Ali setelah mengetahui keberadaan Prilly
Perlu kalian ketahui selagi Prilly tertidur dengan lancangnya Ali memasangkan aplikasi pelacak di handphone Prilly.
Jadi tidak heran jika sekarang Ali mengetahui keberadaan Prilly..
Ali segera bersiap agar dapat menyusul Prilly...
------------------
Seperti biasa Prilly dikelilingi oleh Arbani dan juga Rizky disana. Mereka bercanda bersama, sesekali mereka juga tertawa.
"Oke semuanya, kita mulai lagi pemotretannya.."ucap salah satu crew
Prilly dan Arbani beranjak dari duduknya..
"Sedikit jaga jaraklah dari dia."bisik Rizky pada Prilly
"Kenapa?"tanya Prilly
Namun Rizky berlalu begitu saja, ia tak menjawab pertanyaan Prilly..
Pemotretan pun di mulai kembali..
"Oke bagus.."
"Ya pertahankan seperti itu."
"Salinglah menatap, menatap dengan penuh cinta."
"Oke lebih dekatkan wajah kalian."
"Jangan terlalu dekat."sanggah Rizky dengan dinginnya sebagai photografer Prilly dan Arbani. Cemburu? Mmm, mungkin.
Prilly dan Arbani terdiam dengan posisi kedua tangan Prilly memeluk leher Arbani. Dan kedua tangan Arbani yang merengkuh mesra pinggang ramping Prilly
Tak lama kemudian.....
"Apa yang sedang kalian lakukan?"ucap seseorang
"Ali.."ucap Prilly dan dengan spontan melepaskan pelukannya
Ya, seseorang tersebut adalah Ali..
"Aku minta maaf sebelumnya Al, karena...."ucapan Rizky terpotong
"Aku tidak bertanya padamu!"tunjuk Ali pada Rizky dengan tatapan tajamnya..
"Aku bisa jelaskan semuanya Al.."ucap Prilly mulai mendekati Ali
"Apa? Cepat katakan padaku!"ucap Ali memelototkan matanya
"Aku ditawari untuk menjadi model oleh Rizky, dan inilah yang sedang aku lakukan sekarang. Tidak lebih dari itu, jadi kumohon jangan salahpaham."jelas Prilly
"Apa, model? Dan kamu tidak bilang kepadaku? Tidak meminta izinku, sebenarnya kamu menganggap aku apa Prilly?"ucap Ali menatap tajam Prilly
"Iya aku minta maaf, aku mengaku salah karena tidak meminta izin terlebih dahulu. Aku.....aku...."ucapan Prilly terpotong
"Aku juga minta maaf Al. Aku yang menawarkan pekerjaan ini tapi aku tidak berbicara padamu terlebih dulu. Aku tahu sebagai seorang kakak pasti kamu khawatir pada Prilly, aku mengerti jika sekarang kamu marah seperti ini. Aku dapat memakluminya."jelas Rizky
Ali hanya tersenyum simpul mendengarkan penjelasan Rizky..
"Apa kau bilang? Kakak? Aku bukanlah kakak Prilly, tapi aku suaminya. Asal kau tahu itu!"ucap Ali mengakui Prilly istrinya
Prilly tercengang mendengarnya, ia sama sekali tidak menduga Ali akan mengatakan hal itu..
Bukan hanya Prilly, semua yang ada ditempat itu kaget mendengar penuturan Ali begitu juga dengan Rizky. Namun tidak dengan Arbani....
"Apa? Jadi Prilly sudah menikah?"
"Jadi dia membohongi kita semua..."
"Sulit dipercaya dia melakukan hal itu kepada kita semua."
Para crew disana juga sibuk membicarakan Prilly, dan memandang buruk terhadapnya.
"Ali.... apa yang kamu lakukan?"tanya Prilly
"Kenapa? Kamu tidak suka aku bilang pada semua orang kalau kamu adalah istriku?"tanya Ali meninggikan suaranya dan menatap tajam Prilly
"Tidak, bukan begitu maksudku..."ucap Prilly
"Istri? Prill, apa benar begitu? Kenapa kamu tidak bilang kalau Ali adalah suamimu?"tanya Rizky menatap kecewa Prilly
"Aku minta maaf Ky, aku tidak bermaksud untuk berbohong. Maafkan aku."ucap Prilly
"Aku kecewa sama kamu Prill.."ucap Rizky kemudian pergi
"Rizky, Rizky tunggu.. aku bisa jelaskan semuanya, dengarkan penjelasan aku terlebih dahulu. Rizky......."panggil Prilly dan hendak mengejar Rizky
Dengan segera Ali memegang tangannya..
Semua orang disana memutuskan pergi, mereka mengerti bahwa itu adalah urusan pribadi. Jadi tidak berhak ikut campur, mereka membiarkan Ali dan Prilly menyelesaikannya..
Namun berbeda dengan Arbani, ia masih berdiri tegak disana.. Entahlah.......
Arbani tersenyum misterius disana~
"Kenapa kau masih disini? Tidak ikut pergi juga seperti mereka...?"tanya Ali dengan tatapan dinginnya
"Bani, aku....."ucapan Prilly terpotong
"Tenanglah, aku sudah tahu semuanya Prilly, jangan khawatirkan aku. Aku baik baik saja, aku juga tidak marah padamu. Lagipula aku sudah mengetahuinya di malam saat aku ke rumahmu, aku mendengar semua pembicaraan kalian di dapur waktu itu."jelas Arbani pada akhirnya
"Tapi malam itu kamu bilang...."ucap Prilly menggantungkan perkataannya
"Benar, aku memang mengatakannya. Aku mengatakan kalau aku menyukaimu, dan memintamu untuk menjadi kekasihku."jawab Arbani dengan entengnya
"Kau....."ucap Ali geram mengepalkan tangannya
"Kamu mengatakan itu sedangkan kamu sudah mengetahui bahwa aku ini istri Ali bukan adiknya. Maksud kamu apa?"tanya Prilly heran
"Tidak bermaksud apa apa. Aku hanya mengakui perasaanku, sudah itu saja."ucap Arbani dengan begitu tenangnya
"Dasar gila!"Ali yang sedari tadi berusaha menahan rasa kesalnya akhirnya bicara
"Iya kamu benar. Aku memang sudah gila. Dan itu karena Prilly, istrimu."ucap Arbani dengan senyum liciknya
"Kau benar benar......"Ali hendak melayangkan pukulannya
"Cukup Al, jangan lakukan itu."dengan segera Prilly berusaha menahan Ali dengan memeluknya
"Lepaskan aku, akan kuhabisi laki laki tidak tahu diri itu."ucap Ali berusaha melepaskan pelukan Prilly yang menahannya
"Tidak, kumohon jangan. Jangan menambah masalah Al. Lebih baik kita pergi saja dari sini."ucap Prilly masih bertahan di posisinya
"Baiklah, kita pergi dari sini. Tidak ada untungnya menghadapi orang gila seperti dia."ucap Ali
Kemudian Prilly melepaskan pelukannya~
"Kalau bukan karena kamu, aku sudah pasti akan menghabisinya."sambung Ali kemudian memegang tangan Prilly dan mengajaknya pergi meninggalkan Arbani
Arbani hanya tersenyum melihat perbuatan Ali..
"Pergi sana, pergilah sejauh mungkin. Tapi ingatlah, sejauh apapun kamu membawa Prilly aku pasti akan menemukannya. Dan merebutnya darimu. Camkan itu!!"teriak Arbani
Ali sempat menghentikan langkahnya, namun dengan susah payah Prilly mencoba menyeretnya agar kembali melangkahkan kakinya..
"Kamu dulu menyakitinya dengan sangat mudah Ali. Dan sekarang setelah ada pria lain yang lebih mencintainya, kamu dengan seenaknya menginginkan Prilly untuk menjadi milikmu seutuhnya. Dasar egois! Tak akan aku biarkan Prilly bersamamu lebih lama."ucap Arbani pada dirinya sendiri
"Aku mungkin gila, tapi setidaknya aku bukanlah laki laki yang egois."sambung Arbani
Wahh, ketauan dehh status Prilly yang sebenarnya. Bagaimanakah kelanjutan ceritanya? Terus tunggu chapter berikutnya yaa 😉😉
Jangan lupa tekan LiKenya setelah membaca yaa, terimakasih sudah baca My Prilly 🙏💋😊