My Prilly

My Prilly
Amarah



"Ali......."


"Prilly, kamu disana?"suara Arbani memanggil


Sontak Prilly langsung mendorong tubuh Ali menjauh..


"Iya sebentar, aku segera kesana. Tunggulah."teriak Prilly


"Maaf Al, aku harus pergi."pamit Prilly


"Ya baiklah, kamu boleh pergi. Tapi..."Ali menggantungkan perkataannya


"Tapi apa?"tanya Prilly dengan wajah herannya


"Sekarang cepat kamu temui dia dan suruh dia untuk segera pulang. Mengerti?"ucap Ali dengan entengnya


Prilly mengernyitkan dahinya..


"Kenapa, tidak mau? Yasudah, biar aku saja yang mengusirnya."ucap Ali hendak pergi namun Prilly menahannya


"Tidak perlu, biar aku saja. Aku akan menyuruhnya pergi, aku berjanji."ucap Prilly memegang tangan Ali


Sontak Ali melihat tangannya yang dipegang oleh Prilly..


Ali tersenyum..


"Jadi seperti ini rasanya jika kamu memegang tangan seseorang. Terasa nyaman ternyata, pantas saja dia menyukainya."ucap Ali kembali menyindir Prilly karena telah berani memegang tangan lelaki lain, apalagi langsung di hadapan Ali


Prilly langsung melepaskan pegangan tangannya pada Ali.


"Kenapa? Kenapa dilepaskan? Tadi kamu juga memegang tangannya. Apa ini sama dengan caramu memegang tangan lelaki lain?"tanya Ali dengan tatapan tajamnya


"Apa maksud kamu Ali? Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan."ucap Prilly hendak pergi


Ali mencekal tangan Prilly..


"Aaa sakit Al, lepaskan aku."ucap Prilly


"Aku sudah bilang jangan pernah mengabaikanku."ucap Ali berbisik pada Prilly


"Tapi aku tidak mengabaikanmu. Kapan aku mengabaikanmu?"ucap Prilly meringis


"Sudahlah, cepat pergi temui dia agar dia segera pergi dari sini. Aku sudah muak melihat wajahnya."ucap Ali kemudian hendak pergi namun kembali menghentika. langkahnya


"Jangan berlama lama bersamanya, atau aku bisa saja berbuat gila. Ingatlah, aku mengawasimu!"sambung Ali kembali


Prilly hendak kembali melangkahkan kakinya..


"Aku-akan-mengawasimu, jadi jangan berani melakukan apapun yang dapat memancing amarahku."ucap Ali kembali mengingatkan Prilly kemudian benar benar pergi meninggalkan Prilly yang mematung seorang diri disana


"Ada apa dengannya? Kenapa dia jadi seperti ini padaku? Apa ini bagian dari rencananya untuk menpermainkan perasaanku? Prilly kamu harus benar benar berhati hati mulai sekarang, jangan sampai terbuai oleh semua perkataan dan perbuatannya."ucap Prilly pada dirinya sendiri. Self reminder!~


Kemudian Prilly pergi menemui Arbani dengan minuman yang sejak tadi dibuatnya..


"Maaf yaa lama. Ada urusan sebentar tadi."ucap Prilly beralasan


"It's okay. Aku rela menunggumu selama apapun itu."ucap Arbani


"Dasar tukang gombal. Ini minumlah."ucap Prilly menyodorkan minuman yang telah dibuatnya


Arbani meminumnya..


"Mmm, enak. Manis seperti yang membuatnya. Hehe..."puji Arbani


"Bisa aja. Ohh iya aku lupa bertanya, kamu ada apa kemari?"tanya Prilly kemudian tersenyum


"Memangnya butuh alasan jika aku ingin bertemu denganmu?"tanya Bani


"Apa?"ucap Prilly malah balik bertanya


"Ohh tidak, tidak ada. Maksudku, aku sengaja kemari karena ingin bertemu kamu. Rindu..."ucap Arbani sekenanya


"Aku serius, berhentilah bercanda."ucap Prilly kemudian menangkup wajahnya sendiri dan mengusapnya gusar


"Iya tentu saja aku serius."ucap Arbani


Prilly terdiam dengan tatapan polosnya..


"Aku menyukaimu Prill..."ucap Arbani pada akhirnya dan memegang tangan Prilly yang berada diatas meja


"Apa? Suka...padaku? Kenapa?"tanya Prilly dan menunjuk dirinya sendiri


"Sial! Berani sekali dia menyatakan perasaannya pada Prilly."ucap Ali yang ternyata tengah mengintip sedari tadi dan mengepalkan tangannya mendengar pernyataan suka Arbani pada istrinya


"Kenapa? Apa maksudmu? Ya aku menyukaimu karena memang aku suka kamu. Karena itu kamu. Tidak ada alasan lain. Apa menyukai seseorang itu membutuhkan sebuah alasan?"ucap Arbani


"Bukan begitu, aku hanya kaget saja mendengarnya. Aku pikir ini terlalu cepat, baru beberapa hari ini kita bertemu. Dan sekarang kamu bilang kamu menyukaiku, ya tentu saja aku kaget."ucap Prilly dan refleks melepaskan genggaman tangan Bani


"Aku tidak butuh banyak waktu untuk menyukaimu Prill. Begitu melihatmu aku langsung menyukaimu. Aku menyukai semua tentang dirimu, semua yang ada pada dirimu."jelas Arbani


"Tapi aku......."ucapan Prilly terpotong


"Tidak apa. Kamu tidak harus menjawabnya sekarang, aku hanya ingin menyatakannya padamu. Karena rasa ini terlalu menggangguku jika aku terus saja memendamnya. Setidaknya aku sudah merasa lega sekarang karena telah mengungkapkannya padamu."jelas Arbani


"Tolak dia Prilly, tolaklah dia. Kamu harus menolaknya. Tidak perlu berpikir untuk mempertimbangkan perasaannya. Langsung tolak saja dia."ucap Ali masih dalam posisinya


Arbani tersenyum dan Prilly membalasnya dengan senyuman juga..


"Baiklah, akan aku pikirkan."ucap Prilly pada akhirnya


Ali membolakan matanya seketika mendengar jawaban yang diberikan oleh Prilly ~


"Kenapa harus dipikirkan segala? Kamu bisa saja langsung menolaknya Prilly. Apa kamu tidak menganggapku sebagai suamimu?"ucap Ali berusaha menahan amarahnya, ia semakin mengepalkan tangannya


"Aku kemari hanya ingin mengatakan itu. Kalau begitu aku pamit pulang."pamit Arbani


"Baiklah, aku antar kamu sampai depan ya."ucap Prilly


Arbani mengangguk dan beranjak dari duduknya begitupun dengan Prilly..


Dengan segera Ali keluar dari tempat persembunyiannya..


"Ali dimana? Aku belum berpamitan padanya."ucap Arbani


"Mmm, aku tidak tahu. Mungkin sudah tidur."ucap Prilly sekenanya


"Baiklah, sampaikan saja salamku padanya."ucap Arbani


"Iyaa akan aku sampaikan nanti."jawab Prilly


"Aku pulang ya, terimakasih untuk minumannya."ucap Arbani kemudian masuk kedalam mobilnya


"Sama sama."ucap Prilly


"Hati hati dijalan."sambung Prilly


"Bye Prill, selamat malam."ucap Arbani melambaikan tangannya dari dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya


Prilly hanya mengangguk dan tersenyum serta melambaikan tangannya..


Prilly membalikan tubuhnya hendak masuk ke rumah. Namun.........


"Ya ampun.."Prilly terkejut melihat sosok Ali yang sudah berada tepat dihadapannya


Ali diam dengan tatapan dinginnya~


"Kamu sedang apa disini? Membuatku kaget saja. Ayo masuk.."ucap Prilly dengan entengnya dan berjalan melewati Ali begitu saja


Ali mengikuti Prilly masuk ke dalam rumah. Ia juga segera mengunci pintunya..


Dengan segera ia menyusul Prilly yang kini berada di ruang keluarga.


"Ikut aku."Ali dengan segera menarik Prilly menuju kamar mereka


Prilly yang saat itu hendak duduk di sofa kembali berdiri karena tangannya ditarik oleh Ali dan mengikuti langkah suaminya..


*BRUKKKK


*CEKLEKK


Ali menutup pintu dengan sedikit kasar sampai menimbulkan suara dan segera menguncinya..


Kemudian ia memojokan Prilly di pintu tersebut..


Ia mengunci Prilly dengan tubuh dan juga tatapan tajam matanya..


"Kamu, apa yang......."ucapan Prilly terpotong


"Apa saja yang kalian bicarakan? Kenapa lama sekali hanya untuk membuatnya pergi?"tanya Ali menatap tajam Prilly


"Aku hanya mengobrol biasa dengannya. Tidak lebih dari itu, lagipula tak lama kemudian Arbani pamit pulang."jawab Prilly


"Kamu pikir aku tidak mengetahuinya, jangan coba berbohong padaku."ucap Ali


"Aku tidak berbohong, itu memang......"ucapan Prilly terpotong


"JANGAN BERBOHONG !!"bentak Ali


Seketika Prilly memejamkan matanya, ketakutan~


"Lantas kenapa kamu bertanya jika sudah mengetahuinya."ucap Prilly memberanikan diri kembali menatap Ali


"Arbani itu....."ucapan Prilly kembali terpotong


"Cukup. Berhentilah menyebutkan namanya, aku muak mendengarnya. Aku tidak suka mendengarmu menyebutkan namanya dihadapanku. Aku membencinya. Sangat membencinya!"ucap Ali sedikit menaikkan suaranya


*BRUKKKK


Tangan kanan Ali menonjok pintu kamarnya dengan keras, Prilly langsung terperanjat dengan spontan ia menolehkan kepalanya ke sebelah kanan bermaksud menghindari. Ia ketakutan~


Baru kali ini Prilly melihat Ali marah seperti saat ini..


Tekan Like, tekan like, tekan likenya teman teman. Jangan lupa untuk menekan LIKE setelah membaca. Terimakasih 🙏😘